PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 37 SUARA HATI


__ADS_3

Surya mendengus kesal dikatai baper oleh Nadia. Padahal kenyataannya memang begitu.


Nadia menurunkan kakinya.


"Mau kemana?" tanya Surya.


"Pipis. Mau ikut?" ledek Nadia.


"Enggaklah. Tapi aku antar, ya?"


Nadia mengernyitkan dahinya.


"Terus kamu mau nungguin aku pipis?" tanya Nadia.


"Ya enggaklah, Nad. Aku tungguin kamu di depan pintu. Angkat kembali kakimu."


Dan tanpa menunggu reaksi dari Nadia, Surya mengembalikan kaki Nadia ke atas kursi.


Dan....Hap.


Dengan sigap Surya menggendong Nadia.


"Eh, kok digendong sih?" tanya Nadia. Tapi dia tetap saja mengalungkan tangannya ke leher Surya.


"Biar cepet sampe. Keburu kamu ngompol di celana," ledek Surya.


"Ngaco aja. Masa aku ngompol," sahut Nadia.


Aroma nafas Nadia menyeruak ke hidung Surya. Dalam hati ingin sekali Surya melahap bibir mungil di depannya itu. Tapi Surya menahannya. Tak ingin Nadia marah lagi padanya.


Sesampainya di kamar mandi, dengan perlahan Surya menurunkan Nadia dan mendudukannya di atas closet.


"Aku tunggu di luar, ya?"


Nadia mengangguk. Sebenarnya jantung Nadia berdetak tak beraturan saat tak sengaja wajah Surya menyentuh wajahnya.


Surya menutup pintu kamar mandi. Dengan sabar dia menunggu Nadia selesai buang air kecil.


Setelah selesai, Nadia membuka pintu kamar mandi. Matanya menatap Surya yang masih setia menunggunya.


"Udah?" tanya Surya.


Nadia mengangguk.


Lalu Surya kembali menggendongnya. Dan seperti tadi, Nadia mengalungkan lagi tangannya.


"Ke ruang tengah aja ya, Sur. Aku bosan di taman," ucap Nadia.


Surya mengangguk dan membawa Nadia ke ruang tengah. Lalu menurunkan Nadia perlahan ke atas sofa.


Dan kembali wajah mereka saling berdekatan.


Surya menatap wajah Nadia yang begitu dekat dengan wajahnya. Hanya beberapa centi saja.


Nadia membuang muka. Dia berusaha mengatur detak jantungnya.


Meski mereka bersahabat, tapi posisi mereka yang sangat dekat, tak ayal membuat Nadia bergetar.

__ADS_1


Surya pun merasakan hal yang sama. Dan mereka saling menyimpan getaran itu di hatinya.


"Aku buatkan minuman, ya? Kamu mau minum apa?" tanya Surya.


Sebenarnya itu hanya alasan Surya saja. Dia ingin sejenak mengatur detak jantungnya. Dan berusaha menghindar, takut ketahuan Nadia.


"Teh hangat aja, Sur. Minta bik Nah membuatkan," jawab Nadia.


Surya mengangguk dan berjalan ke dapur.


"Bik Nah. Tolong buatkan teh hangat buat Nadia," ucap Surya.


"Iya, Mas. Mas Surya mau sekalian dibuatkan enggak?" tanya bik Nah.


"Mm....boleh deh, Bik," jawab Surya.


"Pakai gula apa enggak?" tanya bik Nah lagi.


"Samain dengan Nadia aja, Bik. Saya tunggu di ruang tengah ya." Surya balik lagi ke ruang tamu.


"Siap, Mas Surya."


Bik Nah yang sudah cukup mengenal Surya, segera membuat dua gelas teh hangat.


Mereka itu memang pasangan yang serasi. Yang cewek cantik, yang cowok ganteng. Ganteng banget malah. Batin bik Nah.


Selama ini bik Nah mengira Nadia dan Surya berpacaran. Karena sering sekali bik Nah melihat mereka duduk berduaan. Dan Nadia tak pernah sekalipun terlihat membawa teman laki-laki ke rumah.


Bagaimana mungkin membawa teman laki-laki ke ruamh, hampir setiap hari Surya menemaninya. Bisa dibantai Surya kalau ada lelaki yang berani mendekati Nadia.


"Monggo, Non Nadia tehnya. Mas Surya, silakan diminum."


"Mau pakai minyak urut tidak, Mas Surya? Bibik masih punya," tanya bik Nah.


"Enggak usah, Bik. Aku enggak tahan sama baunya," tolak Nadia.


Semalam dia tak tahan membaui minyak urut yang diberikan bik Nah. Dia bisa tidur lagi karena pijatan bik Nah yang enak.


Pagi harinya, langsung Nadia minta spreinya diganti dan kamarnya dibersihkan.


"Apa minyak kayu putih saja?" Bik Nah masih terus menawari.


"Gimana?" tanya Surya pada Nadia.


"Boleh deh, kalau minyak kayu putih," jawab Nadia.


"Sebentar Bibik ambilkan."


Bik Nah segera ke kamarnya. Dia punya banyak koleksi minyak-minyakan. Dari minyak urut sampai minyak rambut.


Maklum kerjaannya banyak. Hampir semua pekerjaan di rumah keluarga Nadia dia kerjakan sendiri. Kecuali membersihkan halaman dan taman. Ada orang yang datang setiap sore, membersihkannya.


"Nih, Mas Surya. Mijatnya pelan saja. Biar enggak salah urat," ucap bik Nah sambil menyerahkan botol minyak kayu putih.


"Iya, Bik. Dari tadi juga pelan," jawab Surya.


Perlahan-lahan Surya membaluri pergelangan kaki Nadia dengan minyak kayu putih.

__ADS_1


"Sakit?" tanya Surya.


"Enggak, Sur. Enak malah," jawab Nadia.


"Sur, apa kabarnya Viona?" tanya Nadia. Padahal baru sehari tidak ketemu dengan Viona, tapi Nadia sudah merasa kangen sama sahabatnya itu.


"Baik. Tadi pagi aku ketemu dia, sarapan bareng sama Yogi," jawab Surya.


"Sarapan bareng? Dimana?" tanya Nadia.


"Di warung dekat kampus. Kebetulan aku juga lagi sarapan di sana," jawab Surya.


"Tumben kamu sarapan diluar. Memangnya mama kamu enggak masak?" Nadia tidak tahu kalau tadi pagi-pagi Surya sudah menyambanginya yang masih tidur.


"Sekali-kali kepingin sarapan diluar," jawab Surya berbohong. Dia tak enak kalau bilang tadi pagi sudah nyariin Nadia. Dan untungnya Susi tidak mengatakannya pada Nadia.


"Kok Viona bisa bareng sama Yogi? Apa mereka janjian? Atau udah jadian?" Nadia sudah pada mode kepo.


"Mana aku tau, Nad. Yang aku tau, mereka datang berdua. Terus Yogi mengantar Viona ke kampus. Terus balik lagi ke warung. Terus ke kampus jam delapan kurang sedikit denganku," sahut Surya panjang lebar.


"Terus?" tanya Nadia lagi.


Surya menatap Nadia dengan gemas. Kebiasaan Nadia kalau menanyakan sesuatu akan terus-terus kayak tukang parkir, sampai dia puas dengan jawabannya.


"Terus....Aku masuk kelas sama Yogi. Terus, ke kantor polisi ngurus kecelakaanmu kemarin. Terus.....Mm....Udah." Surya menghentikan ceritanya sampai di situ. Dia tidak mau kebablasan dan Nadia tahu kalau dia ketemu dengan Celyn.


Atau Nadia sampai tahu kalau si pelaku adalah kakaknya Celyn. Surya benar-benar menyimpan cerita tentang Celyn.


Bukannya dia mau bermain di belakang Nadia, tapi Surya tak mau Nadia menganggapnya dekat dengan Celyn.


Surya takut Nadia semakin tak bisa diraihnya. Karena mengira Surya sudah punya gebetan.


Surya mengambil gelas tehnya Nadia. Dan membantu Nadia minum buat mengalihkan pembicaraan tanpa Nadia sadari.


"Minum ya?"


"Biar aku minum sendiri, Sur." Nadia mengambil gelasnya dari tangan Surya.


Tapi baru saja Nadia memegangnya, isi gelas malah tumpah kesenggol tangan Surya. Dan bisa dipastikan, pakaian Nadia basah.


"Yah, tumpah deh," ucap Nadia.


Surya segera meminta lagi gelasnya.


"Kan aku tadi mau bantu kamu. Malah tumpah, kan?" Surya mencari tissue untuk membersihkan.


"Aku mau ganti baju aja, Sur. Lengket nanti," ucap Nadia sambil menurunkan kakinya.


"Sstt." Surya segera menahan kaki Nadia. Dan dengan sigap menggendong Nadia menuju ke kamarnya.


"Sur..." panggil Nadia pelan di gendongan Surya.


"Iya, Nad," jawab Surya dengan jantung berpacu cepat.


Nadia tak berkata-kata lagi. Dia hanya menyembunyikan wajahnya di dada Surya.


"Suara apa di dada kamu, Sur?" Nadia mendengar suara bergemuruh di sana.

__ADS_1


"Suara hati, Nad," jawab Surya.


Nadia hanya diam, sambil terus menatap wajah Surya yang mulai berwarna warni bak pelangi.


__ADS_2