PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 129 NEXT TIME CARI TEMPAT NYAMAN


__ADS_3

Setelah hujan reda, barulah mereka saling melepaskan diri.


Nadia mengelap bibirnya sendiri dengan tangan. Lalu merapikan atasannya yang sudah berantakan.


Bahkan pengait bra-nya ikut terlepas.


Tangan Surya tadi berkelana, menjelajahi setiap inchi tubuh Nadia. Bahkan sempat mampir sebentar ke gua, yang Surya belum pernah lihat wujud aslinya.


Surya hanya meraba saja sambil otaknya berusaha menggambarkan sendiri. Lalu kemudian sang empunya gua menjauhkan tangan Surya.


Kelihatannya sang empu, belum siap gawangnya dijebol. Apalagi di dalam mobil Yogi.


Tapi bagi Surya itu sudah lebih dari cukup. Minimal dia bisa merasakan lagi jadi bayi sebentar.


Bayi yang rakus, karena selalu berpindah dari kanan ke kiri, kiri ke kanan. Hingga pemiliknya menggelinjang kegelian. Tapi kedua tangannya malah menekan kepala Surya. Hadeehh....!


Mereka sama-sama tersenyum. Nadia memalingkan wajahnya ke samping. Senyuman jelas terlihat di bibirnya. Bibir yang masih basah, akibat ******* Surya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Surya.


Nadia menoleh. Lalu mengangguk.


Surya melajukan mobilnya. Mereka saling diam. Tak ada yang berani bersuara. Seakan takut kalau bersuara bakal kena denda.


Hingga beberapa saat kemudian. Surya mengecilkan volume musik.


"Kamu suka, Nad?" tanya Surya.


"Suka apaan?" Nadia balik bertanya. Meski dia tahu apa maksud pertanyaan Surya, tapi dia mesti memastikannya.


"Yang tadi," jawab Surya.


"Ciuman...tadi?" tanya Nadia.


"Iya," jawab Surya singkat.


Nadia kembali memalingkan wajahnya.


"Kenapa?" tanya Surya.


"Kenapa kamu mesti menanyakannya?" Nadia balik bertanya lagi.


"Ya...Kalau kamu suka, mungkin next time kita bisa ulangi," jawab Surya. Lalu terkekeh.


"Kamu menyukainya?" tanya Nadia.


"Hey, aku nanya kamu, Nadia. Kenapa kamu jadi nanya aku? Kalau aku, jelas sangat menyukainya. Dan aku berharap kamu mau melakukannya lagi bersamaku," sahut Surya.


"Kalau begitu, lakukanlah lagi. Next time," jawab Nadia.


"Kamu yakin?" tanya Surya.


Nadia mengangguk.


Surya menghela nafas lega. Meskipun dalam hatinya ada pertanyaan, hubungan macam apa ini?


"Oke. Lain waktu, kita cari tempat yang lebih nyaman," ucap Surya.


Nadia hanya mengangguk. Entah dia sadar atau tidak dengan ucapan Surya.


Mencari tempat yang lebih nyaman? Surya bisa saja...Ah! Nadia tak mau melanjutkan hayalannya. Dia pun belum pernah melakukan hal yang lebih jauh.


Bahkan kejadian tadi, adalah yang pertama bagi Nadia. Bercumbu di tengah derasnya hujan. Diiringi musik yang menghentak kencang, karena Nadia belum sempat mengurangi volumenya.


Kembali senyap. Tak ada lagi yang bersuara. Mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


Mungkin mereka sedang memikirkan tempat yang nyaman itu. Entahlah. Hanya mereka berdua yang tahu.


Sampai akhirnya, mobil memasuki komplek perumahan mereka.


Surya mengantarkan Nadia lebih dulu. Dia menghentikan mobilnya di depan pintu pagar rumah keluarga Nadia.


"Udah sampai," ucap Surya perlahan.


Nadia hanya diam. Dia dari tadi menyandarkan kepala sambil memejamkan mata.


"Nad. Udah sampai," ucap Surya lagi.


Nadia masih tak bereaksi.


Surya mendekat ke telinga Nadia. Lalu mengecupnya perlahan.


"Udah sampai, Nadia," bisik Surya.


Nadia mulai menggeliat. Lalu membuka matanya perlahan.


"Udah sampai?" tanya Nadia yang belum sepenuhnya sadar.


"Iya. Apa perlu kita putar balik? Besok pagi, baru kita pulang," ucap Surya perlahan. Bibirnya masih berada di dekat telinga Nadia.


"Ngaco! Aku besok pagi harus ke kampus," sahut Nadia.


"Hhmm," sahut Surya.


"Aku turun dulu, Sur. Makasih udah nganterin aku ya," ucap Nadia.


Surya meraih dagu Nadia. Dia ingin mengulanginya lagi.


Tapi dengan sigap Nadia menahan bibir Surya dengan tangannya. Dia tak mau ketahuan mamanya yang mungkin sedang mengintip. Atau satpam komplek yang bisa jadi sedang berkeliling.


"Next time," jawab Nadia.


"Di tempat yang lebih nyaman?" tanya Surya menuntut.


"Di tempat yang lebih nyaman. Dan aman!" Nadia langsung menarik tangannya.


Lalu...


Cup.


Dia kecup bibir Surya sekilas. Lalu segera membuka pintu dan keluar dari mobil.


Surya menatapnya dengan tersenyum. Senyum kebahagiaan.


"Nad. Meski aku tak mampu memiliki hatimu, tapi aku yakin akan mampu memiliki tubuhmu. Aku akan mencari tempat yang lebih nyaman. Next time," gumam Surya sambil tersenyum.


Sementara Yogi yang niatnya menunggui Sinta menyelesaikan tugas, tak menyia-nyiakan kesempatan.


Kedua orang tua Sinta sudah masuk ke kamar mereka sendiri. Sinta ditugaskan Rahma untuk menunggu Surya pulang.


"Sinta. Mama udah ngantuk. Kamu masih mengerjakan tugasmu?" tanya Rahma.


Toni sudah lebih dulu masuk kamar.


"Iya, Ma. Masih ada beberapa lembar lagi," jawab Sinta, sambil memperlihatkan tugas-tugasnya.


"Ya udah. Mama tidur dulu, ya? Yogi belum pulang sekarang, kan?" tanya Rahma.


"Belum, Tante. Yogi juga mau nungguin Surya pulang. Mobil Yogi kan dibawa Surya," jawab Yogi.


"Ya udah. Kamu temani Sinta, ya? Tante tidur dulu," ucap Rahma. Lalu dia menguap dan menutupinya dengan tangan.

__ADS_1


Rahma bergegas masuk ke kamarnya.


"Kunci sekalian pintunya, Ma," ucap Toni yang ternyata belum tidur.


"Lho, Papa belum tidur?" tanya Rahma sambil mengunci pintu.


"Belum. Papa nungguin Mama," jawab Toni.


Hhmm. Rahma menghela nafasnya. Dia sudah bisa membaca apa mau suaminya.


"Sinta belum tidur, Pa," ucap Rahma saat Toni menarik tangannya.


"Silent, Ma. Oke...!"


Rahma mengangguk. Dan mereka langsung menuju tempat ternyaman mereka, tanpa menunggu next time lagi.


Yogi masih duduk di sofa, sambil bermain game di ponselnya. Matanya berkali-kali menatap ke arah kamar Rahma.


Setelah yakin tak ada yang bakal keluar lagi, Yogi langsung melorot di samping Sinta.


Sinta yang belum menyadarinya, masih asik menulis.


Yogi menghentikan tangan Sinta yang sedang menari lincah di atas kertas folio.


"A'...!" ucap Sinta. Dia merasa terganggu dengan ulah Yogi.


Yogi meletakan pulpen Sinta lalu meraih bibir kekasihnya itu dengan bibirnya.


Sinta yang merasa mendapatkan serangan mendadak, berusaha melepaskan diri.


Bukannya dia menolak. Tapi Sinta merasa tempatnya kurang nyaman untuk berciuman.


Sinta takut kalau tiba-tiba mama atau papanya keluar dari kamar dan memergoki mereka.


"Kenapa?" tanya Yogi.


Sinta menunjuk ke arah kamar orang tuanya dengan dagu.


"Sebentar. Enggak akan ketahuan." Yogi kembali meraih bibir Sinta.


Sinta pun hanya bisa pasrah. Meski matanya sesekali melirik ke arah kamar orang tuanya.


Yogi yang merasa tak dapat penolakan, semakin bersemangat menyerang Sinta.


Dan Sinta pun semakin merasa terbang melayang. Apalagi saat tangan Yogi mulai traveling. Menjelajah ke tempat-tempat rahasia Sinta.


Sinta yang baru pertama dijelajahi, terus saja menggelinjang. Ingin rasanya dia memekik karena merasa kegelian.


Tapi dia takut suaranya terdengar kedua orang tuanya. Sinta tak pernah tahu, kalau Rahma dan Toni pun sedang saling menjelajah.


Hingga akhirnya, terdengar suara mobil berhenti.


"Kak Surya!" ucap Sinta.


Spontan Yogi melepaskan tubuh Sinta, dan membantu Sinta merapikan pakaiannya.


"Kakakmu gangguin aja," gumam Yogi.


Sinta hanya tersenyum, sambil tangannya merapikan rambut.


"Next time, kita cari tempat yang lebih nyaman," bisik Yogi. Lalu kembali naik ke sofa dan pura-pura asik bermain game.


Sinta pun kembali menyelesaikan tugasnya. Seolah tak terjadi apa-apa.


Hingga Surya muncul di pintu.

__ADS_1


__ADS_2