PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 28 KECEWA


__ADS_3

"Nad, kamu kenapa? Kok bisa begini sih?" tanya Viona prihatin melihat kondisi sahabatnya.


"Iya nih, Vi. Tadi ada orang yang sembarangan naik motornya. Aku deh yang ketabrak," jawab Nadia.


"Gimana orang yang nabrak Nadia, Yog? Udah kamu urus, kan?" tanya Surya. Dia tak sempat ngurus sendiri. Karena lebih mementingkan keselamatan Nadia.


"Udah diurus sama polisi. Dia juga terluka kata polisinya. Besok kita ke kantor polisi lagi. Kita ambil motor Nadia. Sekalian nemui yang nabrak Nadia," jawab Yogi.


"Oke. Besok kamu ada kuliah jam berapa?" tanya Surya lagi pada Yogi.


"Pagi. Sampai jam sepuluh. Kenapa?"


"Anter aku ke kantor polisi. Kan tadi kamu yang tau urusannya," pinta Surya.


"Oke siap, Bro. Kita jalan jam sepuluh."


Yogi cukup dekat dengan Surya. Dan mereka selalu saling menolong saat membutuhkan.


"Aku jadi ngerepotin kamu ya, Yog?" Nadia merasa tidak enak dengan Yogi. Kalau dengan Surya sih, udah biasa.


"Santai aja, Nad. Yang penting kamu selamat. Biar kita yang urus semuanya," sahut Yogi.


Sebagai orang yang lagi pedekate sama Viona, dia harus mau tampil di depan kalau menyangkut urusan sahabat Viona. Cari muka.


Tak lama, kedua orang tua Nadia datang.


"Ya Allah, Nad. Kamu kenapa, Sayang?" Susi langsung mendekati Nadia yang sedang dikelilingi teman-temannya.


"Tadi ketabrak di perempatan, Tante. Bukan Nadia yang kurang hati-hati. Penabraknya yang pecicilan." Surya yang menerangkan. Karena dia termasuk salah satu saksi mata.


"Lho kok bisa sampai sana? Bukannya kampus kamu enggak lewati perempatan itu?" tanya Susi.


"Mm...tadi main ke kosan Viona, Ma. Pulangnya malah begini," jawab Nadia tanpa mau mengatakan kalau dia tadi mbolos kuliah.


Surya mendekati Haris, papanya Nadia. Dia menjelaskan kronologinya. Yogi juga ikutan nimbrung.


"Besok biar saya sama Yogi yang urus motor Nadia, Om. Termasuk urus si penabraknya," ucap Surya.


Haris sudah sangat mengenal Surya. Dan dia mempercayakan semuanya pada Surya.


"Iya. Kalau ada apa-apa, hubungi Om. Nanti Om bantu," sahut Haris.


Viona melihat keakraban Surya dengan papanya Nadia. Ada rasa sakit di dadanya. Apa mungkin dia bisa menaklukan hati Surya, sementara Surya begitu akrab dengan keluarga Nadia?

__ADS_1


Apalagi saat mama dan adiknya Surya juga datang menjenguk Nadia. Viona semakin merasa tak ada artinya bagi Surya.


Viona memilih keluar dan duduk di bangku panjang depan ruangan Nadia. Mama dan adiknya Surya sangat akrab dengan Nadia dan keluarganya.


Viona jadi merasa tersisihkan. Makanya dia lebih baik keluar.


Yogi celingukan mencari pujaan hatinya yang tiba-tiba menghilang.


"Barusan keluar," ucap Surya sambil menunjuk ke arah pintu.


Kebetulan dia tadi melihat Viona mlipir keluar. Yogi pun pamit keluar dulu.


Dan benar saja, Viona sedang duduk sendirian di bangku panjang. Matanya nanar menatap orang yang hilir mudik di depannya.


"Kok keluar?" tanya Yogi. Lalu duduk di sebelah Viona.


"Di dalam gerah. Banyak orang," jawab Viona asal.


"Iya, enakan di sini. Berdua kamu," sahut Yogi sambil tersenyum.


"Mereka sangat akrab, ya?" tanya Viona.


"Mereka siapa?" Yogi tak paham siapa yang dimaksud oleh Viona.


"Oh, iya. Setahuku mereka tetanggaan, satu komplek. Dan Nadia sama Surya juga sudah bersahabat sejak SMA," sahut Yogi. Dia pernah mendengar itu dari Surya sendiri.


"Cuma sahabat?" harap Viona.


"Dulunya," jawab Yogi. Dia sudah paham kemana arah pembicaraan Viona. Pasti Viona berharap Nadia dan Surya benar-benar hanya sahabat sampai sekarang.


"Maksudnya?" Viona menatap mata Yogi. Membuat jantung Yogi berdegup kencang dan serasa ingin menelan Viona bulat-bulat.


"Ya kamu kan bisa lihat sendiri. Mungkin selama ini Nadia sengaja merahasiakan hubungannya dengan Surya. Kan enggak enak banget kalau orang lain tau, tadinya sahabat malah jadi pacar. Walaupun buat aku, fine-fine aja," sahut Yogi sengaja memanas-manasi Viona.


Maksudnya biar Viona tak lagi mengejar Surya dan mau membuka hati untuknya.


Viona memalingkan wajahnya. Sakit sekali mendengar penuturan Yogi barusan.


Harapannya seperti sirna. Dan kalau yang dikatakan Yogi benar, itu artinya Nadia tak mau terbuka padanya.


"Cari makan, yuk. Aku laper. Kamu mau kan nemenin aku makan?" ajak Yogi.


Viona berdiri.

__ADS_1


"Aku pamit dulu," ucap Viona. Dia berjalan masuk ke ruangan Nadia.


Nadia masih asik ngobrol dengan adik Surya. Mamanya Nadia ngobrol dengan mamanya Surya. Dan Surya dengan papanya Nadia. Kurang apa lagi?


"Nad. Aku pamit dulu, ya. Kamu rawat inap apa bisa pulang hari ini?" tanya Viona.


"Kayaknya pulang aja, Vi. Kata Surya, kalau udah baikan, boleh pulang, kok," jawab Nadia.


"Oh, ya udah. Besok pulang kuliah aku ke rumah kamu, ya. Kamu besok ijin dulu, kan?"


"Lihat besok, Vi. Kalau udah enak badannya, aku berangkat kuliah," jawab Nadia.


"Jangan dipaksa, Kak. Buat istirahat dulu. Tapi kalau tetap mau berangkat, gak usah khawatir, ada sopir pribadi, kan? Tuh." Sinta menunjuk Surya dengan dagunya.


Sinta sudah sangat hafal kebiasaan Surya antar jemput Nadia. Kalau dengan dia, mana mau. Alasannya udah gede, harus belajar mandiri.


Nadia hanya tersenyum mendengarnya. Memang, tanpa dimintapun, Surya bakalan melarangnya berangkat dan pulang kuliah sendiri.


Viona tersenyum kecut. Dia merasa kalah telak dengan Nadia. Hubungan mereka lebih dekat. Dan Surya lebih memilih Nadia.


Meskipun kalau dibanding-bandingkan, Nadia tak ada apa-apanya dengan Viona.


Wajah Viona lebih cantik dan menarik. Body-nya pun jangan ditanya, seksi abis. Otaknya juga lebih encer dari Nadia.


Tapi ternyata Surya tetap memilih Nadia dan seolah mengabaikannya.


"Ayo, Vi. Nad, kita pamit dulu, ya. Om, Tante, kita pulang dulu. Sur, gue anterin Viona balik. Besok kabarin aja," pamit Yogi.


Dia melupakan adik Surya yang sedari tadi menatap wajah ganteng Yogi. Sinta menelan kekecewaannya karena tak disapa Yogi.


"Dia siapa, Kak?" tanya Sinta pada Nadia. Pelan, karena takut terdengar Surya. Bakal kena omel kalau tahu Sinta membicarakan laki-laki.


"Yogi. Teman sekelasnya Surya. Dia lagi pedekate sama Viona. Teman sekelasku. Tapi Vionanya malah ngejar-ngejar Surya," jawab Nadia.


Nadia lupa mengecilkan volume suaranya. Hingga seisi ruangan mendengarnya. Dan spontan menoleh menatap Nadia.


Nadia tersenyum kaku. Apalagi melihat Surya yang melotot ke arahnya. Nadia mengangkat dua jarinya. Piss.


"Jodohin aja sama kak Surya," seloroh Sinta. Maksudnya biar dia bisa mendekati Yogi.


"Hush! Ngaco aja, kamu," sergah Rahma. Dia sangat mengharapkan bisa besanan dengan Susi. Demikian juga Susi. Ingin Surya jadi pendamping Nadia nantinya. Apalagi Haris, dia sangat percaya Surya bisa menjaga anak gadisnya.


Surya memberikan kepalan tangan ke arah Sinta. Sinta melengos dengan kesal.

__ADS_1


Bakal tak ada harapan mendekati Yogi, kalau begini.


__ADS_2