
Beberapa hari ini, Doni selalu saja mencari cara untuk bisa mendekati Nadia. Bahkan dia kepingin ngajak Nadia jalan. Kalau bisa one night stand. Seperti kebiasaannya dengan wanita-wanita yang dikencaninya.
Doni termasuk type lelaki yang hyper. Koleksi teman kencannya banyak. Mulai dari abege sampai tante-tante seperti Maria, ibu tirinya.
Doni langsung mepet Maria, begitu papanya memperkenalkan Maria padanya. Boleh dibilang, Doni duluan yang make Maria daripada Tedi.
Maria yang juga punya hasrat tinggi, tak pernah menolak ajakan Doni. Apalagi secara fisik, Doni jauh dibandingkan dengan Tedi yang usianya sudah di atas lima puluh tahun.
"Nad. Nanti pulang bareng yuk," ajak Doni saat Nadia sedang menunggu jam berikutnya.
"Aku bawa motor, Don." Sebuah penolakan yang tepat menurut Nadia.
Nadia sengaja selalu membawa motor ke kampus, biar Doni tak punya kesempatan menawari mengantarnya.
"Naik motor kan panas, Nad. Sayang, nanti kulit kamu gosong lho." Doni menakut-nakuti Nadia.
"Enggak masalah. Orang bule malah sengaja membakar kulitnya biar gosong. Eksotik kata mereka," sahut Nadia.
"Tapi kalau kelamaan kan bisa item, Nadia," ucap Doni.
"Terus apa masalah kamu, Doni?" tanya Nadia.
"Aku enggak suka sama wanita yang item!" jawab Doni.
"Baguslah! Aku akan segera menghitamkan kulitku!" Nadia meraih tasnya. Dia berniat pergi meninggalkan Doni. Meski itu artinya, harus meninggalkan kelas.
"Dasar wanita susah diatur. Awas kamu, Nad. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku!" gumam Doni.
Doni pun keluar dari kelas. Dia menuju ke kantin. Di sana dia bisa cuci mata seperti biasanya, sambil cari mangsa juga.
Tapi jujur, Doni masih penasaran dengan Nadia. Dan Doni type orang yang pantang menyerah.
Kecuali dulu saat Nadia masih jalan dengan Surya. Doni pernah menggertak Surya yang dipikirnya seperti banci. Ternyata nyali Surya lebih besar daripada dia.
Doni pun mundur teratur daripada babak belur.
Tapi sekarang, saat Surya sudah terlihat menjauh dari Nadia, Doni merasa sekaranglah saatnya dia maju kembali.
Saat di kantin, Doni malah disuguhi pemandangan yang bikin matanya panas. Bukan cuma matanya saja yang panas, hatinya juga.
Surya asik mojok dengan Viona. Cewek yang pernah diincarnya, tapi malah dikejar Yogi. Eh, dapetnya Surya.
"Sialan tuh bocah! Dapet yang mulus-mulus mulu! Pakai ilmu pelet apaan sih?" gumam Doni.
Selama ini cewek-cewek di kampus yang dikencaninya, sudah pada blong. Rata-rata mereka mau saja dipakai Doni kapan dan di mana saja.
Menyebalkan sekali! Doni terus saja menggerutu.
Doni duduk sendirian di sudut yang lain. Dia lagi mencari cara, bagaimana biar Nadia bisa diajaknya keluar.
Apa aku kasih racun aja dia, ya?
__ADS_1
Ah, jangan! Entar belum apa-apa udah mati, lagi!
Doni setengah mati memikirkan cara agar dia bisa mengencani Nadia.
Setelah masuk jam kuliah berikutnya, Doni tidak ikut masuk. Dia malah merokok di luar kantin.
Dan setelah menghabiskan rokoknya, Doni berjalan ke parkiran motor.
Dia cari motor Nadia.
"Ah! Itu dia!" Doni bergegas menghampiri motor matic milik Nadia.
Doni membawa sebuah paku yang tadi dia minta dari salah satu pedagang di dalam kantin.
Tanpa pikir panjang, Doni berjongkok dan hendak menusuk ban motor Nadia.
"Heh! Ngapain kamu?"
Doni langsung menoleh. Lalu spontan dia sembunyikan paku yang dipegangnya.
"Ngapain lu kesini?" Doni malah nyolot.
"Kamu yang ngapain di situ? Mau cari masalah?"
"Elu yang mau cari masalah!" Doni maju dan siap menghajar.
Orang itu adalah Surya. Dia kebetulan mau mengambil motornya.
Hari ini dosennya tidak masuk. Dan Surya memilih pulang. Karena kelasnya Viona baru saja dimulai. Dia lagi malas menunggu.
Doni berpikir kalau Surya takut dan mau menjauh darinya. Doni pun dengan gagah berani, maju mendekat.
Doni mengangkat tangannya dan siap menghantam Surya dengan kepalan tangannya.
Surya melihatnya dan langsung bersiap juga.
Begitu tangan Doni melayang, Surya langsung menghindar dengan satu kepalan tangan mengarah ke wajah Doni.
Bugh!
Bukan Surya yang kena hantam. Tapi mulut Doni yang mengeluarkan darah.
Doni mengelapnya dengan tangan.
Lalu Doni memindahkan paku besar yang dipegangnya di tangan kiri ke tangan kanan. Doni menggenggamnya dengan erat.
Doni kembali mengangkat kepalan tangan kanannya yang berisi paku besar.
Mata Surya menatap tajam ke arah kepalan tangan Doni. Meski tak tahu apa isi kepalan tangan itu, Surya sudah curiga.
Dari arah belakang, Yogi muncul dan langsung menangkap tangan Doni.
__ADS_1
Dengan mudahnya Yogi menarik tangan Doni dan memelintirnya.
Kling.
Sebuah paku besar lepas dari genggaman tangan Doni.
"Owh! Jadi elu mau melukai Surya, hah?" tanya Yogi.
"Eng...Enggak...! Lepasin! Sakit ini bangsat!" seru Doni.
"Ngaku, lu! Atau gue akan patahin tangan elu, hah!" bentak Yogi.
"Enggak! Surya yang nonjok gue duluan!" sahut Doni sambil meringis.
"Lu pikir gue kagak liat dari awal?" tanya Yogi.
"Denger, ya! Kalau elu berani sedikit aja ngelukai Surya, gue patahin tangan elu beneran!" ancam Yogi.
Lalu Yogi menghentakan tangan Doni dengan keras, hingga terjerembab.
"Bangsat! Sialan!" umpat Doni sambil berusaha berdiri.
Yogi tak mempedulikannya. Dia menghampiri Surya.
"Mau ngapain dia tadi?" tanya Yogi.
Doni sudah pergi menjauh.
"Kayaknya dia mau merusak motor Nadia. Kebetulan aku juga mau ambil motorku sendiri," jawab Surya.
"Hhh! Nadia lagi! Kirain apaan!" Yogi meninggalkan Surya dengan kesal.
Yogi juga mau mengambil motornya. Tadinya dia berniat menunggu Sinta pulang di kantin.
Tapi tiba-tiba temannya menelpon mengajak ketemu. Jadi Yogi mau pergi dulu menemui temannya itu. Baru balik lagi menjemput Sinta.
Surya yang juga memarkir motornya dekat motor Yogi, berjalan mengikuti.
"Aku juga enggak tau, Yog. Tiba-tiba aku lihat Doni lagi jongkok di sebelah motor Nadia," ucap Surya.
"Heleh! Bilang aja lu mau jadi pahlawan buat Nadia. Pahlawan kesiangan, lu!" sahut Yogi dengan kesal.
Yogi sudah tidak respek sama sekali, dengan segala hal yang berkaitan dengan Nadia. Bahkan membencinya.
"Aku cuma menegur Doni aja, Yog. Aku juga tadinya enggak ngeh, kalau itu motor Nadia!" Surya membela diri.
"Hh! Jangan bilang lu udah amnesia! Apa sih yang kagak lu ingat dari dia?" Yogi terlihat sangat kesal pada Surya.
Surya hanya menatap Yogi yang menstater motornya dan pergi begitu saja.
Pahlawan bagi Nadia? Pahlawan kesiangan? Sembarangan aja dia ngomong! Batin Surya.
__ADS_1
Surya pun tak sudi lagi berurusan dengan Nadia dalam hal apapun. Tadi dia benar-benar tak sengaja. Dan kebetulan yang mau dirusak Doni adalah motor Nadia.
Surya pun pergi meninggalkan parkiran.