PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 213 KETEMU NADIA


__ADS_3

Menjelang hari pernikahan Sinta dan Yogi, Surya masih ke kampusnya.


Seperti biasanya, Surya menjemput Viona dulu. Mereka sudah seperti sepasang kekasih. Meskipun Surya belum sempat datang ke rumah orang tua Viona.


Selain karena kesibukan di kampus mereka, juga di rumah Surya lagi sibuk-sibuknya.


Ditambah lagi kondisi Rahma yang belum stabil. Jadi banyak hal yang akhirnya Surya harus turun tangan.


"Eh, udah rapi." Surya sudah berada di depan pintu kamar Viona.


"Hey, Sur. Masuklah. Aku nyiapin buku dulu," ucap Viona.


"Banyak bawaannya?" tanya Surya. Dia pun masuk ke kamar Viona.


Surya sudah mulai terbiasa keluar masuk kamar Viona. Tapi sejak kejadian malam itu, Viona tak lagi mau menutup pintu kamarnya.


Viona takut kalau mereka khilaf lagi. Dan untuk menghapus apa yang telah mereka lakukan, Viona membeli obat di apotek atas rekomendasi dari temannya yang bekerja sebagai apoteker.


Jadi Viona tak perlu khawatir kalau dia bakalan hamil. Sebab Viona belum siap untuk itu. Dia masih mau mencapai cita-citanya.


"Enggak. Cuma beberapa aja, kok." Viona pun segera memasukannya ke dalam tas.


"Kalau berat, bawa pakai tas lain aja, Vi. Nanti kamu makin pendek lho. Hehehe."


"Iih, ngeledek nih. Mentang-mentang tinggi," sahut Viona.


Postur tubuh Viona terlihat jomplang kalau bersisihan dengan Surya. Bukan Viona yang pendek, tapi Surya yang terlalu tinggi.


"Enggak ngeledek, cuma ngingetin aja," ucap Surya. Tapi dia masih saja terkekeh.


Viona langsung manyun.


"Uluh-uluh...kok malah manyun gitu, sih?" Surya menarik tangan Viona agar mendekat.


"Udah siang, Surya. Jangan macam-macam," tolak Viona, sambil berusaha menepiskan tangan Surya.


"Sebentar aja," pinta Surya.


"Enggak! Nanti kebablasan. Hari ini aku harus ketemu dosen lagi." Viona menolak dengan tegas.


"Iya, deh. Satu kecupan aja boleh, dong." Surya menepuk pipinya sendiri perlahan.


"Boleh. Tapi jangan minta nambah, ya?"


Surya memgangguk seperti anak kecil yang lagi berjanji pada orang tuanya. Viona jadi merasa gemas dan ingin mencubit pipi Surya.


Cup.


Viona benar-benar hanya memberikan satu kecupan saja. Surya pun menepuk pipi sebelahnya.


"Tuh, kan..." Viona malah mencubit pipi Surya dengan gemas.


"Ayo berangkat," ajak Viona.


Surya pun berdiri sambil manyun.


Dengan santainya Viona melangkah. Melenggok di depan Surya.

__ADS_1


Surya hanya bisa menelan ludahnya. Bagaimanapun dia seorang lelaki dewasa yang sudah pernah merasakan kenikmatan.


Dengan gontai seperti tentara kalah perang, Surya berjalan keluar mengikuti Viona.


"Vi, masih ada waktu. Kita sarapan dulu, yuk," ajak Surya setelah sampai di teras rumah kosnya Viona.


Viona melihat jam tangannya. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit.


"Tapi makannya cepet, ya. Biar aku enggak terlambat," sahut Viona.


"Siap."


Surya segera naik ke motornya. Diikuti Viona.


Surya sudah terbiasa makan pagi. Dan tadi, dia bangun terlambat jadi tak sempat sarapan dulu.


Semalam Surya membantu Sinta, merapikan barang-barang yang akan dibawanya ke gedung tempat pernikahannya.


"Biasanya kamu udah sarapan?" tanya Viona di tengah perjalanan.


Lalu Surya mengatakan alasannya.


Dalam hati Viona, coba kalau mamanya Surya bisa sedikit ramah padanya. Aku pasti mau membantu. Apalagi hubungan Viona dengan Sinta dan Yogi cukup dekat sebelumnya.


Tapi karena waktu itu Rahma sinis pada Viona, dan kelihatannya Surya pun belum berniat mendamaikan, Viona pun pura-pura cuek.


Lagi pula, saat ini dia memang benar-benar lagi sibuk dengan persiapan KKN-nya. Sampai-sampai Viona pun belum sempat pulang ke kampung halamannya.


Viona juga harus menyelesaikan beberapa tugas yg harus dikumpulkan sebelum berangkat KKN.


Surya membelokan motornya ke sebuah warung bubur ayam pinggir jalan. Tak jauh dari kampus mereka.


"Iya. Kalau bubur ayam aku mau. Hehehe." Viona yang tadi sok-sokan tak mau sarapan, begitu mencium aroma bubur, langsung perutnya minta diisi.


"Hhmm!"


Surya mengangkat bahunya saja.


Surya memilih warung kaki lima yang tak banyak pengunjungnya. Biar bisa cepat dilayani dan cepat makannya juga.


"Bang, dua. Komplit," ucap Surya.


Viona sudah mencari tempat duduk duluan.


"Kepingin, kan?" ledek Surya.


Viona mengangguk sambil tersenyum.


"Sur. Apa kabarnya Nadia?" tanya Viona tiba-tiba.


Surya menatap wajah Viona.


Viona memberi tanda bahwa dia baik-baik saja.


"Biasa aja. Aku juga jarang ketemu," jawab Surya.


"Jarang. Berarti pernah ketemu kan?" tebak Viona.

__ADS_1


"Kami kan bertetangga, Vi. Pasti bakalan ketemu lah," sahut Surya dengan santai.


Viona mengangguk mengerti. Dia tidak merasa cemburu pada Nadia. Karena kenyataannya, Nadia menolak Surya.


"Dia enggak pernah masuk kuliah lagi, kenapa?" tanya Viona lagi.


"Wah, kalau itu aku enggak paham, Vi. Aku enggak pernah nanya. Dan enggak pernah mau tau juga," jawab Surya.


Viona mengangguk-angguk. Dia percaya pada omongan Surya. Karena memang Surya hampir tak pernah berbohong padanya.


Kalau menutupi persoalan, iya. Itu dilakukan Surya demi menjaga perasaan Viona.


Seperti malam itu saat Surya bareng Nadia beli nasi goreng keliling. Surya merasa tak perlu juga dia cerita pada Viona.


Bubur ayam pesanan mereka datang.


"Silakan, Mas. Mbak." Tukang bubur ayam meletakannya di atas meja.


"Terima kasih, Bang." Surya pun mendorong satu mangkok ke arah Viona.


"Padahal di kampus lagi pada sibuk, loh. Kelompoknya dia jadi kurang satu," ucap Viona, sambil mengaduk bubur ayamnya.


"Mungkin dia enggak mau ikut KKN, kali," sahut Surya.


Surya tidak mengaduk buburnya seperti Viona. Dia termasuk dalam golongan makan bubur ayam tanpa diaduk.


Sama seperti Nadia. Yang malah merasa eneg kalau diaduk.


"Lah, terus gimana mau beres kuliahnya, kalau enggak ikut KKN?" tanya Viona.


"Vi.Aku bukan siapa-siapanya lagi. Jadi aku enggak peduli dia mau nerusin kuliah apa enggak. Sekarang habiskan makanmu. Waktu kita terbatas," ucap Surya.


Surya mengembalikan omongan Viona tadi. Kalau makannya harus cepet.


Viona hanya mendengus saja. Bagaimana pun Nadia pernah jadi sahabatnya. Dan Viona merasa prihatin dengan Nadia yang lama tak berangkat ke kampus.


Sementara Nadia, dari tadi uring-uringan. Dia tak mau makan pagi di rumah. Dia maunya makan bubur ayam, dan makan di tempat. Bukan dibawa pulang.


Susi terpaksa mengiyakan saat Nadia pamit mau cari warung penjual bubur ayam. Pastinya setelah Haris berangkat ke kantor.


Susi berpikir, dengan begitu Nadia mulai mau bergerak lagi.


Dengan menaiki motornya yang lama nganggur, Nadia mencari warung bubur ayam. Tapi sayangnya, kebanyakan sudah habis.


Nadia mencarinya hingga sampai ke warung bubur ayam dekat kampusnya.


Di depan tenda penjual bubur ayam, Nadia memarkirkan motornya.


"Bang, bubur ayamnya satu. Makan di sini, ya," ucap Nadia.


"Iya, Neng. Silakan duduk dulu." Dengan ramah penjual bubur ayam itu mempersilakan Nadia duduk.


Nadia pun menoleh ke dalam, mencari bangku kosong. Dan tatapannya bertemu dengan mata Surya juga Viona yang sedang melihat ke arahnya.


"Nadia....!" gumam Surya.


Nadia hanya diam di tempatnya.

__ADS_1


Viona juga menatap Nadia sambil bergumam dalam hati. Panjang umur tuh anak.Baru saja diomongin, udah nongol aja.


__ADS_2