
"Berjamaah, ya?" pinta Yogi.
Surya mengangguk. Dia sudah siap menjadi imam. Meski pengetahuan agamanya masih cetek, tapi kalau cuma mengimami Yogi, Surya masih pede.
Tanpa disangka, Yogi menggelar sajadahnya di bagian depan.
Surya tercengang. Dia tak menyangka sama sekali kalau Yogi yang akan jadi imamnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Yogi langsung membaca niat sholatnya.
Otak Surya masih belum konek. Dia masih meragukan kemampuan Yogi.
Lalu Surya segera bersiap. Dia mengikuti Yogi sholat sebagai makmum.
Mereka pun sholat dengan khusyu. Hingga sampai salam dan sholat maghrib pun berakhir.
Yogi menyalami Surya. Lalu dia mulai berdzikir. Surya masih terdiam mendengarkan lantunan dzikir yang diucapkan Yogi.
Yogi cukup fasih. Malah boleh dibilang, lebih fasih dari Surya.
Selesai berdzikir, Yogi berdiri dan melipat sarung dan sajadahnya.
"Hebat kamu, Yog," ucap Surya.
"Hebat apaan?" tanya Yogi.
"Aku pikir...." Surya tak melanjutkan kalimatnya. Rasanya tidak enak mengucapkannya.
"Lu pikir, gue enggak bisa sholat atau ngimamin?" tebak Yogi.
Surya mengangguk.
"Mak Yati selalu ngajarin gue sholat, Bro. Guenya aja yang sering males. Milih pergi dan nongkrong. Bahkan gue suka minum juga. Tapi kalau gue lagi bete, ya sholat di rumah," ucap Yogi.
"Kadang gue nyesel juga, Bro. Tapi ya, namanya juga iman gue yang masih naik turun," lanjut Yogi.
"Udah yuk. Nyokap lu kan ngundang gue makan malam. Lumayan kan, ngirit pengeluaran. Hahaha," ajak Yogi sambil tertawa.
"Kata siapa makan di rumahku gratis?" ledek Surya.
"Oh, jadi elu mau itung-itungan ama gue?" Yogi pura-pura tersinggung.
"Deehh...gitu aja ngambeg. Entar enggak aku setujui lho kamu sama Sinta," sahut Surya. Entah Surya serius atau bercanda mengatakannya. Kalimat itu begitu saja meluncur dari mulut Surya.
"Serius lu setuju gue pacaran ama Sinta?" Mata Yogi langsung berbinar.
"Ya, tergantung," sahut Surya.
"Tergantung apaan?" Yogi jadi kepo.
Yogi janji pada dirinya sendiri, apapun syarat dari Surya akan dipenuhinya. Yang penting dia enggak jadi jomblo akut. Dia tak mau menemani Surya. Biar Surya jadi jomblo sendirian.
__ADS_1
"Tergantung kelakuanmu!" jawab Surya.
"Eh, denger ya! Sejak gue pingin pedekate ama Sinta, gue udah kagak pernah nongkrong lagi. Gue kagak pernah minum lagi. Kurang gimana?" sahut Yogi.
"Cewek-cewek yang sering kamu kencani, gimana?" Setahu Surya, Yogi sering berganti-ganti teman kencan.
"Itu dulu, Bro. Sekarang mana? Lu pernah liat gue bawa temen kencan?" Yogi bersemangat menjawabnya.
Surya hanya mengangkat bahunya saja.
"Lagian itu pure temen, Bro. Itu kenapa gue sering ganti-ganti. Itu juga karena mereka yang minta jalan ama gue. Maklum, gue kan ganteng maksimal," lanjut Yogi dengan sombongnya.
Surya melempar bantal ke muka Yogi. Mereka masih ada di kamar Yogi.
"Gantengan juga aku," sahut Surya.
"Percuma ngaku ganteng kalau kagak laku! Hahaha." Yogi kembali melempar bantalnya.
"Ya minimal enggak kayak kamu. Ditolak Viona!"
"Lha elu? Ditolak Nadia!" Yogi tak mau kalah.
Surya terkekeh. Ternyata mereka orang-orang yang tereliminasi meskipun ngaku ganteng.
"Nasib kita sama, Bro. Tapi gue enggak patah semangat. Gue akan ngejar Sinta. Terserah elu mau terima gue apa kagak," ucap Yogi.
Yogi merebahkan diri di sebelah Surya yang hanya duduk di tepian tempat tidur.
Surya menepuk lengan Yogi.
"Aku dukung kamu. Tapi ingat! Jangan kecewain adikku. Kalau sampai kamu apa-apain Sinta, kamu berhadapan denganku," ancam Surya.
"Yaelah. Kagak, Bro. Gue janji. Gue juga kepingin masuk ke kehidupan keluarga elu yang bahagia." Yogi membayangkan dia bisa dekat dengan keluarga Surya yang damai.
"Oke. Tapi semua keputusan ada di tangan Sinta. Aku enggak bisa maksa."
"Terus elu gimana, Bro?" tanya Yogi. Dia juga merasa prihatin dengan nasib calon kakak iparnya.
"Gimana apanya?" Surya malah tak paham.
"Ya nasib elu, Bro. Gue kagak tega kalau elu sendirian jadi jomblo. Sementara gue kan nanti jalan ama Sinta," sahut Yogi.
"Ya aku ikut kalian jalan. Anggap aja aku bodyguard kalian," jawab Surya dengan santai.
"Gila lu! Kagak bisa ngapa-ngapain dong gue ama Sinta?" protes Yogi.
"Emangnya kamu mau apain Sinta, hah?" Surya menonjok lengan Yogi.
"Auwh! Sakit Bro! Busyet, belum apa-apa udah main kekerasan aja. KDRT ini namanya." Yogi memegangi lengannya.
"Buat pelajaran kamu. Kalau kamu apa-apain Sinta, bakalan aku kasih yang lebih keras lagi. Mau?"
__ADS_1
"Kagak, kakak ipar. Ampuun....!" Lalu mereka tertawa bersama.
Ponsel Surya berbunyi.
"Mamaku, Yog. Kita kan disuruh cepetan pulang. Malah ngobrol terus," ucap Surya. Dia belum menjawab panggilan Rahma.
"Elu sih. Ayo deh buruan. Kagak usah diangkat. Entar bilang aja kita lagi on the way." Yogi segera beranjak.
Surya menurut saja apa kata Yogi. Meski itu hal salah yang jarang sekali dia lakukan. Membohongi mamanya sendiri.
Yogi pamit pada mak Yati yang sudah pulang dari rumah saudaranya.
"Mak, aku ke rumah Surya dulu, ya. Mau ketemu calon mertua. Doain biar enggak ditolak," ucap Yogi sambil mencium tangan mak Yati dengan sopan.
"Lho, yang bener?" tanya mak Yati tak percaya.
"Iya. Kalau enggak percaya, tanya aja ama Surya. Dia calon kakak iparku," sahut Yogi.
"Lho, piye toh?" Mak Yati kebingungan.
"Udah ah, enggak usah piye-piye lagi. Doain aja. Anakmu yang ganteng ini mau berjuang mendapatkan cinta sejatinya. Hahaha." Yogi berlalu dari hadapan mak Yati.
Surya juga pamit dan menyusul Yogi keluar rumah.
"Den...! Pulangnya jangan malam-malam. Emak bawa makanan enak nih!" seru mak Yati.
Tapi sayangnya, Yogi sudah keluar dan tak mendengar.
Surya yang mendengarnya, tersenyum sendiri. Yogi sering mangatainya anak mama, ternyata dia anak emak.
Sampai di luar, niatnya mereka naik motor sendiri-sendiri. Tapi tiba-tiba ban motor Yogi kempes.
"Waduh, ban motor gue kenapa, ini?" Yogi memperhatikan ban motornya yang kehabisan angin.
"Bocor itu. Udah, naik mobil aja sana," suruh Surya. Dia tak mau kalau mamanya menunggu lebih lama lagi.
Yogi memiliki mobil pribadi pemberian orang tuanya. Tapi jarang dipakai. Dia lebih senang naik motor sportnya. Katanya lebih santai dan nyaman.
Enggak kena macet, bisa salip sana sini. Dan irit bensin juga.
"Jam segini jalanan lagi macet-macetnya, Bro. Gue bonceng elu aja, deh," sahut Yogi.
"Terus nanti kamu pulangnya gimana?" tanya Surya.
"Kan ada elu." Yogi menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.
"Maksudnya, aku suruh nganterin kamu lagi, gitu?" tanya Surya.
"Masa lu nganterin adik ipar, kagak mau?"
"Ogah!" Surya segera menstater motor maticnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan Surya, Yogi langsung nemplok di belakang.