PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 196 BAPERAN


__ADS_3

Viona terus saja berjalan dengan cepat, tanpa mempedulikan Surya.


"Viona, tunggu!" Surya berusaha mencegah Viona pergi. Tapi Viona yang sudah terlanjur tersinggung, terus saja berjalan.


Surya berlari mengejar dan menghalangi langkah Viona.


"Aku antar kamu pulang!" ucap Surya. Lalu Surya menarik tangan Viona, kembali ke rumahnya.


"Aku enggak mau ke rumah kamu!" sahut Viona.


"Aku ambil motor dulu, Viona," ucap Surya dengan sabar.


"Aku tunggu di sini!" sahut Viona lagi.


"Oke. Tapi jangan kemana-mana."


Viona mengangguk. Lalu Surya segera berlari mengambil motornya.


Viona pun menepati janjinya. Dia tak kemana-mana. Menunggu Surya.


"Mama kok gitu sih? Kasihan kak Viona tau, Ma," ucap Sinta yang masuk ke kamar Rahma.


"Udahlah, kamu diam aja dulu. Ini urusan Mama sama kakak kamu!" sahut Rahma.


"Tapi Sinta kan enggak enak sama kak Viona, Ma!" ucap Sinta dengan kesal.


Sinta ingat, bagaimana baiknya ibu Viona menyambut mereka saat di kampung halamannya Viona.


"Bilang aja Mama lagi banyak pikiran! Udah sana kamu siap-siap. Sebentar lagi kita ke butik!" ucap Rahma.


Sinta keluar dari kamar Rahma sambil cemberut.


Surya mengantar Viona lagi. Tapi tidak ke tempat kos Viona. Karena tadi mereka belum sempat makan, Surya mau mengajak Viona cari makan dulu.


"Mau kemana?" tanya Viona. Jalan yang diambil Surya bukan jalan ke arah kosannya.


"Cari makan. Aku laper," jawab Surya.


Surya sengaja tak menawari Viona lebih dulu. Karena bisa dipastikan Viona akan menolaknya.


Dan benar saja. Viona diam tak protes. Masa iya orang bilang laper, tidak mau mengantar.


Surya mencari tempat makan yang nyaman. Biar dia bisa menghibur Viona yang lagi kesal pada mamanya.


Sementara setelah puas menangis, Nadia keluar dari kamarnya. Menangis cukup lama, membuatnya kembali lapar. Padahal tadi pagi dia sudah makan bareng kedua orang tuanya.


Nadia turun dari tangga dengan mata sembab. Sampai di bawah, ketemu dengan Susi yang sudah siap pergi.


"Kamu abis nangis?" tanya Susi sambil melihat mata Nadia.


"Enggak!" jawab Nadia. Lalu melengos dan berjalan ke ruang makan.


Susi mengikuti dari belakang.


"Jangan bohong kamu. Ada apa?" tanya Susi lagi.


Nadia duduk di kursi makan. Susi pun mengikuti.

__ADS_1


"Enggak ada apa-apa, Ma. Nadia laper!" jawab Nadia.


Tak mungkin Nadia mengatakan penyebabnya. Bisa diketawain sama Susi.


"Laper?" Susi melihat ke arah jam dinding yang ada di ruang makan.


Nadia mengangguk.


"Baru dua jam kamu makan. Udah laper lagi?" tanya Susi tak percaya.


Nadia kembali mengangguk.


"Mbok Nah...!" teriak Nadia. Seperti biasanya, dia minta dilayani lagi oleh mbok Nah.


Dengan tergopoh-gopoh mbok Nah menghampiri Nadia.


"Iya, Non," sahut mbok Nah.


"Aku laper," ucap Nadia dengan manja.


Mata mbok Nah langsung melotot. Dia terkejut mendengarnya.


"Mana piringnya?" tanya Nadia.


"Iya, Non. Saya ambilkan. Tapi serius mau makan lagi?" Mbok Nah pun tak percaya. Karena biasanya Nadia paling susah makan.


Kalaupun mau makan pagi, cuma sedikit. Itu pun setelah Susi ngomel atau dipelototin Haris.


"Serius, Mbok. Masa makan enggak serius," jawab Nadia.


Sambil manggut-manggut, mbok Nah ke dapur mengambilkan piring.


"Nasinya?" Nadia benar-benar ingin bermanja-manja pada mbok Nah.


Manja pada Susi juga enggak bakalan diladeni. Susi hanya mau melayani Haris. Karena menurut Susi, Nadia sudah dewasa.


Dengan sigap mbok Nah mengambilkan nasi dan lauk pauknya. Lalu menatanya di atas meja makan. Hanya lauk pauk sisa makan tadi pagi. Karena mbok Nah belum sempat memasak lagi.


Di dapur tadi mbok Nah baru sempat beres-beres. Usianya yang semakin tua, menyebabkan tenaganya berkurang.


Susi hanya melihat saja. Melihat bagaimana Nadia makan dengan lahap. Walaupun dengan makanan yang sudah dimakannya tadi pagi.


"Kamu laper beneran, ya?" Susi merasa heran melihatnya.


"Iya, Ma. Laper, pakai banget," sahut Nadia. Lalu kembali menyuap makanannya.


Susi geleng-geleng kepala melihatnya.


Berangkat kuliah enggak mau. Di rumah kerjaannya cuma tidur sama makan.


Kalau kata Haris, biarin aja. Yang penting enggak kelayapan.


"Mama udah rapi, mau kemana?" tanya Nadia.


"Mau ke rumah tante Siska," jawab Susi.


"Ada acara di sana?" Nadia sudah kenal dengan teman Susi itu.

__ADS_1


Siska seorang perawan tua. Seumuran Susi. Teman sekolah Susi juga.


Hobinya membuat kue. Kalau kata Susi, Siska cuma bikin kalau ada yang pesan saja. Dia tak mau membuka toko sendiri. Meskipun Susi siap meminjaminya modal.


Alasannya kalau buka toko, dia tidak bisa pergi kemana-mana. Karena selain hobi membuat kue, Siska juga hobi traveling.


"Enggak. Cuma Mama tadi bete aja. Di rumah enggak ada yang bisa diajak ngobrol," jawab Susi.


"Lha, kan ada mbok Nah. Ajak ngobrol aja," ucap Nadia.


"Hadeh....mana nyambung!" sahut Susi.


"Orang ngomong apa, jawabnya apa," lanjut Susi.


"Ya Mama omongannya jangan yang berat-berat dong," ucap Nadia.


"Sama aja. Gak ngaruh!" sahut Susi.


"Makanya punya anak yang banyak, Ma. Biar rumahnya rame," ucap Nadia.


"Kamu dong nanti yang kasih cucu banyak buat Mama," sahut Susi.


"Ih, kok Nadia sih? Emangnya Nadia kelinci?" Nadia membayangkan kalau dirinya suatu saat hamil dan perutnya makin membesar.


Nadia bergidig.


"Ngapain kamu?" tanya Susi yang sedari tadi memperhatikan Nadia.


"Lagi ngebayangin kalau Nadia hamil. Pasti lucu banget. Perutnya buncit. Kayak perut badut," jawab Nadia. Lalu terkekeh sendiri.


"Dulu Mama juga begitu waktu hamil kamu juga kakak kamu. Apalagi pas hamil kamu. Selera makan Mama gila-gilaan. Kayak kamu ini...."


Susi tak meneruskan kalimatnya. Susi terdiam sambil memperhatikan Nadia lebih intens.


Ah! Enggak mungkin. Hamil sama siapa? Pacaran aja anget-anget tahi ayam. Sebentar mau sebentar enggak. Sampai keluarga Surya menjauh. Batin Susi.


"Mama kenapa liatin Nadia kayak begitu?" tanya Nadia. Dia merasa risi diperhatikan seperti itu.


"Enggak. Seneng aja liat makan kamu yang banyak. Mau nambah?" Susi mencoba mengalihkan pikirannya sendiri.


"Enggak, Ma. Udah kenyang banget. Tadi juga ambilnya banyak banget, kan," sahut Nadia.


"Ya udah, kalau udah kenyang. Biar mbok Nah beresin," ucap Susi.


"Eh, jangan, Ma. Nanti kalau Nadia laper lagi, gimana?"


Hah...!


Mata Susi terbelalak.


"Ih, Mama. Biasa aja, kali. Mama juga nanti pasti laper lagi, kan?"


"Iya. Tapi kan ada waktunya. Udah, kamu jangan biasakan makan enggak teratur. Ingat, kamu masih gadis! Jangan sampai badan kamu melar gak berbentuk!" larang Susi.


"Yang enggak berbentuk itu orang hamil! Perutnya kayak badut! Masa makan banyak aja enggak boleh!" Nadia merajuk.


"Nad. Bukan enggak boleh. Silakan kamu makan sepuas kamu, semua yang ada di sini. Tapi kamu juga harus jaga badan. Kalau udah melar, enggak gampang ngempesinnya," sahut Susi.

__ADS_1


Tapi sayangnya Nadia salah mengartikan omongan Susi. Dia malah baper dan lari naik lagi ke kamarnya.


__ADS_2