PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 156 CINTA TAK PUNYA LOGIKA


__ADS_3

Surya menatap ke arah Nadia yang terus melangkah dengan membawa ranselnya.


Nadia menuju ke meja resepsionis. Lalu menyerahkan kunci kamarnya.


Ingin rasanya berlari dan menahan Nadia. Tapi rasanya percuma saja. Nadia terlalu keras dan membatu.


Dewa menoleh, mengikuti arah pandang Surya.


Nadia. Mau kemana dia? Tanya Dewa dalam hatinya.


Nadia pun menoleh dan menatap Dewa. Seakan ada magnet yang menuntunnya menoleh.


Perlahan Dewa melepaskan tangannya dari bahu Viona.


Viona pun ikut menoleh. Dan dilihatnya Nadia sedang menatap ke arah Dewa.


Dengan posesif, Viona meraih kembali tangan Dewa.


Surya hanya bisa menyaksikannya dengan hati hancur.


Lalu Dewa kembali menoleh pada Surya.


"Sur, aku titip Viona sebentar," ucap Dewa.


Viona merasa dirinya seperti barang saja. Seenaknya Dewa menitipkan.


Surya tak menjawab.


Lalu Dewa berusaha melepaskan lagi tangan Viona.


"Kamu mau kemana, Putra?" tanya Viona.


"Kamu sama Surya dulu, sebentar. Aku mau menemuinya," jawab Dewa.


"Enggak, Putra! Aku ikut!" sahut Viona.


"Kamu tunggulah di sini. Aku janji, ini yang terakhir kalinya," ucap Dewa.


"Putra...!" ucap Viona tak mau melepaskan Dewa.


Dewa menatap mata Viona dengan tajam.


Viona menggeleng. Dia meraih kembali tangan Dewa. Tapi Dewa menghindar.


"Putra....!"ucap Viona.


Dewa seakan tak mau mempedulikan Viona lagi. Dia berjalan meninggalkan Viona dan mengejar Nadia.


"Putra...!" panggil Viona.


Surya meraih tangan Viona.


"Udahlah, Vi. Beri kesempatan buat mereka," ucap Surya.


"Kesempatan apa?" tanya Viona mulai terisak.


"Mungkin mereka butuh kesempatan bicara. Biarkan saja dulu," ucap Surya.


Surya bicara seolah dia bisa merelakan Nadia. Padahal kenyataannya, dia juga sangat terluka.


"Enggak, Surya. Mereka akan kembali. Nadia akan mengambil Putra dariku!" sahut Viona.


"Tidak akan, Viona. Dewa tetap milik kamu. Meskipun Nadia bukan lagi milikku." Suara Surya melemah.


Viona menoleh ke arah Surya. Mata Surya memancarkan keputus asaan.

__ADS_1


Tapi Surya berusaha tetap tegar. Melihat Nadia dan Dewa keluar dari area hotel.


"Mau kemana mereka, Surya?" tanya Viona.


"Entahlah. Biarkan saja," jawab Surya.


"Tapi Surya..." Viona tak bisa lagi menahan emosinya. Dia berlari mengejar Dewa.


"Putra...! Tunggu aku!" teriak Viona.


Dewa tak menghiraukannya. Dia terus berjalan menjauh.


Surya mengejar Viona. Lalu diraihnya bahu Viona.


"Kamu tak perlu mengejarnya. Untuk apa? Untuk merendahkan diri kamu sendiri?" tanya Surya.


"Aku akan mempertahankan milikku, Surya!" jawab Viona.


"Tapi dia tak merasa memilikimu, Viona. Lihatlah, dia malah pergi dan mengabaikanmu!" sahut Surya.


Surya pun sudah berpikir, Nadia bukan lagi miliknya. Karena Nadia sudah memilih pergi bersama Dewa. Di depan matanya.


Serendah-rendahnya Surya, dia pun tak akan terima diperlakukan seperti ini. Dia menganggap Nadia telah menyelingkuhinya.


Dan ini bukan lagi seperti kemarin-kemarin. Dimana Nadia hanya menyebut nama Dewa, atau kembali bernostalgia dengan angan masa lalunya.


Ini nyata!


Dan Surya sangat terluka.


"Tidak, Surya. Kau akan mempertahankannya!"


Viona yang juga sangat keras kepala, berlari mengejar Dewa dan Nadia.


Surya hanya menatapnya penuh rasa iba.


Mengenaskan sekali!


Surya menghela nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya pelan-pelan.


Setelah merasa lebih tenang, Surya menggelengkan kepala dan memejamkan matanya sejenak.


Dia seperti sedang berusaha membuang semua rasa kesal, amarah dan semua yang buruk dari kepalanya.


Surya kembali menghela nafasnya, lalu berusaha tersenyum dan melangkah ke meja resepsionis.


"Ini kunci kamar saya, Mbak. Saya check out hari ini," ucap Surya dengan ramah.


"Iya. Terima kasih atas kunjungannya di hotel kami. Selamat jalan dan semoga harimu menyenangkan," sahut resepsionis yang dari tadi sesekali memperhatikan Surya dan kawan-kawannya.


"Terima kasih, Mbak. Permisi," pamit Surya. Lalu dia berjalan ke luar dari hotel.


Surya mengambil mobilnya di parkiran.


Tempat pertama yang akan dia tuju adalah pelabuhan. Bukan untuk menyusul Dewa. Tapi Surya akan mencari Yogi dan Sinta.


Dia akan berpamitan pada mereka berdua yang beralasan ponselnya mati semua.


Surya sebenarnya kesal dan tak percaya dengan alasan mereka yang satu itu.


Tapi ya sudahlah. Surya berpikir, memang kadang cinta tak ada logika.


Cinta bisa merubah karakter seseorang.


Contohnya saja dirinya sendiri. Seorang lelaki baik-baik, bisa berubah menjadi beringas. Mulai suka minum hingga mabuk, sampai menjadi seorang pemerkosa.

__ADS_1


Ah. Gila!


Aku udah gila!


Surya memukul stir mobilnya dengan keras.


"Udahlah. Aku janji, aku akan mengubur dan melupakan semuanya. Aku lelaki. Aku tak terbebani oleh apapun. Aku tak kehilangan apapun. Apa lagi yang harus aku pikirkan?" ucap Surya pelan, pada dirinya sendiri.


"Heh. Aku bicara sendiri. Apa cinta juga bisa membuatku gila? Tidak! Aku tak mau jadi orang gila! Aku tak mau kehilangan kewarasanku!" ucap Surya lagi pelan.


Lalu Surya terkekeh sendiri.


"Lucu! Ini sangat lucu!"


Surya mulai menekan gas mobilnya, dan melajukannya perlahan. Seperti niatnya tadi. Dia akan ke pelabuhan mencari Sinta, adiknya.


Adiknya yang menurutnya kini jauh lebih penting dari Nadia.


Adiknya yang harus dia jaga. Meski ada Yogi yang siap menjaga Sinta.


Di tengah perjalanan yang tak terlalu jauh itu, Surya melihat tiga orang yang sudah kehilangan logikanya, sedang bertengkar.


Hhh! Surya mendengus. Lalu terkekeh sendiri lagi.


Aku tak mau jadi bagian dari mereka! Aku tak mau jadi tontonan orang! Memalukan!


Surya melihat, beberapa orang pejalan kaki menatap aneh atau mungkin kepo pada mereka bertiga.


Surya berlalu dengan membunyikan klaksonnya dua kali.


Tin.


Tin.


Surya pun berlalu pergi. Dari kaca spionnya dia melihat mereka bertiga terdiam. Mata mereka menatap ke arah mobilnya Surya.


Mungkin mereka mengharapkan aku datang dan ikut berebut.


Hhh!


Wanita bukan cuma kamu saja, Nadia. Akan aku buktikan kalau aku bisa mencintai wanita lain!


Untuk apa mengharapkan kamu yang seperti batu!


Lalu Surya membayangkan membuang batu itu ke tengah lautan dan tenggelam di sana.


Tak terasa mobil Surya sampai juga di tepi pantai, dekat pelabuhan.


Surya turun dari mobil, dan mulai mencari dua anak nakal itu.


Dia menatap banyaknya kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan, dari tempatnya berdiri.


Begitu banyak orang berlalu lalang. Maklum saja, hari belum terlalu siang. Meski matahari sudah mulai terasa terik.


Dan orang-orang itu berlalu lalang tanpa rasa takut kulitnya gosong terpanggang matahari.


Pantes aja, kulitnya Dewa jadi coklat tua. Setiap hari dia menantang matahari.


Surya menatap sang surya yang sedang memancar dengan gagahnya.


"Hey, sang surya! Aku ingin sepertimu. Yang tak pernah berubah meski badai menghadang. Esok, kamu akan kembali bersinar. Seperti tak pernah terjadi apapun padamu!" ucap Surya pada dirinya sendiri.


"Udah gila lu, Bro?" Suara Yogi membuat Surya hampir saja melompat.


Hahahaha. Yogi dan Sinta tertawa tergelak.

__ADS_1


"Cinta memang tak ada logika!" seru Yogi. Lalu kembali tergelak.


__ADS_2