PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 113 NADIA VS VIONA


__ADS_3

Sebulan kemudian, dosen di kelas Nadia tak datang. Semua mahasiswa bubar dan pergi dengan urusannya masing-masing.


"Vi, jalan yuk," ajak Nadia.


"Kemana?" tanya Viona yang sudah bersiap pulang.


"Ke mal?" Nadia juga belum punya tujuan. Hanya lagi kepingin jalan aja.


"Boleh. Surya gimana?" tanya Viona.


"Dia kuliah sampai sore. Amanlah. Yuk," ajak Nadia lagi.


Tanpa pikir panjang, Viona pun mengangguk.


Kemarin Viona baru saja berkabar dengan Putra. Putra sekarang sudah punya ponsel lagi. Meski dia hanya mengaktifkan saat kapal bersandar.


Dan dia bisa bertukar kabar dengan Viona, yang sudah resmi jadi kekasihnya. Bahkan Putra sudah meminta Viona pada orang tuanya.


Lamaran tidak resmi, karena Putra belum bisa membawa kedua orang tuanya.


Putra berjanji pada saatnya nanti, dia akan membawa keluarganya untuk meminang Viona.


Dan kemarin, Putra juga mengirimkan uang untuk Viona.


Gunakan untuk keperluan kamu, Viona. Itu ucapan Putra kemarin.


Putra sadar, kalau cantik itu butuh biaya. Dan Putra ingin Viona selalu menjaga kecantikannya.


Tentu saja dengan harapan, suatu saat mereka ketamu lagi, Viona akan semakin cantik.


Meskipun Putra berjanji, setiap kapal bersandar, dia akan menghubungi Viona. Video call, agar dia bisa menikmati kecantikan Viona walaupun hanya dari layar ponsel.


"Kamu enggak bawa motor sendiri?" tanya Viona.


"Enggak. Kamu tau sendiri kan, bagaimana Surya itu. Katanya pulang kuliah, aku naik taksi online aja," jawab Nadia.


"Oke. Kalau begitu kita naik taksi online juga ke mal-nya," ucap Viona.


Tumben, Viona ngajakin naik taksi online? Biasanya dia lebih suka naik angkot. Biar irit ongkos katanya. Batin Nadia.


"Oke. Aku pesan dulu." Nadia memesan taksi online lewat aplikasi di ponselnya.


"Biar nanti aku yang bayar, Nad," ucap Viona.


"Enggak usah. Aku ada dana kok. Enggak perlu bayar cash," sahut Nadia.


Setiap bulan, Susi selalu mengisi saldo dana online milik Nadia. Untuk kebutuhan mendadak, kalau lagi tidak pegang uang cash.


Walaupun ujung-ujungnya dipakai Nadia buat belanja online. Karena jarang sekali dipakai oleh Nadia.


Surya selalu siap mengantarnya kemanapun. Jadi dana itu kadang menumpuk.

__ADS_1


"Ya udah. Nanti aku traktir makan aja," ucap Viona.


"Wah, lagi banyak uang nih?" ledek Nadia.


"Lagi ada rejeki aja. Sekali-kali, boleh dong aku traktir kamu," sahut Viona.


"Sering-sering juga boleh. Malah seneng aku. Hahaha." Nadia tergelak.


Tidak mungkinlah, Nadia minta sering ditraktir Viona. Nadia tahu seberapa banyak orang tua Viona memberikan uang bulanan.


Bisa jebol kalau sering-sering mentraktirnya. Dan biasanya juga Nadia yang sering mentraktir Viona. Meski hanya makanan dan minuman di kantin kampus.


Taksi online yang dipesan Nadia datang.


"Tuh, mobilnya udah datang." Nadia menunjuk sebuah mobil berwarna putih.


Mereka pun segera naik.


"Aah...! Enak banget. Adem!" ucap Viona setelah mereka masuk mobil.


"Iya. Di luar tadi, panasnya minta ampun," sahut Nadia.


"Untung kita enggak naik angkot, ya. Pasti panas dan desak-desakan," ucap Viona.


Dalam hati Viona berpikir, memang enak jadi orang kaya. Tak perlu berpanas-panasan apalagi desak-desakan.


Enggak seperti dirinya, yang kadang terpaksa naik angkot atau ojek online. Bahkan tak jarang mesti jalan kaki.


Viona tak bisa menuntut banyak pada kedua orang tuanya. Baginya, bisa kuliah dan tinggal di tempat kos yang layak saja, sudah lebih dari cukup.


Dan untuk perawatan wajahnya, Viona harus menghemat biaya makannya.


Kadang Viona hanya makan siang saja. Malamnya dia hanya makan biscuit atau roti bungkus.


Viona hampir tak pernah makan pagi. Paling minum susu saja di kamar kosnya.


Semua demi bisa merawat wajahnya yang tidak murah. Meskipun bukan yang mahal juga.


Termasuk juga membeli pakaian bermerk. Walaupun kadang harus berburu discount.


Tapi meski begitu, Viona tak tertarik dengan barang thrift. Baginya, barang thrift itu bekas dipakai orang.


Viona yang sangat menjaga penampilannya, tak mau tertular penyakit kulit dari barang yang dipakainya.


Sampai di depan mal, mereka turun dan segera berlari masuk ke mal. Cuaca yang panas dan menyengat, membuat mereka takut kulitnya jadi hitam.


Terutama Nadia, yang memiliki kulit sawo matang. Dia tak mau jadi semakin pekat warna coklatnya.


Jalan-jalan di mal adalah pilihan tepat untuk mereka. Bisa cuci mata, tanpa harus khawatir tersengat matahari.


Padahal dulu Nadia lebih suka dengan tempat outdoor. Tapi sekarang dia bosan. Karena hampir semua lokasi udah didatanginya.

__ADS_1


Kedua orang tuanya sering mengajak ke villa milik mereka di daerah pegunungan.


"Eh, Nad. Anterin aku beli baju, yuk. Kamu nanti pilihin model yang bagus," pinta Viona.


"Kok aku yang pilih? Kan kamu yang hobinya beli baju. Aku sih jarang beli. Nih, liat. Bajuku made in lama. Hahaha," Nadia tertawa sambil menunjuk pakaiannya.


Nadia memang jarang membeli baju baru. Biasanya Susi yang membelikannya kalau dia jalan ke mal bareng teman-temannya.


Nadia tinggal pakai saja. Susi sudah hafal ukuran Nadia. Mulai dari ukuran baju, celana, sepatu sampai dalaman.


"Ya, kasih masukan lah. Siapa tau menurutmu kurang cocok buat aku," ucap Viona.


"Kayaknya kamu pakai baju apa aja, pasti cocok deh, Vi," sahut Nadia.


Selain cantik, Viona juga punya body seksi. Enak dipandang. Terutama bagi kalangan lelaki.


Jauh dibandingkan Nadia yang terkesan kerempeng. Yang demen cuma Surya saja. Dan seorang lelaki di masa lalu Nadia. Dewa.


"Bisa aja kamu. Ayo masuk." Viona menarik tangan Nadia.


Lalu Viona mulai sibuk memilih. Dia sangat detail kalau pilih barang. Bukan cuma model dan warnanya saja. Jenis bahannya pun jadi pertimbangan.


Dan yang terakhir, tentu saja harganya.


Walaupun sekarang Viona punya banyak saldo di kartu debitnya, tapi dia tak mau asal beli.


Viona mau uangnya bisa untuk beli macam-macam barang keinginannya.


"Ini bagus, Vi." Nadia menunjuk sebuah baju terusan. Sangat cocok dipakai saat hangout.


"Harganya mehong," sahut Viona.


"Tapi modelnya bagus, Vi. Adem lagi bahannya." Nadia sudah seperti SPG yang lagi menawarkan dagangannya.


"Enggak ah. Aku ini aja." Viona mengambil satu baju yang harganya sudah didiscount lima puluh persen.


"Ya udah, aku ambil kalau kamu enggak mau."


Akhirnya baju itu diambil oleh Nadia. Dengan enteng Nadia membayarnya. Meski harganya dua kali lipat harga baju pilihan Viona.


Viona hanya menghela nafas saja. Kepingin sih, beli baju itu. Tapi nanti dia tidak bisa beli yang lainnya.


Viona tak seberuntung Nadia, yang tinggal gesek tanpa memikirkan berapa saldo di kartunya.


Sedangkan Viona, dia mesti mengingat-ingat tinggal berapa saldonya setelah dia menggesek tadi.


Di toko sepatu pun, mereka melakukan hal yang sama. Nadia yang tergoda dengan satu model sepatu, langsung saja menggeseknya.


Orang tuanya tak akan marah. Karena jarang sekali Nadia belanja dan memilih sendiri.


Viona kembali hanya bisa menghela nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2