PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 155 EGO NADIA


__ADS_3

"Aku bukan orang tuanya Sinta. Aku enggak berhak memutuskan," jawab Surya.


"Kalau itu sih gue ngerti, Bro. Setidaknya elu kasih dukungan dulu buat kita," sahut Yogi.


"Dukungan yang kayak apa?" tanya Surya.


"Dukungan kalau elu setuju dengan rencana kita. Iya kan, Cinta?" Yogi menatap Sinta.


Sinta hanya berani mengangguk. Bagaimanapun dia seorang adik. Dia tak mau memaksakan keinginannya pada Surya.


"Tuh, adik lu aja mengangguk. Ya, kecuali elu akan membiarkan kita terus-terusan berbuat dosa," ucap Yogi.


"Maksudnya kalian bakal melakukannya terus, meski belum menikah?" tanya Surya.


"Kalau soal itu, tanya deh ama diri elu sendiri."


Ucapan Yogi sangat menohok Surya. Dia tak mengingkari kalau sekarang malah jadi kecanduan berbuat itu lagi dengan Nadia. Meskipun belum ada respon yang menyenangkan dari Nadia.


Nadia masih jadi patung hidup saat Surya menggagahinya. Tak seperti pemeran wanita di film dewasa yang pernah ditonton Surya di ponselnya.


"Ya udah, aku dukung kalian. Tapi untuk urusan sama mama dan papa, kalian bilang sendiri. Aku enggak mau ikut campur," sahut Surya mengalah.


Surya terpaksa merelakan Yogi menikahi adiknya, karena enggak mau Sinta akan membuat malu keluarganya.


"Nah, gitu dong. Dari tadi, kan enak. Hehehe." Yogi terkekeh.


"Ketawa...! Ngeselin!" ucap Surya.


"Terus rencana kalian sendiri bagaimana? Mau selamanya kayak gini?" tanya Yogi.


"Kayak gini gimana?" tanya Surya.


Nadia semakin terdiam. Dia masih saja belum bisa menerima apa yang dilakukan Surya padanya.


"Masih diam-diaman. Mau dibawa kemana hubungan kalian?" Yogi menirukan lirik sebuah lagu yang sering didengarnya.


Surya melirik ke arah Nadia. Nadia hanya menunduk.


"Aku terserah Nadia aja. Mau dibawa kemanapun, aku nurut aja. Aku kan laki-laki. Enggak punya beban seandainya sampai...hamil."


Surya sengaja menakut-nakuti Nadia. Biar dia mikir dan mau menerima kenyataan.


Kenyataan kalau orang yang mencintainya adalah dia. Bukan Dewa.


Nadia terkesiap. Lalu melirik Surya.


"Kamu memaksaku?" tanya Nadia pada Surya.


"Enggak. Aku tak akan memaksamu. Pernikahan bukan untuk dipaksakan. Tapi kerelaan dan kesadaran," jawab Surya.


"Ya udah. Kalian selesaikan masalah dulu. Kami mau jalan-jalan ke pelabuhan. Sinta dari kemarin sore udah kepingin ke sana."


Yogi berdiri dan menarik tangan Sinta.


"Kami duluan. Nad, jangan mau kalau cuma dinaikin doang sama ono noh!" Yogi menunjuk Surya dengan dagunya.


Lalu buru-buru kabur sebelum Surya ngoceh lagi.

__ADS_1


Surya melotot ke arah Yogi. Omongannya sudah mulai berani.


"Aa kok ngomongnya gitu sih?" protes Sinta.


"Lha terus aku mesti ngomong gimana? Emang bener, kan?" tanya Yogi.


"Aku enggak tau, A. Kita kan belum yakin kalau kak Surya udah melakukannya," jawab Sinta.


Memurut Sinta, kalau memang mereka sudah melakukannya, pasti hubungan mereka bakalan semakin mesra. Bukan diem-dieman begitu.


"Udah kamu diem aja kalau enggak paham, Cinta," ucap Yogi.


Yogi paham kalau kekasihnya ini masih sangat lugu. Mungkin Sinta tak akan percaya kalau belum menyaksikannya sendiri. Atau ada pengakuan langsung dari yang bersangkutan.


Hh! Mana Surya mau mengaku pada adiknya ini. Pastinya Surya jaim.


Yogi berpikir akan menanyakannya sendiri nanti, saat berduaan saja dengan Surya.


Dasar Surya manusia jaim!


Yogi menggandeng tangan Sinta. Dia tak mau membebani pikiran Sinta dengan hal-hal yang kurang dipahaminya.


"Bagaimana Nad?" tanya Surya pada Nadia. Mereka masih berada di ruang makan hotel.


"Bagaimana apanya?" Nadia balik bertanya.


"Apa kamu masih bersikeras untuk mengabaikanku?"


"Maaf, Sur. Aku belum bisa mengambil keputusan." Lalu Nadia bangkit dan berjalan.


"Kita temui Dewa dan Viona," ajak Surya.


Surya meraih tangan Nadia dan mengajaknya berbelok ke lobby. Tapi Nadia langsung menepis tangan Surya.


"Kenapa?" tanya Surya.


"Aku enggak mau menemui mereka!" jawab Nadia.


"Nad. Mereka udah nungguin kita dari tadi, lho," ucap Surya.


"Dari tadi? Berapa jam? Sedangkan aku menunggu Dewa bertahun-tahun! Dan ini jawabannya?" Suara melengking Nadia sudah mulai terdengar.


Aduh, gawat! Bisa keluar semua penghuni hotel, kalau begini. Batin Surya.


"Oke. Oke. Kamu tenang, ya. Sekarang apa yang kamu inginkan?" Surya memilih mengalah.


"Aku mau pulang!" jawab Nadia.


"Oke. Kita pulang bersama. Aku bawa mobil sendiri," sahut Surya.


"Enggak perlu! Aku bisa pulang sendiri. Aku bisa naik bus!" ucap Nadia dengan ketus. Lalu dia kembali berjalan menuju kamarnya.


"Nad. Aku udah berjanji pada mama kamu, akan membantu mencari kamu. Bagaimana mungkin aku membiarkan kamu pulang sendirian?" tanya Surya.


"Bilang aja, kamu enggak bisa menemukan aku! Beres, kan?" Nadia terus saja berjalan.


"Enggak bisa begitu dong, Nad. Aku enggak akan tega membiarkan kamu pulang sendirian," ucap Surya. Dia terus saja mengikuti Nadia.

__ADS_1


"Kamu enggak tega membiarkan aku pulang sendirian? Tapi kamu tega melakukannya padaku, hah?"


Glek!


Surya menelan ludahnya.


Nadia terus berjalan dan segera masuk ke kamarnya.


Blum!


Nadia membanting pintu kamar hotel seperti di rumahnya sendiri saja.


Beberapa karyawan hotel yang sedang melintas, segera menghampir Surya yang sudah berada di depan pintu kamar Nadia.


"Ada apa, Pak? Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang karyawan hotel.


"Tidak ada. Terima kasih," ucap Surya lalu dia masuk ke kamarnya sendiri.


Surya duduk di tepi tempat tidurnya. Lalu dia mengacak rambutnya sendiri.


"Nadia. Begitu kerasnya hatimu? Bahkan di saat seperti ini pun, kamu masih menutup hati kamu?" tanya Surya pelan pada dirinya sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan lagi, Nadia? Haruskan aku bersimpuh memohon padamu? Kalau itu bisa meluluhkan hati kamu, akan aku lakukan Nadia!" ucap Surya lagi, masih pada dirinya sendiri.


Surya bangkit dan keluar dari kamarnya. Dia tak membawa barang apapun. Karena Sinta kelupaan memberikan pakaian ganti untuk Surya.


Surya mengeuk pintu kamar Nadia. Dia berharap Nadia masih mau membukakan pintu untuknya.


Tapi berkali-kali dia mengetuk dan memanggil, tak ada jawaban dari dalam.


"Oke, Nad. Kalau itu mau kamu, aku pulang duluan. Kamu hati-hati di jalan," ucap Surya dengan frustasi. Lalu melangkah pergi.


Di lobby, Surya bertemu dengan Dewa dan Viona.


"Hay, Sur. Mana Nadia?" tanya Dewa.


"Entahlah." Surya mengangkat bahunya.


"Lho, bukannya tadi dia bersama kamu?" tanya Dewa lagi dengan nada cemas.


Viona menoleh ke arah Dewa. Dia merasakan kecemasan dalam suara Dewa.


"Ya. Tapi dia memutuskan untuk pulang sendiri," jawab Surya.


"Kenapa? Kalian berantem?" tanya Dewa.


Surya hanya diam saja.


"Ayolah, Surya. Mengalahlah. Kita lelaki kadang harus menyimpan ego dan memaklumi perasaan wanita," ucap Dewa. Lalu dia memeluk Viona.


"Nadia tak semudah itu, Wa. Dia sangat keras kepala, kali ini," sahut Surya.


Dan dari tempatnya berdiri, Surya melihat Nadia lewat.


Nadia hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan langkahnya.


Surya hanya menghela nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


__ADS_2