
Toni dan Sinta yang ada di barisan depan langsung menangkap badan Rahma yang ambruk. Hingga tak sampai terjerembab di lantai.
Surya pun bergegas berdiri dan ikut menolong Rahma. Mereka membawa tubuh Rahma ke tempat tidur.
"Pa. Gimana ini?" tanya Sinta. Air mata membasahi pipinya.
Toni menatap geram pada Surya. Sudah dua kali anak lelakinya ini membuat istri tercintanya pingsan.
Tapi untuk marah-marah pada Surya saat ini, rasanya bukanlah waktu yang tepat.
"Panggilkan dokter Lucky!" ucap Toni.
Surya mengangguk. Lalu dia keluar dari kamar orang tuanya. Langkahnya gontai menuju rumah dokter Lucky.
Dan untung saja dokter Lucky berada di rumahnya.
"Surya. Ada apa?" tanya dokter Lucky yang sedang duduk santai di teras rumahnya.
"Maaf, Dokter. Bisa ke rumah saya? Mama saya sakit," jawab Surya.
Surya tak bilang kalau Rahma pingsan. Malu sama istri dokter Lucky yang ada di situ.
"Ya, baiklah. Tunggu sebentar."
Dokter Lucky masuk ke dalam rumahnya. Mengambil peralatan medisnya.
"Mama kamu sakit apa, Surya?" tanya istri dokter Lucky.
"Saya kurang tau, Bu." Surya terpaksa berbohong, agar tak banyak pertanyaan untuknya.
"Mungkin kecapekan. Sebentar lagi kan mau mantu," ucap istri dokter Lucky.
Surya hanya mengangguk saja.
Tak lama, dokter Lucky pun keluar. Dengan membawa perlengkapan medisnya.
"Bu. Tinggal dulu, ya," pamit dokter Lucky pada istrinya.
"Iya, Pak. Hati-hati," sahutnya.
Surya pun ikut pamit pada istri dokter yang baik hati itu.
Sampai di kamar orang tua Surya, hanya ada Toni. Yang lainnya menunggu diluar. Karena Rahma akan semakin kekurangan oksigen kalau terlalu banyak orang di dalam kamarnya.
Surya ikut masuk. Dia sangat khawatir dengan kondisi mamanya. Karena dialah penyebab semua ini.
Dokter Lucky memeriksa kondisi Rahma. Wajahnya langsung berubah.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya Toni dengan panik.
Dokter Lucky menghela nafasnya dalam-dalam.
"Bisa kita bawa bu Rahma ke rumah sakit? Beliau mengalami serangan jantung," jawab dokter Lucky.
"Apa?" tanya Toni dengan sangat terkejut.
Dokter Lucky mengangguk.
"Tapi...istri saya tidak punya riwayat penyakit jantung, Dokter," ucap Toni.
__ADS_1
"Apa bu Rahma baru saja mendapatkan berita atau hal yang mengejutkan?" tanya dokter Lucky.
Toni mengangguk. Surya hanya diam sambil menundukan wajahnya. Dia yang menyebabkan semua ini. Surya merasa sangat bersalah.
"Kalau begitu, saya panggilkan ambulans. Biar bu Rahma bisa dibawa ke rumah sakit dengan posisi yang benar."
Dokter Lucky langsung menghubungi nomor rumah sakit tempatnya bekerja.
Toni hanya bisa pasrah. Dan berdoa semoga Rahma bisa tertolong.
Surya merasakan persendiannya lemas. Dia sampai bersandar di dinding.
Sinta yang berdiri di luar kamar, mendengarnya. Dia menangis di pelukan eyang putri.
"Sudah. Jangan nangis. Doakan yang terbaik buat mama kamu," ucap eyang putri sambil membelai punggung Sinta.
"Sinta takut, Eyang. Sinta takut....!" sahut Sinta sambil terus menangis.
Eyang kakung hanya bisa berjalan kesana kemari sambil menyilangkan kedua tangan di belakang badannya.
Tak lama, ambulans datang menjemput Rahma. Surya dan Toni ikut membantu memindahkan Rahma ke brankar, lalu mengikuti sampai ke mobil ambulans.
"Kamu bawa mobil sendiri. Biar papa yang ikut ke dalam ambulans," ucap Toni pada Surya.
"Sinta ikut Papa!" ucap Sinta. Dan tanpa menunggu persetujuan Toni, Sinta langsung naik ke dalam mobil ambulans.
Surya membawa mobilnya bersama kedua eyangnya. Lalu mengikuti mobil ambulans dari belakang.
Seluruh penghuni komplek yang melihatnya bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan Rahma.
Mereka sempat melihat Rahma dinaikan ke dalam mobil ambulans. Dan dalam keadaan tak sadarkan diri.
Tetangga-tetangga Susi banyak berkerumun. Susi pun mendekati kerumunan itu. Berharap mendapatkan berita tentang Rahma.
"Itu bu Susi. Bu Rahma kenapa, Bu?" tanya seorang tetangga.
Lah, Susi malah menghela nafasnya. Dia datang mau mencari berita, malah dia yang ditanyai.
"Saya enggak tau, ibu-ibu. Saya malah yang mau tanya sama ibu-ibu," sahut Susi.
"Loh, bukannya Bu Susi ini calon besannya?" tanya ibu-ibu yang lainnya.
Aduh! Aku mesti jawab apaan nih? Masa iya, aku harus cerita yang sebenarnya pada mereka? Susi malah kebingungan sendiri.
"I...Iya. Ta...tapi saya enggak tahu," jawab Susi gelagapan.
Akhirnya, daripada malah diinterogasi oleh ibu-ibu, Susi memilih kembali ke dalam rumahnya.
"Nad...! Nadia!" Susi berlari naik ke lantai dua.
"Bu...! Jangan lari-lari. Nanti jatuh!" teriak mbok Nah, yang melihat Susi lari.
Susi tak mempedulikannya. Dia hanya perlu berhati-hati saja, agar tidak jatuh.
"Nadia!" Susi langsung masuk ke kamar Nadia. Nafas Susi ngos-ngosan.
Nadia lagi rebahan sambil main game di ponselnya.
"Ada apa, Ma? Sampai ngos-ngosan gitu?" tanya Nadia.
__ADS_1
Susi mengatur nafasnya dulu, sebelum bicara.
"Mamanya Surya pingsan. Dan sekarang dibawa ke rumah sakit pakai ambulans," jawab Susi.
Nadia terkesiap dan langsung bangkit.
"Pingsan kenapa, Ma?" tanya Nadia khawatir.
Bagaimana pun Nadia pernah sangat dekat dengan Rahma. Dan Rahma pun pernah sangat menyayangi Nadia.
"Mama enggak tau! Ayo, sekarang kita ke rumah sakit!" ajak Susi.
Nadia tak bisa menolak. Dan memang tak ingin menolaknya. Nadia ingin melihat kondisi Rahma.
"Iya, Ma. Nadia ganti baju dulu," sahut Nadia.
"Mama juga mau siap-siap." Susi kembali menuruni tangga.
Di tengah tangga, Susi malah terhadang mbok Nah yang mau naik.
"Mbok Nah, minggir!" ucap Susi.
Mbok Nah pun minggir, memberi jalan untuk Susi.
Bu Susi kenapa, ya? Kok dari tadi lari-lari terus? Tanya mbok Nah dalam hati.
Lalu mbok Nah menuju kamar Nadia. Berharap mendapatkan jawaban dari Nadia.
"Mau kemana, Non?" tanya mbok Nah melihat Nadia lagi buru-buru ganti baju.
"Mau ke rumah sakit!" jawab Nadia tanpa melihat ke arah mbok Nah.
"Loh, memangnya belum sembuh juga?"
Mbok Nah berpikir, Nadia masih merasa badannya tak enak.
Nadia menoleh ke arah mbok Nah. Tapi belum sempat menjawab, Susi sudah memanggilnya dengan keras dari bawah.
"Nadia....! Cepetan!"
Nadia pun langsung menjawab sambil berlari keluar kamar.
"Iya, Ma!"
"Loh...Loh. Non, jangan lari-lari. Katanya masih sakit!" seru mbok Nah.
Nadia tak mempedulikannya. Dia terus saja berlari menuruni tangga.
Susi tak perlu ganti baju. Karena kebiasaan Susi, meskipun di rumah, selalu berpakaian rapi. Kecuali mau tidur.
Susi dan Nadia berlari menuju mobil diikuti mbok Nah dari belakang.
"Mbok Nah mau ngapain?" tanya Nadia. Susi sudah masuk ke dalam mobil.
"Ikut ke rumah sakit," jawab mbok Nah.
"Enggak usah, Mbok. Mbok Nah di rumah aja. Jagain rumah, oke!" Nadia memberikan tanda dengan jarinya.
"Oke!" ucap mbok Nah. Jarinya mengikuti jari Nadia.
__ADS_1