PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 146 TUNGGU AKU


__ADS_3

Tadi Putra ke warung depan rumah Viona. Putra sudah menyeberang jalan. Dia tak sempat memperhatikan kalau warung itu ternyata tutup.


Putra hanya menghela nafasnya. Dia tidak fokus, jadi tak berpikir untuk memperhatikan warung itu dulu. Putra asal pergi saja dan menyeberang jalan.


Lalu Putra berjalan lagi. Dia ingat kalau dekat perempatan ada sebuah minimarket. Putra berpikir tak perlu berpamitan lagi pada Viona.


Sampai di minimarket, Putra sekalian mencari beberapa makanan kecil. Dia juga berpikir, untuk berjaga-jaga kalau Surya, Yogi dan Sinta mampir lagi ke rumah Viona.


Putra tahu kalau di rumah Viona tak ada stock makanan. Saat sedang memilih makanan kecil, Putra menabrak seseorang.


Reflek bebarapa makanan yang dibawa Putra terjatuh. Juga makanan yang dibawa orang itu.


Dan mirip adegan di sinetron-sinetron, mereka terkejut bersamaan dan saling menatap.


"Nadia...!" ucap Putra.


"Dewa...!" ucap Nadia.


Nadia langsung tersadar kalau Dewa kini tak bisa diharapkannya. Nadia menghela nafasnya. Lalu mencoba tersenyum.


Nadia memunguti makanannya yang tercecer. Dewa juga melakukan hal yang sama.


"Maafkan aku, Nadia," ucap Dewa.


"Enggak apa-apa. Cuma sedikit, kok," sahut Nadia. Dia pikir Dewa meminta maaf karena telah membuat makanannya jatuh.


"Maaf, soal di pantai tadi," ucap Dewa menegaskan.


Sambil berjongkok, Nadia menatap wajah Dewa. Wajah yang selama ini selalu menghantuinya.


Tatapan Nadia seperti terpaku. Dia terus saja menatap wajah yang kini jauh berubah.


Rahang yang terlihat kokoh dengan sedikit jambang yang mungkin lupa dicukur.


Kulit wajah yang berwarna lebih pekat. Pastinya karena selalu terpapar sinar matahari dan angin laut.


Ah! Nadia menghela nafasnya, lalu segera kembali berdiri.


Dewa pun ikut berdiri.


"Lupakan aja," sahut Nadia. Lalu dia buru-buru melangkah.


Dewa menangkap bahu Nadia dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Kamu udah melupakannya?" tanya Dewa, sambil matanya menatap tajam mata Nadia.


Mata yang selalu ada dalam ingatan Dewa. Tatapan yang selalu mencoba Dewa lupakan selama ini.


Nadia pun balas menatap Dewa tak kalah tajamnya.


"Ya!" Nadia mengangguk.


"Tak ada lagi yang perlu diingat, kan?" lanjut Nadia.

__ADS_1


Dewa terdiam.


Jangan dikira selama ini Dewa telah melupakan Nadia. Dewa sama halnya dengan Nadia. Sulit sekali bagi Dewa melupakan cinta pertamanya. Meski banyak orang mengatakan itu hanya cinta monyet.


Kisah cinta yang mulai mereka rasakan setelah kelas dua SMA. Tapi baru bisa terungkap setelah mereka kelas tiga.


Meski mereka hanya bisa merasakannya sebentar, tapi sangat melekat dan sulit sekali dilupakan.


Dewa hanya bisa mengalihkan rasa cintanya pada pekerjaan. Sampai dia sering mendapat predikat ABK teladan. Saking semangatnya Dewa bekerja.


Teman-teman Dewa yang lain, sering menghabiskan waktu luang untuk bermain ponsel. Sekedar ngegame atau mencari titik untuk bisa mendapatkan signal.


Tapi Dewa tak berminat memilikinya. Karena dia ingin menghilang dari kehidupan Nadia, dan melupakan untuk selamanya.


Nadia yang dia anggap telah dimiliki Surya. Lelaki yang nyaris sempurna.


Sebagai lelaki Surya hampir tak punya kekurangan. Dia ganteng. Cerdas. Anak orang berada. Apa lagi yang kurang?


Dewa merasa tak punya keperluan untuk menghubungi siapapun. Di dunia ini, satu-satunya keluarganya hanya Dewi. Adik perempuannya.


Dan Dewa biasa menghubungi Dewi saat kapalnya bersandar. Dia akan meminjam ponsel kawannya atau menggunakan telpon di kantor pelabuhan.


Dan itu tak pernah jadi masalah buat mereka. Dewi sangat memahami pekerjaan kakaknya yang tak mudah untuk dihubungi.


"Ada!" sahut Dewa dengan tegas.


"Apa?" tanya Nadia.


"Akan aku katakan nanti. Setelah aku berpamitan pada Viona," jawab Dewa.


Tapi Nadia tak menemukan Viona sama sekali.


"Dimana Viona?" tanya Nadia.


"Dia ada di rumahnya. Tak jauh dari sini. Kamu tunggu di sini. Aku akan kembali," jawab Dewa.


"Kamu pikir aku akan menunggumu?" tanya Nadia.


"Ya. Kamu pasti akan menungguku. Aku yakin!" jawab Dewa dengan tegas.


"Hhh!" Nadia mendengus dengan kasar.


"Enggak akan, Dewa. Aku tak akan lagi menunggumu! Sudah cukup tiga tahun kamu biarkan aku menunggu!" sahut Nadia.


"Kamu pikir cuma kamu yang menunggu? Aku juga menantikan saat seperti ini. Jadi, tunggulah aku!" Dewa tetap menginginkan Nadia menungggunya.


Lalu dia berjalan menuju kasir. Nadia pun mengikuti. Bukan untuk minta dibayari. Tapi karena Nadia sudah tak punya mood lagi untuk belanja.


Tadinya Nadia berniat belanja makanan kecil, untuk menemaninya di kamar hotel yang akan dibookingnya nanti.


Nadia tak mungkin langsung kembali pulang ke kotanya. Selain sudah malam, jauh juga. Bisa jadi di terminal tak ada lagi bus antar kota.


Nadia dan Dewa mengantri bersama.

__ADS_1


"Kamu menginap di kota ini, kan?" tanya Dewa.


"Kamu pikir ada kendaraan untuk kembali ke kotaku?" Nadia balik bertanya.


"Surya dimana?" tanya Dewa yang baru sadar, kalau diantara mereka ada Surya juga.


Nadia mengangkat bahunya.


Sejak tadi Surya meninggalkannya di tepi pantai, Nadia tak membuka ponselnya lagi. Dia tak berharap siapapun menghubunginya.


"Baiklah. Kalau kamu terlalu lama menungguku di sini, kamu istirahat dulu aja di hotel itu." Dewa menunjuk sebuah hotel yang persis berada di depan minimarket.


"Kamu pikir aku akan menginap di sana?" tanya Nadia.


"Memangnya kamu mau menginap di pinggir jalan? Cuma itu hotel terbaik di sekitar sini," jawab Dewa.


Nadia cuma melengos.


"Tapi aku tak akan menunggumu, Dewa!" ucap Nadia dengan ketus.


"Hhh! Aku enggak yakin," sahut Dewa.


Antrian mereka di kasir sudah tiba gilirannya. Dewa merebut sekalian belanjaan Nadia untuk dibayarnya.


"Kamu pikir aku tak bisa membayarnya sendiri!" Nadia berusaha merebut belanjaannya kembali.


"Jangan kayak anak kecil!" ucap Dewa sambil berusaha mempertahankan belanjaan Nadia.


Nadia hanya memutar matanya dengan malas. Malu juga kalau mesti berdebat di depan kasir.


Di belakang mereka juga masih ada beberapa orang yang mengantri.


"Dipisahin aja tasnya, Mbak," pinta Dewa. Sebab dia akan memberikan belanjaannya pada Viona.


"Iya, Mbak. Pisahin untuk selama-lamanya!" sahut Nadia.


"Mbaknya lucu!" sahut si kasir sambil tersenyum.


"Tapi ngangenin, Mbak," sahut Dewa. Matanya kembali menatap Nadia.


"Jangan gombal deh! Garing, tau enggak!" ucap Nadia.


"Terserah apa kata kamu," sahut Dewa dengan santai.


Dewa yang biasanya bersikap tegas, seperti menemukan kembali jiwa selengekannya.


Sejak SMA, Dewa sangat berbeda dengan Surya yang terlalu dingin. Dewa cenderung selengekan juga gokil. Itulah salah satu hal yang membuat Nadia jatuh hati.


Lalu mereka melangkah meninggalkan antrian kasir. Dewa berusaha merangkul Nadia. Tapi Nadia berusaha menepiskan tangan Dewa.


Dewa menangkap tangan Nadia dan menggengamnya erat.


Sesaat pandangan mereka beradu. Dan mereka sama-sama terkejut saat mendengar suara orang memanggil nama Nadia.

__ADS_1


"Viona...!"


__ADS_2