PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 210 JALAN KELILING KOMPLEK


__ADS_3

Masih flash back.


Mereka bertiga makan seperti tak ada kenyangnya. Terutama Surya dan Dewa. Maklum saja mereka anak laki-laki yang sedang dalam masa pertumbuhan.


Hingga setelah selesai makan, mereka terkapar kekenyangan di atas kursi masing-masing.


"Udah makannya?" tanya Susi. Dia tadi keluar sebentar ke warung bu Nur. Membeli makanan kecil dan minuman dingin, untuk dibawa ke rumah Surya.


Susi selalu tak mau merepotkan. Dia akan selalu ikut membantu membawa makanan.


"Udah, Ma," jawab Nadia.


Susi melihat isi meja makan. Dan matanya terbelalak melihat makanan di atasnya nyaris ludes.


Bukan sayang pada makanannya, tapi bagaimana dengan perut mereka? Sedangkan setelah ini, mereka mau makan rujak di rumah Surya.


Susi melihat kantong plastik yang dibawanya. Apa perut mereka masih muat untuk menampung ini?


Belum lagi, rujak yang akan dibuat oleh Rahma.


"Kalian jadi ke rumah Surya, kan?" tanya Susi.


Hah...!


Mereka bertiga terkesiap. Mereka lupa kalau diundang makan rujak di rumah Surya.


Mereka pun berpandang-pandangan. Lalu melihat ke perut masing-masing.


Dan dengan wajah memelas, mereka pun mengangguk bersama.


"Ini dibawa. Buat camilan di sana." Susi meletakan bawaannya di atas meja.


"Mama...!" pekik Nadia.


Susi hanya mengangkat bahu dan berlalu dari hadapan mereka.


Nadia membuka kantong plastik itu. Sebenarnya isi kantong plastik itu makanan kesukaan Nadia. Juga ada minuman dingin kesukaan mereka.


Tapi masalahnya, perut mereka sudah sangat penuh. Sepertinya tak akan bisa menampung banyak makanan lagi.


"Gimana ini, Sur? Kalau kita enggak ke rumah kamu, Tante Rahma pasti nyusulin kita di sini," tanya Nadia.


"Ya udah. Kita ke sana," sahut Dewa.


Surya berdiri dan menepuk-nepuk perutnya. Dipikirnya kalau dia tepuk-tepuk perut, isinya bakalan lebih padat lagi dan bisa memberi tempat buat makanan lainnya.


Mereka bisa mengabaikan makanan dan minuman yang dibeli Susi. Tapi kalau rujak yang dibikin oleh Rahma, jelas mereka tak bisa menolaknya.


Karena Rahma pasti akan sangat kecewa.


Mereka pun bersiap-siap ke rumah Surya. Susi menatap mereka dengan senyuman.


Dasar anak-anak. Kalau makan enggak dikira-kira. Giliran kekenyangan, kebingungan.


"Gimana kalau kita lewat jalan memutar aja?" tanya Surya sambil mengenakan sepatunya.


"Kan jauh, Surya," jawab Nadia.


"Justru itu. Biar energi kita terkuras dan kita laper lagi. Jadi kan bisa makan rujaknya," sahut Surya.


"Boleh juga ide kamu, Sur. Nadia kamu aku gendong ya, biar aku cepet laper lagi," ucap Dewa.


"Enak aja. Enggak! Entar aku jatuh!" tolak Nadia.


Susi yang mendengarnya terkekeh sambil menggelengkan kepala.


Mereka itu lucu banget. Bikin kepingin ketawa aja. Susi benar-benar menahan tawanya. Hanya terkekeh saja.


"Ya udah, kita jalannya muter." Nadia akhirnya mengalah.

__ADS_1


Meskipun males banget jalan kaki dengan kondisi perut penuh.


Merekapun berjalan mengelilingi komplek. Dan akan sampai ke rumah Surya dari arah yang berbeda.


Cuaca masih sangat terik. Jam masih meunjukan pukul dua siang lebih. Kalau kata orang, matahari lagi lucu-lucunya.


"Iih, panas banget!" Seperti biasanya, Nadia selalu saja mengeluh dengan nada manja.


"Kenapa tadj enggak bawa payung?" tanya Dewa.


"Kan enggak ujan." Dengan entengnya, Nadia menjawab.


"Enggak harus hujan juga, kan. Payung juga bisa dipakai kalau kita kepanasan," sahut Dewa.


Surya membuka tasnya. Dia ingat kalau masih menyimpan topi sekolah di tasnya.


"Nih, pake!" Surya memberikannya pada Nadia.


Karena Nadia adalah wanita satu-satunya, tiga sahabat itu selalu menomorsatukan Nadia.


"Iih, masa aku udah pake baju rumahan, disuruh pake topi sekolah. Enggak matching tau!" tolak Nadia.


"Milih enggak matching atau kepanasan?" tanya Surya.


Dengan kesal, Nadia meraih topi itu dan memakainya. Meski tetap saja badannya kepanasan, tapi setidaknya kepala Nadia ikutan panas.


"Aku capek," keluh Nadia lagi.


Mereka baru berjalan setengah putaran. Komplek perumahan itu ternyata sangat luas.


Mereka baru menyadarinya sekarang. Setelah berjalan menyusuri jalan pinggiran komplek.


"Mau aku gendong?" Surya menepuk bahunya.


Badan Surya lebih besar daripada Dewa. Mungkin saja Nadia tak menolaknya karena tidak khawatir jatuh.


Nadia langsung merengut.


"Mau minum?" tanya Surya.


Nadia memgangguk. Lalu dia ingat dengan minuman di kantong plastik yang dikasih mamanya.


"Kantong plastiknya mana?" tanya Nadia.


Mereka berpandang-pandangan.


"Tadi siapa yang bawa keluar?" tanya Dewa.


"Aku!" Nadia mengangkat tangannya.


"Terus sekarang mana?" tanya Dewa lagi.


Nadia diam. Dia berusaha mengingat-ingat dimana dia letakan kantong plastiknya.


"Tadi aku taruh dekat pintu. Waktu nungguin kalian make sepatu. Hehehe," jawab Nadia sambil nyengir.


Dewa dan Surya menepuk dahinya.


"Mmm. Ya udah. Silakan tahan hausnya sampai di rumah Surya," ucap Dewa.


Tentu saja mereka tak ada yang mau balik lagi ke rumah Nadia. Karena sudah lumayan jauh.


Surya merogoh kantong celananya. Dia masih punya uang ĺima ribuan.


"Tuh, ada warung. Beli minuman sana!" Surya memberikan sisa uang sakunya pada Nadia.


Biasanya Nadia selalu bawa uang lebih. Tapi disimpannya di kantong tas sekolahnya.


Dengan sigap, Nadia mengambilnya. Lalu berlari membeli minuman dingin.

__ADS_1


"Bukain!" Nadia mengulurkan botol minuman dinginnya.


Surya yang meraihnya. Karena di antara keduanya, Surya yang lebih sabar menghadapi Nadia.


"Nih!" Surya memberikannya lagi setelah membuka tutupnya.


Nadia meminum hampir setengahnya. Surya dan Dewa hanya melihat sambil menelan ludah.


Cleguk.


Ah!


Nadia selesai minum. Lalu mengulurkan sisanya.


"Nih. Siapa yang mau?" tanya Nadia.


Dengan sigap Dewa meraihnya.


Glek. Glek. Glek.


Cukup tiga tegukan. Dan Dewa masih menyisakan buat Surya.


Surya pun menghabiskannya. Lalu mereka kembali tersenyum lebar. Badan mereka terasa kembali bertenaga.


Dan mereka pun melanjutkan perjalanan dengan riang, sambil bercanda seperti biasanya.


Sampai di rumah Surya, keringat sudah membasahi badan mereka.


"Ah...akhirnya sampai juga." Nadia langsung duduk di lantai teras sambil selonjoran.


"Kenapa? Pegel?" tanya Surya.


"Banget!" jawab Nadia.


Dengan telaten Surya memijat kaki Nadia. Dewa duduk di kursi sambil meluruskan kakinya.


"Udah keliling kompleknya?" tanya Rahma.


"Kok Mama tau?" tanya Surya.


"Taulah. Nih!" Rahma memperlihatkan kantong plastik yang tadi ditinggalkan Nadia di dekat pintu.


"Lho, kok ada di sini, Tante?" tanya Nadia.


"Mama kamu yang nganterin ke sini," jawab Rahma.


"Pasti mama yang bilang kalau kita keliling komplek dulu," ucap Nadia.


Rahma mengangguk sambil tersenyum. Sikap mereka benar-benar sangat aneh dan lucu.


"Kalau udah ilang capeknya, kita makan rujaknya. Ayo!" ajak Rahma.


Sebenarnya mereka lebih membutuhkan minuman daripada makanan. Tapi apa daya, mereka tak tega menolak ajakan Rahma.


Dengan langkah gontai mereka masuk ke dalam rumah Surya.


Ternyata berjalan kaki, bukan membuat mereka lapar. Tapi hanya membuat mereka haus.


Saat itulah, pertama kali tiga bersahabat itu makan rujak.


"Huh hah...! Pedas...!"


Rahma tadi kebanyakan memberi cabenya.


Dengan sigap, Surya mengambilkan minuman untuk Nadia.


Selalu Surya yang lebih peka pada Nadia. Tapi kenapa pada akhirnya, hati Nadia malah tertambat pada Dewa yang cuek?


Flash back off.

__ADS_1


__ADS_2