PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 176 NASEHAT UNTUK SINTA DAN YOGI


__ADS_3

"Silakan duduk." Susi menunjuk ke kursi yang ada di teras.


Tadi Susi sedang berada di teras rumahnya, setelah menerima paket dari barang pesanannya.


Dan saat Doni datang, Susi yang masih duduk di kursi teras, tak mempersilakannya masuk.


Doni hanya mengangguk. Lalu duduk dengan santainya.


Busyet! Gitu amat Nadia punya pacar. Enggak punya sopan santun.


Sejak kapan Nadia punya pacar baru? Atau...dia aja yang ngaku-ngaku pacarnya Nadia?


Susi terus saja membatin sambil berjalan naik ke kamar Nadia.


"Nadia! Nad! Buka pintunya, Sayang!" Susi memanggil-manggil Nadia sambil mengetuk pintunya.


Tapi Nadia yang sedang bersantai di dalam bath tub sambil mendengarkan musik klasik, tak mendengarnya.


Apalagi Nadia juga menutup pintu kamar mandinya. Semakin tak bisa mendengar suara apapun dari luar.


"Nad! Nadia!" Susi kembali memanggil Nadia sambil mengetuk pintu.


Tak ada jawaban sama sekali.


"Apa dia ketiduran? Ah, biarin ajalah. Lagian tamunya enggak penting juga," gumam Susi. Lalu dia turun kembali dan menemui Doni.


"Maaf, Nadianya lagi tidur. Diketuk pintunya enggak dibukain juga," ucap Susi. Karena Susi mikirnya Nadia tidur.


"Tidur? Barusan tadi saya telpon, katanya lagi mandi, Tante," sahut Doni.


Mandi? Kenapa anak ini sampai tahu? Ada hubungan apa Nadia dengan dia, sampai mau mandi aja pakai pamit segala. Batin Susi.


"Iya. Abis mandi terus dia bilang mau langsung tidur. Nadia memang suka seperti itu. Dia belum bisa tidur kalau belum mandi." Susi terpaksa berbohong. Maksudnya juga biar Doni segera pergi.


Doni melihat jam tangan mewahnya. Susi hanya meliriknya sekilas.


Dari lirikan itu, Susi tahu kalau jam tangan yang dipakai Doni bukan barang murahan. Kalau KW ya bisa jadi.


"Belum ada lima belas menit, Tante. Masa Nadia udah terlelap?" tanya Doni tak percaya.


Menurut Doni, cewek itu kalau mandi lama. Bisa berjam-jam.


Enggak percayaan amat ini anak. Ngeyelan. Batin Susi.


"Nadia kalau udah mandi, terus ketemu bantal, langsung terlelap." Susi pun tetap kekeh pada kebohongannya.


Padahal Susi sendiri sudah mikir, kalau memang Nadia mandi, bakalan berjam-jam. Apalagi kalau pakai acara berendam.


"Ya udah deh, Tante. Saya pulang dulu." Tanpa basa basi lagi, Doni pergi dan menuju mobilnya.


Susi memandangnya dengan jengah.

__ADS_1


Mobilnya sih mentereng. Penampilannya juga enggak murahan. Tapi enggak ada basa basinya sama orang tua.


Lalu Susi membandingkannya dengan Surya. Jelas sekali jauh berbeda. Walaupun Surya kalau datang cuma naik motor matic biasa.


Susi mengangkat bahunya, lalu masuk ke dalam. Tak lupa Susi menutup pintu rumahnya. Malas kalau sampai kedatangan makhluk seperti Doni lagi.


Sementara setelah Sinta selesai makan, Yogi mengajak ke rumahnya. Yogi juga sudah mengabari mamanya kalau dia dan Sinta mau datang.


"Pegangan yang kenceng. Aku mau ngebut, nih," ucap Yogi setelah Sinta nemplok di belakangnya.


"Iih, jangan ngebut-ngebut, A. Pelan juga nyampe," sahut Sinta.


"Cuacanya panas banget, Cinta. Kalau enggak ngebut, nanti keburu gosong kulitku."


Tadi saking terburu-burunya, Yogi tak memakai jaket seperti biasanya.


"Tapi kita kan enggak bisa lewat jalan raya, A. Aku kan enggak pakai helm," ucap Sinta.


"Ah, iya. Kita lewat jalan kampung aja, ya." Yogi melajukan motornya melewati jalan-jalan kampung.


Dan Sinta merasa senang, karena Yogi enggak bisa ngebut. Bakalan kena omel orang kampung kalau sampai ngebut.


Sampai di rumah keluarga Yogi, cuaca semakin panas saja. Sudah lewat tengah hari.


Novia sedang asik membaca majalah. Majalah luar negeri yang dibelinya online.


Sedangkan Arya sibuk di depan layar laptopnya. Bagi Arya, tak ada kata libur. Dimanapun dia berada, saat ada kesempatan, selalu dia selesaikan pekerjaannya.


Novia dan Arya menoleh.


"Siang Tante. Om." Sinta juga menyapa mereka dengan ramah. Lalu Sinta menghampiri Novia, dan menyalaminya.


Novia malah meraih tubuh Sinta dan memeluknya erat.


"Apa kabar kamu, Sayang?" tanya Novia.


"Baik, Tante," jawab Sinta.


Novia melepaskan pelukannya.


"Jangan panggil tante lagi, dong. Kan sebentar lagi mau jadi istrinya Yogi. Panggil mama sama papa. Udah. Jangan dirubah-rubah lagi!" ucap Novia dengan tegas.


Sinta tersenyum malu.


Sejenak Sinta merenung. Dia bakal jadi istrinya Yogi. Dan mereka berdua akan jadi orang tuanya juga.


"Iya...Ma," ucap Sinta malu-malu.


Lalu Sinta mendekat ke arah Arya dan menyalaminya. Arya membelai kepala Sinta dengan lembut. Persis seperti Toni yang sering melakukannya kalau Sinta berpamitan.


Sinta pun merasa menemukan orang tua kedua setelah mama dan papanya.

__ADS_1


"Sini duduk." Novia menyuruh Sinta duduk di sebelahnya.


Yogi duduk agak jauh. Dia biarkan saja mamanya berakrab-akrab dengan Sinta. Biar Sinta merasa nyaman juga berdekatan dengan orang tuanya.


Novia sendiri, seperti nemu anak. Perempuan pula.


Dari dulu Novia ingin sekali punya anak lagi, tapi perempuan. Karena sudah ada Yogi. Tapi rupanya Novia tak bisa lagi punya anak.


Entah karena mereka berdua terlalu capek bekerja, atau karena faktor keturunan.


Novia dan Arya sama-sama anak tunggal. Dan bisa saja itu menurun kepada mereka. Dan nyatanya mereka hanya memiliki Yogi.


Makanya, saat tadi Yogi ngotot ingin segera menikahi Sinta, mereka tak menolaknya.


Bahkan saat mereka berasumsi sendiri tentang hubungan Yogi dan Sinta, mereka tidak marah.


Bahkan ingin sekali, apa yang mereka pikirkan terjadi. Sinta hamil dan melahirkan anak yang lucu.


Mungkin bagi sebagian orang itu adalah aib, anaknya menikah karena wanitanya hamil. Tapi bagi Novia dan Arya, itu adalah anugerah.


Mereka bakal mendapatkan generasi baru lagi. Tidak berhenti pada Yogi saja.


Malah kalau perlu, Sinta sering-sering hamil. Biar anaknya banyak.


Karena percuma saja mereka punya harta banyak, kalau tidak punya keturunan. Siapa yang akan menikmati?


"Hari ini kamu udah enggak ada kuliah lagi?" tanya Novia pada Sinta.


Sinta yang sudah duduk di sebelah Novia, menggeleng.


"Sinta. Mama mau nanya sama kamu. Ini serius. Tapi kamu jangan tersinggung ya," ucap Novia.


Sinta mengangguk sambil tersenyum. Tapi dalam hatinya ketar ketir.


"Kamu sudah mantap dengan Yogi?" tanya Novia. Dia ingin mendengar sendiri dari mulut Sinta.


"Sudah, Tante. Eh, Mama," jawab Sinta. Dia masih canggung memanggil Novia dengan sebutan mama.


"Soalnya begini, Sinta. Pernikahan itu bukan main-main. Kalian akan menyatukan dua keluarga. Jadi bukan cuma menyatukan diri kalian saja. Apalagi nanti setelah kalian punya anak. Ikatan kalian akan semakin erat. Kamu sanggup terikat erat?" tanya Novia.


"Maksudnya?" tanya Sinta tak mengerti.


"Maksudnya, kamu tidak bisa lagi sebebas dulu. Kamu harus mengabdi pada suamimu. Harus menurut apa kata suamimu. Ya kayak mama kamu pada papamulah. Sanggup?" tanya Novia.


Sinta mengangguk pasti.


"Kamu juga Yogi. Sanggup kamu memberi kenyamanan untuk istri kamu? Melindungi dia. Menafkahi dia...."


Arya dan Novia bergantian memberikan banyak pertanyaan dan nasehat pada Sinta dan Yogi.


Karena mereka tak mau kalau sampai pernikahan anaknya hanya karena nafsu semata.

__ADS_1


__ADS_2