PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 60 BELAJAR NAKAL


__ADS_3

"Lu pasti bisa, Surya. Lu bilang begitu karena belum pernah mencoba. Makanya sekali-kali belok dikit. Nakal dikit enggak akan bikin lu masuk neraka!" Yogi terus saja menyemangati Surya.


Surya yang dianggap Yogi selama ini makhluk yang sempurna, ternyata hanya seorang lelaki lemah. Tak sekuat dirinya yang telah terbiasa dikecewakan.


Kecewa karena lahir di keluarga yang tak seharmonis keluarga orang tua Surya. Kecewa karena berkali-kali ditolak cewek.


Dan itu semua tak membuat Yogi terpuruk. Malah menjadikannya pribadi yang kuat.


Yogi tak pernah mikirin nilai-nilai kuliahnya harus punya IPK tinggi. Yogi tak pernah mikirin kalau semester berikutnya dia harus mengulang mata kuliah yang nilainya jeblok.


Yogi pun tak pernah mikirin ditolak cewek. Baginya, tertutup satu pintu masih ada pintu lain yang akan terbuka.


Dia tak pernah ngoyo dalam hidup. Yang penting dia enjoy menjalaninya.


Surya masih terdiam. Berpikir tentang hidupnya yang terlalu lurus. Hidup yang harus bisa menjadi kebanggaan kedua orang tuanya.


Sementara tak jarang dia tersiksa. Dia tak bisa nongkrong seenaknya kayak Yogi. Tak bisa tampil apa adanya. Harus selalu terlihat perfect.


Yogi menyalakan rokoknya. Lalu meletakan bungkus rokok di depan Surya.


"Merokok enggak bakal ngilangin kegantenganmu! Malah makin macho. Enggak kayak banci!" Kali ini ledekan Yogi sangat pedas.


Tidak! Aku bukan banci! Aku laki-laki sejati. Apa hal itu juga yang membuat Nadia lebih memilih Dewa?


Surya ingat saat SMA dulu. Enggak jarang Dewa beli rokok ketengan. Dan dengan santai dia menghisapnya. Di depannya dan Nadia. Nadia tak pernah protes. Toh, Dewa hanya sesekali saja merokoknya.


Mungkin karena faktor keuangan juga. Orang tua Dewa bukan orang kaya. Uang saku Dewa pun boleh dibilang pas-pasan.


Jangankan untuk membeli satu bungkus rokok, untuk naik angkot aja kadang kurang. Karena uang sakunya udah habis buat makan siang kalau ada tambahan mata pelajaran.


Dan Dewa tak pernah mengeluh. Dia nikmatin aja. Pulang sekolah jalan kaki dengan alasan sambil cuci mata. Dan Nadia ikut menikmatinya. Berjalan kaki sampai ke rumah Nadia yang jaraknya lumayan jauh.


Sampai di rumah Nadia, mamanya Nadia pasti menyuruh mereka makan siang dulu. Atau sekedar membuatkan minuman dingin dengan camilan yang bikin perut kenyang.


Surya meraih bungkus rokok itu. Dengan ragu dia mengambilnya sebatang.


Surya tak langsung menyalakannya. Dia menimbang-nimbang, apa yang akan dilakukannya sudah benar?


Yogi menyalakan korek untuk Surya. Bukan bermaksud mengajari Surya untuk jadi anak nakal.


Yogi hanya ingin Surya jadi lelaki sejati. Yang tak takut melakukan hal yang dianggap sebagian orang, keliru.


Surya menyelipkan batang rokok di bibirnya. Dan mulai menghisapnya.


Uhuk...! Uhuk...!


Surya langsung terbatuk. Seumur hidup baru kali ini dia merasakan asap rokok masuk ke tenggorokannya.


Yogi memberikan white coffee yang tinggal setengah.

__ADS_1


"Minum, Sur."


Surya meletakan rokoknya di asbak. Lalu minum sedikit.


"Terusin merokoknya. Itu dibeli pakai uang. Bukan pakai daun yang tinggal metik," ucap Yogi.


Surya mengambil rokoknya lagi.


"Pelan aja ngisepnya. Begini nih." Yogi memberikan contoh.


Surya sering melihat orang merokok. Dia pikir merokok adalah hal termudah. Ternyata tak semudah itu.


Aku harus bisa. Masa melakukan hal mudah aja, enggak bisa.


Surya menghisapnya lagi perlahan. Lalu menghembuskan asapnya. Walau masih kaku dan terlihat lucu, tapi setidaknya Surya sudah tidak batuk-batuk lagi.


"Nikmati hidup lu, Sur. Siapkan mental untuk hal-hal paling buruk sekalipun." Yogi menghisap rokoknya lagi.


Surya masih saja tak bicara. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga tak terasa rokok yang dihisapnya habis.


Lalu Surya mengambil sebatang lagi.


"Yee...malah ketagihan! Beli sendiri!" Yogi menjauhkan bungkus rokoknya sambil tertawa.


"Pelit!" ucap Surya dengan ketus.


"Biarin! Sekali-kali jadi orang pelit!" sahut Yogi.


Dan kebetulan mereka bukan dari keluarga pas-pasan. Sehingga isi dompet mereka tak pernah tipis.


Surya menghisap rokok keduanya.


"Gimana....lebih enjoy?" tanya Yogi.


"Lumayan. Otakku agak terang. Enggak butek kayak tadi," jawab Surya.


Ddrrtt!


Ddrrtt!


Ponsel Surya bergetar. Ada panggilan masuk. Surya merogoh kantong celananya.


Dari mamanya. Surya mengabaikan.


Yogi melihatnya sekilas. Ada senyuman yang terkesan meledek.


"Kenapa enggak diangkat?" tanya Yogi.


"Paling disuruh pulang sekarang," jawab Surya.

__ADS_1


Yogi tertawa.


"Dasar anak mama. Kayak bocah ingusan aja, jam segini udah disuruh pulang," komentar Yogi.


"Enak aja, aku dibilang anak ingusan!" sahut Surya. Harga dirinya mulai meronta. Sesuatu yang biasanya dia tahan dalam hati.


"Angkat aja. Bilang ke nyokap lu, kalau elu pulangnya agak maleman!"


Surya melihat jam dipergelangan tangannya. Hampir jam sebelas dan Yogi bilang pulangnya agak maleman?


Gila! Apa menurut Yogi, jam segini masih sore?


Ponsel Surya bergetar lagi.


"Iya, Ma." Surya akhirnya mengangkat juga.


"Sur, ini sudah malam. Mau pulang jam berapa?" tanya Rahma.


"Sebentar lagi, Ma," jawab Surya. Dia tak mau mengatakan pulangnya agak maleman. Karena bagi Surya, jam segini sudah sangat malam.


"Ini udah malam banget, lho. Mama udah ngantuk," ucap Rahma.


"Mama tidur duluan aja. Surya kan bawa kunci cadangan," sahut Surya.


Kedua anak Rahma memang dibawakan masing-masing satu kunci cadangan. Untuk jaga-jaga.


"Ya udah. Tapi jangan kemalaman, ya. Mama tidur dulu," ucap Rahma. Lalu menutup panggilannya.


"Tuh, kan. Bukan masalah kalau kamu pulang malam, kan?" tanya Yogi.


Surya mengangguk.


"Elu nya aja yang ketakutan sendiri. Nikmati dunia elu, Sur. Gue yakin, nyokap lu juga enggak akan masalah selama lu enggak bikin masalah," ucap Yogi.


"Pulang malam kan bukan dosa besar. Yang penting saat nyokap lu besok bangun, elu udah ada di kamar. Dan besok lu tetep berangkat kuliah," ucap Yogi lagi.


"Nakal boleh, Sur. Tapi tetep tanggung jawab. Jangan merugikan orang lain, apalagi bikin malu. Lu liat gue. Gue suka minum, tapi enggak sampai mabok. Karena gue tau kalau orang mabok suka lepas kontrol," lanjut Yogi.


Iya, ya. Setahuku Yogi tak pernah bermasalah dengan orang lain. Dia tetap baik pada orang lain.


Hhh! Ternyata aku tak ada apa-apanya dibandingkan Yogi. Batin Surya.


Surya mengambil lagi rokok Yogi.


"Satu lagi. Besok aku beliin sebungkus. Abis ini aku pulang," ucap Surya.


"Nah, gitu dong. Baru namanya temen gue!" Yogi menepuk bahu Surya. Lalu mereka tertawa bersama.


Surya sudah merasa enjoy. Beban pikirannya serasa hilang. Dan Surya janji, besok dia akan mengambil keputusan. Dan dia akan siap dengan segala resikonya.

__ADS_1


Meskipun dia harus rela kehilangan....Nadia!


__ADS_2