PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 149 WILL YOU MARRY ME


__ADS_3

Yogi langsung mencabut charger ponselnya juga charger ponsel Sinta.


"Kok dicabut, A?" tanya Sinta.


"Biar enggak korslet," jawab Yogi.


"Kita enggak bisa ngubungin kak Surya, dong," ucap Sinta.


"Iya. Nanti deh, di hotel aku coba keringin. Jangan lupa bawa tissue. Nih." Yogi mengambil tissue di mobilnya, dan memberikannya pada Sinta. Biar enggak lupa.


"Kata orang, dimasukin ke dalam beras, A," ucap Sinta.


"Iya. Bisa juga katanya. Tapi aku belum pernah nyoba," sahut Yogi.


"Tapi di sini, beli beras di mana?" tanya Sinta.


"Nanti kita cari warung beras. Beli sekarung sekalian. Hahaha." Yogi malah ngakak.


"Ih, orang serius, malah becanda!" Sinta langsung cemberut.


"Lagian kamu tegang banget. Nanti aku beliin hape lagi. Beli yang samaan, ya," ucap Yogi.


"Bukan itu masalahnya, A. Tapi banyak tugas kuliah yang aku simpan di sana. Foto-foto kita tadi juga pasti ilang semua deh," sahut Sinta dengan kesal.


"Ya terus mau gimana lagi? Tapi nanti coba dulu dikeringin. Sabar, Cinta." Yogi menowel dagu Sinta.


Mereka sampai di sebuah hotel. Hotel yang sama dengan Surya dan Nadia check in.


Tapi karena tak saling berhubungan, jadi mereka tidak tahu.


Sebenarnya Surya sudah mengirimkan pesan pada Yogi, dimana dia menginap. Tapi pesan dari Surya tak terbaca oleh Yogi.


"Kita pesannya cuma satu kamar, A?" tanya Sinta. Dia mendengar Yogi cuma memesan satu kamar pada resepsionis.


"Memangnya kamu berani tidur sendirian?" tanya Yogi.


"Enggak sih. Tapi..."


Sinta belum sempat melanjutkan kalimatnya, Yogi sudah menarik tangannya. Yogi tak mau mereka memperdebatkan soal kamar di depan resepsionis.


Sinta hanya bisa pasrah. Meski ada rasa takut, karena harus tidur satu kamar dengan Yogi.


Yogi membuka pintu kamar, yang tanpa mereka sadari bersebelahan dengan kamar Surya.


"Kamu ke kamar mandi dulu sana. Mandi terus ganti bajunya." Yogi menyerahkan tas milik Sinta yang dibawanya.


Sinta meletakan tasnya di kursi. Niatnya mau mengambil baju yang akan dipakainya. Tapi belum sempat.


"Terus Aa gimana?" tanya Sinta dengan polosnya.


"Memangnya kamu mau kita mandi bareng?" goda Yogi.


Blush!


Wajah Sinta merona. Lalu dia buru-buru masuk ke kamar mandi. Sampai lupa mengambil bajunya.


Yogi cuma mendiamkan saja.


Paling entar teriak-teriak. Batin Yogi.


Yogi melepas semua pakaiannya. Hanya menyisakan boxernya saja. Lalu dia duduk sambil mencoba mengeringkan ponsel mereka dengan tissue.

__ADS_1


Dan benar saja. Sinta berteriak meminta bajunya pada Yogi.


"A...!" teriak Sinta dari kamar mandi.


"Iya, Cinta," sahut Yogi.


"Tolong ambilin bajuku, dong," pinta Sinta.


"Yang mana? Ambil sendiri aja," sahut Yogi. Dia masih sibuk mengeringkan ponselnya.


"Ih, aku kan enggak pakai baju," ucap Sinta yang membuka sedikit pintu kamar mandi.


"Kan ada handuk di situ!" sahut Yogi.


"Malu, A!" ucap Sinta.


"Aku merem, deh," sahut Yogi.


Sinta melongok ke luar. Dilihatnya Yogi sedang duduk di kursi tempatnya tadi meletakan tas. Tas miliknya ditaruh Yogi di atas meja.


Yogi lagi sibuk dengan ponsel mereka yang basah kena air laut.


Perlahan Sinta keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya.


"Aa katanya mau merem," ucap Sinta.


"Aku kan lagi ngeringin hape, Cinta," sahut Yogi.


Sinta pun akhirnya mendekat ke meja. Lalu tangannya meraih tas besarnya.


Yogi memperhatikan tubuh mulus Sinta. Jakunnya naik turun melihat tubuh yang hanya dililit handuk.


Yogi meraih tubuh Sinta, hingga berdiri tepat di depannya.


Sinta mendekap dadanya dengan satu tangannya yang lain.


"Kamu cantik sekali, Cinta," ucap Yogi. Matanya tak lepas dari wajah Sinta.


Sinta jadi salah tingkah. Dia tak tahu harus bagaimana. Sementara Yogi terus saja menatapnya.


"Aku....pakai baju dulu ya, A," ucap Sinta dengan suara bergetar.


"Nanti dulu, Cinta. Aku masih ingin menatapmu," sahut Yogi.


"Aku malu, A," ucap Sinta.


"Kenapa mesti malu? Tadi katanya mau menikah denganku?" tanya Yogi.


"I...Iya. Ta....tapi...." Belum sempat Sinta melanjutkan kalimatnya, Yogi sudah berdiri dan menyambar bibir Sinta.


Seperti tadi saat di pinggir pantai, Sinta tak bisa menolaknya.


Bahkan kini Sinta lebih berani. Mungkin karena di kamar itu cuma ada mereka berdua.


Yogi membimbing Sinta sampai ke tepi tempat tidur. Dan tanpa sadar, tangannya melepaskan handuk Sinta.


Sinta terkesiap. Dengan serta merta dia lepaskan bibirnya dan berjongkok meraih kembali handuknya.


Yogi menghalaunya. Dia tarik tubuh polos Sinta hingga berdiri lagi.


Yogi menatapnya dengan dada bergemuruh. Sinta pun tak bisa lagi berkata-kata.

__ADS_1


Dan entah siapa yang memulainya, tubuh mereka sudah berada di atas tempat tidur.


Mereka kembali berguling-guling seperti saat di pantai tadi.


Mereka lupa diri. Pikiran mereka sama-sama terbang ke langit ke tujuh.


Mereka menuju ke nirwana. Ke puncak kenikmatan yang seharusnya belum pantas mereka daki.


Hingga akhirnya, Yogi berhasil membobol gawang pertahanan Sinta.


Lalu mereka sama-sama terkapar dengan senyuman tersungging di bibir.


"A..." panggil Sinta yang terkapar di sisi Yogi.


"Iya, Cinta," sahut Yogi.


"Kita telah melakukannya?" tanya Sinta.


Yogi mengangkat tubuhnya. Lalu menatap wajah Sinta.


"Iya. Kamu menyesal?" tanya Yogi.


Sinta menggeleng.


"Aku akan segera melamarmu. Aku akan menikahi kamu, Sinta," ucap Yogi.


Sinta mengangguk. Tak terasa matanya berkaca-kaca.


"Jangan menangis, Cinta. Jangan nodai kebahagiaan ini dengan air mata." Yogi menghapus bulir bening di mata Sinta yang mulai turun.


"Aku menangis karena bahagia, A," ucap Sinta.


"Iya. Aku juga sangat bahagia. Karena aku akan memilikimu selamanya," sahut Yogi.


"Aa janji akan jadi milikku selamanya?" tanya Sinta.


"Bukan cuma janji, Cinta. Tapi akan aku buktikan." Yogi mengecup kening Sinta dengan lembut.


Sinta bukanlah Nadia yang cuma bisa menangis dan menyesali apa yang telah Surya lakukan padanya.


Sinta bahagia karena miliknya telah dimiliki oleh orang yang sangat dicintainya.


Yogi tak kalah bahagianya. Lalu dia memeluk tubuh polos Sinta.


"Kita tidur dulu ya, Cinta. Aku capek dan ngantuk," ucap Yogi.


"Iya, A. Aku juga sama," sahut Sinta. Lalu tangannya menarik selimut yang jadi alas mereka tadi bercinta.


Selimut yang jadi saksi pecahnya selaput dara Sinta. Selimut yang akan menghangatkan tubuh mereka.


Yogi memeluk erat tubuh Sinta di dalam selimut. Sinta pun memeluk menyandarkan kepalanya di dada Yogi.


Mereka terlelap berdua. Melupakan sejenak ponsel mereka yang mati kena air laut.


Yogi tak mau melepaskan Sinta, meski satu tangannya yang dipakai bantalan terasa sangat pegal.


Sinta merasa sangat nyaman berada di pelukan kekasih hatinya. Kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Karena Yogi pasti akan segera melamar Sinta.


"Will you marry me?" bisik Yogi di telinga Sinta, saat dia terjaga.


Sinta mengangguk meski matanya masih terpejam.

__ADS_1


__ADS_2