PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 198 TERNYATA ENAK


__ADS_3

"Kok bisa samaan, ya?" tanya bu Nur.


"Cuma kebetulan aja, Bu Nur. Kita kan enggak janjian," jawab Sinta. Lalu buru-buru kembali ke mobil.


Rahma memperhatikan Sinta terus dari dalam mobilnya. Dia melihat jajanan yang dibeli Sinta. Mau protes tapi malas turunnya.


Sinta masuk ke mobil dengan perasaan senang. Keinginannya makan es krim terpenuhi.


Rahma pun mulai melajukan lagi mobilnya.


"Ngapain sih, kamu beli jajanan begituan?" tanya Rahma.


Rahma pun tak beda dengan Susi. Dari dulu selalu menjaga pola makan kedua anaknya. Hanya bedanya, Rahma yang hobi masak dari dulu, seringnya membuatkan sendiri jajanan untuk anak-anaknya.


"Ini?" Sinta memperlihatkan es krim yang lagi dimakannya.


"Bukan itu. Ini!" Rahma menunjuk kantong plastik transparan yang berisi jajanan anak-anak.


"Kepingin aja. Sekali-kali enggak apa-apa kan, Ma," sahut Sinta.


"Memang rasanya enak?" tanya Susi.


"Enggak tau. Sinta juga baru kali ini beli. Tadi liat, terus kepingin," jawab Sinta.


"Kamu itu. Kayak anak kecil aja. Jangan dibiasain!" ucap Rahma.


"Iya, Ma. Baru kali ini, kok," sahut Sinta sambil terus menjilati es krimnya.


"Eh, Ma. Kata bu Nur, tadi kak Nadia juga beli jajanan dan es krim yang sama kayak Sinta ini," ucap Sinta.


"Nadia? Beli jajanan kayak kamu ini?" tanya Rahma.


Rahma pun tahunya anak-anak Susi sangat dijaga pola makannya.


"Iya. Dikiranya bu Nur, kita janjian. Kan aneh, bisa samaan gitu," jawab Sinta.


"Ah, itu cuma kebetulan aja. Kebetulan sama-sama kepingin jajanan warung. Makanan gituan aja dipinginin. Enak juga enggak!" ucap Rahma.


Mungkin karena didikan dari orang tuanya dulu, Rahma tak suka dengan jajanan anak-anak. Dan dia terapkan juga ke anak-anaknya.


"Yogi nanti dateng juga kan?" tanya Rahma.


"Iya. Mama Novia juga mau kesana," jawab Sinta.


"Oke. Biar soal baju pengantin bisa beres hari ini. Masih banyak yang harus Mama beresin. Nanti sore Mama juga janji mau ke tempat catering. Moga-moga Novia mau ikut juga. Biar bisa sekalian icip-icip," ucap Rahma.


"Memangnya harus pake acara icip-icip juga?" tanya Sinta tak mengerti. Dia pikir, tinggal pilih menu, liat gambar, bayar dan selesai.


"Ya iyalah. Kalau rasa masakannya kurang enak, kan kita juga yang malu. Dikiranya kita enggak punya selera rasa yang bagus," jawab Rahma.


Sinta mengangguk saja. Nurut aja apa kata Rahma. Toh, diprotes juga percuma. Kalau Rahma ngambeg dan Sinta disuruh ngurus semuanya sendiri kan repot juga.

__ADS_1


Malah bisa-bisa berantakan semua acaranya.


Selama ini Sinta tak pernah berpikir, akan seribet ini mengurus acara pernikahan.


Menurut Sinta, serahkan saja semuanya pada wedding organizer. Kitanya tinggal duduk manis.


Tapi namanya saja Rahma, semuanya harus sempurna. Dia rela sibuk untuk mengawasi kerja WO yang telah ditunjuknya.


Sementara Nadia sampai ke rumahnya. Dia mulai memakan es krimnya sendirian sambil menonton film kartun. Film yang sangat digemarinya dari dulu.


Mbok Nah yang sedang mencuci dan menyetrika, bolak balik turun buat mengawasi Nadia. Seperti perintah majikannya.


"Mbok Nah, mau?" Nadia menawari es krim yang dibelinya. Nadia tadi beli cukup banyak. Kalau cuma diambil satu oleh mbok Nah, tak akan membuatnya kurang.


"Boleh?" tanya mbok Nah.


Nadia mengangguk. Lalu mbok Nah mengambil satu.


Sudah lama juga mbok Nah tak makan es krim. Dan gigi-gigi tuanya terasa ngilu begitu kena dinginnya es krim.


"Hahaha." Nadia tertawa terbahak-bahak melihat mimik mbok Nah yang lucu.


"Dingin banget," ucap mbok Nah.


"Ya iyalah, Mbok. Namanya juga es krim. Kalau enggak dingin ya leleh. Enggak enak lagi," sahut Nadia.


Setelah es krim yang dimakan mbok Nah habis, Nadia menawarinya makanan kecil.


"Ternyata enak juga ya, Non. Pantesan aja cucu-cucu Mbok Nah pada suka. Kalau Mbok Nah bilang mau ke sana, pasti pada minta dibeliin," ucap mbok Nah.


"Sekali-kali suruh mereka main ke sini, Mbok. Nanti aku beliin yang banyak," ucap Nadia.


Setelah kakaknya kuliah di luar kota, Nadia merasa seperti anak tunggal. Tidak ada teman yang bisa diajaknya bercanda.


"Rumah mereka kan jauh, Non. Anak-anak Mbok Nah juga anaknya banyak. Repot kalau pergi jauh-jauh," sahut mbok Nah.


Nadia mengangguk-angguk.


Selama ikut di keluarga Nadia, belum pernah sekalipun keluarga mbok Nah datang berkunjung. Hanya suami mbok Nah yang beberapa kali datang, sebelum meninggal.


Itu juga sudah lama sekali. Bahkan Nadia sudah lupa dengan wajahnya.


Setelah makan, mbok Nah kembali ke atas. Pekerjaannya di sana belum selesai.


Nadia tertidur di ruang tengah. Bungkus-bungkus makanan dan es krim, masih berserakan di atas meja.


Siang harinya Susi pulang. Dia tak jadi bikin kue di rumah Siska. Karena mereka malah kedatangan salah satu teman sekolah juga. Hingga keasikan ngobrol.


Sampai di rumah, Susi melihat Nadia yang tertidur.


"Ya ampun, ini anak! Mager amat sih? Masa tidur di sini!" Susi memperhatikan atas meja.

__ADS_1


"Ini juga apaan?" Susi mengambil bungkus-bungkus jajanan anak-anak.


"Makanan kayak gini dibeli. Banyak banget, lagi. Mana bekasnya enggak diberesin. Hhh!" Susi gemas melihatnya.


"Mbok...!" panggil Susi.


Mbok Nah yang lagi masak di dapur, segera menghampiri.


"Ibu udah pulang?" Pertanyaan yang tak butuh jawaban, sebenarnya. Karena jelas sudah pulang, orangnya sudah ada di rumah.


"Lagi ngapain?" tanya Susi.


"Masak, Bu," jawab mbok Nah.


"Hhh! Ya udah. Terusin sana!" ucap Susi.


Mbok Nah pun kembali ke dapur.


Susi tak tega menyuruh mbok Nah membersihkan sampah-sampahnya Nadia.


Akhirnya dia sendiri yang membersihkannya.


"Apa aku nambah pembantu aja, ya? Buat bantu kerjaannya mbok Nah. Biar dia enggak kecapekan. Kasihan juga dia udah tua," gumam Susi sendirian.


Susi membereskan semua sampah-sampahnya.


"Biar nanti mbok Nah yang aku suruh nyari pembantu lagi. Kalau pilihannya sendiri kan enak. Dia bisa cocok," gumam Susi lagi.


Nadia membuka matanya.


"Mama udah pulang?"


Sebuah pertanyaan yang sama untuk Susi.


"Udah. Kamu gimana sih, makan jajanan kok bungkusnya emggak dibuang?" gerutu Susi.


"Lupa, Ma. Tadi Nadia juga ketiduran," jawab Nadia.


"Jangan biasakan begitu. Nanti semutnya pada dateng. Emang kamu mau, tidur dikerubuti semut?" tanya Susi.


Nadia menggeleng.


"Lagian ngapain sih kamu, jajanan kayak gitu dibeli? Di kulkas kan banyak makanan. Tuh, di lemari makan juga banyak!" Susi menunjuk ke lemari makan.


"Nadia kepinginnya beli di warungnya bu Nur, Ma," sahut Nadia.


"Itu kan enggak baik buat kesehatan, Nadia," ucap Susi.


"Kan enggak tiap hari, Mama!" sahut Nadia.


"Hhh! Kamu ini ngeyelan! Susah dibilangin!" Susi pergi dan masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Nadia kembali memejamkan matanya. Matanya serasa masih lengket.


__ADS_2