PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 171 PAGAR MAKAN TANAMAN


__ADS_3

Selesai mata kuliah yang pertama, Surya menghampiri Viona di depan kelasnya. Mereka janjian untuk ke kantin. Surya mau mengantar Viona makan.


Sebelum ke gedung fakultasnya Viona, Surya nyelonong saja saat Yogi menegurnya.


"Heh, Bro. Mau kemana?" tanya Yogi.


Surya tak menjawab. Dia langsung saja pergi.


"Ah, kumat lagi deh, tuh anak!" gumam Yogi.


Sebenarnya Yogi mau mengikuti Surya, tapi jam kedua ini dia ada janji ketemu dengan dosen.


Akhirnya Yogi cuma bisa menghela nafas saja. Berharap semoga Surya enggak salah langkah lagi.


Surya bergegas menuju gedung fakultasnya Viona dan Nadia.


Sampai di dekat kelas mereka, Surya melihat Viona sudah menunggunya.


"Ayo, Vi," ajak Surya.


Surya sempat melihat ke dalam kelas Viona sekilas. Dia tak menemukan sosok Nadia di sana.


"Nadia enggak masuk," ucap Viona. Dia menebak kalau Surya sedang mencari Nadia.


"Aku enggak nyariin dia kok," sahut Surya.


"Oh. Kirain. Kita ke kantin?" tanya Viona.


"Terserah kamu. Atau mau makan di luar?" tanya Surya.


"Enggaklah. Jam ketiga aku harus masuk lagi," jawab Viona.


"Ya udah. Berarti kita ke kantin," sahut Surya. Lalu berjalan ke arah kantin. Viona mengiringinya.


Sampai di kantin, ternyata penuh sesak. Kelihatannya hari ini banyak sekali mahasiswa yang kelaparan.


"Waduh, penuh banget, Vi. Gimana nih?" Surya menatap Viona. Meminta pendapatnya.


"Ya udah, dipending aja makannya. Nanti siang," sahut Viona. Kalau cuma menahan lapar sih, Viona sudah sering melakukannya. Kadang Viona berpikir, itung-itung diet juga.


"Jangan dibiasakan kayak gitu ah. Kita cari makan di luar aja yuk. Aku juga lapar," ajak Surya.


"Tapi waktunya kan mepet, Sur," sahut Viona.


"Cari yang deket-deket aja. Makan juga paling berapa menit, sih." Surya menarik tangan Viona untuk segera pergi.


Viona pun menurut. Mereka berjalan beriringan. Dan tanpa sadar, Surya masih menggandeng tangan Viona.


Beberapa pasang mata yang mengenal mereka, sempat memperhatikan. Bahkan Santi si biang gosip, yang tadi pagi memfoto mereka, kembali melihatnya.


Tapi kali ini Santi tak mengambil gambar mereka lagi. Karena dia lagi jalan dengan teman-temannya.


Santi merasa tak enak kalau mengambil foto Surya dan Viona. Nanti malah semakin memperjelas statusnya sebagai biang gosip.

__ADS_1


Surya mengambil motornya di parkiran, lalu memboncengkan Viona mencari rumah makan yang sepi. Biar mereka bisa dapat tempat duduk.


Kalau rumah makan di luaran, di jam segitu masih banyak yang sepi. Karena kebanyakan mereka ramai di jam makan siang.


Surya membelokan motornya di sebuah rumah makan sederhana. Bukan rumah makan mewah. Karena bagaimanapun mereka kan mahasiswa yang low budget.


Sampai di parkiran rumah makan, Surya melepaskan helm Viona.


"Aku bisa sendiri, Surya," tolak Viona. Dia merasa tidak enak diperlakukan seperti itu terus oleh Surya.


Viona meninggalkan buku-bukunya di dalam kelas. Jadi tangannya bisa untuk melepaskan helm.


Tangan Viona terulur hendak melepaskan sendiri helmnya. Dan terang saja bertemu dengan tangan Surya yang juga sedang berusaha melepaskan helm Viona.


Sesaat tangan mereka beradu. Juga mata mereka saling menatap sekilas.


Lalu Viona segera menjauhkan tangannya dan membiarkan Surya yang melepaskannya.


"Ayo masuk, Vi," ajak Surya. Seperti tadi di kampus, Surya kembali menggandeng tangan Viona.


Di luaran seperti ini, Viona merasa lebih enjoy. Tak akan ada mata yang menatap mereka penuh curiga.


Surya dan Viona tak menyadari kalau di jalanan ada penumpang ojek online yang hatinya panas dibakar perasaannya sendiri.


Dan menganggap mereka sebagai polusi mata. Bahkan polusi hati.


Surya dan Viona segera memilih menu makan sendiri-sendiri.


Viona punya pilihan sendiri, dan Surya pun begitu. Surya tak perlu menyamai menu makan Viona, seperti dulu dia selalu ingin menyamai Nadia.


Di sanalah mereka mulai mengobrol panjang lebar, sambil menikmati makanan ala kadarnya.


"Sur. Kalau di kampus, jangan terlalu dekat denganku, dong," pinta Viona.


"Lho, memangnya kenapa?" tanya Surya.


Surya merasa tak ada yang salah dengan yang dia lakukan terhadap Viona.


"Akunya yang enggak enak," jawab Viona.


"Enggak enak kenapa?" tanya Surya lagi.


"Temen-temen kan taunya kamu pacaran ama Nadia. Sedangkan Nadia sahabatku. Aku bisa dicap sebagai pagar makan tanaman dong," jawab Viona.


"Yang makan tanaman itu kambing, Viona. Bukan pagar!" sahut Surya bercanda.


"Surya, aku serius ini!" ucap Viona.


"Aku juga serius, Viona. Mana ada pagar yang bisa makan. Kamu pikir pagar itu punya mulut?" sahut Surya sambil cengengesan.


"Ah, kamu itu. Dulu pelajaran bahasa Indonesia dapat berapa sih? Itu kan istilah, Surya!" Viona jadi gemas dengan Surya. Dia terlalu menanggapi serius candaan Surya.


Maklum saja, selama ini Surya tak pernah ramah terhadap Viona. Sikapnya terlalu dingin.

__ADS_1


"Udah, buruan makan. Nanti terlambat masuk kelas lho. Aku paham kok, maksud kamu," sahut Surya.


Viona malah menatap wajah Surya.


"Kenapa liatin aku? Naksir?" ledek Surya.


"Idih, GR! Aku kan udah punya Putra. Weekk," sahut Viona.


"Iya, tau! Mentang-mentang udah punya tambatan hati!" Surya memalingkan wajahnya.


Ada penyesalan juga dalam hatinya. Kenapa dulu dia mengabaikan Viona.


Dulu Surya berpikir Viona itu terlalu kemayu. Dan Surya paling benci dengan cewek seperti itu.


Surya lebih suka dengan cewek yang tampil apa adanya, seperti Nadia.


Tapi ternyata, penampilan seseorang tak menjamin sifat yang baik.


Bagi Surya sekarang, Viona jauh lebih baik daripada Nadia.


Viona lebih bisa bersikap dewasa. Tidak manja seperti yang dia pikirkan selama ini. Viona lebih mandiri.


Penilaian yang sangat terlambat. Setelah Viona menjatuhkan hati pada Dewa. Sahabat lamanya.


Dewa lagi. Dewa lagi.


Kenapa aku harus selalu bersaing dengan Dewa? Kenapa selalu wanitanya Dewa yang bisa menarik perhatianku?


Payah banget aku ini! Gerutu Surya dalam hati.


"Katanya aku suruh makan cepet-cepet. Kenapa kamu malah enggak makan-makan?" tanya Viona.


"Hehehe." Surya kembali nyengir.


Surya menutupi perasaannya dengan senyuman. Biar Viona tak tahu apa yang dirasakannya kini.


Surya malu pada Viona. Dulu saja, dia setengah mati menolak Viona. Sekarang malah mepet-mepet.


Surya segera menghabiskan makanannya. Dia pun ada kuliah di jam ketiga.


Salah satu persamaan Surya dengan Viona, mereka sama-sama mahasiswa yang rajin kuliah. Punya prestasi yang bagus. Meski tetap Surya yang lebih bagus.


Beda dengan Nadia, yang sering malas kuliah. Kalau bukan karena dorongan dari Surya, mungkin Nadia sudah di DO dari kampus.


Nilai-nilai Nadia juga sering jeblok. Suryalah yang sering membantu tugas-tugasnya. Lumayan bisa menambah nilai Nadia.


"Udah, yuk," ajak Surya.


Viona pun beranjak dari duduknya.


"Udah, aku aja yang bayar." Surya melarang Viona yang akan mengeluarkan uangnya.


Viona menurut saja. Meski kini uangnya lumayan banyak, karena Putra sering memberinya uang saku.

__ADS_1


Mereka keluar dari rumah makan. Dan kembali Surya memakaikan helm ke kepala Viona.


Sekali lagi mereka tak menyadari, ada sepasang mata yang semakin bete melihat kemesraan itu, dari balik tirai jendela salon.


__ADS_2