
Surya berjalan ke kursi makan. Tak ada senyuman. Apalagi tawa.
Surya kembali merasa terluka. Surya mengepalkan kedua telapak tangannya. Wajahnya terlihat sangat geram.
"Aakkh!"
Brak!
Surya menggebrak meja makan yang masih kosong.
Yogi, Sinta dan mak Yati terkesiap.
"Kakak! Kenapa?" tanya Sinta panik. Dia langsung mendekati Surya.
Yogi ikut mendekat dan berdiri di belakang Sinta.
Surya membenamkan wajahnya ke atas meja dengan disangga kedua tangannya.
"Kakak kenapa, Kak?" Sinta mengguncang lengan Surya.
Surya tak menjawab. Dia hanya diam dengan wajah masih disembunyikan.
Yogi menarik tangan Sinta. Lalu mendudukan Sinta di kursi.
Yogi pun duduk di sebelah Sinta.
"Kakak kenapa, A'?" tanya Sinta pada Yogi. Dia mulai terisak. Tak kuasa melihat Surya yang hanya diam saja.
"Kakak kamu lagi ada masalah," jawab Yogi.
"Masalah apa? Dengan kak Nadia lagi?" tanya Sinta dengan suara keras.
Yogi mengangguk.
Sinta menghapus air matanya. Lalu menoleh ke arah Surya.
"Kak! Ngapain sih, Kakak mikirin wanita seperti kak Nadia terus?" Sinta mengguncang bahu Surya.
"Kalau dia emang enggak mau sama Kakak, Kakak jangan merendahkan diri begitu! Kakak itu punya harga diri. Kalau dia tak bisa menghargai Kakak, buat apa Kakak mikirin dia?" tanya Sinta berapi-api.
"Sstt...!" Yogi memberi kode pada Sinta supaya tenang. Tapi sayangnya Sinta tak peduli.
"Kakak terlalu berharga untuk dia! Kakak tidak pantas buat dia! Masih banyak wanita lainnya, Kak!" Sinta terus saja meminta Surya melupakan Nadia.
Yogi menepuk-nepuk tangan Sinta perlahan. Berusaha menenangkan Sinta.
Tak disangkanya, Sinta yang terlihat kekanakan, bisa juga marah seperti orang dewasa.
Sampai akhirnya Surya mengangkat kepalanya. Lalu mengangguk.
"Maafkan aku," ucap Surya. Surya menggenggam tangan Sinta dengan erat.
Sinta berdiri dan mendekat. Direngkuhnya kepala Surya dengan erat.
"Kak. Kita selalu dididik oleh mama dan papa untuk selalu bersama. Untuk saling membantu. Bilang sama Sinta kalau Kakak ada masalah. Kita cari solusinya bersama-sama. Aku sayang sama Kakak. Aku tak mau Kakak hancur lagi!" ucap Sinta sambil menangis sesenggukan.
Yogi yang melihatpun ikut berkaca-kaca. Dia sangat terharu melihat bagaimana Sinta sangat menyayangi kakaknya.
__ADS_1
Yogi sebagai anak tunggal, tak pernah bisa merasakan itu. Tapi kini, dia merasa memiliki keduanya.
Yogi mendekat dan memeluk keduanya.
"Kalian juga masih memiliki aku. Aku akan selalu ada buat kalian!" ucap Yogi.
Hu...hu...hu.
Di depan kompor, mak Yati menangis sesenggukan.
Yogi melepaskan pelukannya.
"Mak! Mak Yati kenapa?" tanya Yogi.
"Emak... jadi ikut sedih. Hu...hu...hu," jawab mak Yati sambil tergugu.
Yogi mendekati mak Yati. Lalu memeluknya dengan erat.
"Terima kasih, Mak. Terima kasih atas perhatian Emak. Aku juga sayang banget sama Emak!" ucap Yogi.
Yogi melepaskan pelukannya.
"Lanjutin masaknya yuk. Aku laper," ucap Yogi.
"Yuk...eh, Ayuk. Masak...!" sahut mak Yati dengan gaya latahnya.
"Cinta. Ayo kita bantu mak Yati masak," ajak Yogi.
Yogi berusaha mencairkan suasana.
"Masaknya jangan sambil nangis, dong. Entar masakannya makin asin, kena air mata kamu." Yogi menghapus air mata Sinta. Lalu mengecup keningnya dengan lembut.
Sinta memeluk Yogi sejenak, lalu mulai membantu mak Yati memasak.
Yogi tahu kalau Sinta sering membantu mamanya di dapur, jadi dia tak merasa rikuh meminta Sinta membantu mak Yati.
Yogi mendekati Surya.
"Bro. Ijinkan gue membahagiakan Sinta. Tapi bukan berarti gue melupakan elu. Sekarang kita jadi satu keluarga. Gue, elu dan Sinta. Kalian semua keluargaku!" ucap Yogi sambil menepuk punggung Surya.
Surya mengangguk.
"Thanks, Yog. Maaf atas semua sikapku tadi. Aku cuma takut sendirian," ucap Surya.
"Elu kagak sendirian, Bro. Ada gue, juga Sinta!" sahut Yogi.
"Ada Emak juga!" seru mak Yati sambil mengacungkan pisau yang dipegangnya.
"Aduh, Mak...! Itu pisaunya ditaruh dulu. Enggak boleh begitu!" ucap Yogi sambil memberi kode dengan jarinya.
Spontan mak Yati meletakan pisaunya.
"Ada Emak juga! Hehehe," ulang makYati sambil nyengir dengan lucunya. Membuat semua tertawa.
"Cakep....!" ucap Yogi sambil tertawa dan mengacungkan dua jempolnya.
"Cakep...!" Mak Yati kembali ikut-ikutan apa yang dilakukan Yogi.
__ADS_1
"Kita tunggu di depan yuk, Bro. Elu mau ngopi?" tanya Yogi.
Surya mengangguk.
"Mak! Kopi dua! Bawa ke teras!" ucap Yogi pada mak Yati dengan suara tegas.
"Siap, laksanakan!" sahut mak Yati sambil memberikan hormat pada Yogi.
Surya terkekeh melihat tingkah mak Yati. Lalu berjalan mengikuti Yogi, ke teras.
"Lu liat gue, Bro. Sejak kecil, gue udah ditinggal kerja kedua orang tua gue. Gue enggak punya siapa-siapa. Cuma ada mak Yati. Dan gue, berusaha menerima kenyataan. Menerima mak Yati dengan sepenuh hati gue," ucap Yogi.
"Kalau elu yang udah segede ini aja takut sendiri, gimana coba dengan gue yang udah sendiri sejak kecil?" tanya Yogi.
Surya hanya diam. Dia jadi berpikir kembali ke masa kecilnya.
Dimana mamanya selalu ada untuknya. Juga Sinta yang kemudian lahir dan juga menemaninya. Dia punya segalanya.
Kasihan sekali Yogi. Dia sudah terbiasa sendiri sejak kecil. Batin Surya.
"Bro. Cobalah menerima kenyataan. Biar hidup elu bisa bahagia. Elu punya mama, papa, Sinta. Coba sayangi dan terima mereka dalam kesendirian elu. Dan gue yakin, elu kagak bakalan merasa sendiri lagi," ucap Yogi.
Surya mengangguk-anggukan kepalanya.
Mak Yati datang dengan dua cangkir kopi. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti Surya.
"Tuh, Bro. Jangan ngangguk-angguk. Mak Yati jadi ikut-ikutan, kan?"
Mak Yati tersipu malu.
Lalu Yogi mencubitnya dengan gemas.
"Iih, ngapain sih cubit-cubit. Emangnya Emak cewek apaan?"
Mak Yati menepiskan tangan Yogi. Lalu segera masuk kembali.
"Begitulah dunia yang gue hadapi, Bro. Cuma hal-hal receh. Tapi gue menikmatinya. Gue anggap ini adalah hiburan. Dan elu bisa lihat sendiri. Apa gue pernah sedih?" tanya Yogi.
Surya menggeleng.
"Itu karena gue selalu mengalihkan kesedihan gue ke hal-hal receh itu," sahut Yogi.
"Gue kadang-kadang minum. Elu tau sendiri, kan? Tapi gue kagak pernah mau sampai mabok! Kenapa? Karena gue tau, kalau mabok bakalan lepas kontrol," ucap Yogi.
"Kayak elu semalam. Elu lepas kontrol. Elu ceritaian semua yang ada di otak elu. Semua dendam elu. Sampai keinginan elu yang kriminal," lanjut Yogi.
"Makanya, kalau mau minum, ajak-ajak gue. Jangan ajak si Defa. Yang ada elu tekor sendiri!" ucap Yogi sambil terkekeh.
"Gimana, masih mau minum lagi? Atau kita lomba minum? Kuatan gue apa elu!"
Surya menggeleng.
"Enggak! Aku nyerah duluan sama masternya!"
Hahaha.
Mereka pun kembali ceria dengan segala candaan receh. Hal receh yang membuat bahagia.
__ADS_1