PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 119 MENCARI SURYA


__ADS_3

"Surya seharian tidak ke rumah Nadia, Pa," jawab Rahma dengan suara bergetar.


Dia tadi memang terkejut mendengar teriakan Susi. Tapi lebih terkejut lagi, saat tahu kalau Surya seharian ini tidak ke rumah Nadia.


Toni pun ikut terdiam.


"Surya kemana, Pa?" tanya Rahma hampir menangis.


"Tenang dulu, Ma. Tenang," ucap Toni. Dia pun hilir mudik di dalam kamar mereka.


"Panggil Sinta," perintah Toni.


Rahma berjalan keluar kamarnya. Dari depan pintu kamarnya sendiri, dia memanggil Sinta.


"Sinta...!" Rahma tak bisa bersuara keras, karena tangisannya masih mengganjal dan hampir pecah.


Rahma kembali masuk ke kamarnya.


"Papa aja yang manggil." Lalu Rahma duduk di sisi tempat tidurnya. Dia mulai terisak.


"Mama jangan nangis dong. Jangan bikin Papa panik," ucap Toni sebelum keluar memanggil Sinta.


Rahma tetap saja menangis. Pikirannya sudah tak karu-karuan.


"Sinta! Sinta!" panggil Toni sambil mengetuk pintu kamar anak gadisnya.


Sinta yang lagi mendengarkan musik dengan head set-nya, tak mendengar.


Untung Sinta tak mengunci pintu kamarnya. Toni membukanya.


Sinta menoleh ke arah pintu. Tak biasanya Toni mencarinya sampai ke kamar.


Sinta segera melepaskan head setnya.


"Ada apa, Pa?" tanya Sinta.


"Kamu telpon Yogi. Suruh dia cari kakakmu! Seharian ini kakakmu enggak ke rumah Nadia. Cepat!" perintah Toni.


Toni kembali ke kamarnya.


"Tenang dong, Ma. Papa udah nyuruh Sinta ngubungin Yogi. Biar Yogi yang nyariin Surya. Mama jangan nangis lagi, ya?" ucap Toni berusaha menangkan Rahma.


Tapi Rahma masih saja terisak. Toni pun tak bisa berbuat apa-apa. Menunggu saja dulu kabar dari Yogi.


Sinta mengerutkan dahinya. Tapi terus menelpon Yogi.


"Hallo, A'. Bisa minta tolong enggak?" kata Sinta to the point.


"Minta tolong apa, Cin?" tanya Yogi. Dia lagi nongkrong di cafe bareng teman-teman kuliahnya.


"Tolong cariin kak Surya, dong. Kata papa, seharian ini kak Surya enggak ke rumah kak Nadia," jawab Sinta sesuai omongan papanya tadi.


"Oh ya? Tapi tadi dia masuk kelas kok. Ikut kuliah sampai selesai," sahut Yogi.


"Iya. Tapi terus dia enggak ke rumah kak Nadia. Sampai sekarang juga belum pulang. Ditelpon enggak diangkat. Di WA juga enggak dibaca," sahut Sinta.


"Ya udah. Nanti aku cariin. Kali aja nyempil di pasar lagi beli cabe," ucap Yogi bercanda seperti biasanya.


"Iih, Aa. Orang serius juga, malah bercanda." Sinta langsung manyun. Padahal Yogi enggak bisa melihatnya.

__ADS_1


"Iya, iya. Entar aku cariin. Ada lagi perintahnya enggak tuan putri?" tanya Yogi.


"Enggak! Udah itu aja! GPL!" Lalu Sinta menutup telponnya.


"Busyet! Galak amat ini anak. Tumben-tumbenan," gumam Yogi.


"Siapa Yog?" tanya Santi. Santi di mulut comel, ikut juga hang out bareng.


"Bokin gue," jawab Yogi santai.


"Ooh. Yang adiknya Surya itu ya? Siapa namanya?" tanya Santi.


"Hhh! Nanya-nanya, entar lu jadiin berita deh. Udah, aku pesenin minuman dulu gih," ucap Yogi.


"Iya! Main perintah aja. Emangnya gue emak lu?" gumam Santi sambil jalan menuju meja bar.


Yogi menghubungi nomor Surya. Tapi berkali-kali ditelpon, Surya tak mengangkat juga. Padahal ponselnya aktif.


"Dimana tuh bocah?" gumam Yogi.


"Siapa, Yog?" tanya Arga. Teman kuliah mereka juga.


"Surya. Dari tadi pulang kuliah, ngilang dia," jawab Yogi.


"Halah! Paling juga di rumah Nadia," sahut Arga.


Arga sudah tahu hubungan antara Surya dan Nadia. Meski kata Nadia cuma sahabat, tapi nyatanya mereka selalu bersama. Dan seakan tak bisa dipisahkan.


"Itu masalahnya, Bro. Hari ini dia kagak ke rumah Nadia. Belum balik juga ke rumah, ditelpon kagak diangkat juga," ucap Yogi.


"Yaelah, Yog. Masih jam segini, biarin aja ngapa?" sahut Arga.


"Haduh...! Puyeng gue punya emak kayak gitu. Anak perawan juga kagak gitu-gitu amat. Kalau pulang pagi, tuh. Baru diomelin!" sahut Arga.


"Gitu-gitu calon ibu mertua gue, Bro," ucap Yogi.


"Nih, Yog. Minuman lu!" Santi meletakan minuman Yogi di meja.


"Oke. Thankyou, San," ucap Yogi.


Santi duduk di sebelah Yogi. Yogi dan Arga tak melanjutkan obrolan mereka tentang Surya lagi. Karena tahu sifat buruk Santi yang kayak toak masjid.


Yogi mengirimkan pesan ke Nadia. Tapi pesannya ceklis saja.


Mau nanya siapa lagi, ya? Surya hampir tak punya teman akrab. Yogi malah bingung sendiri.


"Lu keliatan bingung banget, ada apaan sih Yog?" tanya Santi.


"Ada elu! Puyeng gue!" jawab Yogi.


"Sialan lu! Minum obat kalau puyeng!" sahut Santi.


Arga cuma geleng-geleng kepala.


Sinta mengirim pesan ke Yogi. Nanyain tentang Surya lagi.


Belum ketemu, Cin. Sabar, ya? Balas Yogi.


"Ga. Ikut gue, yuk," ajak Yogi.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Arga.


"Udah, ikut aja!" Yogi langsung berdiri. Arga pun mengikuti.


"Heh, mau pada kemana kalian?" tanya Santi.


Tapi baik Yogi maupun Arga tak ada yang menjawab. Mereka terus saja berjalan keluar cafe.


"Ish! Pada budeg apa ya, itu orang?" gumam Santi dengan kesal. Lalu dia bergabung dengan teman-teman lainnya.


Teman-teman Yogi, tidak heran kalau Surya tidak ikut ngumpul. Bagi mereka sudah biasa.


Malah kalau Surya tiba-tiba nongol, bakalan pada kaget.


Surya bukan type orang yang suka hang out. Apalagi di cafe. Kalau ngumpulnya di perpustakaan, baru Surya dateng nomor satu.


"Mau cari kemana, Yog?" tanya Arga.


"Enggak tau, deh. Gue juga bingung," jawab Yogi.


"Lha, kalau bingung, gimana nyarinya?" sahut Arga.


"Orang model Surya mau dicari dimana, coba? Masa iya, jam segini dia masih di perpus?" tanya Yogi.


"Perpusnya udah tutup juga, kali!" sahut Arga.


"Kayaknya lagi ada masalah, tuh anak! Enggak biasanya dia begini," ucap Yogi sambil menyetir mobilnya.


"Masalah ama Nadia?" tanya Arga.


"Kayaknya. Ama keluarganya enggak ada masalah apa-apa," ucap Yogi.


"Nongkrong di cafe juga kayaknya enggak mungkin," gumam Yogi.


"Kali aja, Bro. Mungkin dia lagi pingin menikmati kesendirian," sahut Arga.


"Kesendirian mah, di kuburan!" ucap Yogi asal.


"Mati, dong!" sahut Arga.


"Emang orang mati doang yang di kuburan?"


Yogi terus saja melajukan mobilnya, menyusuri jalanan. Matanya melihat ke kanan dan ke kiri.


Arga juga membantu melihat jalanan.


Sudah cukup jauh mereka jalan, tapi belum ada juga tanda-tanda Surya ada.


"Mau nyari kemana lagi, Yog?" tanya Arga.


Bukannya Arga capek, tapi dia merasa pencarian mereka sia-sia.


"Lapor polisi aja, gimana Yog?" usul Arga.


"Ngaco aja, lu. Lagian belum satu kali dua puluh empat jam juga!"


Sampai tiba-tiba, di sebuah cafe tempat Yogi dulu suka nongkrong, Yogi melihat Surya keluar dari cafe itu sambil berjalan sempoyongan.


"Surya....!"

__ADS_1


__ADS_2