
Surya kembali dari sebuah cafe di pinggiran pantai. Dia masuk ke lobby hotel dalam keadaan sempoyongan.
"Bapak menginap di sini?" tanya seorang security yang berjaga di dekat lobby.
Kepala Surya yang sedikit pusing, merasa bingung karena dipanggil bapak. Dia merasa kalau dirinya masih muda. Belum layak dipanggil begitu.
Surya menatap security itu. Lalu mengangguk.
"Bapak menginap di kamar nomor berapa?" tanya security itu mengetes. Pikirnya, kalau Surya memang tamu hotel, pasti akan menyebutkan nomor kamarnya.
Surya mengeluarkan kunci kamarnya.
"Ini. Aku menginap di sini," jawab Surya sambil mengacungkan kunci kamarnya.
Security itu menatap resepsionis yang berjaga. Resepsionis itu mengangguk.
"Biar saya antar Bapak ke kamar," ucap security. Lalu dia berniat menggandeng tangan Surya.
Surya menepis tangan security itu.
"Aku bisa sendiri," ucap Surya.
Lalu dia berjalan menuju lift.
Berkali-kali Surya memencet tombol lift, tapi pintu lift tak juga terbuka.
Surya mulai frustasi, dia gedor-gedor pintu lift.
Security kembali menghampiri Surya. Dia kembali berniat membantu Surya. Dia menjauhkan tubuh Surya yang menyandar di pintu lift.
"Jangan sentuh aku!" seru Surya. Dia merasa tak nyaman diperlakukan seperti itu oleh security. Padahal security itu hanya berniat membantu.
"Kalau Bapak pusing, lebih baik saya antarkan. Atau kita naik lewat tangga saja," ucap security.
"Àah...! Aku mau naik ini aja. Lebih cepat!" Surya menunjuk pintu lift yang tak juga terbuka. Jelas saja, karena Surya salah menekan tombolnya.
Nadia ternyata duduk di kursi dekat lobby. Sedari tadi dia sudah melihat Surya. Tapi karena masih kesal pada Surya dan dia juga sedang menunggu Dewa yang tak juga datang, Nadia enggan menegur Surya.
Sampai akhirnya Nadia tak tega juga melihat Surya yang malah mengajak ribut security.
Nadia bergegas mendatangi mereka.
"Maaf, Pak. Biar saya saja," ucap Nadia dengan sopan pada security.
"Anda siapanya?" tanya security. Sedari tadi juga security melihat Nadia duduk seperti sedang menunggu seseorang.
"Saya....Saya istrinya," jawab Nadia. Dia cuma pura-pura saja biar security mau meninggalkan Surya.
"Tapi bukankah anda dari tadi duduk di situ menunggu tamu?" tanya security tak percaya begitu saja.
"Saya tak perlu mengeluarkan buku nikah kan, Pak?" ucap Nadia.
Security itu menatap Nadia. Lalu pergi meninggalkan Nadia dan Surya.
__ADS_1
Nadia melirik kunci yang dipegang Surya.
Hah? Kenapa nomornya berurutan dengan nomor kamarku? Tanya Nadia dalam hati.
Lalu Nadia menekan tombol lift, menuju lantai tempat kamarnya dan kamar Surya berada.
Begitu pintu lift terbuka, Nadia memapah Surya masuk lift. Surya hanya diam saja. Otaknya sedang bekerja, mengingat-ingat siapa wanita yang memapahnya.
Nadia masih merangkul Surya di dalam lift. Aroma alkohol tercium dari mulut Surya.
Dia mabuk. Sama siapa tadi dia minumnya? Nadia berpikir, kemungkinannya Surya minum dengan Yogi. Karena setahu Nadia, Yogi memang suka minum.
Tapi itu dulu, sebelum Yogi berpacaran dengan Sinta. Dan sekarang Yogi datang ke kota ini bersama Sinta. Tak mungkin Sinta membiarkan kakaknya mabuk begini.
Lalu kemana mereka berdua? Nadia terus saja bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu....!" Surya menoleh dan menatap wajah Nadia dengan tatapan nanar. Mata Surya sudah memerah. Dia minum terlalu banyak.
Nadia hanya diam saja. Kalau bukan karena kasihan, tak ingin Nadia menolong orang yang sedang mabuk.
"Kamu...istriku? Aku sudah punya istri?" tanya Surya dengan suara tak jelas. Dia tadi sempat mendengar Nadia mengatakan kalau dia adalah istri Surya.
"Hahaha. Aku punya istri. Aku punya istri!" ucap Surya sambil tertawa-tawa.
"Udah diem! Berisik!" ucap Nadia dengan kesal.
"Hahaha. Istriku marah. Maafkan aku istriku!" Surya meraih dagu Nadia dan mengecup bibir Nadia dengan kasar.
"Ih!" Nadia pun mengusap bibirnya dengan kasar juga. Aroma alkohol semakin menyengat di hidungnya.
Nadia membawa Surya ke kamar Surya sendiri.
"Sini kuncinya!" Nadia merebut kunci yang dipegang Surya dengan kasar.
"Jangan galak-galak istriku," ucap Surya. Dia semakin mengeratkan rangkulannya.
Nadia berusaha membuka pintu kamar Nadia. Tapi karena Surya terus mengganggunya, Nadia jadi kesulitan.
Untungnya ada seorang pagawai hotel yang sedang lewat.
"Mas! Bisa tolong bukakan pintunya?" pinta Nadia.
"Oh, bisa, Bu. Sebentar." Pegawai hotel itu meraih kunci yang dipegang Nadia. Lalu membuka pintunya.
"Silakan, Bu.Hati-hati," ucap pegawai hotel itu. Dia lalu mencabut lagi kuncinya dan menyerahkan pada Nadia.
Nadia membawa Surya masuk kamar dan menutup pintunya.
Nadia merebahkan Surya dengan kasar di atas tempat tidur.
"Menjijikan sekali! Sejak kapan kamu jadi pemabuk?" tanya Nadia setelah menghempaskan tubuh Surya.
Surya yang masih dipengaruhi alkohol, tak paham maksud pertanyaan Nadia.
__ADS_1
"Mabuk? Aku enggak mabuk istriku! Aku enggak mabuk!" oceh Surya.
"Enggak mabuk tapi kayak orang gila!" sahut Nadia. Lalu Nadia berjalan hendak meninggalkan kamar Surya.
Surya segera bangkit dan mengejar Nadia.
"Kamu mau kemana, Istriku?" tanya Surya sambil memeluk Nadia dari belakang.
"Lepasin!" Nadia berusaha melepaskan pelukan Surya.
"Kamu mau kemana, hah?" tanya Surya yang tak juga mau melepaskan Nadia. Malah memeluknya semakin erat.
"Aku mau kembali ke lobby. Aku lagi nunggu Dewa!" sahut Nadia dengan ketus.
"Dewa?" Mata Surya terbelalak. Sekejab dia teringat nama itu. Nama yang sangat dibencinya.
Surya memutar tubuh Nadia. Lalu menatap wajahnya dengan tajam.
"Ada hubungan apa kamu dengan Dewa, hah?" tanya Surya.
"Kamu enggak perlu tau, pemabuk!" jawab Nadia. Dia kembali menepis tangan Surya yang mencengkeram lengannya.
"Aku enggak suka kamu berhubungan lagi dengannya. Dan aku bukan pemabuk! Aku bukan pelaut seperti dia yang suka mabuk!" seru Surya.
Entah kalimat dari mana yang keluar dari mulut Surya. Dia belum sadar, tapi terlihat sangat tak menyukai Dewa.
"Jaga mulut kamu, Surya!" seru Nadia juga.
"Kamu yang mestinya menjaga mulut, Istriku. Atau aku yang akan menjaganya?" Surya langsung meraih tengkuk Nadia. Lalu dengan kasar mencumbui Nadia.
"Hhmmpptt!" Nadia berusaha menghindar. Tapi sayangnya, tenaga Surya jauh lebih kuat.
Nadia merasa ingin muntah, karena mulut Surya sangat bau alkohol. Tapi Nadia tak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya Nadia cuma bisa pasrah, daripada Surya semakin beringas.
Setelah puas, Surya menjauhkan wajahnya.
"Enak kan, ciumanku?" tanya Surya sambil tersenyum.
"Kamu gila!" seru Nadia.
"Hahaha. Aku gila?" tanya Surya sambil tertawa.
"Iya, kamu gila! Awas minggir!" Nadia berusaha menyingkirkan tubuh Surya.
Tapi sekali lagi, apa daya Nadia. Tenaganya tak cukup kuat untuk melawan Surya.
Bahkan saat Surya menyeretnya ke tempat tidur, Nadia hanya bisa pasrah.
Sampai akhirnya Surya melakukan lagi untuk kedua kalinya. Memasuki gawang yang tadi pagi telah berhasil dibobolnya.
Nadia hanya bisa terisak.
__ADS_1
Surya! Kamu gila....! Gumam Nadia.