PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 70 TERJEBAK MASA LALU


__ADS_3

Sementara Surya yang sudah sampai di rumah Nadia, masih duduk menunggu Nadia dipanggilkan oleh mbok Nah.


Susi sedang pergi ke rumah temannya. Jadi di rumah cuma ada Nadia dan mbok Nah.


Surya duduk di ruang tamu. Tak seperti biasanya, duduk di manapun yang dia mau. Kini rumah Nadia terasa asing baginya.


Padahal baru kemarin sore, Surya merasa rumah keluarga Nadia seperti rumahnya sendiri.


Sembari menunggu Nadia turun dari kamarnya di lantai dua, Surya menelpon Sinta. Termasuk juga marah-marah pada Yogi yang belum juga membawa Sinta pulang.


Sebenarnya Sinta dan Yogi hanya korban pelampiasan ketegangan Surya. Entah kenapa, Surya begitu tegang saat ini. Dia tak bisa merasakan enjoy seperti biasanya.


Mbok Nah datang membawakan minuman kesukaan Surya. Es jeruk.


Sebenarnya itu bukan kesukaan Surya. Tapi kesukaan Nadia. Dan sejak mencintai Nadia, Surya berusaha mencintai apapun kebiasaan dan kesukaan Nadia.


Kalau Yogi bilang, itu sangat munafik. Terlalu egois pada dirinya sendiri. Demi membahagiakan orang lain, mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Lalu ikut menikmati kebahagiaan orang lain.


Itu bukan bahagia yang sebenarnya. Tapi kebahagiaan semu. Yang akan hilang kalau sudah tercampakan.


"Diminum, Mas. Tunggu sebentar, ya. Non Nadianya lagi siap-siap. Sebentar lagi juga turun," ucap mbok Nah.


"Iya, Bik. Saya tunggu di sini," sahut Surya.


Mbok Nah, merasa heran dengan sikap Surya. Biasanya Surya akan naik ke lantai dua, lalu membantu Nadia turun. Memapah, atau bahkan menggendong Nadia.


Mbok Nah hanya mengangguk. Lalu bergegas kembali ke dapur.


Nadia cukup lama sampai di ruang tamu. Karena Nadia harus berjalan pelan-pelan menuruni anak tangga.


Nadia berpikir, Surya menunggunya di ruang tengah. Tempat favorit mereka ngobrol berdua, belajar juga menonton televisi.


Ternyata Nadia tak menemukan Surya di sana.


"Sur...Surya! Kamu di mana?" tanya Nadia dengan suara cemprengnya.


Surya menghela nafasnya. Suara yang sangat dirindukannya. Dan sebentar lagi, bisa jadi Surya tak bisa mendengarnya lagi.


"Aku...di ruang tamu," jawab Surya.


Hatinya terasa perih mengatakan itu. Tak seperti biasanya, Surya akan mendatangi Nadia lalu mereka akan bercanda sambil tertawa-tawa.


"Ooh...!" Nadia berjalan tertatih ke ruang tamu.


"Kok di sini, Sur?" tanya Nadia.


"Iya. Di sini aja," jawab Surya.


"Di ruang tengah aja yuk, sekalian nonton tv," ajak Nadia.


"Enggak usah. Di sini aja," tolak Surya.


"Kenapa?" tanya Nadia.


"Enggak apa-apa." Surya jadi merasa canggung pada Nadia.

__ADS_1


"Ya udah. Jadi berasa kayak tamu beneran, ya," ucap Nadia.


Surya hanya diam. Pandangannya dia edarkan ke seluruh ruangan. Surya seperti orang asing yang baru saja masuk ke ruangan itu.


Nadia masih bersikap biasa saja.


"Sur, aku mau ngomong serius sama kamu," ucap Nadia.


Dada Surya langsung berdebar-debar. Apa yang akan diomongkan Nadia?


"Ngomong apa?" tanya Surya. Dia berusaha menormalkan detak jantungnya.


"Tadi pagi, mamaku bilang dapat undangan makan malam di rumah kamu. Tante Rahma yang mengundang," jawab Nadia.


"Hm. Lalu?" tanya Surya.


"Kamu sudah tau rencana itu?" tanya Nadia.


Surya mengangguk. Jelas saja tahu, Rahma sudah mengatakannya semalam.


"Yang bikin aku bingung, masa mamaku bilang....mau membicarakan tentang hubungan kita," ucap Nadia.


Degh!


Jantung Surya yang tadi sudah agak tenang, berdetak cepat lagi.


"Iya. Mamaku juga bilang begitu," sahut Surya.


"Aku bingung, Sur. Kenapa sih mereka ingin kita bertunangan. Padahal kan mereka tau, kalau kita hanya bersahabat," ucap Nadia.


Surya menghela nafasnya.


"Terus kita harus bagaimana dong, Sur? Mamaku meminta aku untuk memilih. Terus melanjutkan hubungan dan bertunangan, atau hubungan kita selesai sampai di sini. Tak ada lagi persahabatan antara kita," ucap Nadia.


Surya mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah Nadia dengan lekat.


Nadia sepertinya bersikap biasa saja. Seperti tak ada beban sama sekali.


"Terserah kamu. Aku menurut saja," sahut Surya.


Hilang semua yang sudah dibicarakannya dengan Yogi dan Sinta.


Surya tak punya nyali untuk mempertahankan hubungannya dengan Nadia. Bahkan tak berani menembak Nadia seperti idenya Sinta.


"Kok terserah aku, sih? Kan yang menjalani kita berdua. Ya harus keputusan kita berdua, dong."


"Memangnya kamu siap kalau aku..." Surya menghentikan kalimatnya. Dia menatap wajah Nadia. Dia ingin lihat reaksi atau perubahan wajah Nadia.


"Ingin melanjutkan hubungan ini," lanjut Surya.


"So...?"


"Kita bertunangan!" jawab Surya mantap.


Nadia menggeleng.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Surya.


"Kita tak pernah saling mencintai, Surya. Jangan paksakan perasaanmu," jawab Nadia.


"Aku tak pernah memaksa perasaanku, Nad. Aku....Aku mencintai kamu, Nadia!" sahut Surya.


"Jangan gila kamu, Surya. Jangan karena kamu masih ingin tetap bersahabat denganku, lalu kamu berbohong!"


"Aku enggak bohong, Nadia!"


Nadia menghela nafasnya. Lalu menatap wajah Surya dengan tajam.


Begitu juga Surya. Dia menatap wajah Nadia tak kalah tajam.


"Sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya Nadia. Nadia tetap berpikir, Surya hanya mengada-ada.


"Sejak SMA!" jawab Surya dengan tegas.


"Apa?" Nadia tak percaya mendengarnya.


"Aku sudah mencintai kamu sejak SMA, Nadia. Sebelum kamu memutuskan pacaran dengan Dewa. Satu kebodohanku saat itu, aku tak mengungkapkannya lebih dulu. Dan akhirnya, kamu menerima ungkapan cinta Dewa," jawab Surya.


Nadai terdiam. Matanya nanar menatap Surya.


"Jadi selama ini, kamu dekat denganku, baik padaku, karena kamu mencintaiku?"


Surya mengangguk.


"Iya. Apa itu salah?" tanya Surya.


"Kamu tau kan, Sur. Kalau aku masih sangat mencintai Dewa. Dan aku yakin Dewa akan kembali padaku. Perahu kertasku akan menemukannya, Sur," sahut Nadia.


"Dewa tak akan pernah kembali, Nadia! Dan lupakan tentang perahu kertasmu itu. Karena tak akan pernah sampai pada Dewa. Benda sialan itu akan hancur sebelum jauh terbawa air sungai!" ucap Surya dengan ketus.


"Tega sekali kamu bilang seperti itu, Surya!" Nadia hampir menangis.


Sepanjang kedekatannya dengan Surya, tak pernah sekalipun Surya berkata keras padanya, apalagi kasar.


"Maaf, Nad.Aku....hanya mengingatkan kamu. Agar kamu menghentikan obsesimu," ucap Surya.


"Kamu tega, Surya! Kamu egois! Demi kepentinganmu, kamu tega mengatakan kalau Dewa tak akan pernah kembali." Nadia mulai terisak.


Surya trenyuh mendengar isakan Nadia. Ingin Surya menghiburnya, tapi Nadia pasti akan menolak.


"Ya sudah. Kalau kamu menolakku, tidak apa-apa. Aku bisa terima. Karena hidup tak selalu sesuai dengan ekspektasi. Aku permisi."


Surya berdiri. Dia berharap Nadia menahannya untuk pergi.


Tapi kenyataannya, Nadia hanya diam saja, menahan rasa yang hanya Nadia yang tahu.


Surya menghela nafasnya. Lalu benar-benar pergi.


Dia telah gagal mempertahankan hubungannya dengan Nadia. Dan Nadia tetap memilih masa lalunya.


Nadia terjebak dalam masa lalunya. Dia tak bisa beranjak. Dia terbelenggu. Dan mengabaikan masa depannya.

__ADS_1


__ADS_2