PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 133 RAHMA PINGSAN


__ADS_3

"Eng....Enggak, Ma. Kami cuma...lagi bercanda aja," jawab Surya tergagap.


"Jangan biasakan bercanda di kamar. Apalagi pakai ngunci pintu juga," ucap Rahma.


"Iya, Ma." Surya kembali masuk ke kamarnya.


Rahma membalikan tubuhnya. Tapi kemudian dia berbalik lagi. Rahma merasa ada yang tak beres dengan mereka.


"Sur, Mama mau nanya," ucap Rahma.


"Nanya apa, Ma?" tanya Surya.


Jantungnya sudah mulai deg-degan.


"Ngapain Nadia kesini lagi?" tanya Rahma. Dia sudah mulai menunjukan ketidaksukaannya.


"Ma!" Surya terkejut dengan pertanyaan Rahma.


"Mama nanya. Ngapain dia kesini lagi?" Rahma mengulangi pertanyaannya.


Surya hanya diam.


"Kamu enggak takut terluka lagi? Atau kamu memang kepingin terluka lagi?" tanya Rahma sinis.


Dia melangkah mendekati Surya.


"Enggak, Ma," jawab Surya.


"Enggak apa? Udah cukup, Surya! Udah cukup kami melihat kamu terpuruk!" Suara Rahma sudah meninggi.


Padahal sangat jarang dia mengeluarkan suara bernada tinggi seperti itu. Apalagi dengan emosi.


"Iya, Ma," sahut Surya.


"Enggak, iya! Enggak, iya! Kamu cuma bisa seperti itu. Kalau udah dilukai, baru mewek! Kamu laki-laki Surya! Jangan semudah itu!" ucap Rahma.


Surya menghela nafasnya. Kelihatannya Rahma benar-benar marah.


"Kamu sadar enggak sih? Nadia itu hanya bisa menyakiti kamu! Lalu dia pergi! Dan setelah kamu sembuh, dia akan datang lagi!" lanjut Rahma.


Surya memilih diam.


Orang boleh mengatakan Nadia seburuk apapun, tapi nyatanya Surya sangat mencintainya.


"Semua orang juga akan melarangmu dekat lagi sama Nadia. Jangan bikin papa kamu memarahimu, Surya! Udah, jauhi dia! Tolak kalau dia datang. Bukan malah kamu masukan ke kamar dan...."


Belum sempat Rahma melanjutkan kalimatnya, dia melihat selembar tissue yang ternoda darah.


Rahma mengambilnya. Dia memegangi sisi yang bersihnya.


Surya terkesiap. Dia membelalakan matanya lebar-lebar.


"Apa ini?" tanya Rahma penuh curiga.


"Mm...itu...dar....rah bekas luka," jawab Surya tergagap.


Rahma meletakan kembali tissue itu. Lalu diraihnya tangan Surya.


Rahma meneliti tangan Surya satu persatu. Lalu hampir semua tubuh Surya ditelitinya. Seperti dahulu saat Surya kecil dan terjatuh. Rahma pasti akan meneliti sekujur tubuh Surya. Untuk memastikan di mana saja letak lukanya.


"Bukan Surya, Ma. Tapi...Nadia," ucap Surya.


Rahma menghempaskan tangan Surya.


"Kamu apakan dia?" tanya Rahma mulai curiga.


Surya menggeleng, lalu menundukan kepalanya.


Rahma mulai merasa tidak enak. Lalu dia ambil lagi tissue itu. Diperhatikannya lagi baik-baik.


Surya langsung merebutnya dan memasukan ke kantong celana.

__ADS_1


"Kenapa kamu sembunyikan? Darah apa itu?" tanya Rahma penuh selidik.


Surya menggeleng dan menutup mulutnya rapat-rapat.


Rahma tak begitu saja menyerah. Dia memang type orang yang pantang menyerah, sampai apa yang diinginkannya tercapai.


"Minggir kamu!" Rahma menarik tangan Surya untuk turun dari tempat tidurnya.


Surya yang tak mengerti apa mau mamanya, menurut saja. Dia pun turun dari tempat tidurnya.


Rahma memperhatikan sprei yang berantakan.


"Kenapa spreinya berantakan? Jangan bilang kalian bercanda di atas tempat tidur!" tanya Rahma. Sebab setiap hari Rahma selalu rajin membereskan tempat tidur anak-anaknya.


"Ee...Surya...belum sempat membereskannya, Ma," jawab Surya.


"Apa kamu setiap bangun tidur membereskannya?" tanya Rahma.


Surya menggeleng. Dia lupa, kalau tak pernah sekalipun membereskan tempat tidur. Setelah bangun tidur, Surya hanya meninggalkannya begitu saja.


"Dan Mama tak pernah mendapati spreimu seberantakan ini!" ucap Rahma.


Glek!


Mati aku!


Mama sudah mencurigaiku.


Tak cukup melihat sprei yang berantakan, Rahma meneliti setiap sudutnya.


Sampai kemudian dia menemukan setitik noda darah, karena kebetulan sprei itu berwarna krem muda.


Rahma terlihat sangat geram. Dia yakin itu bukan darah bekas luka.


"Katakan ini apa, Surya?" tanya Rahma geram.


Surya menundukan kepalanya. Dia tak biasa berbohong. Apalagi pada Rahma.


Surya masih diam. Dia semakin dalam menundukan kepalanya.


"Surya! Jawab pertanyaan Mama! Kamu apakan Nadia?" Rahma mendorong bahu Surya.


Rahma teringat kalau tadi wajah Nadia memerah. Seperti habis menangis.


"Apa perlu Mama tanya sendiri ke Nadia?" tanya Rahma.


"Jawab Surya!" bentak Rahma.


Surya tak bisa lagi menahan diamnya. Karena Rahma sudah semakin emosi.


Surya langsung melorot dan bersimpuh di kaki Rahma.


"Maafkan Surya, Ma," ucap Surya sambil menangis.


"Surya...Surya salah, Ma," lanjut Surya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rahma menekan suaranya. Juga menekan emosinya yang seakan hampir meluap.


"Surya...mem...perkosa Nadia, Ma." Surya semakin tergugu.


"Kamu?" Rahma menarik rambut Surya, hingga wajah Surya tengadah.


Tangan satunya menampar pipi Surya.


Plak!


Hal yang tak pernah Rahma lakukan pada siapapun. Dan hari ini, dia lakukan pada anak lelakinya.


Anak lelaki kebanggaannya. Anak lelaki yang selalu dilindunginya.


Surya tak menghindar. Seperti saat tadi Nadia menamparnya. Surya pasrah apapun yang akan dilakukan Rahma.

__ADS_1


Tapi justru Rahma tak tega melakukannya lagi. Dia hempaskan rambut Surya, hingga Surya hampir terjengkang.


Lalu Rahma berlari masuk ke kamarnya sambil menangis.


"Ma....! Mama...!" Surya segera bangkit dan berusaha mengejar Rahma.


Derr!


Rahma menghempaskan pintu kamarnya, tepat di hadapan Surya. Rahma buru-buru menguncinya.


Di balik pintu, Rahma melorot ke lantai. Tangisnya semakin menjadi.


"Ma...Maafkan Surya, Ma!" Surya pun menangis di depan pintu.


"Ma...Maafkan Surya...!" Surya memukul-mukul pintu kamar Rahma.


Tak ada sahutan dari Rahma. Hanya suara tangisan Rahma yang semakin menyayat hati.


Surya berkali-kali memanggil mamanya, tapi Rahma tak juga mau membukakan pintunya.


Surya pun hanya bisa terduduk di lantai depan pintu.


Rahma sendiri, memilih berjalan ke arah tempat tidur dan menghabiskan tangisannya di sana.


Rahma sangat kecewa pada Surya. Tak disangkanya Surya akan berbuat hal sekotor itu.


Rahma teringat pengakuan Surya tadi. Kalau dia telah memperkosa Nadia. Itu artinya Nadia tak menginginkannya.


Apa Surya yang memaksanya?


Kenapa anakku jadi seorang pemerkosa? Di mana akal sehatnya?


Salah apa aku dalam mendidiknya?


Rahma masih terus memikirkan, hingga kepalanya terasa hampir pecah.


Otaknya tak bisa untuk berfikir lagi. Bahkan saat Toni menelponnya pun, Rahma tak mau mengangkatnya.


Rahma tak mau Toni tau persoalan ini dulu. Rahma tak mau Toni panik. Dan itu akan sangat membahayakan, karena Toni menyetir mobilnya sendiri.


Sebenarnya Toni menelpon, ingin menanyakan apa Rahma sudah sampai di rumah.


Acara mereka gagal. Karena rekan kerja Toni berhalangan hadir. Dan terpaksa Rahma pulang sendiri lebih cepat.


Toni berkali-kali menelpon Rahma, tapi tetap tak diangkat.


Lalu Toni mencoba menelpon Surya. Karena setahunya tadi Surya masih di rumah.


Sayangnya Surya lupa mengaktifkan ponselnya setelah semalam mati.


Toni merasa sangat khawatir. Lalu dia memutuskan untuk pulang. Mengecek keberadaan Rahma. Karena tak biasanya Rahma mengabaikan telpon darinya.


Sesampainya di rumah, Toni mendapati pintu rumah terbuka lebar.


Toni bergegas masuk.


Tempat pertama yang ditujunya adalah kamarnya sendiri.


"Ma...Mama!" Toni menggedor pintu kamar yang terkunci.


"Ma...Mama! Buka pintunya, Ma!" Toni terus berteriak sambil menggedor pintu kamarnya.


Surya keluar dari kamarnya. Dia hanya menatap Toni yang sedang panik.


Saking paniknya, Toni langsung mendobrak pintu kamarnya.


Duer!


Rahma tergeletak tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya.


"Mama...!"

__ADS_1


__ADS_2