
Surya termangu menatap foto di ponsel Yogi.
"Kamu kenal dia?" tanya Yogi.
Surya hanya diam. Dia masih syok melihat foto orang yang telah lama menghilang.
Yogi dan Sinta hanya saling berpandangan. Lalu membiarkan Surya kembali konek.
Surya menghela nafasnya.
"Dari mana kamu dapat foto ini?" tanya Surya.
Yogi mengambil kembali ponselnya. Lalu menormalkan lagi foto itu, hingga tampak foto secara utuh.
Yogi memberikannya lagi pada Surya.
Surya mengamatinya dengan seksama. Lalu melihat satu persatu orang yang ada di foto itu. Terutama Viona yang dipeluk oleh Dewa.
"Kemarin aku dan orang tuaku, nganterin mak Yati pulang kampung. Terus kami jalan-jalan ke pantai." Yogi menjeda ceritanya. Memberikan waktu pada Surya untuk mencernanya dengan baik.
"Di rumah makan pinggir pantai, kami ketemu dengan Viona. Dia datang dengan lelaki itu. Dia memperkenalkan diri dengan nama Putra," lanjut Yogi.
"Dewa Putranto!" sahut Surya, menyebutkan nama panjang Dewa.
"Putra itu ternyata kekasih Viona, Bro," ucap Yogi.
Surya terkesiap.
"Kekasih?" tanya Surya tak percaya.
"Iya. Entah sejak kapan. Tapi pas aku ngobrol sama Putra, katanya mereka baru dua kali ketemu. Pertemuan yang tak disengaja, di pelabuhan," jawab Yogi.
Surya menyimak cerita Yogi dengan serius.
"Putra adalah seorang pelaut. Dia bekerja di kapal tempat kami foto-foto itu."
Yogi membiarkan Surya membuka foto-foto lainnya.
Dada Surya bergemuruh. Jantungnya berdegup dengan cepat.
Di satu sisi, dia sangat bahagia. Karena akhirnya bisa menemukan kembali sahabatnya yang lama menghilang.
Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran. Bagaimana kalau sampai Nadia tahu, kalau Dewa ternyata masih ada.
Bagaimana dengan nasib percintaannya dengan Nadia yang baru hitungan hari?
Nadia bakal kembali mengejar Dewa. Orang yang selama ini dia tunggu kedatangannya.
"Sepertinya Viona juga taunya dia bernama Putra. Bukan Dewa," ucap Yogi.
Sinta pun hanya diam. Tak berani komentar. Dia memahami kegalauan hati kakaknya itu.
"Kamu punya nomor telponnya?" tanya Surya.
Yogi menggeleng.
__ADS_1
"Dia bilang, sejak kerja di laut, dia tak pernah lagi pegang hape. Alasannya di laut tak ada sinyal," jawab Yogi.
"Apa Viona juga tak punya nomornya?" tanya Surya meragukan omongan Yogi.
Karena bisa saja Putra berbohong. Mungkin memang tak mau berbagi nomor telpon dengan orang lain.
"Viona bilang begitu. Dan sepertinya pertemuan-pertemuan mereka, hanya saat kapal tempat Putra bekerja itu bersandar. Di pelabuhan kota asalnya Viona," jawab Yogi.
"Aneh. Enggak masuk akal," ucap Surya.
"Gue juga mikir gitu, Bro. Masa iya sih, pertemuan yang tidak sengaja bisa dua kali. Dan mereka saling jatuh cinta, tanpa ada komunikasi di luar itu," sahut Yogi.
Surya mengangguk.
"Apa sekarang kapal itu masih bersandar di sana?" tanya Surya.
"Lu mau ngapain? Ngejar ke sana? Gila, lu!"
"Bukan begitu. Aku kan bisa telpon Viona. Lalu video call dengan Dewa," sahut Surya.
"Tapi katanya sore ini kapalnya sudah mau berlayar lagi. Berbulan-bulan baru kapal itu akan kembali ke pelabuhan itu," ucap Yogi.
Surya menghela nafasnya.
"Oke. Aku mau minta tolong sama kamu, Yog. Tolong rahasiakan foto itu dari Nadia," pinta Surya.
Yogi mengangguk.
"Terus terang, aku dan Nadia udah baikan. Bahkan kami udah memutuskan buat menjalin....cinta," ucap Surya.
Sinta dan Yogi sama-sama bengong.
"Nadia udah menyadari kekonyolannya selama ini. Menunggu orang yang telah lama hilang dan tak ada kabar beritanya," lanjut Surya.
"Lu yakin Nadia bakal melupakan Dewa?" tanya Yogi.
"Aku berusaha yakin. Tapi setelah liat foto itu, aku jadi enggak yakin Nadia akan mempertahankanku," jawab Surya.
Yogi dan Sinta kompak mengangguk.
"Makanya aku minta tolong ke kamu, Yog. Rahasiakan foto itu dari Nadia. Biar dia tak tahu kalau Dewa ternyata masih ada," ucap Surya.
"Tapi kak Dewa kan udah jadian sama kak Viona?" Sinta yang dari tadi hanya diam dan mengangguk, buka suara.
"Segala sesuatunya bisa saja terjadi, kan? Kalian kan tau, Nadia setia menunggu Dewa hampir tiga tahun. Dan selama itu dia menutup hatinya pada siapapun," sahut Surya.
"Dia baru membukanya lagi kemarin. Itu juga atas dorongan dari tante Susi. Dan dia bilang, enggak punya teman lagi setelah kami jauh," lanjut Surya.
"Jadi elu cuma jadi tempat pelariannya aja dong, Bro?" tanya Yogi.
"Aku sadar itu. Dan yang harus aku lakukan adalah, jangan pernah membiarkan Nadia lari lagi. Ibarat aku sebuah pelabuhan dan dia kapalnya, aku tak akan memberinya akses untuk dia kembali berlayar," sahut Surya.
"Dan elu kembali mengorbankan perasaan, kalau suatu saat kapal itu tetap berlayar," ucap Yogi.
"Aku akan berjuang sekuat tenaga, biar kapal itu tak akan kemana-mana lagi!" sahut Surya.
__ADS_1
"Gue cuma mau ngingetin elu aja, Bro. Berjuang sendiri itu akan sangat menyakitkan," ucap Yogi.
Surya hanya diam.
"Jangan paksain diri elu, Bro. Kalau elu merasa kagak kuat, lambaikan tangan aja ke kamera. Hahaha."
"Ih, apaan sih, A'. Orang dengerinnya serius juga, malah becanda." Dengan gemas, Sinta mencubit lengan Yogi.
Yogi memang selalu mampu mencairkan suasana.
"Biar kalian enggak pada tegang! Entar putus lho urat syarafnya!" sahut Yogi.
Surya hanya mendengus kesal. Kebiasaan Yogi selalu saja bercanda di saat yang lain serius.
"Udah mau maghrib. Siap-siap sholat maghrib sana. Yogi nanti makan malam di sini, ya? Ajarain Surya sama Sinta makan ikan asin!" ucap Rahma dari pintu rumah.
"Iya, Tante," jawab Yogi dengan senang. Padahal di rumahnya sendiri, ada mama dan papanya.
Yogi sudah merasa nyaman dengan keluarga Surya yang wellcome padanya.
Yogi mengikuti Surya ke kamar. Sinta masuk kamarnya sendiri.
Meski memutuskan berpacaran dengan Sinta, tapi Yogi ingin mereka berpacaran yang sehat.
Karena Yogi menganggap Sinta masih seperti anak kecil. Jadi Yogi merasa seperti dengan adiknya sendiri saja.
Setelah maghrib, Rahma memanggil mereka untuk makan malam.
Mata Yogi langsung berbinar, melihat lauk kesukaannya. Ikan asin. Ada juga sambal terasi dan lalapannya.
"Ayo Yogi, ambil duluan." Toni mempersilakan Yogi sebagai tamu, untuk duluan ambil.
"Om sama Tante aja dulu." Yogi menolaknya, karena merasa tak enak. Mendahului orang yang lebih tua.
Setelah semua mengambil nasi dan lauk, Yogi mulai asik dengan ikan asinnya.
Sinta menatapnya dengan heran. Dari bentuknya saja, Sinta kurang tertarik.
"Mau? Enak lho," ucap Yogi pada Sinta.
Dengan ragu, Sinta mengambilnya sedikit. Lalu mencicipinya.
"Howek...! Asin banget!" seru Sinta. Dia melepehnya.
"Eh, enggak boleh begitu, ah. Enggak sopan!" ucap Rahma.
"Abisnya asin banget, Ma!" sahut Sinta.
"Namanya juga ikan asin, Neng. Kalau kepingin manis, makanya sambil liatin aku," ucap Yogi.
Semua yang ada di sana tertawa. Kecuali Surya. Dia lagi mencoba mengunyah ikan asin yang baru sekali ini dia makan.
"Makan yang banyak, Bro. Siapa tau ada yang ngajakin elu berlayar! Di sana tiap hari makannya ikan asin!" bisik Yogi.
Surya langsung menginjak kaki Yogi yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Auwh!"