
Dengan jantung yang masih berdegup kencang, bahkan makin kencang, Surya membawa naik Nadia ke kamar.
Bik Nah menatapnya sambil tersenyum. Dia sangat senang anak majikannya itu mendapatkan lelaki yang baik seperti Surya. Lalu bik Nah kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Surya mendudukan Nadia di atas tempat tidur.
"Perlu aku bantu?" tanya Surya dengan khawatir.
"Iih, apaan sih? Masa ganti baju dibantuin." Nadia mendorong tubuh Surya, pelan.
"Memangnya kenapa? Aku benar-benar ingin membantumu, Nad," sahut Surya dengan serius. Tak ada niatan jelek sama sekali.
"Iya. Tapi aku kan malu, Sur. Kamu keluar dulu sebentar," ucap Nadia.
Surya pun menurut. Dia menunggu di luar kamar Nadia.
"Lho kok di luar, Mas Surya?" tanya bik Nah, saat akan mengepel lantai atas.
"Nadia lagi ganti baju, Bik. Tadi ketumpahan teh," jawab Surya.
"Ooh. Bibik ngepel dulu, ya."
Surya hanya mengangguk. Bik Nah mulai mengepel lantai.
Dalam hati, bik Nah salut pada Surya. Meski diberi kebebasan oleh keluarga Nadia, tapi tidak memanfaatkan kesempatan.
Biasanya, anak muda kalau sudah dikasih kesempatan, akan melakukan hal-hal yang diluar batas.
Surya duduk di sofa, sambil menunggu Nadia selesai. Dia membuka sebuah album foto lama.
Surya senyum-senyum sendiri melihat foto masa kecil Nadia. Lucu sekali. Rambutnya diikat dua.
Saat itu mereka belum saling kenal. Dan entah mereka masih tinggal dimana.
Surya mengenal Nadia saat SMP. Itu pun hanya sekedar tahu nama saja. Mereka sudah tinggal berdekatan.
Sampai kemudian mereka sekolah di SMA yang sama. Saat itulah, mereka jadi akrab. Karena satu kelas.
Dan Dewa yang duduk satu meja dengan Surya, juga ikut akrab dengan Nadia.
Surya dan Dewa termasuk anak yang susah bergaul dengan sembarang orang. Kalau sudah dengan satu atau dua orang, ya sudah.
Hari-hari di sekolah, mereka habiskan bertiga. Dalam kegiatan apapun selalu bertiga.
Sampai kemudian tumbuh benih-benih asmara di hati Surya pada Nadia. Tapi Surya takut mengatakannya.
Surya menyimpan rapi perasaannya. Baginya, asal bisa selalu bersama Nadia, sudah membuatnya bahagia.
Itu sebabnya, Surya tak pernah menanggapi Celyn yang selalu berusaha mendekatinya.
Tapi ternyata Surya harus kecewa, saat mereka naik kelas tiga, dan mengetahui kalau Nadia jadian dengan Dewa.
Di kelas dua, mereka sudah pisah kelas. Dewa yang kebagian satu kelas dengan Nadia sampai mereka lulus.
__ADS_1
Ternyata diam-diam, Dewa menyatakan perasaannya lebih dulu pada Nadia. Dan entah kenapa, Nadia pun menerima pernyataan Dewa.
Surya hanya bisa menatap kemesraan mereka saat bertiga. Dan Surya masih tetap menyimpan perasaannya hingga kini.
Tak pernah ada satu cewek pun yang mampu menggantikan posisi Nadia di hatinya. Apalagi setelah Dewa kemudian menghilang.
Tapi sayangnya, Nadia masih selalu menunggu kedatangan Dewa dan menutup hatinya untuk siapapun. Termasuk untuk Surya.
Surya tak pernah patah semangat. Dia pun selalu setia menunggu hingga Nadia membuka pintu hati untuknya.
"Lagi lihat apaan, Sur?" tanya Nadia di depan pintu kamarnya.
Surya menatap wajah Nadia. Wajah yang selalu menghiasi hari-harinya bertahun lamanya.
Wajah yang semakin nampak dewasa. Tapi masih sering bersikap kekanakan. Yang kadang membuat Surya gemas.
"Lihat foto anak kecil berkuncir dua. Lucu banget," jawab Surya.
Nadia tertawa, pasti foto dirinya. Lalu berjalan tertatih mendekati Surya.
Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa inchi, kaki Nadia tersandung karpet.
"Auwh!" Tubuh Nadia terjatuh tepat dipangkuan Surya.
Surya yang juga tak siap, ikut tersandar di sofa. Sesaat wajah mereka menyatu.
Nadia segera menjauhkan wajahnya. Tapi entah sengaja atau tidak, tangan Surya menahannya.
Mata mereka pun bertemu.
"Sur...."
Dan entah siapa yang memulai, wajah mereka semakin mendekat. Hingga bibir mereka bertemu.
Sesaat mereka hanya diam. Sama-sama tak tahu apa yang harus dilakukan.
Lalu dengan perlahan dan sangat lembut, Surya ******* bibir Nadia. Nadia tak membalasnya. Dia hanya memejamkan matanya. Merasakan hangatnya bibir Surya.
Surya pun merasakan manisnya bibir Nadia. Dan dia terus mencecapnya hingga sama-sama kehabisan udara.
"Ooh, maaf, Nad," ucap Surya setelah Nadia berhasil melepaskan bibirnya.
Nadia yang masih di atas tubuh Surya, semakin merona. Lalu berusaha berdiri. Tapi sekali lagi, kakinya terantuk kaki Surya.
Dan Nadia pun kembali terjerembab ke pelukan Surya. Surya mendekapnya dengan erat.
"Ati-ati, Sayang," ucap Surya di telinga Nadia.
Meski pelan, tapi terdengar bagai suara geledek. Nadia tak pernah menyangka kalau Surya memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Permisi...." Rupanya bik Nah masih ada di lantai dua. Dia baru saja keluar dari kamar Nando. Rutinitasnya membersihkan kamar kakak Nadia, meski orangnya tak ada.
Spontan Surya melepaskan pelukannya. Dan Nadia pun kembali berusaha berdiri.
__ADS_1
Mereka sama-sama menyembunyikan wajahnya. Malu ketahuan bik Nah.
"Maafkan aku, Nad," ucap Surya.
Surya benar-benar khawatir Nadia akan marah dan menjauhinya lagi.
"Aku yang salah, Sur. Aku yang tidak hati-hati," sahut Nadia. Dia sudah berhasil duduk di sebelah Surya.
"Kamu enggak marah?" tanya Surya.
Nadia menggeleng. Lalu menoleh ke arah Surya.
"Lupakan, Sur. Anggap tak pernah terjadi apapun," ucap Nadia.
Kali ini Surya yang merasa bagaikan tersambar petir. Mereka baru saja melakukannya. Saling mencecap, saling *******.
Dan dengan enteng Nadia menyuruhnya melupakan. Apa maksudnya.
Surya terpaku. Diam membisu. Dia tak berani protes. Surya benar-benar takut kehilangan Nadia.
"Bantu aku ke bawah, Sur. Tongkatku kan di sana," pinta Nadia.
Surya mengangguk. Dan siap menggendong Nadia lagi. Tapi kali ini Nadia menolaknya.
"Jalan aja, Sur. Kamu jagain aku."
Surya pun menurut. Dia memapah Nadia. Membantunya berjalan sampai ke ruang tengah.
Tak ada yang membuka suara sama sekali. Hingga sampai di anak tangga paling bawah, Susi yang sudah pulang, menyapa mereka.
"Aduh, Nadia. Kamu malah merepotkan Surya, kan," Susi mendekat dan berniat ikut membantu.
"Enggak kok, Tante. Biar saya saja," sahut Surya.
Susi pun urung membantu Nadia. Dia berjalan duluan ke sofa.
"Sur, nanti ini dibawa pulang, ya? Buat mama kamu." Susi memberikan sebuah paperbag bertuliskan nama bakery terkenal.
"Kok malah repot-repot, Tante," ucap Surya.
"Enggak repot. Tadi sekalian jalan. Tante juga beli buat Nadia. Ini cake kesukaannya," sahut Susi. Lalu Susi ke dapur membawa satu paperbag lainnya.
Tring.
Ponsel Surya menyala. Ada notifikasi pesan masuk dari Celyn. Dan kebetulan Nadia membacanya.
Surya langsung mengambil ponselnya yang ditaruh di atas meja. Dan mematikannya.
"Kalian janjian?" tanya Nadia.
Nadia sempat membaca sekilas, kalau Celyn meminta Surya nanti malam jangan sampai lupa.
"Iya," jawab Surya sambil menundukan wajahnya. Dia merasa sangat bersalah telah merahasiakannya dari Nadia.
__ADS_1
Nadia menepuk tangan Surya pelan.
"Semoga kalian berjodoh, ya."