
Selesai makan, Surya berpamitan. Setelah sebelumnya mengantar Nadia ke kamarnya.
Surya berjanji akan datang lagi nanti sore. Dan sekarang dia biarkan Nadia istirahat.
Sampai di rumahnya, Rahma sudah rapi. Dia mau pergi, janjian dengan teman lamanya.
"Sur, kalau kamu enggak capek, jemput Sinta. Kasihan kan kalau dia naik angkot," pinta Rahma.
"Sinta kan bisa pesan ojek online, Ma. Surya capek. Mau tidur," sahut Surya.
Pasti ada saja alasannya kalau disuruh jemput adiknya. Coba menjemput Nadia, dibela-belain enggak masuk kuliah.
Rahma hanya menghela nafasnya. Meski dia sangat setuju Surya berpacaran dengan Nadia, tapi Rahma tak suka dengan sikap Surya yang terlalu berlebihan.
"Ya udah, kalau enggak mau. Nanti bilang sama Sinta, oleh-oleh buat Nadia ada di meja makan. Sudah Mama masukan ke tas semua," ucap Rahma. Lalu pamit pada anaknya itu.
"Iya, Ma. Ati-ati." Surya mengantar Rahma ke depan. Membantu melihat kondisi jalanan sampai mobil yang dikendarai Rahma berlalu.
Rahma sudah terbiasa membawa mobil sendiri. Sejak Toni membelikannya. Meskipun tak setiap hari dipakai. Karena Rahma memberikan kebebasan pada kedua anaknya, terutama Surya untuk ikut memakainya.
Toni bukan pengusaha kaya seperti Haris. Hingga kedua anaknya hanya dibelikannya motor untuk transportasi ke kampus.
Setelah Rahma pergi, Surya masuk ke kamarnya. Dia mau tidur dulu sebelum nanti sore ke rumah Nadia lagi bareng Sinta.
Baru saja Surya merem, suara Sinta sudah mengganggunya. Sinta sudah masuk ke kamar Surya.
"Kak. Aku mau ke rumah kak Nadia sekarang!"
"Nanti sore aja. Aku mau tidur dulu," sahut Surya sambil memeluk guling.
"Aku bisa ke sana sendiri, kok," sahut Sinta.
"Nadia nya tidur. Tadi dia jatuh lagi," ucap Surya.
"Hah? Jatuh lagi? Di mana?"
"Di rumahnya. Udah sana keluar. Aku ngantuk!" usir Surya.
"Kok bisa jatuh lagi, sih?" Sinta malah bertanya lagi. Membuat Surya kesal. Ngantuknya langsung hilang.
"Hadeh...! Dibilang keluar malah nanya terus. Enggak jadi ngantuk deh, ah," sahut Surya dengan kesal.
"Ya udah, kalau enggak ngantuk lagi, kita ke rumah kak Nadia," ajak Sinta lagi.
"Kan udah dibilangin, Nadianya lagi tidur siang. Bisa dibilangin enggak sih, kamu?" Surya makin kesal.
Sinta nyengir. Lalu keluar dari kamar Surya. Dia juga sebenarnya ngantuk. Tapi karena takut kebablasan, mending ngejar-ngejar Surya saja biar mau mengantarkannya.
Sinta masuk ke kamarnya sendiri. Dan setelah ganti baju, dia pun tidur.
Setelah Sinta keluar, Surya yang tak bisa tidur, menelpon Yogi. Dia mau pinjam catatan Yogi tentang kuliah tadi.
Karena biasanya akan ada tugas dari dosen di mata kuliah itu.
__ADS_1
"Catatan apaan? Gue aja enggak masuk kuliah. Emangnya lu enggak masuk kuliah juga?" tanya Yogi.
"Kalau aku masuk, ngapain pinjem catatan kamu, Yogi," sahut Surya.
"Lha, kok tumben. Biasanya enggak pernah bolos?" tanya Yogi lagi.
Lalu Surya mengatakan kalau tadi dia mengantarkan Nadia kontrol ke rumah sakit.
"Terus bagaimana kondisi Nadia sekarang? Udah membaik?" tanya Yogi.
"Udah. Nanti sore aku mau ke rumahnya lagi. Nganterin Sinta besuk Nadia," jawab Surya.
"Sinta adik lu, Bro?" tanya Yogi.
"Iya. Udah ah, aku mau cari tau tugas tadi pagi." Surya bermaksud menutup telponnya.
Tapi dihambat oleh Yogi yang mengatakan kalau dia mau ikut besuk Nadia nanti sore.
Surya mengiyakan, biar Yogi tak ngomong lagi. Lalu Surya benar-benar menutup telponnya.
Surya berharap, nanti sore Yogi tak mengajak Viona. Entah kenapa, semakin kesini, Surya makin tak suka pada Viona.
Di depannya, Surya merasa Viona terlalu over akting. Tak bisa dikasih hati sedikitpun.
Surya mencoba menghubungi salah satu teman sekelasnya. Tapi sayang, telponnya tak diangkat. Sepertinya teman yang rajin itu masih ada mata kuliah siang ini.
Sebagai mahasiswa yang rajin, cerdas dan ber-IPK tinggi, Surya selalu gelisah meski ketinggalan satu kali pertemuan saja.
Beda dengan Yogi yang terlalu santai. Meskipun harus mendapatkan IPK dibawah rata-rata.
"Ayo bangun! Katanya mau ke rumah Nadia!" Surya mengguncang bahu Sinta.
"Mm....jam berapa sekarang?" tanya Sinta tanpa membuka matanya.
"Jam empat. Ayo cepetan!" Surya keluar dari kamar Sinta.
"Hadeh....jam cepet banget sih muternya? Baru aja merem," gumam Sinta. Padahal dia sudah tidur dua jam lebih.
Dengan malas, Sinta mandi. Biar lebih segar dan pastinya ngilangin keringat.
Sinta memakai bedak bayi tipis-tipis di wajahnya yang berkulit putih. Dan memoles sedikit lipsgloss.
Dengan pakaian casual, Sinta keluar dari kamarnya. Surya masih setia menunggu adiknya selesai.
"Itu oleh-oleh buat Nadia di atas meja makan. Kata mama yang sudah masuk ke tas," ucap Surya sesuai perintah Rahma tadi sebelum pergi.
"Oke."
Sinta mengambilnya.
"Busyet, berat banget sih, Kak? Apaan aja isinya?" tanya Sinta.
"Mana aku tau? Tadi pagi sih mama minta anterin beli buah sama kue. Mungkin dibawakan semua," jawab Surya yang tak tahu apa saja yang dimasukan sama Rahma.
__ADS_1
"Hhmm." Sinta tetap mengangkatnya.
"Berasa kayak orang mau mudik. Bawaannya banyak banget," komentar Sinta sambil berjalan.
"Emang berat banget, ya?" tanya Surya. Lalu tanpa diminta, dia ambil alih membawanya.
"Lumayan," komentar Surya.
Surya meletakan di motornya. Biar Sinta tak keberatan lagi. Dan segera melajukan motornya.
Rumah Nadia tak terlalu jauh. Tapi kalau jalan kaki sambil bawa tentengan seberat itu, ya lumayan capek juga.
Sampai di depan rumah Nadia, Surya melihat motor Yogi sudah terparkir di sana. Sepertinya Yogi sudah sampai duluan.
Benar saja, Yogi sudah duduk di ruang tamu ditemani Nadia juga Susi, mamanya Nadia.
Mata Sinta langsung berbinar, melihat teman kakaknya itu.
"Assalamualaikum," sapa Surya dan Sinta berbarengan.
"Waalaikumsalam....!" jawab ketiganya berbarengan juga.
"Surya. Sinta. Ayo masuk," ucap Susi.
Surya memberikan tentengannya.
"Apa ini?" tanya Susi.
"Dari mama, Tante," jawab Surya.
"Kok malah repot-repot sih?" Rahma menerima tas yang dibawa Surya itu. Lalu masuk ke dalam.
"Kak Nadia, gimana kakinya? Kata kak Surya tadi jatuh lagi, ya?" tanya Sinta yang duduk di sebelah Nadia.
"Cuma kesandung karpet. Untung ada Surya. Yang bantuin aku bangun," jawab Nadia.
"Kok bisa sih, Kak?" tanya Sinta lagi.
Lalu Nadia menceritakan kejadiannya. Hanya masalah sepele, tapi membuat kaki Nadia terkilir dan membengkak lagi.
Untungnya luka Nadia terbalut perban tebal. Jadi tidak terluka lagi.
"Sur, kenapa kamu enggak bilang kalau bawa tentengan?" tanya Yogi pelan. Dia datang tak membawa apapun.
Sinta yang mendengarnya, melirik ke arah Yogi. Senyumnya mengembang.
"Memangnya kenapa?" tanya Surya.
"Aku kan malu. Datang enggak bawa apa-apa," jawab Yogi.
"Santai aja. Lagian itu juga mamaku yang nyiapin," sahut Surya.
Sinta kembali melirik ke arah Yogi. Senyum tak lepas dari bibir mungilnya.
__ADS_1
Tapi sayangnya, Yogi tak merespon sama sekali.