PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 185 KELUPAAN


__ADS_3

Doni dan Maria kembali ke meja semula. Mereka pasang wajah biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa.


Nadia menatap wajah Doni. Matanya sedikit menyipit. Memperhatikan benar-benar mulut Doni yang terlihat belepotan.


Nadia pun menatap wajah Maria. Lipstiknya sudah tak semenor tadi.


Kayaknya lipstik wanita ini udah pindah ke bibir Doni. Katanya ibu tiri, tapi kok?


Atau jangan-jangan, mereka...?


Banyak tanya di kepala Nadia.


Lalu Nadia terkikik. Dia berusaha menahan tawanya, tapi lolos juga dari mulutnya.


"Ada apa, Nad?" tanya Doni.


"Enggak apa-apa," jawab Nadia. Lalu menundukan wajahnya, berusaha menyembunyikan tawanya.


"Kamu kenapa?" tanya Susi yang duduk di dekat Nadia, pelan.


Nadia membisiki Susi.


Hah....!


Susi terperangah mendengarnya. Lalu spontan menatap Doni dan Maria bergantian.


Susi menghela nafasnya.


Dasar anak kurang waras. Istri bapaknya, diembat juga. Batin Susi.


Dan karena Susi semakin merasa gerah dengan suasana yang tak menyenangkan, juga jijik melihat mulut Doni yang belepotan lipstik, Susi menyenggol tangan Haris.


"Pa. Kita pulang yuk," ajak Susi pelan.


Tak biasanya Susi mengajak pulang saat diajak ketemuan dengan relasi Haris.


Haris yang juga jengah dengan obrolan yang menurutnya hanya buang-buang waktunya saja, memgangguk setuju.


"Pak Tedi. Sepertinya kami masih punya acara lain. Obrolan kita lanjutkan kapan-kapan saja. Kami permisi, Pak," ucap Haris dengan sopan.


"Lho, kok pulang?" tanya Tedi.


"Kami masih ada acara di tempat lain. Ayo, Ma. Nanti keburu malam." Haris yang sudah berdiri, mengajak Susi segera berdiri juga.


Tanpa disuruh dua kali, Susi dan Nadia berdiri. Lalu menyalami mereka satu persatu.


"Mari. Kami duluan," ucap Susi dengan sopan. Tangannya menggandeng tangan Nadia.


"Nad. Kamu pulang dengan aku aja, ya," ucap Doni.


"Terima kasih, Don. Aku sama mama dan papa aja. Duluan, ya," sahut Nadia.


Idih! Jijik amat aku jalan ama dia lagi. Batin Nadia.


Seperti tadi saat berangkat, Haris berjalan di depan. Susi dan Nadia mengikuti dari belakang.


Mata Haris menangkap wajah Toni dan Rahma. Lalu Haris menoleh pada Susi.


"Ma. Itu bukannya orang tua Surya?" tanya Haris sambil menghentikan langkahnya.


Susi pun melihat ke arah yang ditunjuk Haris.


"Iya. Kayaknya mereka juga lagi ada acara keluarga, Pa," jawab Susi.

__ADS_1


"Ya udah, kita tetap pulang. Jangan ganggu acara mereka," ucap Haris.


Kalau dulu saat Nadia masih akrab dengan Surya, mereka bakalan cipika cipiki. Tapi sekarang, Haris merasa malu dengan sikap Nadia yang angin-anginan.


Haris dan Susi hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah mereka. Karena Rahma dan Toni pun melihat mereka.


Haris dan keluarganya terus melangkah keluar.


"Kayaknya Surya enggak ikut ya, Nad?" tanya Susi pada Nadia.


"Entahlah, Ma." Nadia hanya mengedikan bahunya.


Nadia pura-pura tidak tahu. Padahal dia sempat melihat Surya, tadi.


Sampai di parkiran, ternyata mobil mereka bersebelahan.


Hhmm. Nadia hanya menghela nafasnya saja.


Kenapa juga, mobil harus bersebelahan begini? Kayak kurang luas saja parkirannya. Batin Nadia.


Lalu mereka pun naik ke mobil.


"Pa. Mama laper," ucap Susi setelah mobil jalan.


"Siapa suruh tadi Mama makannya sedikit?" ledek Haris.


Padahal dia sendiri juga sangat lapar. Maklum, dia sengaja mengosongkan perutnya. Karena pikir Haris, bakal ditraktir makan konglomerat kaya. Tidak enak kalau nantinya menolak makanan yang disediakan.


"Ih! Masa Mama disuruh makan makanan sisa mereka, sih?" sahut Susi dengan sikap jijik.


Haris tergelak mendengarnya.


Haris sebenarnya juga merasa jijik. Tapi demi menghargai tuan rumahnya, Haris makan juga meski sedikit.


"Papa tuh, ngetawain mereka. Kayak enggak pernah ngundang orang aja. Pesan makanannya sedikit, malah diabisin sendiri. Dimana otaknya?"


Haris menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kayaknya istri mudanya kampungan banget ya, Pa," komentar Susi.


"Ya begitulah. Papa juga baru kenal mereka. Dari dulu cuma denger-denger nama besar pak Tedi. Ternyata cuma begitu aja!" Haris mengecilkan Tedi.


Menurut Haris, apa yang dilihatnya tentang Tedi, diluar ekspektasinya.


"Tadi kalian kenapa bisik-bisik. Ngomongin apaan?" tanya Haris kepo.


Susi menoleh ke belakang, menatap Nadia. Lalu mereka tertawa bersama.


Haris makin kepo saja.


"Hey, kalian malah ketawa. Ayo dong, Papa diceritain," pinta Haris.


"Papa kepo...!" seru Nadia dan Susi berbarengan.


Tentu saja suara cempreng keduanya, membuat telinga Haris berdenging.


Haris langsung menempelkan kepalan tangannya di telinga sebelah kiri dan berpindah ke telinga sebelah kanan.


"Tadi itu, apa Nad?" Susi meminta Nadia yang menceritakannya.


Nadia pun cerita dengan berapi-api. Sampai Nadia melupakan tentang Surya yang dari tadi bermain di otaknya.


"Hah? Yang bener kamu, Nad?" Haris tak percaya.

__ADS_1


Haris tak begitu memperhatikan Doni. Apalagi Maria.


Haris malah merasa risi pada Maria yang sering mencuri-curi pandang padanya.


Dan sepertinya Susi tidak tahu. Buktinya, Susi tidak membahasnya.


"Beneran, Pa. Masa Nadia bohong, sih?"


"Terus kalau memang benar begitu, bagaimana urusannya?" Haris merasa tak mengerti dengan cara hidup orang-orang yang tak bermoral seperti itu.


"Mana Mama tau, Pa. Atau mungkin mereka tidur satu ranjang? Tree some?" Susi keceplosan. Dan langsung menutup mulutnya.


Susi lupa kalau di jok belakangnya, ada Nadia. Anaknya yang menurut Susi masih gadis.


Haris hanya melirik ke arah Susi. Haris tak mau membahasnya. Khawatir malah jadi panjang, dan Nadia tahu apa itu bermain bertiga.


"Nad! Kamu masih minat jadi pacarnya Doni?" ledek Susi.


"Ih, apaan sih Mama! Najis deh!" umpat Nadia.


"Hush! Enggak boleh bilang begitu!" sergah Susi.


Meskipun mereka biasa kalau ngomong seenaknya, tapi Susi tak pernah mengajarkan anak-anaknya bicara kasar.


"Lagian, Mama. Kayak enggak ada cowok lain aja!" Nadia memalingkan wajahnya ke jendela mobil.


Memangnya kamu bisa melihat lelaki lain? Yang ada di otak kamu kan cuma Dewa. Surya yang gantengnya kelewatan aja, sampai enggak pernah kamu lirik. Batin Susi dengan kesal.


"Papa juga enggak bakalan setuju, Nadia jalan sama Doni. Tapi kalian satu kelas, ya?" tanya Haris pada Nadia.


"Makanya Nadia pindah aja kuliahnya, Pa."


Nadia memanfaatkan kesempatan untuk meminta lagi pindah kuliah.


"Sayang, Nadia. Kamu sekarang udah semester berapa? Katanya mau KKN juga. Selesaikan dulu lah. Setelah selesai, kamu bebas mau nerusin kemana aja. Papa siap membiayai," sahut Haris.


Hhmm! Nadia langsung manyun. Dan kembali membuang pandangannya ke luar jendela.


"Bertahan dulu aja, Nad. Sayang, kan. Kamu bakal buang-buang waktu aja." Susi ikut menimpali Haris.


Tak terasa mobil sudah sampai kekomplek perumahan mereka.


"Lho, kok udah nyampe?" tanya Susi.


"Ya sampe lah, Ma. Kan dari tadi kita jalan," sahut Haris.


"Kita enggak jadi makan, dong!" ucap Susi.


"Oh iya! Mama sih, ngomong mulu!" sahut Haris.


"Kok nyalahin, Mama sih?" Susi merajuk.


"Ya udah, enggak jadi nyalahin Mama deh. Terus gimana nih, makannya? Mama punya makanan apa, di rumah?" tanya Haris.


Susi menggeleng.


"Mie instan! Hore! Kita makan mie instan!" Nadia bersorak kegirangan.


Sudah lama sekali dia tidak makan mie instan pakai telur kesukaannya.


"Enggak!" sahut Susi.


Susi paling tak suka kalau anak-anaknya makan mie instan.

__ADS_1


Demi menghindari perdebatan, Haris memutar balik mobilnya. Kembali ke jalan raya, nyari restauran terdekat.


__ADS_2