PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 199 BANYAK ALASAN


__ADS_3

Susi keluar lagi dari kamarnya setelah ganti baju.


"Ya ampun, Nadia...! Tidur lagi?" seru Susi dengan suara cemprengnya.


"Masih ngantuk, Ma," sahut Nadia yang mendengarnya.


"Ayo bangun! Jangan tiduran terus. Ngapain kek, biar badan kamu lebih enakan." Susi mengguncang bahu Nadia.


"Iih, Mama gangguin aja, sih!" Nadia membuka matanya yang terasa masih lengket.


"Bangun Nadia! Kamu itu kerjaannya tidur, makan. Ayo, bangun!"


Susi sangat kesal melihat hari-hari Nadia terakhir ini yang hanya diisi dengan tidur dan makan saja. Disuruh apa-apa alasannya mager.


Ada apa sih, ini anak? Biasanya kalau ada masalah, selalu bilang. Tapi kenapa sekarang enggak mau ngaku? Susi bertanya-tanya sendiri dalam hati.


"Bentar lagi, Ma," ucap Nadia. Dia berusaha merem lagi.


"Eit! Enggak ada nanti-nanti! Ayo bangun!" Susi menarik lengan Nadia agar bangun.


"Ngantuk banget, Mama!" ucap Nadia.


Tapi akhirnya Nadia bangun juga. Dia duduk di sofa.


"Bu. Kalau mau makan, udah siap semua," ucap mbok Nah.


Mata Nadia langsung berbinar. Pokoknya begitu dengar kata makan, dia langsung bersemangat. Seperti perutnya tak pernah merasa kenyang.


"Mau makan lagi?" tanya Susi.


Nadia mengangguk dengan senyuman mengembang.


Ck!


Susi berdecak sebal.


Kalau makan aja, langsung melek. Gerutu Susi dalam hati.


"Ya udah. Ayo makan. Daripada kamu tidur mulu!"


Susi berjalan duluan ke ruang makan. Nadia mengikutinya.


"Wah... Kayaknya enak, nih." Nadia semakin merasa lapar.


Ada sayur asem. Ikan goreng. Sambal terasi. Dan aneka goreng-goreng.


Nadia langsung menarik kursi dan duduk manis.


"Ambil sendiri! Jangan manja!" ucap Susi.


Nadia langsung cemberut. Tangannya masih terasa pegal karena tadi buat bantalannya tiduran.

__ADS_1


Tapi terpaksa mengambil nasi dan lauknya sendiri.


Susi menghela nafasnya. Porsi makan Nadia dua kali lipat porsinya. Itu juga kadang masih nambah.


"Perut kamu enggak sakit, makan segitu banyaknya?" tanya Susi.


Susi bukannya tak membolehkan, tapi khawatir perut Nadia meledak. Baru jam makan siang, dia sudah makan tiga kali. Belum es krim dan aneka jajanan yang bungkusnya tadi berantakan di meja.


"Kalau makannya sedikit malah sakit, Ma. Udah deh, Mama jangan bawel. Orang cuma liat aja kok. Yang makan kan Nadia. Kalau Mama enggak suka, ya jangan liat!" sahut Nadia panjang lebar.


Susi hanya menghela nafasnya saja.


"Nanti habis makan, ikut Mama," ucap Susi.


"Kemana?" tanya Nadia.


Akhir-akhir ini Nadia sangat malas keluar rumah. Karena menurutnya hanya akan membuang energinya saja. Dan pasti membuatnya lapar lagi.


"Cari baju buat kondangan," jawab Susi.


"Kondangan di mana?" tanya Nadia lagi.


"Di nikahannya Sinta. Kamu gimana, sih? Kan kamu udah baca undangannya," jawab Susi.


"Oh, itu. Kan yang diundang Mama sama papa. Nadia kan enggak," ucap Nadia dengan santainya.


Dia tak merasa sakit hati, tak dapat undangan dari Sinta. Baginya enggak penting. Paling juga nanti bakal ketemu Surya. Malas sekali. Pikir Nadia.


"Tapi Nadia malas, Ma. Capek kalau ikut kondangan," ucap Nadia.


"Nadia. Jangan bikin Mama sama papa kamu malu, deh!"


"Memangnya kenapa kalau Nadia enggak ikut? Pokoknya Nadia enggak mau. Titik!" Nadia tetap bersikeras tak mau ikut.


"Enggak bisa. Pokoknya kamu harus ikut, titik!" Susi pun tetap bersikeras.


"Kan enak kalau ikut kondangan, Non. Di sana banyak makanan. Apalagi kalau yang punya gawe orang kaya. Pasti makanannya enak-enak." Mbok Nah yang datang ke ruang tamu ikutan nimbrung bicara.


Nadia terdiam sejenak.


Benar juga. Nanti kalau mama sama papa salaman sama pengantin dan keluarganya, aku cari makanan aja. Ide bagus!


Nadia pun mengangguk.


"Ish! Kalau dengar kata makanan aja, langsung semangat," ucap Susi.


Nadia cuma nyengir.


Lalu mereka melanjutkan makan. Mbok Nah juga ikut makan, tapi di dapur.


Mbok Nah selalu menolak kalau disuruh makan bareng satu meja. Apalagi alasannya kalau bukan karena merasa tidak sopan.

__ADS_1


"Kalau udah selesai makannya, kamu siap-siap," ucap Susi.


"Ih, Mama. Istirahat dulu kenapa." Nadia merajuk.


"Memangnya kamu habis lari-lari? Minta istirahat?"


"Biar nasinya turun dulu, Ma." Nadia masih saja berusaha nego. Persis kayak orang yang ditagih dept collector.


"Yang ada kamu tidur lagi. Enggak ada, nanti-nanti. Pokoknya sekarang!" Susi pura-pura marah, dan langsung beranjak berdiri.


Susi pun melangkah ke kamarnya. Lalu berganti pakaian. Sebenarnya dia juga pingin istirahat dulu. Tapi kalau kelamaan, yang ada Nadia tidur lagi.


Nadia juga naik ke kamarnya sambil cemberut dan menggerutu. Perutnya terasa sangat kenyang. Dan bakal enggak nyaman buat jalan.


Hhmm. Moga-moga butiknya enggak di mal. Jadi enggak pake acara jalan. Harap Nadia dalam hati.


Sementara, Surya pulang setelah mengantar Viona ke kosannya. Dan pastinya setelah meyakinkan Viona kalau mamanya tak bermaksud mengusir.


Awalnya Viona masih tak mau mengerti, tapi lama-lama menurut juga apa kata Surya.


Bahkan Surya berjanji pada Viona, tak akan datang ke pernikahan Sinta kalau Viona tak boleh hadir.


Viona jadi yakin pada Surya, setelah dijanjikan seperti itu.


Surya menjanjikan itu, karena yakin mamanya bakal memenuhi kemauannya. Tak mungkin mamanya menolak. Pasti akan sangat memalukan kalau sampai Surya tak hadir.


"Aku pulang dulu. Percaya sama aku, mamaku pasti akan menerima kamu. Mama cuma butuh waktu saja," ucap Surya tadi sebelum pulang dari mengantar Viona.


Surya melajukan motornya agak cepat. Tadi pagi Rahma memintanya mengantar ke butik untuk fitting gaun pengantin Sinta.


Saat melewati rumah Nadia, Surya melihat Nadia mau masuk ke mobil Susi. Nadia pun sempat melihat Surya. Tapi segera memalingkan wajahnya.


Surya juga pura-pura tak melihat. Dia terus saja melajukan motornya.


"Hhh! Anak muda kalau lagi marahan lucu! Yang satu melengos. Yang satunya lagi pura-pura enggak lihat," ucap Susi.


Rupanya Susi juga melihat kejadian barusan. Nadia hanya diam saja. Tapi matanya melihat lurus ke depan. Ke arah motor Surya melaju.


"Perjuangkan dan pertahankan kalau kamu masih cinta. Kalau enggak, ya cari yang lain!" ucap Susi lagi sambil menstater mobilnya.


Nadia melirik sinis ke arah Susi. Dilirik seperti itu, Susi malah terkekeh.


"Mama enggak tau kan, kalau salah satu alasan Nadia enggak mau berangkat kuliah juga karena Nadia malas ketemu dia?" Suara Nadia terlihat sangat kesal. Matanya mulai mengembun.


"Ya kamu enggak pernah bilang. Mana Mama tau!" Susi mengedikan bahunya. Lalu mulai memutar balik mobilnya.


"Nad. Kita bertetangga. Bagaimanapun kamu menghindarinya, pasti bakal ketemu!" ucap Susi lagi.


"Makanya Nadia minta pindah kuliah aja. Ngulang semester lagi juga enggak apa-apa. Biar enggak ketemu Doni juga!" sahut Nadia.


Nah kalau alasan yang kedua baru Susi bisa terima. Karena Doni sangat membuatnya resah juga.

__ADS_1


__ADS_2