
Surya menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari kalau-kalau ada kios tambal ban yang sudah buka.
Rahma menanyakannya pada tukang parkir.
"Ada, Bu. Tapi di ujung jalan sana. Mungkin sudah buka," jawab tukang parkir.
Surya mendengarnya. Dia tak tega kalau mamanya ikut jalan juga ke sana.
"Mama pulang duluan aja. Pesen taksi online aja, ya?"
"Terus kamu sendirian dong?" tanya Rahma dengan khawatir.
"Enggak apa-apa, Ma. Mama bisa tolong telponin Nadia? Bilang kalau Surya terlambat jemputnya," jawab Surya.
"Kenapa kamu enggak telpon sendiri aja?" tanya Rahma lagi.
"Hape Surya ketinggalan di rumah, Ma," jawab Surya.
Rahma membuka tasnya. Dia mau mengambil ponsel. Tapi barang yang dicari tidak ada.
"Yaah...hape Mama juga enggak ada. Apa ketinggalan di rumah juga?" Rahma berusaha mengingat-ingat.
"Aduuh...gimana ini, Ma?" Surya kebingungan. Bukan soal mamanya, tapi bagaimana dia bisa menghubungi Nadia.
"Ya udah. Kita ke tukang tambal ban dulu aja. Paling cuma sebentar," ucap Rahma.
Mau tidak mau, Surya menurut. Dan mereka berjalan beriringan. Surya menuntun motornya, sementara Rahma berjalan di sampingnya.
Surya jadi ingat peristiwa beberapa tahun yang lalu. Saat mereka masih SMA.
Waktu itu Surya pinjam motor papanya buat nganter Nadia membeli buku. Dan pulangnya mereka harus menuntun motor sampai ke tukang tambal ban terdekat, yang jaraknya lumayan jauh.
"Surya, aku capek," rengek Nadia waktu itu.
Mereka udah berjalan beberapa kilometer. Tapi tak juga menemukan kios tambal ban.
"Ya udah. Kita istirahat dulu, ya?"
Nadia mengangguk.
Mereka berhenti di bawah sebuah pohon besar. Cuaca sangat panas waktu itu.
"Sur, kamu ada uang enggak?" Nadia melihat seorang penjual es cendol sedang melintas dengan gerobagnya.
Surya merogoh kantong celananya. Dia hanya menemukan selembar uang sepuluh ribuan.
"Aku cuma punya ini." Surya memperlihatkan harta satu-satunya itu sambil nyengir.
"Uangku juga abis. Aku haus banget." Nadia menelan ludahnya. Apalagi saat melihat seorang anak kecil membeli es cendol itu.
"Kamu mau itu?" tanya Surya.
Nadia langsung mengangguk kayak anak kecil. Matanya langsung berbinar.
__ADS_1
Surya berjalan mendekati tukang es itu. Surya mau membelikan untuk Nadia. Dia tak peduli bagaimana nanti bayar tambal bannya. Yang penting Nadia bisa minum es cendol.
"Satu bungkus berapa, Pak?" tanya Surya. Dia tak mau kalau uangnya kurang.
"Cuma tiga ribu, Mas. Mau berapa bungkus?" tanya penjualnya.
"Satu aja, Pak," jawab Surya.
Sesaat Surya berfikir, uangnya tinggal tujuh ribu. Semoga saja cukup buat bayar tambal ban.
Saat Surya menerima kembaliannya, tiba-tiba seorang ibu yang sedang hamil besar, lewat dengan anaknya yang masih kecil.
"Bu. Aku haus," rengek anak itu. Suaranya persis kayak Nadia tadi.
"Uang Ibu sudah habis, Nak. Kita pulang dulu, ya?" sahut si ibu.
"Enggak mau. Aku maunya sekarang. Haus banget, Bu." Anak itu tetap merengek.
Surya tak tega melihatnya. Lalu diberikannya bungkusan es cendol miliknya.
"Ini buat adik." Surya mengulurkan plastiknya. Mata anak itu langsung berbinar. Lalu melihat ke arah ibunya. Minta persetujuan.
"Jangan, Mas. Ini kan punya Masnya," tolak si ibu. Anaknya menunduk dengan sedih. Surya semakin tidak tega.
"Enggak apa-apa, Bu. Saya bisa pesan lagi," sahut Surya.
Melihat anaknya yang hampir menangis, akhirnya si ibu mengambil juga bungkusan es itu.
"Ya udah, saya ambil. Terima kasih banyak ya, Mas. Kapan-kapan kalau kita ketemu lagi, saya ganti uang Masnya." Sepertinya si ibu itu tak tega juga melihat anaknya hampir menangis.
Sambil berjalan kembali ke arah Nadia, Surya berfikir bagaimana caranya dia membayar tambal bannya nanti.
Uangnya tak bakalan cukup.
"Ini, Nad." Surya memberikan bungkusan esnya pada Nadia.
"Makasih, Surya. Kamu baik banget." Nadia langsung menyedotnya.
"Kamu mau juga, Sur?" Nadia memberikan es yang sudah tinggal separo.
"Enggak, Nad. Habisin kamu aja," tolak Surya. Walau sebenarnya Surya juga sangat haus.
"Kamu juga haus kan?" Nadia tetap memaksa. Akhirnya Surya menurut dan menyedotnya sedikit. Lumayan buat membasahi tenggorokannya.
"Kamu tadi membelikan anak kecil itu, Sur?" Nadia menunjuk anak kecil yang berjalan bersama ibunya. Mereka sudah semakin jauh.
"Iya. Uang ibunya habis. Anaknya merengek kayak kamu," sahut Surya menggoda Nadia.
"Iih, apaan, sih? Aku kan emang haus banget." Nadia membela diri. Padahal wajahnya merona karena malu pada Surya.
"Iya, enggak apa-apa. Cepetan dihabisin. Terus kita jalan lagi," ucap Surya pada Nadia yang duduk di atas motor.
"Uang kamu habis dong?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Masih. Nih." Surya memperlihatkan dua lembar dua ribuan.
"Emang cukup buat bayar tambal bannya?" tanya Nadia lagi.
"Kayaknya sih enggak," jawab Surya.
"Terus gimana dong?" Nadia jadi merasa bersalah.
"Ya nanti kamu aku tinggal sebentar, buat jaminan," jawab Surya menggoda Nadia.
"Hah?" Nadia langsung melotot.
"Eggak, Nad. Bercanda," sahut Surya.
"Terus gimana nanti, Sur?" Nadia tampak ikut kebingungan.
"Udah, gampanglah. Ayo jalan lagi," ajak Surya.
"Maafin aku ya, Sur. Gara-gara aku, uang kamu jadi abis. Besok aku ganti deh," ucap Nadia sambil berjalan di samping Surya yang menuntun motor.
"Enggak apa-apa, Nad. Aku yang minta maaf. Gara-gara motorku, kamu jadi jalan kaki begini," sahut Surya.
Mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan bengkel tambal ban.
Dan saat mau membayar, Surya mengatakan yang sejujurnya. Kalau uangnya habis. Dan dia memberikan jam tangannya untuk jaminan.
Surya berjanji akan mengambilnya nanti. Tapi pemilik tambal ban itu menolaknya.
"Bawa aja, Mas. Soal bayaran, gampanglah," ucap tukang tambal ban itu.
"Jangan melamun jalannya, Sur," ucap Rahma. Surya membawa motornya semakin ke tengah jalan.
"Oh!" Surya terkejut sendiri. Surya segera kembali ke pinggir.
"Mama enggak capek?" tanya Surya.
"Enggaklah. Tuh, udah kelihatan." Rahma menunjuk sebuah kios tambal ban yang tinggal beberapa meter lagi.
Sampai di sana, ternyata mereka masih harus mengantri. Karena ada dua motor yang juga bannya bocor.
"Antri ya, Pak?" tanya Surya.
"Iya, Mas. Dua lagi," jawab seorang bapak tua pemilik bengkel.
"Enggak ada yang bantuin?" Surya mulai gusar.
"Enggak ada, Mas." Pak tua itu kembali menambal ban.
"Sabar, Surya. Kalau jodoh tak akan lari kemana," ucap Rahma berusaha menenangkan.
Surya gusar karena merasa cemburu kalau Nadia bertemu dengan dokter muda yang wajahnya mirip Dewa.
Surya memperhatikan pak tua penambal ban itu.
__ADS_1
Bukannya dia penambal ban yang sama dengan waktu itu? Tanya Surya dalam hati.
Dan Surya ingat kalau dia belum membayar hutangnya waktu itu.