PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 142 PENGAKUAN SURYA


__ADS_3

Mereka sampai di rumah makan yang direkomendasikan Viona.


"Kalian pasti bakal ketagihan makan di sini. Bukan cuma makanannya yang enak, tapi liat dong viewnya." Viona menunjuk ke arah laut lepas.


"Eh, iya. Liat, A...!" Sinta menarik tangan Yogi untuk ikut melihat ke arah laut.


"Mm. Bagus. Sepoy-sepoy juga. Bakalan ngantuk nih kalau abis makan," komentar Yogi.


"Kalau tidur, biarin aku tinggal di sini!" ancam Sinta.


"Yaelah! Tega amat. Masa ayangnya ditinggal? Entar kalau ada yang ngambil gimana?" sahut Yogi.


"Cari lagi! Yang kayak kamu mah banyak di minimarket!" sahut Surya.


"Sembarangan! Gue ini spesial edition. Pake telor! Dua lagi. Hahaha." Yogi tertawa ngakak.


"Gede apa kecil telurmu, Bro?" tanya Dewa iseng.


"Sedeng. Iya kan, Cinta?" tanya Yogi pada Sinta.


Sinta yang tidak paham dengan pertanyaan Yogi, cuma bengong.


Surya menoyor kepala Yogi.


"Awas aja kalau ngajarin Sinta yang aneh-aneh!" ancam Surya.


"Satpamnya marah, euy!" sahut Yogi. Lalu dia menarik satu kursi untuk Sinta. Dan satu lagi untuknya sendiri.


Viona hanya tersenyum melihat mereka. Candaan laki-laki kadang membuat sebagian wanita malu, sebagian lagi menikmati.


Tapi ada juga yang sama sekali tak paham. Contohnya Sinta.


Mungkin anak ini memang masih benar-benar lugu. Semoga aja Yogi bisa terus menjaganya. Jangan sampai Sinta lari dan jatuh pada lelaki yang salah. Batin Viona.


Seorang pelayan mendatangi mereka, membawakan buku menu.


"Silakan, ini menu di rumah makan kami. Ini kertasnya untuk menulis pesanan. Kalau sudah selesai, bisa panggil saya," ucap pelayan laki-laki dengan sopan.


Lalu pergi lagi ke meja lainnya.


"Ramah juga pelayannya," komentar Yogi.


"Ganteng pula!" sahut Sinta spontan.


Yogi mencolek bahu Surya yang duduk di dekatnya.


"Tuh, bukan gue yang ngajarin. Adik lu, langsung melotot liat yang bening-bening!" ucap Yogi. Ada sedikit rasa kesal, karena Sinta memuji lelaki lain di depannya.


"Cie...ada yang cemburu, nih!" ledek Dewa.


Surya memandangi Yogi dengan tatapan heran. Lelaki seperti Yogi ternyata bisa juga cemburu.

__ADS_1


Padahal biasanya dia yang selalu bikin Sinta uring-uringan. Karena Yogi enggak bisa lihat wanita yang bening sedikit. Langsung saja mulutnya gatel untuk mengomentari.


"Ngapain lu, liat-liat?" tanya Yogi pada Surya dengan ketus.


Sinta menghela nafas dalam-dalam. Dia tadi spontan mengatakannya. Tak sampai melotot juga.


Surya hanya mengangkat bahunya. Dia udah malas berdebat.


Otaknya sudah mulai memikirkan Nadia. Sampai jam segini, ponselnya belum bisa juga dihubungi.


Padahal menurut perkiraan Surya, Nadia mestinya sudah sampai.


Tapi Surya sendiri tak tahu, Nadia naik apa kesininya. Dan apa benar Nadia ke sini? Surya juga tak tahu pasti.


"Udah, ayo pesen. Entar keburu abis makanannya!" ucap Dewa.


Dewa mengambil satu buku menu. Yang satunya dia tinggalkan di atas meja.


Yogi yang enggak tahu kenapa tiba-tiba bete, hanya diam saja.


Sinta yang mengambil buku menunya. Viona bagian mencatat.


"Mau pesen yang mana, A?" tanya Sinta pelan. Berusaha membuat Yogi ceria lagi.


"Terserah kamu. Aku lagi enggak mood makan!" jawab Yogi.


Sinta langsung berubah wajahnya. Dia terlihat sedih dengan sikap Yogi.


"Kita cari tempat duduk lain aja!" Surya menarik tangan Sinta menjauh dari Yogi. Dia tak mau melihat suasana yang tak nyaman.


Kasihan Sinta yang mesti mengalah pada Yogi, hanya karena hal sepele.


Yogi membiarkannya saja. Tak komentar apapun melihat Sinta dibawa pergi oleh Surya.


"Kamu enggak boleh begitu dong, Yogi. Masa cuma soal gituan aja marah," ucap Viona memcoba menenangkan Yogi. Dia tahu kalau Yogi lagi bete. Mungkin karena capek di perjalanan juga.


"Iya, Bro. Wajar kan orang komentar. Tapi masa iya, Sinta terus jadi naksir pelayan itu!" ucap Dewa. Dia juga berusaha menenangkan Yogi.


Yogi cuma diam saja. Tak mau menjawab apapun. Entah kenapa dia begitu marah, saat Sinta memuji lelaki lain.


"A Yogi kenapa ya, Kak? Masa begitu aja marah?" tanya Sinta pada Surya.


Surya sudah membawa Sinta ke meja lain.


"Mungkin dia capek. Perjalanan kalian kan jauh," jawab Surya.


Meskipun Surya tak suka dengan sikap Yogi, tapi dia berusaha membelanya.


Surya tak mau Sinta pun terbawa emosi.


"Apa aku minta maaf saja sama A Yogi?" tanya Sinta lagi.

__ADS_1


"Enggak perlu. Biarin aja dia menyadarinya sendiri. Viona sama Dewa juga pasti lagi mengingatkannya," jawab Surya.


"Tapi kalau A Yoginya marah terus?" tanya Sinta.


"Ya biarin aja. Seberapa betahnya sih, dia sendirian? Nanti juga Dewa bakal nganterin Viona pulang. Dia mau sama siapa, coba?"


"Aku mau minta maaf aja, ah!" Sinta tak tega juga membayangkan Yogi bakal sendirian kalau ditinggal Viona dan Dewa.


Surya menarik tangan Sinta yang mulai berdiri.


"Duduk! Jangan merendahkan diri kamu seperti itu!" ucap Surya dengan ketus.


"Kak! Meminta maaf itu bukan perbuatan yang rendah. Kita kan diajarkan mama untuk selalu bisa saling memaafkan," sahut Sinta.


"Kita, Sinta. Kita! Aku tak pernah merendahkanmu karena kamu meminta maaf. Tapi dia? Aku tak mau siapapun merendahkan kamu! Ingat itu!" ucap Surya.


"Apa Kakak tidak merasa kalau Kakak lagi merendahkan diri juga? Merendahkan diri Kakak di depan kak Nadia!" ucap Sinta.


"Jangan samakan dengan masalah itu," sahut Surya sambil memalingkan mukanya.


"Kenapa? Karena Kakak sangat mencintai kak Nadia, kan? Dan Kakak ingin mempertahankan hubungan?" tanya Sinta.


"Sama Kak. Aku juga sangat mencintai A Yogi. Aku juga ingin mempertahankan hubungan. Aku enggak mau kehilangan A Yogi," lanjut Sinta.


Surya terdiam. Di satu sisi, benar yang dikatakan Sinta. Tapi di sisi lain, dia merasa tersinggung adiknya diperlakukan seperti itu oleh Yogi.


"Kakak masih tak mengijinkan aku meminta maaf sama A Yogi?" tanya Sinta.


"Aku cuma enggak mau kamu direndahkan oleh Yogi. Tolong ngertiin aku dong," jawab Surya.


"Kakak minta dimengerti. Tapi kakak enggak mau mengerti orang lain. Kakak pikir kami rela kalau selama ini kakak selalu merendahkan diri di depan kak Nadia?" serang Sinta.


"Kami juga merasa tersinggung dengan cara kak Nadia memperlakukan Kakak," ucap Sinta.


"Kalau Kakak merasa punya harga diri, biarkan kak Nadia melakukan apa yang dia inginkan. Bukan mencarinya sampai sejauh ini. Murahan sekali!" lanjut Sinta.


"Kamu enggak tau apa yang telah terjadi dengan kami, Sinta," sahut Surya.


"Karena Kakak enggak pernah mau bilang. Gimana kami bisa tau?" sahut Sinta.


"Kamu mau aku bilang?" tanya Surya.


Sinta mengangguk.


Surya masih menimbang-nimbang. Kalau dia ngomong, apa Sinta tak semakin merendahkannya?


"Bilang aja, Kak. Mungkin setelah Kakak bilang, kita akan bisa memahami," ucap Sinta.


"Aku....Aku telah memperkosa Nadia!"


Glek!

__ADS_1


__ADS_2