
Surya diam di tempatnya. Menunggu sampai Nadia mengeluarkan motor yang ada di sebelah motornya.
Nadia sempat melihat ke arah Surya. Tapi tak menyapanya sama sekali. Bahkan Nadia seperti orang yang tak pernah kenal pada Surya.
Nadia menstater motornya lalu menghampiri Viona yang menunggunya agak jauh. Dan mereka pergi bersama.
Surya hanya menghela nafasnya.
"Yang sabar, Kak," ucap Sinta layaknya orang yang lebih dewasa.
Surya hanya tersenyum saja. Hatinya sangat sakit melihat Nadia yang seperti tak mengenalnya.
Semua gara-gara ambisi kedua orang tua mereka yang menginginkan perjodohan itu.
Hari-hari selanjutnya, dijalani Surya hanya dengan Yogi dan juga Sinta yang selalu ada di antara mereka.
Surya jadi punya lebih banyak waktu mengawasi dan menjaga hati adiknya, supaya tak terlalu berharap pada Yogi.
Entah apa sebenarnya yang diinginkan Yogi, kadang dia suka menggoda Sinta dengan gombalan-gombalannya. Kadang juga asik ngobrol dengan cewek lain.
Meskipun sekarang kebiasaan Yogi banyak berubah, tapi sifat Yogi yang friendly, terutama pada cewek tak bisa hilang.
Kadang sifat itu membuat Sinta bete. Dan Surya selalu menguatkan hati Sinta. Surya selalu mengatakan untuk tidak buru-buru menjatuhkan hati pada Yogi.
"Hey, Bro. Weekend ini libur panjang. Kita keluar kota yuk. Gue bosen di kota ini terus," ajak Yogi.
"Kemana?" tanya Surya.
"Ya kemana kek. Atau kita ke Jogja aja? Ke rumah eyang elu. Gue kan belum kenal sama eyang elu, Bro," jawab Yogi.
"Memangnya penting gitu, kamu kenal ama eyangku?" tanya Surya.
"Iyalah, Bro. Gue kan bakal jadi cucunya juga," jawab Yogi dengan pedenya.
"Maksudmu apa?" tanya Surya.
"Mm....Hehehe." Yogi hanya menggaruk kepalanya saja.
"Enggak jelas. Aku mau di rumah aja. Mau tidur tiga hari tiga malem!" sahut Surya.
"Eh, saingan ama beruang kutub dong elu?" ledek Yogi.
"Terserah. Mau beruang kutub, kek. Mau beruang madu, kek. Aku enggak peduli." Surya tetap menolak.
"Yaelah, Bro. Ayo dong, ajakin gue stayvacation." Yogi terus memelas.
"Gaya banget. Stayvacation! Biasanya juga kamu cuma nongkrong di cafe."
"Ayolah, Bro. Please! Gue yang bayar semuanya, deh. Elu tinggal bawa diri aja."
__ADS_1
Mata Surya langsung berbinar. Siapa yang menolak, pergi liburan dibayarin juga.
"Langsung berbinar-binar, deh. Dasar pelit markidit! Najis gue punya kakak ipar kayak elu!" Yogi ngomel-ngomel enggak jelas.
"Mau enggak? Kalau enggak, aku otewe nih."
"Otewe mana?" tanya Yogi.
"Ke kamar lah. Nyiapin tempat tidur senyaman mungkin. Biar aku betah tiga hari tiga malam enggak keluar-keluar," jawab Surya.
"Keluar udah jadi batu es, lu. Beruang kutubnya beku!" sahut Yogi.
Surya beranjak dari kursinya. Mereka lagi ngobrol di teras rumah Surya.
"Iya jadi! Jadi! Gue yang bayar semua! Puas?" teriak Yogi dengan kesal.
Surya kembali duduk. Lalu mencubit pipi Yogi dengan gemas.
"Ih, apaan sih? Najis!" Yogi menepis tangan Surya.
"Kalian mau ke Jogja, ya? Aku ikut dong." Sinta ternyata mendengar obrolan mereka dari dalam.
"Enggak! Enggak! Enak aja!" tolak Surya.
"Iih, Kakak! Aku kan juga butuh liburan," rengek Sinta.
"Liburan sendiri. Cari temen sana. Masa gabung sama anak laki." Surya tetap menolak Sinta ikut.
"Asiik....!" Sinta langsung bersorak. Lalu masuk kembali ke dalam rumah.
Surya menatap Yogi dengan tajam.
"Jangan galak-galak gitu dong, Bro. Kan ada elu di antara kita berdua," ucap Yogi.
Surya berdiri.
"Yog. Aku mau ngomong serius sama kamu. Kita cari tempat yang aman, yuk." Surya menarik tangan Yogi.
"Kemana? Jangan di hotel ya? Entar gue hamil lagi." Yogi masih menanggapi Surya dengan bercanda.
Surya berjalan ke motornya.
"Mau kemana, Bro?" tanya Yogi.
"Udah. Ikut aja!" Surya melajukan motornya.
Yogi langsung naik ke motornya sendiri dan menyusul Surya.
Dia tak tahu, Surya mau membawanya kemana. Yogi cuma mengikuti di belakang Surya saja.
__ADS_1
Surya membelokan motornya ke sebuah cafe kecil dekat komplek rumahnya.
Lalu memesan dua gelas es teh dan mencari tempat duduk.
"Duduk!" perintah Surya.
Yogi menurut. Dia duduk di depan Surya. Karena meja kecil itu hanya memiliki dua kursi.
"Aku mau nanya sama kamu. Ini tentang sikap kamu selama ini pada Sinta."
Yogi masih menyimak omongan Surya. Yogi mengangguk patuh.
"Sebenarnya apa yang kamu rasakan pada Sinta? Jawab yang jujur, Yog. Aku enggak akan marah atau mempengaruhi persahabatan kita. Apapun perasaanmu pada Sinta," ucap Surya.
Yogi menghela nafasnya dalam-dalam.
"Beneran elu mau tau?" tanya Yogi.
Surya mengangguk. Dia tak mau adiknya dilambung harapan yang tinggi oleh Yogi. Lalu tiba-tiba mesti menerima kenyataan yang pahit seperti dirinya.
"Jujur, gue sayang ama Sinta. Tapi gue belum yakin pada diri gue sendiri, ini beneran sayang kayak orang pacaran atau sekedar sayang seorang kakak ke adiknya. Kayak elu sayang ke Sinta." Yogi menghela nafasnya.
"Dari pengalaman elu ama Nadia, gue jadi ragu ama perasaan gue sendiri. Dulu Nadia begitu deket ama elu. Semua orang, bahkan mungkin diri elu sendiri mengira Nadia mencintai elu. Tapi apa yang terjadi?"
Surya menatap lekat mata Yogi. Dia berusaha mencari kejujuran di sana.
"Nadia ternyata menyayangi elu cuma sebagai sahabat aja. Enggak lebih. Karena ternyata hatinya udah dibawa kabur sama masa lalunya," lanjut Yogi.
"Itu yang bikin gue enggak mau buru-buru ambil keputusan, Bro. Gue takut, rasa sayang gue ke Sinta cuma sekedar rasa sayang kakak pada adiknya. Nah, saat gue ketemu cewek yang bener-bener bisa bikin gue jatuh cinta, gue malah berpaling. Kasihan kan Sintanya?"
Yogi menghela nafasnya.
"Yog. Kalau menurutku, apa yang kamu rasakan terlalu rumit. Memang aku pernah punya pengalaman kayak gitu sama Nadia. Tapi ini semua pure salahku yang terlalu berharap pada Nadia."
Surya menghabiskan minumannya.
"Dari awal aku udah tau kalau Nadia mencintai Dewa. Tapi aku bersikap tak peduli. Karena aku pikir, Dewa udah ilang, enggak akan kembali. Dan perlahan rasa cinta Nadia beralih padaku. Tapi ternyata enggak. Nadia tetap memilih Dewa. Dan aku, mundur."
Yogi menatap wajah Surya yang berubah mendung.
"Bro. Gue prihatin ama nasib elu. Itu juga salah satu alasan kenapa gue menahan perasaan ama Sinta. Gue enggak mau elu sedih. Jadi jomblo sendirian itu menyakitkan, Bro. Kayak gue waktu elu masih ama Nadia. Sampai gue ngotot ngejar Viona," ucap Yogi.
"Terus maksudmu?" tanya Surya.
"Gue nunggu elu dapet pasangan dan bahagia dulu, baru gue nembak Sinta. Semoga saat itu enggak terlambat buat gue," jawab Yogi.
Surya sangat terharu mendengarnya. Dia tak mengira Yogi sebegitu sayangnya pada dia.
"Yog. Segitu sayangnya kamu ama aku?" tanya Surya sambil memegang tangan Yogi.
__ADS_1
"Ih, Najis! Pake pegang-pegang tangan segala! Emang gue cowok apaan?"