PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 120 SURYA MABOK


__ADS_3

"Mana?" tanya Arga. Lalu dia mengikuti arah mata Yogi.


Yogi tak menjawab. Dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Itu Surya kan, Yog?" tanya Arga.


Yogi mengangguk, lalu membawa mobilnya masuk ke area cafe.


Yogi segera turun. Arga juga ikut turun.


"Surya!" panggil Yogi.


Surya yang lagi merasa pusing, hanya mengangkat wajahnya.


Matanya menatap nanar ke arah suara yang memanggil namanya. Dalam hatinya dia merasa itu suara Yogi. Tapi matanya sulit sekali mengenali sosok Yogi, yang hanya seperti bayangan saja.


Yogi berlari mendekati Surya. Bau alkohol menyeruak dari mulut Surya.


"Gila! Mabok lu?" tanya Yogi sambil mencengkeram lengan Surya.


"Kagak! Siapa yang mabok!" jawab Surya.


Gaya bahasa Surya masih seperti tadi, saat dia ngobrol dengan Defa dan minum bareng.


Dan itu membuat Yogi terperanjat. Siapa yang meracuni otak Surya? tanya Yogi dalam hati.


Surya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Yogi. Tapi malah tubuhnya kembali sempoyongan.


"Akh!" Yogi mengacak rambutnya sendiri dengan kesal. Aroma alkohol semakin menusuk.


"Lu abis minum apaan, Surya!" bentak Yogi. Dia merasa tak bisa menerimanya.


"Gue kagak minum apa-apaan. Cuman sedikit doang! Hahaha." Surya tertawa sumbang.


Arga hanya menatapnya. Dengan tatapan heran juga. Karena setahunya Surya tak pernah menyentuh minuman haram itu.


"Kagak minum apa-apa, tapi mabok, lu!" Yogi kembali mencengkeram lengan Surya yang hampir terjatuh.


Surya kembali ingin menepis tangan Yogi. Tapi kali ini cengkeraman Yogi lebih kuat.


"Lepasin! Gue mau pulang!" seru Surya.


"Pulang dalam keadaan mabok? Bisa syok emak lu!" sahut Yogi.


Yogi hafal banget dengan sifat Rahma. Bagaimana bisa melihat anaknya pulang dalam keadaan mabok?


"Kagak! Gue kagak mabok!" seru Surya lagi dengan suara parau.


Howek...!


Tiba-tiba Surya muntah di depan Yogi dan Arga.


Spontan Yogi melepaskan cengkeramannya.


Surya menundukan kepalanya. Dia memuntahkan semua isi perutnya yang terasa bergejolak.


"Nah! Muntah kan, lu!"

__ADS_1


Yogi kembali mendekat. Dia pijat-pijat tengkuk Surya. Surya terus saja memuntahkan isi perutnya.


"Ambilin air putih di mobil gue, Ga!" perintah Yogi, lalu melemparkan kunci mobilnya pada Arga.


Dengan sigap Arga menangkapnya, dan berlari ke mobil Yogi.


"Nih!" Arga memberikan botol air mineral pada Yogi yang sudah dibuka tutupnya.


"Nih! Minum air putih!" Yogi memaksa Surya meminum air mineralnya.


Surya menenggaknya sedikit. Lalu Yogi menyiramkan sisanya ke wajah Surya. Biar Surya sadar.


"Akh! Gila, lu!" seru Surya, lalu mengelap wajahnya.


"Elu yang gila!" sahut Yogi.


Surya merogoh kantong celananya, mengambil kunci motor.


Yogi merebutnya.


"Ga! Lu tolongin gue bisa kagak?" tanya Yogi pada Arga.


"Apaan?" tanya balik Arga.


"Lu bawain motor Surya. Gue bawa dia pulang ke rumah gue. Kagak mungkin juga dia naik motor sendiri. Bisa sampai ke neraka, entar," jawab Yogi.


"Oke, oke. Siniin kuncinya. Gue ikutin mobil lu!" sahut Arga.


Yogi menyerahkan kunci motor Surya pada Arga. Lalu menyeret tangan Surya masuk ke mobilnya.


"Heh...! Gue mau pulang!" ucap Surya sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Gue anterin!" sahut Yogi.


"Gue bisa pulang sendiri!" sahut Surya.


"Kagak! Naik ke mobil gue!" bentak Yogi. Dia membukakan pintu mobilnya dan mendorong tubuh Surya masuk.


Surya yang masih setengah sadar, menurut. Lalu duduk sambil menyandarkan kepalanya yang masih terasa berkunang-kunang.


Yogi berlari memutar. Lalu naik ke mobilnya juga dan segera membawa Surya pergi.


Diliriknya Surya yang sedang memejamkan matanya. Sekarang bukan cuma bau alkohol, tapi aroma muntahan memenuhi mobil Yogi.


Yogi mematikan AC, dan membuka jendela mobilnya.


"Lu kenapa lagi sih, Surya?" tanya Yogi sambil terus menyetir.


Dari spion Yogi bisa melihat Arga mengikutinya dari belakang dengan menaiki motor Surya.


"Kagak apa-apa..." Suara Surya sudah mulai melemah. Mungkin karena isi perutnya yang habis dan juga terpaan angin dari luar mobil.


"Kalau ada masalah, bilang dong ama gue. Gue kan masih sahabat elo, Surya!" ucap Yogi dengan kesal.


Dia kesal karena Surya tak mau menceritakan masalah padanya. Menyimpannya sendiri, dan akhirnya malah salah jalan.


"Kagak ada masalah apa-apa. Gue cuma mau cari tuh si Dewa!" sahut Surya.

__ADS_1


Otaknya yang lagi enggak konek, membuatnya bicara tanpa dipikir lagi.


Matanya tetap terpejam, karena kepalanya terasa sangat pusing.


"Dewa?" tanya Yogi.


Dewa alias Putra? Lelaki yang pernah ditemuinya di pelabuhan? Sahabatnya Surya dan Nadia, yang kini telah menjadi kekasih Viona? Batin Yogi.


"Iya. Gue mau cari tuh orang di laut! Gue mau ceburin dia ke laut, biar mati! Hahaha." Surya tertawa keras dengan nada sumbang.


Gila nih orang! Kriminal juga otaknya. Batin Yogi.


"Memangnya Dewa kenapa?" pancing Yogi.


"Nadia....! Nadia....! Dia mau nyariin Dewa!" Tangan Surya menunjuk-nunjuk ke depan, tapi matanya masih saja terpejam.


"Sebelum Nadia ketemu sama Dewa, gue duluan yang akan menemuinya. Dan gue mau cincang-cincang tubuh Dewa, biar jadi makanan paus! Hahaha," lanjut Surya.


Yogi hanya menghela nafasnya. Ngeri juga otak Surya ternyata. Dia berubah jadi sangat kejam.


"Nadia udah tau soal Dewa?" tanya Yogi.


"Iya! Gara-gara si Viona yang goblok itu! Dasar wanita tolol! Dungu!" maki Surya.


Kata-kata makian yang selama ini tak pernah keluar dari mulut Surya, meluncur dengan mulusnya.


"Hah?" Yogi pun terkejut.


Ngapain Viona pake acara ngasih tau Nadia? Mau pamer pacar baru, yang seorang pelaut? Yang badannya udah kayak popeye?


Akh! Yogi mendengus kasar.


"Iya! Dia yang bilang ke Nadia soal Dewa. Goblok kan tuh wanita? Awas aja kalau sampai Nadia benar-benar mencari Dewa! Gue bakal cincang-cincang juga tuh si Viona. Biar mati bareng ama Dewa!" jawab Surya.


Yogi mengedikan bahunya. Dia ngeri mendengar omongan Surya. Omongan yang sudah dipengaruhi alkohol.


"Hhh...! Nadia bakal ketemu Dewa? Lalu mereka menikah? Terus gue gimana, Yogi!" teriak Surya.


"Elu ama gue, Surya!" sahut Yogi.


"Elu ama gue? Elu mau nikahin gue?" tanya Surya sambil tangannya meraba paha Yogi.


Yogi langsung menepiskannya dengan kasar.


"Ih! Najis!"


"Elu itu calon suami adik gue. Sinta. Jadi elu kagak boleh nikahin gue. Ngerti lu?" tanya Surya. Omongannya udah ngelantur kemana-mana.


"Iya ngerti! Lagian siapa juga mau nikahin elu! Dasar otak lu kagak waras!" umpat Yogi.


"Siapa yang kagak waras? Gue waras! Gue sadar! Noh, yang kagak waras si Nadia! Masa orang udah mati mau dikejar!" Surya mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Yogi. Dan mendekatkan wajahnya.


"Udah diem lu, ah! Ganggu konsentrasi gue nyetir aja!" Yogi menjauhkan wajah Surya.


"Takut mati lu, ya? Hahaha!"


"Gue mah kagak takut mati. Tapi gue mau bilang ama Tuhan, gue matinya entar! Kalau mereka udah gue matiin semua! Hahaha."

__ADS_1


"Dasar orang gila! Mati pakai nawar. Lu kira beli cabe di pasar!" gumam Yogi sambil terus melajukan mobil menuju rumahnya, yang sudah tak jauh lagi.


__ADS_2