
Surya sangat terkejut mendengarnya.
Nadia!
Mau kemana dia?
Apa dia benar-benar mau mencari Dewa di kampung halaman Viona?
Itu kan sangat jauh? Batin Surya.
Rahma yang masih berbaring, hanya bisa menghela nafasnya.
Pasti ini ada hubungannya dengan kejadian tadi, pikir Rahma.
"Nadia mau pergi kemana, Tante?" tanya Surya.
Susi menggeleng. Lalu melanjutkan kembali telponnya dengan mbok Nah.
"Hallo, Mbok," panggil Susi.
"Iya, Bu. Non Nadianya sudah pergi. Taksi online-nya barusan datang," ucap mbok Nah.
Mbok Nah perlahan-lahan berjalan ke depan. Ternyata Nadia sudah berjalan ke depan rumah, dan masuk ke sebuah mobil.
"Aduh! Mau kemana itu anak?" tanya Susi dengan gusar. Lalu tanpa menunggu jawaban mbok Nah, Susi mematikan telponnya.
Dia langsung menelpon nomor telpon Nadia. Sayangnya, begitu naik ke mobil, Nadia langsung mematikan ponselnya.
Selain tak mau dihubungi siapapun, Nadia juga butuh menghemat daya ponselnya. Meskipun dia sudah membawa powerbank.
"Aduh, enggak aktif, lagi!" gerutu Susi.
"Kenapa, Tante? Nadia mau kemana?" tanya Surya panik.
"Entahlah. Tante pulang dulu, ya? Jeng Rahma, aku pulang dulu, ya. Cepat sembuh," pamit Susi.
Susi bergegas pulang.
"Mau kemana dia?" tanya Rahma.
"Entahlah, Ma," jawab Surya. Dia tak mengatakan tentang rencana Nadia mencari Dewa.
"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi?" tanya Rahma.
"Ma. Papa sudah beresin administrasinya. Sekalian tadi ambil obat di apotek. Mama mau pulang sekarang, atau..." Toni tak melanjutkan kalimatnya. Dia tak tega melihat Rahma yang kembali lesu.
"Pulang aja, Pa. Mama udah sehat kok," jawab Rahma. Dia tahu kalau Surya gelisah dan ingin segera mencari Nadia.
Rahma tak akan melarang Surya. Dia berpikir Nadia pergi karena masalah tadi. Dan Surya harus bertanggung jawab.
Tadi pun Susi tak mengatakan apa-apa tentang Nadia. Itu artinya Nadia tak cerita pada mamanya tentang perbuatan Surya.
Surya menyetir mobil menuju rumah mereka. Rahma dan Toni duduk di belakang.
Tak ada pembicaraan apapun. Surya terlihat sangat gelisah. Sedangkan Rahma hanya bisa diam. Dia belum berniat menceritakan kejadian yang membuatnya stres dan akhirnya pingsan.
"Mama kenapa tadi sampai pingsan?" tanya Toni di perjalanan.
__ADS_1
Rahma menghela nafasnya. Dia berusaha mencari jawaban agar suaminya tak marah pada Surya.
Rahma akan merahasiakan dulu dari suaminya. Karena khawatir Toni marah dan akan mengganggu pikiran Surya.
Surya pun dibuat tegang dengan pertanyaan Toni. Dia khawatir Rahma akan bicara tentang kejadian tadi pada Toni. Dan bisa dipastikan, dia akan dimarahi habis-habisan. Bahkan bisa jadi akan diusir dari rumah.
"Kayaknya Mama cuma kecapekan, Pa," jawab Rahma.
Surya menghela nafas lega. Ternyata Rahma belum mau menceritakannya pada Toni.
"Ya udah. Nanti Mama istirahat di rumah. Papa akan menemani Mama," ucap Toni. Dia jelas tak tega meninggalkan Rahma sendirian. Meskipun di rumah ada Surya.
"Iya, Pa," jawab Rahma menurut, seperti biasanya.
"Nanti kalau Mama sudah sehat, cari pembantu baru. Biar Mama enggak kecapekan," ucap Toni.
Pembantu yang terakhir, pamit libur dan belum kembali lagi bekerja.
"Iya, Pa." Rahma selalu menurut apa kata suaminya.
"Papa enggak ke kantor lagi?" tanya Rahma.
"Papa enggak akan bisa konsentrasi kerja, kalau Mama belum sehat lagi," jawab Toni.
Surya merasa iri dengan keharmonisan dan rasa saling pengertian kedua orang tuanya.
Rahma sebagai wanita dan istri yang sangat baik dan menurut apa kata suami.
Toni pun sebagai suami, selalu melindungi dan menyayangi istrinya.
Andai saja Nadia bisa menjadi seperti mama...Surya berangan-angan.
Surya terhenyak dengan pertanyaan Rahma.
Kenapa mama bertanya seperti itu? Apa mama menginginkan aku menemukan Nadia? Tanya Surya dalam hati.
"Mm....Iya. Kalau Mama mengijinkan," jawab Surya.
"Lho, memangnya Nadia kemana?" tanya Toni.
"Tadi jeng Susi buru-buru pulang. Kata mbok Nah, Nadia pergi. Kayaknya sih kabur dari rumah," jawab Rahma mengira-ngira. Susi tadi terlihat sangat panik.
"Kabur? Apa dia ada masalah dengan keluarganya? Tadi jeng Susi terlihat baik-baik aja. Atau dia ada masalah dengan Surya?" tanya Toni.
"Jeng Susi taunya dari mbok Nah, Pa. Tadi terus buru-buru pulang," jawab Rahma.
"Eng...Enggak ada, Pa. Kami baik-baik aja, kok," jawab Surya.
"Ya udah. Biar Surya membantu mencarinya. Kasihan juga orang tuanya nanti. Papa di rumah aja nemenin Mama ya," ucap Toni.
Rahma mengangguk. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu Toni.
Saat ini, Rahma sedang sangat membutuhkan bahu untuknya bersandar. Rahma yang biasanya kuat, sekarang terlihat lemah.
Surya melihatnya dari spion dalam mobil. Ada rasa bersalah yang teramat besar di hatinya.
Dia telah mengecewakan mamanya.
__ADS_1
Dia telah menyakiti hati mamanya.
Karena dia telah merusak....Nadia.
Itu baru mamanya yang tahu. Belum yang lainnya.
Papanya. Kedua orang tua Nadia. Sinta. Yogi.
Akh...! Surya menggeleng lemah.
Dia akan mengecewakan banyak orang. Ya. Mereka pasti akan sangat kecewa padanya.
"Jangan melamun, Surya," ucap Toni.
"Eng...Enggak, Pa," sahut Surya.
"Lihat tuh, rumah kita kelewatan," ucap Toni lagi.
"Oh, ya ampun. Maaf, Pa. Surya enggak konsen," sahut Surya. Lalu dia putar balik di perempatan kecil.
"Kalau kamu mau bantu nyariin Nadia, lebih baik minta Yogi mengantarmu," ucap Toni.
Toni merasa anaknya ini sedang tidak konsentrasi. Toni khawatir terjadi sesuatu nanti di jalan.
"Jangan! Biar Surya mencarinya sendiri!" sahut Rahma.
Surya mengerutkan dahinya. Dalam hati bertanya, kenapa mamanya tak setuju mengajak Yogi?
"Kenapa, Ma?" tanya Toni.
"Mm...Nanti malah jadi merepotkan Yogi. Belum lagi, nanti Sinta pasti maunya ikut," jawab Rahma.
Toni mengangguk. Dia tak tahu kalau maksud Rahma, biar Yogi tak mengetahui permasalahan sebenarnya.
Rahma khawatir kalau Yogi akan melakukan hal yang sama dengan Surya. Bagaimanapun, Sinta sudah sangat dekat dengan Yogi. Rahma tak mau Sinta mengalami hal yang sama dengan Nadia.
Entah apa yang jadi pemikiran Rahma. Dia begitu sangat ketakutan.
"Ya udah, kamu cari sendiri. Kamu boleh pakai mobil Papa. Biar enggak kepanasan. Nanti Papa kasih uang buat beli bensinnya," ucap Toni.
"Iya, Pa," sahut Surya menurut.
Setelah Rahma dan Toni turun dari mobil, Surya segera melajukan mobilnya.
Tapi baru beberapa meter, ponsel Surya berdering. Surya meliriknya sekilas.
Mamanya Nadia.
Surya menepikan mobil dan mengangkatnya.
"Ya hallo, Tante," ucap Surya.
"Sur. Bisa bantu Tante, enggak?" tanya Susi.
"Bantu apa, Tante?" Surya balik bertanya.
"Bantu mencari Nadia. Dia sepertinya pergi jauh. Tadi mbok Nah bilang, Nadia membawa ransel," pinta Susi sambil menahan tangisnya.
__ADS_1
"Iya, Tante. Ini saya lagi dalam perjalanan nyariin Nadia," sahut Surya.
Surya semakin yakin kalau Nadia akan mencari Dewa ke kampung halaman Viona.