PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 151 PASRAH


__ADS_3

Nadia mengenakan kembali pakaiannya. Dia masih terus saja terisak. Harapannya untuk bisa mengambil kembali Dewa, semakin jauh.


Surya kembali menodainya. Menodai sesuatu yang mestinya hanya untuk Dewa. Tapi Surya telah merebutnya lebih dulu.


"Mau kemana kamu?" tanya Surya.


Nadia tak memghiraukannya. Dia mau kembali ke kamarnya sendiri. Nadia terus saja merapikan penampilannya, meski kamarnya bersebelahan dengan kamar Surya.


"Nad! Kamu mau kemana?" Surya mencekal tangan Nadia.


"Lepasin!" seru Nadia.


"Aku nanya, kamu mau kemana?" Suara Surya pun tak kalah kerasnya.


Nadia menatap ke arah Surya dengan geram.


"Apa urusan kamu?" tanya Nadia.


"Kamu enggak boleh kemana-mana. Tetap di sini bersamaku!" ucap Surya.


"Apa hak kamu memaksaku tetap di sini, hah?" tanya Nadia dengan geram.


"Kamu milikku, Nad!" ucap Surya.


"Oh ya? Kalau aku milikmu, kenapa kamu merusakku? Mestinya kamu menjaga sesuatu yang kamu miliki!" sahut Nadia.


"Maafkan aku, Nad," ucap Surya. Lalu menarik tangan Nadia dan mengecupnya. Nadia mendiamkannya. Karena menolakpun percuma. Tenaga Surya jauh lebih besar darinya.


"Apa dengan meminta maaf, semuanya bisa kembali?" tanya Nadia.


"Aku akan bertanggung jawab," ucap Surya..


"Bertanggung jawab untuk apa?" tanya Nadia lagi.


"Untuk semua yang telah aku lakukan padamu," jawab Surya.


Surya berpikir akan segera melamar Nadia. Dia tak peduli meski akan ditentang keluarganya, karena kuliahnya belum selesai.


Atau ditolak keluarga Nadia, karena telah menodainya. Surya tak peduli. Dia akan tetap melamar, dan kalau perlu membawa Nadia pergi jauh.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Nadia.


Enak aja. Setelah dia merampasnya, dia meminta maaf dan dengan seenaknya mau menikahiku?


Tidak! Aku tak semudah itu. Ini semua hanya jebakannya saja. Biar aku mau dinikahinya.


Aku tak sebodoh itu, Surya! Batin Nadia.


"Kamu pasti mau!" jawab Surya.


Surya bangkit dan mengambil kunci kamarnya yang tergeletak di lantai. Lalu dengan santainya dia mengunci pintu kamarnya.


Nadia menatapnya dengan kesal.


"Mana kuncinya?" pinta Nadia.


Surya tak menjawabnya. Dia kembali ke tempat tidur dengan hanya melilitkan selimut di pinggangnya. Lalu kembali merebahkan diri.

__ADS_1


Nadia menghentakan kakinya di lantai dengan kesal.


Dasar gila! Seenaknya aja dia mengurungku di sini! Nadia hanya duduk saja di kursi sambil memainkan bungkus kopi.


Surya tak mempedulikannya. Dia menyembunyikan kuncinya di bawah bantal, lalu tidur.


Nadia melirik ke arah Surya yang terlihat sudah terlelap. Lalu perlahan berjalan mendekat.


Mata Nadia mencari dimana Surya menyembunyikan kunci. Tapi sayangnya dia tak menemukannya.


Mungkin di bawah bantalnya, batin Nadia.


Lalu perlahan Nadia naik ke atas tempat tidur. Tangannya mulai meraba bawah bantal Surya.


Surya membuka sedikit matanya. Lalu dengan sekali gerakan, dia menarik tangan Nadia hingga jatuh di atas tubuhnya.


"Auwh!" pekik Nadia pelan.


"Tidurlah. Udah malam," ucap Surya pelan. Matanya yang masih terasa lengket, dia pejamkan. Tapi tangannya mendekap tubuh Nadia yang ada di atas tubuhnya.


"Kamu gila, Surya!" ucap Nadia dengan geram.


"Terserah kamu mau bilang apa. Tidurlah disini dengan orang gila." Surya masih saja mendekap tubuh Nadia seperti dia mendekap guling.


Nadia yang tak bisa lagi bergerak, hanya bisa pasrah.


Dan karena matanya juga sudah sangat mengantuk, akhirnya Nadia tertidur di atas tubuh Surya.


Surya terus mendekapnya. Hingga sampai dia merasakan Nadia benar-benar terlelap, perlahan dibaringkannya Nadia di sebelahnya.


Dengan satu tangan, Surya menyelimuti tubuh Nadia dan kembali mendekapnya.


Surya mengecup kening Nadia dengan lembut, lalu melanjutkan mimpi indahnya.


Hingga pagi menjelang, Nadia menggeliatkan badannya. Dan perlahan dia buka matanya.


Nadia terpaku. Dia ada di dekapan Surya. Wajahnya persis ada di depan dada bidang Surya.


Setelah menemukan kesadarannya, Nadia buru-buru menjauhkan kepalanya.


Surya masih terlihat terlelap.


Perlahan Nadia membuka selimut yang membungkus tubuhnya.


"Ahk!" pekik Nadia begitu menyadari tubuhnya tanpa sehelai benangpun.


Aku tidur dalam keadaan seperti ini semalaman? Bukankah semalam aku sudah mengenakan pakaianku? Lalu siapa yang melepaskannya? Surya kah? Kenapa aku tak menyadarinya?


Nadia hanya bisa merutuki dirinya sendiri.


Bodoh!


Bodoh sekali aku!


Dengan kesal, Nadia menghempaskan selimut. Hingga terpampang juga tubuh polos Surya.


Dasar orang gila! Maki Nadia dalam hati.

__ADS_1


Lalu dengan setengah berlari, Nadia menuju ke kamar mandi.


Dia nyalakan kran shower, lalu berdiri di bawahnya sambil memejamkan mata.


Apa yang telah aku lakukan dengan Surya? Kenapa aku tak menyadarinya lagi?


Surya sudah gila! Aku benci kamu, Surya!


Berkali-kali Nadia merutuki Surya. Matanya masih tetap terpejam. Dan dia masih tetap di bawah kucuran air yang mengalir deras.


Hingga dia merasakan ada tangan melingkar di pinggangnya. Dan ada rasa hangat di punggungnya.


"Jangan terlalu lama. Nanti kamu masuk angin," bisik Surya di telinganya.


Nadia hanya diam saja. Tak mempedulikan omongan Surya.


Surya menekan tempat sabun cair. Dia matikan air kran. Dia balik tubuh Nadia agar menghadap ke arahnya, lalu dengan perlahan dia gosok seluruh tubuh Nadia dengan sabun.


Nadia diam saja. Hanya matanya yang terbuka, menatap tangan Surya yang sedang menyabuninya.


Surya memperlakukan Nadia seperti anak balita yang sedang dimandikan.


Setelah merata, Surya menyalakan lagi krannya. Dan dengan perlahan dia bersihkan kulit tubuh Nadia dari sabun.


Nadia masih hanya diam. Juga saat Surya membersihkan tubuhnya sendiri.


Setelah semua selesai, Surya meraih handuk. Dia keringkan tubuh Nadia juga tubuhnya sendiri.


Surya menggendong Nadia keluar kamar mandi. Nadia bak patung hidup. Dia terus saja diam. Hanya matanya yang menatap Surya tanpa henti.


Setelah semuanya rapi, Surya mengecup kening Nadia dengan lembut.


"Kita cari makan yuk. Aku lapar banget," ucap Surya.


Nadia yang masih betah dengan aksi diamnya, masih tak bereaksi.


"Mau aku gendong sampai ke ruang makan?" tanya Surya. Meski merasa lapar, Surya masih punya tenaga kalau hanya untuk menggendong Nadia.


Karena Nadia masih terdiam, Surya mengulurkan tangannya. Siap menggendong Nadia.


"Aku buka pintu dulu," ucap Surya.


Surya mencari kunci pintunya.


Ah, iya. Aku menyembunyikannya di bawah bantal. Surya bergegas mengambilnya.


"Ayo, aku gendong ke sana." Surya langsung meraih tubuh Nadia dan menggendongnya.


Nadia mengalungkan kedua tangannya di leher Surya. Surya tersenyum penuh kemenangan. Karena akhirnya Nadia bereaksi juga.


Begitu mereka sampai di depan kamar, Dewa dan Viona berjalan bergandengan menuju kamar Nadia.


Dewa tersenyum melihat pemandangan itu. Nadia ada di gendongan Surya.


Mata Nadia justru terbelalak melihat Dewa datang bersama Viona. Dan mereka bergandengan tangan.


Tanpa berkata apa-apa, Nadia semakin mengeratkan tangannya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Surya.

__ADS_1


Surya hanya mengangkat bahu ke arah Dewa dan Viona, yang tersenyum ke arahnya.


__ADS_2