PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 44 KENANGAN TERINDAH


__ADS_3

Viona cemberut mendengar jawaban Nadia. Dia sudah berharap, malah Nadia seakan php-in.


"Udah, ayo kita makan," ajak Nadia. Pesanan mereka sudah diantar.


"Sur, udah dong. Jangan mainan hape terus. Kapan makannya?" tanya Nadia.


"Oke," sahut Surya lalu meletakan ponselnya di sebelah Nadia.


"Aku potong-potongin, ya?" Surya sengaja bersikap manis pada Nadia biar Viona makin bete. Kalau perlu pindah ke meja lainnya.


"Enggak usah, Sur. Aku bisa sendiri kok," jawab Nadia. Meskipun Surya sudah memberi kode dengan menyenggol kakinya di bawah meja, tapi Nadia tidak tega menyakiti hati sahabatnya.


"Oke. Aku suapin. Aakk...!" Surya mengambil potongan daging miliknya dan menyuapkan pada Nadia.


Nadia terpaksa membuka mulutnya karena garpu Surya sudah sampai di depan bibirnya.


"Emm...enak. Udah, Sur. Nanti punyaku enggak kemakan," sahut Nadia sambil mengunyah.


"Punyamu biar aku yang makan," bisik Surya di telinga Nadia dengan suara sedikit nakal.


Viona menatap keduanya dengan kesal. Andai saja dia tak mengingat persahabatannya dengan Nadia, pasti sudah angkat kaki dari meja mereka.


Sakit rasanya melihat Surya begitu manis pada Nadia. Apalagi bisikan Surya yang persis di telinga Nadia. Bahkan sepertinya bibir Surya menempel.


"Iih, geli, Surya....!" pekik Nadia.


Suara Nadia malah semakin membuat Viona kesal. Suara itu terdengar manja dan menggoda. Mirip suara *******.


Ups. Viona jadi teringat mantan pacarnya dahulu. Lebih tepatnya teman kencan satu malamnya.


Ah, itu masa lalu Viona yang kelam. Walaupun sebenarnya belum lama, baru beberapa bulan yang lalu saat libur kuliah.


Viona pulang ke kampung halamannya, karena waktu itu libur semester.


Kampung halaman Viona yang dekat dengan pelabuhan. Dan Viona sangat suka bermain di sana. Melihat kapal-kapal yang bersandar di dermaga.


Viona datang ke pelabuhan sendirian. Dia ingin menikmati sun set.


Seperti saat dahulu masih tinggal di kota pesisir itu, Viona sering datang ke sana. Tapi biasanya bersama beberapa temannya.


Tapi hari itu, karena tak ada satupun teman yang bisa dihubungi, Viona ke sana sendirian.


Saat matahari mulai beranjak menuju peraduannya, warna jingga sudah menyelimuti langit senja, Viona mulai mengambil foto selfie.


"Boleh aku bantu?"


Seorang lelaki dengan pakaian berlogo ABK kapal, menawarkan diri.


"Oh, enggak usah. Aku bisa sendiri, kok," jawab Viona. Bukannya jual mahal, tapi memang Viona sama sekali tak mengenalnya.


"Jangan takut, Nona. Aku tak berniat jahat. Hanya ingin membantumu," sahutnya.


Viona menatapnya dengan tajam. Cuaca yang sudah mulai meredup membuat Viona mesti menajamkan matanya.


Ganteng. Kulitnya sawo matang ala ABK, yang pastinya sering terbakar matahari di tengah laut lepas.


Dan yang membuat Viona tak bisa melupakan, senyumnya dengan barisan gigi yang tersusun rapi.

__ADS_1


Entah karena dorongan apa, Viona menyerahkan ponselnya yang masih pada mode kamera on.


"Oke, siap." Lelaki yang belum memperkenalkan namanya itu menerima ponsel Viona.


"Ayo bergaya dong, kayak tadi," ucapnya. Kamera ponsel sudah mengarah ke Viona.


Dengan ragu Viona bergaya. Tak terlalu banyak. Karena Viona masih canggung.


"Udah, cukup," ucap Viona. Lalu dia meminta ponselnya kembali.


Lelaki itu menyerahkan ponsel Viona. Lalu membuka telapak tangannya mengajak Viona bersalaman.


"Namaku Putra," ucapnya.


Dengan ragu, Viona menyambut tangan kekar itu.


"Viona."


"Hhmm. Nama yang cantik. Secantik orangnya," sahut Putra masih dengan menggenggam tangan Viona.


Viona menarik tangannya. Dan Putra pun melepaskan perlahan.


"Maaf," ucap Putra dengan sopan.


Sejenak mereka saling diam. Lalu saling tatap.


"Kita jalan ke sana, yuk. Pemandangannya lebih indah. Kemarin sore aku naik ke atas bukit kecil itu. Kita bisa melihat sunset lebih jelas," ajak Putra. Dia menunjuk sebuah bukit kecil.


Nadia seperti terhipnotis. Dia mengangguk. Lalu mengikuti langkah Putra.


"Kenapa kamu datang sendirian?" tanya Putra.


Angin senja yang bertiup kencang, juga suara gemuruh air laut dan hiruk pikuk di pelabuhan, membuat orang mesti mengencangkan suaranya.


"Kamu masih kuliah?" tanya Putra. Juga dengan suara kencang.


Viona mengangguk.


"Oh, enak ya? Kalau aku, setelah mengikuti pendidikan satu tahun, harus berlayar mencari penghasilan sendiri. Jadi ABK."


"Sudah lama kerja di kapal?" tanya Viona.


"Ini baru tahun kedua. Dan habis kontrak tahun ini, aku akan mengikuti pendidikan untuk naik pangkat. Biar gajinya juga gede. Hahaha," jawab Putra.


Viona menoleh. Menatap barisan gigi yang sangat rapi dan terpelihara.


"Berarti betah ya, kerja di kapal?" tanya Viona.


"Ya mau bagaimana lagi? Kapal sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku sudah terlanjur mencintainya," jawab Putra.


"Mencintai?"


Putra mengangguk.


"Seperti mencintai seseorang. Kalau kita sudah mencintai seseorang, sulit rasanya melupakannya. Meskipun tak lagi bisa bertemu," jawab Putra.


"Pernah mencintai seseorang?" tanya Viona menyelidik.

__ADS_1


"Hey, aku lelaki normal. Aku juga pernah jatuh cinta," jawab Putra.


"Pernah. Berarti sekarang?" Viona menggantung pertanyaannya.


"Entahlah. Aku meninggalkannya. Entah dia masih menyimpan cintanya untukku atau tidak," jawab Putra.


"Kamu sendiri?" tanya Viona lagi.


"Masih ada namanya di sudut hatiku. Entah sampai kapan. Mungkin sampai aku menemukan yang lebih segalanya," jawab Putra.


"Hebat. Itu artinya kamu masih mencintainya," sahut Viona..


Putra mengedikan bahunya.


"Kita sudah sampai, Viona," ucap Putra.


Tak terasa mereka sudah sampai di puncak bukit kecil di pinggiran pantai.


"Indah kan? Tempat seperti ini mengingatkan aku pada dia," ucap Putra.


"Jadi critanya kamu mengajakku bernostalgia?"


"Hahaha. Enggak juga. Aku hanya menyukai tempat ini. Setiap kali kapal bersandar di pelabuhan ini, aku pasti kesini. Dan kamu orang pertama yang aku ajak ke sini."


Viona merasa tersanjung. Meski baru saja mengenalnya, tapi Viona merasa sudah dekat. Mungkin karena sikap terbukanya Putra.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Putra.


Viona menggeleng. Karena kenyataannya Viona belum bisa menaklukan hati Surya.


"Seorang gadis cantik masih jomblo? Hahaha." Putra tergelak.


Viona langsung cemberut.


"Oh, maaf. Maaf." Spontan Putra meraih tangan Viona.


Viona menatap tangannya. Dengan sedikit malu, Putra melepaskannya.


"Kita selfi yuk. Mumpung masih terang," ajak Putra.


Awalnya mereka berpose berjauhan. Tapi dijepretan ketiga, posisi Putra tepat di belakang Viona.


Mereka sudah seperti sepasang kekasih yang sedang mengabadikan momen kebersamaannya.


Dan entah sengaja atau tidak, bibir Putra menyentuh telinga Viona.


"Iih, geli, Putra...!" pekik Viona dengan suara bergetar. Terdengar manja dan menggoda. Mirip suara *******.


"Hey, Vi! Malah melamun!" Nadia menepuk tangan Viona yang sedang memegang garpu.


Klontang.


Garpu yang dipegang Viona terjatuh.


"Oh, Maaf. Maaf."


Viona langsung menatap wajah Nadia. Kata-kata itu mirip kata-kata Putra waktu itu.

__ADS_1


"Vi. Sini deh. Kita selfie yuk," ajak Nadia.


Putra.... Ya, itu ajakan Putra waktu itu.


__ADS_2