
Nadia tetap di dalam kamarnya. Susi berkali-kali memanggil untuk makan malam, Nadia selalu menolaknya dengan alasan masih kenyang.
Padahal seharian ini Nadia tak makan apapun, kecuali makan pagi bersama Surya di hotel.
Sampai akhirnya Susi menyuruh mbok Nah membawakan makanan ke kamar Nadia.
Susi mengikuti mbok Nah naik ke lantai dua.
"Nad! Nadia! Buka pintunya, Sayang!" Susi mengetuk pintu kamar Nadia.
Nadia pura-pura tak mendengar. Nadia hanya duduk saja di tepi tempat tidurnya saja.
"Nadia! Buka pintunya! Apa perlu papa yang menyuruhmu membuka pintu?" ancam Susi.
Nadia terjengit.
Kalau sampai Haris yang mengetuk pintunya, bisa didobrak pintu itu. Nadia tahu kalau papanya itu suka nekat dan kasar.
Akhirnya Nadia beranjak juga dan membuka pintu kamarnya.
"Kamu itu! Tinggal buka pintu aja susah banget!" Susi langsung nyelonong masuk.
"Bawa sini makanannya, Mbok!" ucap Susi pada mbok Nah.
"Iya, Bu."
Mbok Nah meletakan makanan di atas meja belajar Nadia. Lalu bergegas keluar.
"Nih, makan! Jangan bilang kalau kamu enggak lapar. Mama yakin kamu belum makan dari tadi!" tebak Susi.
"Iya, Ma. Nanti Nadia makan. Orang dibilangin belum laper, kok," sahut Nadia tetap kekeh.
"Laper enggak laper, kamu harus makan. Apa perlu Mama yang nyuapin?" Susi mengambil piring yang sudah berisi makanan lengkap.
Nadia langsung manyun. Lalu meraih piring itu. Dia malas kalau sampai disuapin.
"Makan yang banyak. Anak gadis badannya kerempeng banget!" Susi mulai mengoceh.
"Lauknya dimakan. Dihabiskan semua!" Susi melihat Nadia malas-malasan menyuapnya.
"Iya, Ma. Ini juga lagi dimakan," sahut Nadia.
Meski sebenarnya malas memakannya, tapi Nadia terus memaksakan diri. Daripada Susi mengancam lagi papanya untuk turun tangan.
"Besok kamu berangkat kuliah?" tanya Susi.
"Enggak, Ma. Capek," jawab Nadia.
Sebenarnya bukan capek, tapi Nadia malas ketemu dengan Viona. Karena hari ini mereka ada kelas pagi.
Nadia dan Viona banyak mengambil mata kuliah yang sama. Karena memang dari awal masuk kuliah, mereka sudah akrab.
__ADS_1
"Kalau enggak kuliah, besok nganterin Mama menjenguk tante Rahma," ucap Susi.
Hah!
Nadia terjengit. Sampai piring yang dipeganginya hampir saja terlepas.
"Kenapa? Katanya kamu tak ada masalah dengan Surya?" tanya Susi.
"I...Iya. Tapi...Nadia..." Nadia gelagapan mencari alasannya.
"Kalau kamu memang tak ada masalah, atau sudah enggak mau lagi berhubungan dengan Surya, kita harus tetap menjalin hubungan baik dengan keluarganya!" ucap Susi hampir tanpa jeda.
"Mama aja deh, yang kesana. Nadia kan masih capek," sahut Nadia.
"Seberapa jauhnya sih rumah mereka? Jalan juga enggak sampai lima menit. Apa mau naik mobil?" Susi tetap berusaha memaksa.
Nadia semakin merasa kelimpungan. Karena sebenarnya Nadia malu ketemu dengan Rahma.
"Memangnya tante Rahma sakit apa?" tanya Nadia.
Yang Nadia tahu, terakhir kali dia ketemu, Rahma baik-baik saja. Malah kondisinya terlihat sangat baik.
"Jeng Rahma pingsan siang itu. Mama lihat sendiri dia lagi digotong Surya dan papanya. Mau dibawa ke rumah sakit. Lalu Mama menyusul ke rumah sakit," jawab Susi.
Mata Nadia membelalak.
"Tapi...bukannya tante Rahma baik-baik saja, pagi itu?" tanya Nadia tanpa sadar.
"Mm...Nadia...Nadia sempat ke sana pagi itu. Dan...tante Rahma bilang mau pergi ke kantor om Toni." Nadia terpaksa menceritakannya.
Nadia khawatir kalau mamanya malah mendengar cerita itu dari Rahma nanti. Meskipun Nadia tak menceritakan semuanya.
"Terus, kenapa jeng Rahma sampai pingsan?" tanya Susi mulai menyelidik.
"Nadia enggak tau, Ma. Kan Nadia udah pulang," jawab Nadia.
Nadia menundukan wajahnya. Dia jadi berpikir, apa Rahma pingsan setelah mengetahui kalau telah terjadi sesuatu dengannya dan Surya?
Tapi apa mungkin Surya mengatakannya pada Rahma? Atau Rahma memaksa Surya menceritakannya?
Aduh, bagaimana kalau Rahma sampai tahu? Mau ditaruh di mana mukanya?
Berbagai pertanyaan muncul di benak Nadia.
"Ya udah, pokoknya kamu besok harus ikut ke sana! Besok juga paling Surya berangkat kuliah. Kamu enggak akan ketemu Surya, kalau memang enggak mau ketemu!" Susi beranjak dan keluar dari kamar Nadia.
Surya mungkin berangkat kuliah, lalu bagaimana dengan Sinta? Nadia juga malas ketemu Sinta. Karena Sinta juga pasti tahu persoalannya dengan Surya.
Apalagi kalau tiba-tiba Yogi juga datang. Nadia merasa belum siap ketemu dengan mereka.
Tapi bagaimana caranya menolak ajakan mamanya? Susi kalau sudah punya mau, bakal melakukan berbagai cara.
__ADS_1
Nadia meletakan piring yang belum habis isinya. Selera makan Nadia yang tadi dipaksakannya, semakin hilang.
Nadia turun ke lantai bawah. Dia akan mengambil minum. Mbok Nah lupa membawakan minuman untuknya.
Nadia juga sekalian membawa piring bekas makannya. Makan malam yang hanya sedikit, gara-gara Susi besok memaksanya ikut ke rumah Surya.
Selesai mengambil minum, Nadia berniat kembali ke kamarnya. Tapi di ruang tengah, dia ketemu dengan Haris.
Nadia menundukan wajahnya. Tak berani menatap wajah Haris.
"Nadia! Duduk!" perintah Haris.
Nadia menelan ludahnya.
Aduh! Masalah apalagi ini? Apa Haris juga akan memaksanya pergi ke rumah Surya, besok pagi?
Dengan berbagai pertanyaan di dalam hati, Nadia duduk di sofa.
Susi juga ikut duduk di sebelah Haris. Seperti tadi, Susi akan menjaga emosi Haris. Jangan sampai Haris lepas kontrol.
"Ini ponsel kamu. Maaf, tadi Papa membukanya. Dan Papa lihat ada beberapa tugas kuliahmu yang belum kamu selesaikan." Haris menyerahkan kembali ponsel Nadia.
Sebenarnya tadi Haris hanya ingin memberi pelajaran saja pada Nadia. Tapi saat di kamar, dia iseng ingin tahu apa isi ponsel anak gadisnya ini.
Untungnya Nadia tak pernah macam-macam. Dia tak punya koleksi video-video dewasa seperti teman-temannya.
Karena setiap kali di grup chatnya ada kiriman video tak senonoh, Nadia langsung menghapus percakapan tanpa membuka video itu.
Nadia pun tak punya foto-foto syur, yang biasa dilakukan wanita seusianya.
Foto mesra dengan pasanganpun, Nadia tak punya. Karena lelaki yang dekat dengannya, cuma Surya.
Dan Surya type lelaki yang tak begitu suka foto. Meski ada beberapa foto mereka berselfie.
Tapi sepertinya itu tak jadi masalah buat Haris. Haris pun tak membaca chat Nadia dengan teman-temannya.
Haris hanya membuka beberapa file yang tersimpan di ponsel Nadia saja. Karena kebetulan Nadia tak pernah mengunci ponselnya.
"Iya, Pa. Makasih," ucap Nadia.
Haris mengangguk.
Susi pun bernafas dengan lega. Dia pikir Haris akan kembali memarahi Nadia.
"Pa. Nadia kepingin pindah kuliahnya. Nadia ingin kuliah di tempat kak Nando," ucap Nadia.
Entah kenapa, tiba-tiba muncul keinginan itu pada Nadia. Dia ingin menghindari Surya, Viona dan semuanya.
Termasuk Susi yang selalu memaksanya dekat dengan keluarga Surya.
Haris dan Susi sangat terkejut mendengarnya. Mereka tak menyangka Nadia punya keinginan seperti itu.
__ADS_1
"Boleh kan, Pa?"