
Surya hanya berputar-putar saja mengelilingi kota dengan motor maticnya.
Sebenarnya untuk badan sebesar Surya kurang pas kalau menaiki motor matic. Dia lebih macho kalau menaiki motor sport.
Tapi karena Nadia tak nyaman membonceng motor sport, Surya meminta orang tuanya mengganti dengan motor matic.
Setelah capek muter-muter, Surya berbelok ke sebuah cafe. Dia hanya ingin menikmati secangkir cappucino untuk merelekskan otaknya.
Surya memilih meja yang kecil. Karena dia hanya sendirian. Sambil duduk menyendiri, Surya menikmati minumannya dan sepiring kentang goreng favoritnya.
Sebenarnya itu camilan favorit Nadia. Tapi Surya jadi menyukainya, karena setiap hang out dengan Nadia dan teman-temannya, menu itu selalu ada di mejanya.
Surya yang tak membawa ponselnya, mengedarkan pandangan ke beberapa bagian cafe.
Dan matanya menangkap sosok wanita yang cukup dikenalnya. Celyn, teman SMA-nya dahulu.
Kebetulan, Celyn juga sedang menatap ke arah Surya. Dan pandangan mereka bertemu.
Surya yang agak pangling dengan penampilan Celyn, awalnya hanya diam. Takutnya salah orang.
Celyn yang lebih dulu memberikan senyumnya. Celyn juga sedikit pangling dengan perawakan Surya yang semakin kekar.
Celyn yang juga datang sendirian, mendatangi meja Surya dengan membawa serta gelas juice dan piring camilannya.
"Kamu Surya, kan?" tanya Celyn mendahului.
"Celyn?" Mata Surya menelisik penampilan Celyn yang minimalis.
Celyn hanya mengenakan atasan tanpa lengan dan rok pendek di atas lutut.
Meski tanpa polesan make up tebal, wajah Celyn yang cantik alami, tetap memancarkan pesonanya.
Dan warna kulit putih mulus, semakin menambah kecantikannya. Belum lagi dadanya yang semakin berisi, membuat Celyn tampil sempurna.
Celyn mengangguk. Lalu meletakan bawaannya di meja Surya dan mengulurkan tangannya.
Surya menjabat tangan halus Celyn. Dan Celyn menggenggamnya sambil mengagumi Surya yang juga semakin mempesona.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Celyn dengan sopan.
"Silakan. Duduklah." Surya mempersilakan.
Celyn menarik kursi di depan meja Surya. Dan mereka kembali berpandangan. Saling mengagumi.
__ADS_1
"Kamu sendirian?" tanya Celyn. Berbarengan juga dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Surya. Lalu mereka tertawa bersama.
"Iya, aku sendirian," jawab Surya setelah berhenti tertawa.
"Sama. Aku juga sendirian." Celyn pun menjawab tanpa menunggu Surya bertanya lagi.
"Apa kabar kamu, Sur? Makin macho aja," tanya Celyn tanpa malu-malu.
Sewaktu SMA dulu, mereka satu kelas. Tapi tidak dengan Dewa dan Nadia. Karena saat kelas dua, ketiga bersahabat itu beda kelas. Meskipun setelah selesai pelajaran, mereka kembali bareng.
Bareng ke kantin, bareng ke perpustakaan, sampai bareng pulang.
"Aku baik-baik aja. Kamu juga makin cantik, Cel," puji Surya.
Dari dulu, Celyn memang sudah cantik. Dia termasuk salah satu kembang di sekolah Surya. Meskipun tak secantik sekarang.
Celyn tertawa mendengarnya. Bukan kali ini saja Celyn mendapat pujian seperti itu. Jadi Celyn sudah terbiasa.
"Bisa aja kamu, Sur. Eh, ngomong-ngomong, kamu kuliah dimana?" tanya Celyn.
Sejak lulus SMA, mereka tak pernah lagi ketemu. Mereka juga tidak masuk dalam grup whatsapp kelasnya. Terutama Surya yang selalu left grup kalau ada yang memasukan.
"Aku di universitas Merdeka. Bareng sama Nadia. Kamu masih ingat Nadia, kan?"
Celyn mengernyitkan dahinya. Seperti sedang mengingat.
Surya mengangguk membenarkan.
"Tapi bukannya kamu mendapat kesempatan kuliah di universitas negeri? Nilai kamu kan bagus terus, Sur?" tanya Celyn.
Celyn masih ingat kalau Surya sering mendapat ranking satu di kelasnya. Tidak seperti dirinya yang nilainya selalu pas-pasan.
"Iya sih. Tapi enggak aku ambil," jawab Surya tanpa mau menjelaskan alasan yang sebenarnya.
"Ih, sayang amat. Coba kalau aku yang dapat, enggak akan aku sia-siain," sahut Celyn menyayangkan.
Celyn setengah mati berjuang agar bisa masuk perguruan tinggi negeri, Surya malah mengabaikan kesempatannya masuk tanpa tes.
"Biarin aja jatahku buat yang lebih membutuhkan. Kamu sendiri kuliah dimana, Cel?"
Lalu Celyn menjawab kalau dia kuliah di luar kota. Dan dia nge-kos di sana. Katanya biar bisa lebih bebas dan tidak kesepian.
Kedua orang tua Celyn yang pengusaha, selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Hingga sering mengabaikan Celyn dan kakak laki-lakinya.
__ADS_1
Akhirnya Celyn memilih kuliah di luar kota biar bisa nge-kos dan punya banyak teman di kosan.
Sedangkan kakaknya masih tetap di kotanya. Tapi jadi anak yang begajulan. Kuliahnya mandek, kerjanya cuma nongkrong dan balapan liar.
"Ooh. Sekarang ini lagi mudik critanya?" tanya Surya sambil menikmati kentang gorengnya.
"Iya. Kemarin mamaku ulang tahun. Dan kepingin kita ngumpul. Tapi lusa aku udah balik lagi ke sana. Di sini sepi. Mama dan papaku kembali sibuk dengan pekerjaannya," cerita Celyn dengan muka muram.
"Eh, gimana kabarnya si Nadia? Sama siapa, teman kamu satu lagi?" Celyn mengalihkan pembicaraan agar dia tak larut dalam kesedihannya.
"Dewa. Dia enggak tahu deh. Enggak ada kabar lagi setelah lulus SMA," jawab Surya. Dia pun sedikit muram mengingat sahabatnya satu itu yang menghilang bak ditelan bumi.
"Ooh. Tapi bukannya kalian dulu akrab banget, ya?"
Surya mengangguk.
"Kalau Nadia?" tanya Celyn sambil mengingat-ingat wajah Nadia.
Karena tak pernah satu kelas, Celyn tak pernah berhubungan dengan Nadia. Dia hanya sering melihatnya bersama Surya dan Dewa.
"Kan tadi sudah aku bilang. Dia satu kampus denganku. Tapi beda jurusan. Sekarang, dia lagi sakit. Tadi sore kecelakaan," sahut Surya.
"Oh ya? Kasihan banget. Parah?" tanya Celyn dengan nada cemas.
Dia jadi ingat tadi sore kakaknya pulang babak belur.
Lalu Surya menceritakan kondisi Nadia terakhir juga kronologinya.
"Syukurlah kalau enggak parah. Aku pikir sampai dirawat di rumah sakit. Si penabraknya sudah ketemu?" tanya Celyn lagi.
"Sudah diamankan polisi. Besok siang aku urus ke kantor polisi. Dia ugal-ugalan di jalan," jawab Surya dengan kesal. Bukan kesal pada Celyn, tapi pada si penabrak Nadia.
"Sebenarnya saat itu juga aku bisa aja menghajar penabraknya di TKP. Tapi aku lebih mementingkan kondisi Nadia. Jadi aku serahkan urusannya sama polisi yang berjaga di sana," lanjut Surya.
"Jangan main hakim sendiri. Nanti malah kamunya yang bermasalah," ucap Celyn.
"Ya lihat aja besok. Kalau dia enggak mau bertanggung jawab, ya aku hajar aja." Surya tetap masih kesal dengan penabrak Nadia.
Celyn hanya tersenyum. Lalu dia meminta nomor ponsel Surya biar bisa komunikasi lagi.
Surya yang tak membawa ponselnya, menyebutkan dua belas digit nomornya dan langsung disave oleh Celyn.
"Dimisscall aja. Nanti di rumah aku save," ucap Surya.
__ADS_1
Lalu mereka saling berpamitan, karena malam semakin larut.
Celyn menolak diantar oleh Surya karena dia membawa mobil sendiri. Mobil hadiah ulang tahun dari orang tuanya.