PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 218 SUSI PINGSAN


__ADS_3

Yudis dibantu dokter Frans, menahan tubuh Susi.


"Maaf, Nad. Bisa kamu bangun dulu?" pinta Yudis.


Nadia mengangguk dengan lemah, dan berusaha bangun. Sebelumnya dia rapikan dulu pakaiannya. Perutnya masih terasa lengket.


Perlahan Nadia yang juga masih syok, turun dari ranjang tempatnya diperiksa.


Setelah Nadia turun, Yudis dan dokter Frans meletakan Susi di atas ranjang itu.


Perawat yang baru saja masuk ke ruangan dokter Frans pun ikut menolong menyadarkan Susi.


Nadia hanya bisa menatap Susi dengan lemah. Yudis menghampiri dan memapah Nadia ke kursi.


Yudis khawatir kalau Nadia juga pingsan seperti Susi.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Yudis pada Nadia pelan.


Nadia belum bisa menjawab. Dia hanya mengangguk dengan lemah.


"Aku tolongin mamamu dulu, ya," ucap Yudis.


Nadia kembali mengangguk. Dan Yudis pun kembali menghampiri Susi.


Yudis dibantu seorang perawat menolong Susi. Dokter Frans kembali ke kursinya.


"Kenapa ini?" tanya perawat muda itu pada Yudis.


"Hanya syok," jawab Yudis sambil melonggarkan pakaian Susi.


Dokter Frans menatap Nadia yang masih sangat syok.


"Ada masalah?" tanya dokter Frans pada Nadia dengan lembut.


Nadia terdiam.


"Kamu sudah menikah?" tanya dokter Frans lagi.


Nadia menggeleng.


Dokter Frans menghela nafasnya.


"Baik. Kalau begitu, jaga kandunganmu baik-baik. Saya buatkan resep vitamin untuk janinmu. Biarkan dia berkembang dengan baik dan sehat."


Demi menghemat waktu juga, dokter Frans menuliskan resep vitamin untuk Nadia.


Bagaimanapun di luar masih banyak pasien yang mengantri. Dokter Frans tak ingin calon pasiennya menunggu terlalu lama.


"Ini. Nanti kamu ambil di bagian farmasi." Dokter Frans memberikan secarik kertas resep pada Nadia.


Nadia menerimanya sambil menatap tulisan di atas kertas yang tak bisa dibacanya.


Dokter Frans kembali berdiri dan menghampiri ranjang.


"Suster. Ambil brankar. Pindahkan ibu ini ke ruangan lain," ucap dokter Frans pada perawat.


"Iya, Dok." Perawat itu pun menurut dan segera mencari bantuan rekan lainnya untuk memindahkan Susi ke ruangan lain.

__ADS_1


"Sementara mama kamu dipindahkan ke ruangan lain dulu, ya," ucap dokter Frans pada Nadia.


Nadia mengangguk.


Yudis menatap Nadia dengan lembut. Tak ada niat sedikitpun menghakimi Nadia atas kejadian ini.


Dia hanya bertanya-tanya dalam hati saja. Kenapa saat Nadia dinyatakan hamil, malah pada syok.


Nadia sendiri pun saat diajaknya berbincang di kantin tadi, tak mengatakan kalau dia sudah menikah.


Apa dia melakukan hal terlarang dengan kekasihnya? Tapi kenapa bisa syok seperti ini? Bukankah mestinya mereka tahu resiko dari perbuatan itu?


Atau Nadia korban pemerkosaan?


Dua orang perawat masuk ke ruangan dokter Frans dengan mendorong sebuah brankar. Dan mulai memindahkan tubuh Susi.


"Dokter, boleh saya ijin sebentar menolong mamanya Nadia?" tanya Yudis dengan sopan pada dokter Frans.


"Ya, silakan," jawab dokter Frans.


"Ayo, Nadia," ajak Yudis.


Yudis merasa kasihan pada Nadia. Dan dia yakin kalau saat ini Nadia butuh teman untuk menguatkannya.


Nadia pun mengangguk dan berdiri. Di tangannya masih ada kertas resep untuknya.


Yudis dengan dibantu seorang perawat laki-laki, membawa Susi ke ruangan lain. Nadia mengikutinya.


"Duduklah dulu di situ. Biar mama kamu, kami yang mengurus." Yudis menunjuk sebuah kursi di ruangan yang biasa digunakan dokter lain praktek.


Kebetulan dokter yang menggunakan ruangan itu sedang tak ada. Jadwal prakteknya baru nanti sore.


Ingatannya melayang pada kejadian dimana Surya pertama kali menyentuhnya. Atau lebih tepatnya memperkosanya.


Apa itu yang membuatku hamil? Atau kejadian di hotel waktu itu?


Ingatan Nadia kembali melayang ke hotel di kampung halaman Viona. Dimana dia dan Surya akhirnya mengulangi perbuatan itu.


Saat itu, tak ada lagi pemaksaan dari Surya. Nadia melakukannya dengan sadar.


Bahkan dia menikmati setiap sentuhan Surya. Hingga akhirnya gawang yang sudah dibobol paksa oleh Surya, kembali dimasuki.


Nadia menghela nafasnya dalam-dalam.


Kenapa aku begitu bodoh? Tak pernah berpikir kalau perbuatan itu akan mengakibatkan aku hamil? Dan kenapa selama ini aku tak menyadari kalau aku hamil?


Nadia hanya bisa merutuki dirinya sendiri, bahkan menyalahkan dirinya.


Nadia pun tak berani mengabari papanya. Masalah akan semakin runyam kalau sampai Haris tahu hal ini.


Meskipun pada akhirnya Haris juga akan tahu. Tapi setidaknya nanti. Setelah Nadia maupun Susi sudah siap bicara.


Terutama Nadia yang harus siap menerima resiko kemarahan Haris. Nadia harus berani mengatakan penyebabnya hamil.


Yudis menghampiri Nadia dan duduk di sebelahnya. Susi dia biarkan dulu. Yudis memprediksi, tak akan lama lagi Susi bakal siuman.


Perawat laki-laki yang membantu Yudis pun, keluar dari ruangan atas permintaan Yudis.

__ADS_1


"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Yudis pada Nadia.


Nadia hanya terdiam. Dia belum bisa mengeluarkan suaranya.


"Bicara saja. Mungkin aku bisa membantumu." Yudis menyentuh bahu Nadia.


Nadia menundukan wajahnya. Dan tiba-tiba matanya memanas dan berkaca-kaca.


"Bicara saja biar kamu bisa lebih tenang, Nad." Yudis mencari tissue. Dia melihat dari sisi wajah Nadia, pipinya sudah basah oleh air mata.


Lalu mengulurkan tissue pada Nadia. Nadia menerimanya. Dia hapus air matanya dan ingus yang ikut hampir menetes.


"Entahlah," ucap Nadia berusaha menenangkan diri.


Dalam hati, ingin sekali Nadia berteriak sekencang-kencangnya. Tapi karena masih ada di rumah sakit, Nadia berusaha menahannya.


"Kamu punya kekasih?" tanya Yudis.


Yudis khawatir kalau kehamilan Nadia benar-benar hasil pemerkosaan.


Nadia menggeleng.


Nadia tak bohong. Karena saat ini, dia sedang tak punya hubungan dengan siapapun. Surya pun sekarang sudah jalan dengan Viona.


"Lalu....itu?" Yudis melirik ke arah perut Nadia yang masih rata.


"Apa kamu bisa membantuku?" tanya Nadia dengan suara serak.


"Tentu. Aku akan berusaha membantumu. Semampuku," jawab Yudis.


Nadia menghela nafasnya dalam-dalam. Berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Agar dia punya tenaga untuk bicara pada Yudis.


"Apa yang bisa aku bantu?" Yudis menghadap ke arah Nadia.


Matanya menatap wajah yang menurut Yudis sangat menarik. Sederhana tapi tak terkesan kampungan.


Yudis sangat antusias untuk membantu Nadia. Apapun akan dia lakukan.


"Bisakah kehamilanku ini digugurkan?" tanya Nadia.


Jeder!


Bagai tersambar petir, Yudis mendengarnya. Dia tak menyangka Nadia akan memintanya untuk itu.


Nadia sendiri mempunyai pikiran seperti itu, agar papanya tak sampai mengetahui. Susi pasti mau menutupi masalah ini dari Haris, demi kebaikan bersama.


"Nad!" pekik Yudis pelan.


Nadia mengangguk. Memberikan tanda pada Yudis kalau dia serius dengan permuntaannya.


"Jangan gila, Nad. Itu hal yang tak mungkin aku lakukan," ucap Yudis.


"Kenapa?" tanya Nadia.


"Aku seorang calon dokter kandungan. Meskipun belum praktek sendiri, tapi aku sudah memegang sumpah. Tak akan melakukan hal itu, kecuali alasan kesehatan dan keselamatan nyawa seseorang," jawab Yudis.


"Kalau begitu...."

__ADS_1


Belum sempat Nadia melanjutkan omongannya, Susi menggeliat dan membuka matanya.


__ADS_2