PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 209 INGATAN KE MASA LALU


__ADS_3

Bu Yudi pamit pulang, begitu mobil Haris memasuki garasi.


"Loh, kok pulang?" tanya Susi basa basi.


"Iya. Kan pak Harisnya juga udah pulang. Mari, Bu Susi. Nadia. Main-mainlah ke rumah. Nanti kita rujakan. Tuh, pohon mangga Ibu udah berbuah."


Bu Yudi menunjuk ke arah halaman rumahnya. Di sana ada pohon mangga hasil pencangkokan yang sudah mulai berbuah.


Mata Nadia tiba-tiba berbinar mendengar kata rujakan.


Hmm. Jadi kepingin. Tapi kalau rujakannya di rumah bu Yudi, bisa kongslet kupingnya. Seharian dengerin ceramahnya.


"Iya, Bu. Makasih. Kapan-kapan aja," sahut Nadia.


"Ya kapan-kapanlah, Nadia. Masa malam-malam makan rujak. Pamali!" ucap bu Yudi.


"Mari, permisi." Bu Yudi kembali berpamitan. Dia juga mengangguk ramah pada Haris.


Haris yang sudah turun dari mobil pun, mengangguk ramah pada tetangganya itu.


Lalu Haris disambut istri dan anaknya.


"Kok lama banget, Pa?" tanya Susi.


"Iya, Ma. Tadi ada kecelakaan. Jadi jalanan macet. Biasalah orang-orang kita. Kalau ada kecelakaan, bukannya ditolongin dulu, malah pada moto-motoin," jawab Haris.


"Papa motoin juga enggak?" tanya Nadia.


"Hush! Kamu itu. Memangnya papa kamu wartawan, apa?" Susi menghardik Nadia.


"Ya kali. Mau jadi koresponden media. Hehehe." Nadia terkekeh.


"Mama udah makan?" tanya Haris pada Susi.


"Belum. Nungguin Papa aja. Biar kita bisa makan bareng," jawab Susi.


"Papa kan lama, Ma. Kalau Mama udah laper, makan duluan juga enggak apa-apa. Masa harus nahan laper," ucap Haris sambil berjalan ke kamar.


Dan seperti biasanya, kebiasaan mandi setelah pulang kerja. Haris pun mandi dulu, meskipun perutnya sudah keroncongan.


Susi yang sudah sangat hafal kebiasaan suaminya itu, menyiapkan saja baju tidur buat Haris. Karena nanti tak lama setelah makan, Haris akan tidur.


Apalagi Haris seharian berada di jalanan. Pasti akan lebih cepat tidurnya. Meskipun secara kesehatan, kebiasaan itu tidak baik.


Nadia memanfaatkan kesempatan itu untuk naik ke kamarnya. Matanya juga sudah lengket.


Sampai di tempat tidur, meski matanya lengket, Nadia tak bisa terlelap. Dia malah memikirkan ajakan bu Yudi, rujakan di rumahnya.


Nadia membayangkan mangga muda dicolek sambal rujak.

__ADS_1


Hhmm. Pasti enak dan segar banget. Nadia sampai hampir ngiler membayangkannya.


Udah lama banget aku enggak makan rujak. Ingatan Nadia kembali melayang pada peristiwa bertahun lalu.


Flash back on.


Seperti biasanya, tiga bersahabat, Nadia, Surya dan Dewa pulang bersama-sama. Mereka naik angkot menuju komplek perumahan Nadia.


Dari depan komplek, mereka berjalan kaki masuk setelah turun dari angkot.


Di depan warung bu Nur, mereka ketemu dengan Rahma. Dia sedang membeli gula merah.


"Surya!" panggil Rahma.


Mereka bertiga pun berhenti. Dan menoleh ke arah Rahma.


"Iya, Ma." Surya menghampiri Rahma, lalu menyalami tangannya dengan takzim.


Nadia dan Dewa pun mengikuti.


"Kalian pasti haus. Ayo, minum dulu. Tuh, ambil minuman dingin di showcase," ucap Rahma.


Rahma menganggap ketiganya sudah seperti anak sendiri.


Nadia, jelas saja karena mereka bertetangga sejak lama. Dan Dewa, meskipun rumahnya jauh, tapi karena hampir setiap hari ketemu, jadi sangat dekat dengan Rahma.


Tanpa disuruh dua kali, mereka pun langsung berebut memilih minuman yang disukai.


Nadia memilih minuman rasa jeruk kesukaannya. Sedangkan Dewa memilih minuman bersoda.


Rahma menatap mereka sambil tersenyum. Anak-anak yang selalu rajin berangkat sekolah.


Mereka bertiga hampir tak pernah terlibat kenakalan remaja. Yang suka tawuran, bolos sekolah. Atau terjerat barang haram seperti narkoba ataupun minuman keras.


Kehidupan mereka terlihat sangat bahagia. Meski hanya bertiga saja. Tapi kalau sudah ngumpul dan bebas dari tugas sekolah, ramainya melebihi orang sepasar.


Apalagi Nadia, meski badannya kecil tapi bawel dan suaranya cempreng.


"Sur, Mama lagi kepingin bikin rujak. Tadi kebetulan ada tukang buah lewat depan rumah. Nanti kalian ke rumah, ya," pinta Rahma.


Mereka berpandang-pandangan. Saling meminta pendapat. Dan tak lama, kompak mengangguk.


"Tapi Nadia ganti baju dulu di rumah ya, Tante," ucap Nadia.


"Iya. Enggak apa-apa," sahut Rahma.


Toh, mereka bakal melewati rumah Nadia dulu. Dan rujaknya juga baru mau dibikin setelah Rahma sampai ke rumahnya.


Rahma sengaja membuatnya siang hari. Selain cuaca yang panas akan jadi segar dengan makan rujak, Rahma juga malas kalau memakannya sendirian. Karena Sinta pun pulangnya sore.

__ADS_1


Saat itu Sinta masih kelas tiga SMP. Dan ketiga anak itu baru kelas dua SMA.


Setelah menghabiskan minuman, mereka pun pamit ke rumah Nadia dulu.


"Mereka akur banget ya, Bu Rahma," ucap bu Nur.


"Iya. Dari awal masuk SMA mereka sudah akrab. Dan padahal sekarang mereka terpisah. Enggak satu kelas lagi. Tapi masih tetap saja akrab," sahut Rahma.


"Enak tuh. Bisa saling menjaga. Apalagi Nadia yang cewek sendiri. Bu Susi jadi enggak was-was," ucap bu Nur.


"Was-was gimana, Bu Nur?" tanya Rahma.


"Bu Rahma tau sendiri kan, gimana pergaulan anak jaman sekarang. Yang perempuan begitu...yang laki-laki lebih ngeri lagi," jawab bu Nur.


Rahma mengangguk, mengerti maksud omongan bu Nur. Karena Rahma pun sering merasa was-was.


Untungnya mereka bertiga selalu kompak. Dan seperti kata bu Nur tadi, mereka selalu saling menjaga.


"Saya permisi dulu, Bu Nur." Rahma yang sudah selesai belanja dan membayarnya, segera pulang naik sepeda lipatnya.


Meski di rumahnya ada motor, kalau cuma pergi ke warung, Rahma lebih suka naik sepeda. Sekalian buat olah raga.


Rahma melewati rumah keluarga Nadia. Ketiga anak itu tak terlihat. Hanya sepatu mereka saja yang berserakan di depan pintu.


Seperti biasanya, mereka masuk dulu dan berebut stik PS. Biasanya Nadia yang mengalah. Karena dia bisa bermain sendiri setelah mereka berdua pulang.


Dan seperti biasanya juga, Susi menyediakan makan untuk mereka bertiga. Bagi Susi, itu hal sangat menyenangkan.


Setelah kakak Nadia memilih kuliah di luar kota, rumah jadi makin sepi. Dan kehadiran dua teman-teman Nadia, mampu mengobati kerinduan Susi pada anak lelakinya.


"Kalian makan dulu, ya. Tante udah siapin tuh, di meja makan." Susi menunjuk ke arah ruang makan.


"Mama nyuruh kami ke rumah, Tante. Katanya mama mau bikin rujak buat kita," sahut Surya.


"Kalian makan nasi dulu. Kasihan perut kalian, kalau langsung diisi rujak. Nanti malah sakit. Isilah sedikit," ucap Susi.


"Tapi, Tante....."


Belum sempat Surya menyahut, Susi yang sama bawelnya dengan Nadia, langsung menyahut, "Tante udah capek-capek masak. Makan dulu walaupun cuma sedikit."


Karena merasa tidak enak untuk menolak lagi, Surya dan Dewa pun menurut.


Mereka mengikuti Susi ke ruang makan. Nadia yang baru turun dari kamarnya juga ikut bergabung.


Mbok Nah membantu Susi menyiapkan makanan.


Dan mata ketiganya langsung berbinar, begitu melihat masakan yang disajikan.


"Wouw! Kalau ini sih, enggak bakal bisa sedikit makannya!" ucap Surya.

__ADS_1


Dan tanpa disuruh lagi, mereka bertiga langsung menyikatnya.


__ADS_2