
Surya langsung membekap mulut Nadia. Lengkingannya benar-benar memekakan telinga.
"Hhppfftt!"
Beberapa orang yang lagi makan di situ, menoleh. Termasuk pemilik warung.
"Malu-maluin, ih!" ucap Surya.
"Bu! Ini suruh keluar, Bu. Berisik!" ucap Surya pada pemilik warung.
Nadia berusaha melepaskan tangan Surya.
"Iih...!" Nadia menepiskan tangan Surya.
"Dia nakal, Bu!" seru Nadia membela diri.
Pemilik warung tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Dasar anak muda, batin ibu pemilik warung.
Pengunjung yang lain pun kembali makan.
"Kamu ngapain sih, pake teriak segala?" tanya Surya pelan.
"Siapa suruh kamu mau nekat?" sahut Nadia.
"Siapa yang nekat? Kalau nekat tuh begini."
Cup.
Surya mencium pipi Nadia. Lalu berdiri.
Nadia bengong, lalu matanya menatap ke sekeliling. Untungnya mereka semua sibuk makan kembali.
"Ayo pulang," ajak Surya.
Nadia pun berdiri dan mengikuti Surya.
"Udah, Bu. Berapa semua?" tanya Surya.
"Sebentar ya, Mas Surya," sahut ibu pemilik warung sambil mulai menghitung.
"Kok, Ibu tau nama saya?" tanya Surya terkejut. Dia merasa tak kenal dengan pemilik warung ini. Dia juga baru sekali ini masuk ke warungnya.
"Kan tadi si enengnya yang bilang," jawab pemilik warung.
"Kamu yang ngasih tau, Nad?" tanya Surya pada Nadia.
"Enggak? Kapan?" Nadia pun bingung. Dia tak merasa memberitahukan nama Surya pada siapapun di sini.
"Tadi waktu si enengnya teriak," sahut ibunya, lalu memberikan nota pada Surya.
"Hii....!" Nadia langsung nyengir.
Surya mengacak rambut Nadia. Dasar Nadia kalau teriak ngalahin toak masjid.
Si ibunya ikut tersenyum. Lalu Surya membayar makanannya dan segera menarik tangan Nadia, keluar dari warung makan itu.
"Besok lagi bawa toak masjid, biar semua orang tau namaku." Surya terus saja ngomel.
Nadia cuma diam. Dia lebih menikmati perjalanan sambil memeluk pinggang Surya dengan erat.
Setelah mengambil motor Nadia di bengkel, Surya mengantar Nadia sampai di rumahnya.
"Aku langsung pulang, ya. Ngantuk," ucap Surya.
__ADS_1
Nadia mengangguk, meskipun dia kepinginnya Surya mampir dan menghabiskan hari bersamanya. Seperti dulu lagi.
Surya memacu lagi motor Yogi, pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumah Nadia.
Susi ternyata melihat Surya mengantar Nadia. Meski tak mampir seperti biasanya, tapi cukup membuat Susi tersenyum.
Nadia masuk ke rumahnya sambil bersenandung dan melangkah riang.
"Duh...senengnya yang baru diantar," ledek Susi.
Nadia menoleh. Ternyata mamanya lagi duduk di kursi pojok ruang tamu.
"Ih, apaan sih, Mama." Nadia tersenyum malu. Lalu menghampiri Susi dan mencium pipinya.
"Kalian udah baikan?" tanya Susi.
Nadia menatap wajah mamanya. Lalu mengangguk.
Susi menarik tangan Nadia biar duduk di sebelahnya.
"Gimana ceritanya? Kasih tau Mama dong," pinta Susi.
"Ih, Mama kepo!" sahut Nadia. Tapi dia duduk juga di sebelah Susi.
"Ayo cerita. Mama kan kepingin tau." Susi terus memaksa.
"Hhmm."
Lalu Nadia menceritakan kajadian tadi pagi sampai akhirnya mereka berbaikan lagi.
Bahkan Nadia menceritakan juga tentang Surya yang menyatakan cinta padanya.
"Hah...! Serius kamu?" tanya Susi tak percaya.
"Iya, Ma. Masa Nadia bohong sih."
"Kalau Nadia menolak, pasti Surya enggak akan ngantar kan, Ma?"
Susi manggut-manggut.
"Nah, gitu dong. Orang itu mencintai yang terlihat. Bukan mancintai bayangan." Susi ingat lagi bagaimana Nadia menolak Surya hanya karena masih menyimpan kenangan bersama Dewa.
"Udah, ah. Jangan ngingetin lagi!" sahut Nadia.
"Iya. Jadikan itu pelajaran. Dan jaga cinta yang udah diberikan Surya untuk kamu. Enggak mudah lho cari lelaki sebaik Surya," ucap Susi.
"Iya, Mama. Nadia akan menjaganya. Kalau perlu Nadia cari satpam biar Surya aman," sahut Nadia.
Dan mereka pun ketawa bersama.
"Ma...Long weekend nanti, Mama ada acara enggak?" tanya Nadia.
"Memangnya kenapa? Kamu mau liburan?" Susi balik bertanya.
"Keluarganya Surya sama keluarganya Yogi katanya mau stay vacation bareng. Boleh enggak kalau Nadia ikut?" tanya Nadia. Dia khawatir mamanya tidak mengijinkan.
"Ya kalau kamu diajak, silakan aja. Mama kayaknya enggak kemana-mana. Kakakmu kan rencananya juga mau pulang. Mungkin besok udah sampai di sini," jawab Susi.
"Kak Nando?" tanya Nadia memastikan.
Nadia lebih suka memanggil kakaknya dengan nama Nando. Sedang kedua orang tuanya, memanggil Rio.
"Iyalah. Memangnya kakakmu ada berapa?"
"Ya, Nadia kan cuma memastikan aja. Wah, kalau Nadia ikut Surya, enggak bisa ketemu sama kak Nando, dong." Nadia galau.
__ADS_1
Sementara Nadia juga sudah kangen banget sama kakaknya yang lama tak pulang. Katanya lagi sibuk menyelesaikan skripsinya.
"Tenang aja, kakakmu lama kok di sininya. Katanya skripsinya udah beres semua. Tinggal nunggu sidang aja," jawab Susi menenangkan hati Nadia.
"Asik....! Ngomong dong dari tadi, Mamaku sayang." Nadia mencium lagi pipi Susi.
"Uluh-uluh, senengnya anak Mama. Habis ditembak, ya?" ledek Susi.
"Mama....!" Nadia mulai mengeluarkan suara cemprengnya.
"Kena mananya?" Susi terus saja meledek Nadia.
"Mama! Nadia teriak, nih!" ancam Nadia.
"Teriak aja. Paling yang malu, kamu sendiri," sahut Susi. Baginya udah biasa mendengar teriakan anaknya ini yang melengking. Karena Susi sendiri kalau lagi kesal, suka teriak juga.
Nadia langsung cemberut.
"Eh, kira-kira, kakakmu di sana udah punya pacar apa belum, ya?" tanya Susi. Dia selalu kepingin tahu soal anak-anaknya.
Rio atau Nando, pernah bilang pada kedua orang tuanya, tak mau pacaran dulu sebelum kuliahnya selesai.
"Tanyain langsung aja, Ma. Gitu aja repot amat!" sahut Nadia.
"Kalau ditanya Mama, mana mau jawab dia," ucap Susi. Maklum anak lelaki. Lebih suka menyimpan semuanya sendiri.
Apalagi Nando tergolong anak yang pendiam dan tertutup. Sebelas dua belas sama Surya.
"Ya nanyanya pake trik dong," sahut Nadia.
"Nanti kamu yang nanya, ya?" pinta Susi.
Nadia mengangguk.
"Atau dia udah pernah cerita sama kamu?" tebak Susi.
"Belum, Mama," sahut Nadia.
"Eh, bentar-bentar. Waktu itu Nadia pernah lihat status whatsapp kak Nando. Dia posting gambar kaya gantungan kunci gitu, pake inisial huruf C."
"Oh, ya? Kapan? Kok Mama enggak pernah lihat?" Susi selalu memantau status whatsapp anak-anaknya.
"Kayaknya setelah Nadia komentarin, terus langsung dihapus deh," jawab Nadia.
"Emang kamu komentar apa?" tanya Susi lagi.
"Iih, Mama kepo banget sih?" Nadia jadi gemas sama Susi.
"Ya Mama kan pingin tau, Nad." Susi mulai merajuk.
"Hhmm. Mulai deh. Kalau enggak salah, Nadia cuma komentar, C siapa tuh? Terus kakak jawab bukan siapa-siapa. Terus dihapus itu statusnya. Enggak tau kenapa," ucap Nadia.
"Ya udah, deh. Semoga itu inisial nama cewek. Pacarnya atau gebetannya, atau calon gebetannya," sahut Susi. Dia khawatir kalau anak pertamanya enggak normal. Sebab dari dulu, malu kalau ketemu cewek.
"Eh, Nad. Surya nembaknya pake cium enggak?" Susi tak mau anaknya kebablasan.
Nadia terkesiap mendengar pertanyaan Susi.
"Heh! Jawab, jangan bengong!"
Nadia langsung berdiri dan lari naik ke kamarnya di lantai dua.
Kini giliran Susi yang bengong.
Waduh! Jangan-jangan....
__ADS_1
"Nadia...!"