
"Hey, Nad. Sini. Kumpulah sama kita-kita!" ajak Celyn.
Nadia masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Jangan takut sama Defa. Dia kakakku. Dan dia sudah jinak! Hahaha." Celyn kembali tertawa.
Nadia mendekat. Tapi bukan untuk Celyn ataupun Defa.
Nadia merebut gelas di tangan Surya.
"Apa-apaan kamu!" ucap Nadia ketus, setelah berhasil merebutnya.
Lalu Nadia meletakan gelas itu ke meja dengan kasar.
"Kalian kalau mau minum, minumlah! Jangan ajak Surya!" ucap Nadia dengan nada lebih ketus pada Celyn dan Defa.
"Hey, Girl! Come on! Kami cuma mencari kehangatan aja!" sahut Defa.
"Bukan begitu caranya!" sahut Nadia.
"Lalu bagaimana?" Defa mendekati Nadia.
Nadia mundur beberapa langkah.
Dan dengan sekali tarik, Defa membuat tubuh Nadia berada di pelukannya.
"Like this!" Defa ******* bibir Nadia dengan kasar.
Dada Surya bergemuruh. Hatinya panas melihat Defa mencium Nadia dengan kasar di depannya.
Nadia berusaha melepaskan diri. Dan...
Plak!
Satu tamparan melayang ke pipi Defa.
"Kurang ajar!" seru Nadia.
Celyn menarik tubuh Defa. Dia paham kalau Defa bisa lebih brutal.
"Udah, Def!" seru Celyn.
Defa masih berusaha meraih tubuh Nadia dengan menggapai-gapaikan tangannya.
Surya langsung menarik tangan Nadia dan membawanya pergi.
"Hey, wanita munafik! Kemarilah. Kita nikmati malam ini. Hangatkan malamku!" seru Defa.
"Udah, Defa! Gila kamu! Jangan rusak acaraku!" Celyn menghempaskan tubuh Defa.
Lalu dia mengejar Surya dan Nadia.
"Surya! Tunggu!" seru Celyn.
Surya menoleh. Lalu menghentikan langkahnya.
"Maafkan kakakku!" ucap Celyn. Dia sudah berdiri di depan Surya dan Nadia.
"Nad. Aku minta maaf, oke...!" Celyn meraih tangan Nadia.
Nafas Nadia memburu. Tapi dia tak bisa marah pada Celyn. Karena bukan salahnya juga.
Nadia berusaha mengatur nafasnya. Lalu mengangguk.
"Sur. Kita pulang," ajak Nadia.
"Hey, acaranya belum selesai!" ucap Celyn.
"Maaf, Cel. Aku sudah ngantuk!" sahut Nadia.
Celyn melihat ke arah jam tangannya.
__ADS_1
"Jam segini?" tanya Celyn.
"Rumah kami jauh!" jawab Nadia.
Rumah kami? Apa maksudnya? Surya hanya membatin.
"Kalian bisa tidur di sini. Ada banyak kamar di atas!" Celyn menunjuk ke atas villanya.
"Kami mau pulang aja. Maaf, Cel!" Nadia menarik tangan Surya.
Surya bagai kerbau dicucuk hidungnya. Hanya bisa menurut.
Otaknya juga tidak konek. Bisa jadi karena pengaruh beberapa gelas minuman tadi.
Nadia terus menarik tangan Surya sampai di halaman villa.
Cuaca sangat mendung, meski gelap, tapi terasa dari petir yang beberapa kali menyambar.
"Hey! Ayolah. Sebentar lagi hujan deras. Biasanya terjadi badai. Enggak aman berkendara saat seperti itu." Celyn masih terus saja mengejar dan berusaha menahan mereka.
"Enggak apa, Cel. Kita pelan aja bawanya," sahut Nadia.
"Surya, ayolah. Please! Jangan kecewakan aku!" pinta Celin pada Surya.
"Masuklah, Cel. Acaranya enggak akan kacau tanpa kita!" sahut Nadia. Dia tetap berkeras tak mau kembali ke acara Celyn.
Surya hanya bisa mengangkat bahunya.
Galau!
Pasti!
Antara tak ingin mengecewakan Celyn dan menjauhkan Nadia dari kebrutalan Defa.
Bagaimana pun dan siapapun Nadia, Surya tak bisa membiarkan wanita dilecehkan. Apalagi terjadi di depan matanya.
"Maaf, Cel. Aku pulang dulu. Kapan-kapan kita bisa hang out bareng. Aku janji!" ucap Surya.
Cup!
Ya! Surya sengaja melakukannya.
Membalaskan sakit hatinya? Pasti!
Hatinya masih panas, melihat bagaimana tadi Defa ******* bibir Nadia.
Nadia membelalakan matanya.
Sejak kapan Surya begitu bebas mencium wanita?
"Oke...!" sahut Celyn. Dia tak bisa lagi menahan.
Nadia kembali menarik tangan Surya, meski hatinya juga terasa panas.
"Kamu naik apa tadi?" tanya Nadia.
Surya menunjuk mobil Yogi yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Mobil Yogi," jawab Surya.
"Aku numpang. Tadi aku berangkat bareng Dewi!" ucap Nadia.
Lalu Surya melangkah ke mobil Yogi dan membukakan pintu untuk Nadia.
Surya melajukan mobilnya perlahan. Jalanan tak terlalu besar, meliuk, naik turun dan gelap. Membuat Surya harus ekstra hati-hati.
Belum lagi kilat yang beberapa kali kembali menyambar. Membuat Nadia beberapa kali juga memalingkan kepalanya ke arah Surya.
"Masih mau melanjutkan perjalanan?" tanya Surya.
"Terus kita berhenti di jalanan?" Nadia balik bertanya.
__ADS_1
"Ya enggaklah. Kita cari penginapan," jawab Surya.
"Besok pagi aku harus ke kampus!" sahut Nadia.
"Nitip absen aja. Beres, kan?" goda Surya.
"Enak aja! Ada tugas yang harus dikumpulin!" sahut Nadia.
"Udah tau ada tugas, ngapain dateng ke sini?" tanya Surya.
"Tugasku udah selesai! Tinggal bawa aja!" jawab Nadia.
"Hhmm!" Surya tak komentar lagi.
Kilat kembali menyambar. Dan hujan deras mengikutinya.
Surya tak berani melanjutkan perjalanan. Dia menyalakan lampu seinnya. Dan mencari tempat yang datar untuk menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Nadia.
"Liat tuh?" Surya menunjuk ke luar.
Hujan turun dengan derasnya. Jalanan hampir tak terlihat. Lampu mobil seakan tak bisa menembusnya.
Nadia pun ikut memperhatikan jalanan.
Ngeri! Benar juga omongan Celyn tadi. Batin Nadia. Tapi untuk tetap di villa itu? Jelas Nadia lebih memilih berdua dengan Surya di dalam mobil.
Meskipun suasananya tak sehangat dulu. Seperti yang dikatakan Anasya tadi, Surya cool bak es batu.
Surya mengangkat kedua tangannya ke atas dan melipatnya di belakang kepala.
Lalu diguanakannya untuk menyandarkan kepala. Matanya terpejam.
Nadia hanya meliriknya sekilas. Lalu membuka tasnya. Nadia mengambil ponsel dan menyalakannya.
"Kamu mau kita tersambar petir?" tanya Surya.
Rupanya Surya tak benar-benar memejamkan mata. Dia masih bisa memperhatikan gerak gerik Nadia.
Dengan kesal, Nadia mematikan ponselnya dan menaruhnya lagi di dalam tas.
Surya tetap pada posisinya. Pura-pura tak peduli.
Nadia seperti mata gaya. Dia bingung mau ngapain.
Akhirnya dia nyalakan musik yang ada di mobil Yogi.
Volume kecil, jelas kalah dengan suara hujan dari luar. Nadia membesarkan lagi volumenya, hingga hampir maksimal.
Surya membuka matanya. Dia merasa terganggu.
Nadia menoleh. Mata mereka saling menatap. Dan entah siapa yang memulai, wajah mereka saling mendekat.
Surya mengelap bibir Nadia dengan tangannya. Dia tak ingin mencium bekas Defa.
Dan setelah itu....
Mereka tenggelam dalam ciuman panjang. Ciuman penuh kerinduan.
Rindu yang sama-sama kembali mereka pendam tanpa ada yang berani memulainya.
Dan kini mereka sama-sama menikmatinya. Di tengah hujan badai di luar sana.
Suara cecapan terasa mangalahkan suara hujan dan musik yang berdentum dengan keras.
Mereka seakan tak ada rasa puasnya. Nadia sangat menikmatinya meski dia harus menghirup aroma alkohol dari mulut Surya. Dia tak mempedulikanya.
Malah seakan menjadi magnet baginya. Nadia tak merelakan saat Surya menyudahi.
Dia kembali meraih leher Surya dan membenamkan lagi bibirnya.
__ADS_1
Surya tak menolaknya. Biarlah terjadi meski tak ada lagi rasa cinta untuk Nadia.
Benarkah?