PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 193 BELUM SIAP PUNYA ANAK


__ADS_3

Malam itu Surya benar-benar tidur di kamar kos Viona. Mereka sama-sama terlelap.


Hingga saat tengah malam, mereka sama-sama membalikan badan dan saling memeluk.


Saat nafas keduanya beradu, Viona membuka matanya. Dia merasa hawa hangat dari depan wajahnya.


Surya pun merasakan hal yang sama dan membuka matanya.


Viona terkesiap dan langsung melepaskan pelukannya. Tapi tidak dengan Surya. Dia malah semakin merekatkan pelukan ke tubuh Viona.


Aroma wangi dari tubuh Viona, membuat Surya enggan melepaskan.


"Lepasin, Sur," ucap Viona pelan.


"Biarkan saja seperti ini, Vi," sahut Surya pelan juga.


"Tapi, Sur..."


Viona tak bisa melanjutkan kalimatnya, karena Surya menahan bibir Viona dengan jarinya.


Surya mengunci tubuh Viona dengan kakinya. Hingga Viona tak bisa bergerak.


"Kamu enggak menyukainya?" tanya Surya.


Viona hanya diam saja. Matanya menatap tajam ke mata Surya. Mata yang dulu sangat digilainya.


Entah sekarang. Tapi Viona merasa masih menyukainya. Tatapan mata yang lembut dan hangat.


"Apa kamu merasa nyaman denganku, Vi?" tanya Surya lagi pelan.


Viona masih belum menjawab.


"Aku merasa sangat nyaman denganmu, Vi. Tapi jangan takut. Aku tak akan melakukannya kalau kamu menolaknya," ucap Surya.


Pikiran Viona melayang pada sosok Putra. Sosok yang sangat dirindukannya, tapi kini semakin jauh.


Viona masih menatap wajah Surya. Semakin lekat. Hingga tanpa sadar wajah Surya sudah semakin dekat.


Dan entah siapa yang memulai, wajah mereka sudah menyatu.


Dingin udara dari AC membuat tubuh mereka semakin merekat. Juga wajah mereka.


Keadaaan sunyi dari tempat kos yang tinggal beberapa orang saja penghuninya, membuat mereka semakin lupa diri.


Dalam pikiran Viona, orang yang sedang mencumbuinya adalah Putra. Dan itu membuat Viona semakin terbuai.


Surya pun semakin lupa diri. Dia lupa kalau Dewa memintanya menjaga Viona. Bukan untuk menjamahnya.


Apalagi....mengambil kesucian Viona.


Ya, sekali lagi Surya mendapatkan kesucian dari seorang anak perawan.


Kesucian yang sedianya akan dipersembahkan Viona untuk Putra. Tapi sudah direnggut oleh Surya. Sahabat Putra.


Bukan terenggut paksa. Karena tak ada penolakan dari Viona. Bahkan Viona menyerahkannya dengan rela.


Entah apa yang ada di otak Viona. Dia hanya tak bisa menahan diri lagi. Cumbuan Surya benar-benar membuainya.


"Surya....!" pekik Viona.


Viona merasakan perih.

__ADS_1


Surya menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Viona. Dan terang saja, membuat sesuatu di bawah sana semakin melesak masuk.


"Maafkan aku, Vi," bisik Surya di telinga Viona.


Air mata Viona mengalir tanpa bisa ditahannya.


Surya mengangkat kepalanya dan menatap wajah Viona.


"Kamu marah padaku?" tanya Surya.


Viona menggeleng. Bagaimana mau marah, salah dia juga yang membiarkan semua itu terjadi.


"Lalu kenapa kamu menangis?" tanya Surya lagi.


Viona mencoba tersenyum. Karena manangispun, tak akan mengembalikan miliknya yang sedang dikoyak Surya.


Surya menyesap air mata Viona dengan bibirnya.


Hhmm. Viona kembali terbuai. Dan akhirnya, gerakan demi gerakan mereka lakukan sampai pagi menjelang.


Mereka berdua terkapar. Tenaga mereka habis terkuras.


Hingga cahaya matahari menelusup diantara tirai jendela kamar Viona. Viona membuka matanya.


Viona memicingkan mata dan menatap wajah yang persis ada di depannya.


Seorang lelaki dewasa yang bersikap seperti bayi yang tertidur lelap setelah puas menyesap ASI dari ibunya.


Viona membelai kepala Surya dengan lembut. Lalu mendekapnya.


"Kamu menginginkannya lagi?" tanya Surya.


"Jangan nakal kamu, Surya. Kamu pikir bisa melakukannya lagi padaku?" Viona pura-pura marah.


"Kamu marah?" tanya Surya.


"Ya. Aku akan marah kalau kamu tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" jawab Viona.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Surya lagi.


Surya tak bisa memutuskannya sendiri. Surya sadar, Viona adalah milik Dewa. Sahabatnya.


"Katakan padaku kalau kamu mau menikahiku secepatnya," jawab Viona.


"Aku? Lalu Dewa?" tanya Surya.


"Kamu yang telah merenggutnya, Surya. Putra tak akan mau menerimaku. Dia akan menganggapku barang second," jawab Viona.


"Oke. Tapi bukankah kamu mencintai Dewa? Bagaimana mungkin kita bisa hidup bersama tanpa cinta dari kamu?" tanya Surya.


Seperti yang Surya tahu, kedua orang tuanya sangat saling mencintai. Dan mereka bisa hidup bahagia sampai sekarang.


"Sekarang aku yang tanya. Apa kamu mencintai aku?" tanya Viona.


Surya diam. Dia pun merasa tidak mencintai Viona. Surya hanya merasa nyaman. Merasa diperhatikan. Karena Viona selalu peduli dan menanyakan hal-hal yang sepele padanya.


"Vi. Kalau kamu ijinkan, aku akan belajar mencintai kamu," ucap Surya.


"Akupun akan belajar mencintai kamu, Surya," balas Viona.


"Lalu cintamu pada Dewa?" tanya Surya.

__ADS_1


"Pelan-pelan aku akan berusaha melupakannya. Bantu aku," pinta Viona.


"Bagaimana caraku membantumu?" tanya Surya lagi.


"Teruslah belajar mencintaiku. Menerima semua kekuranganku. Dan akupun akan melakukan hal yang sama," jawab Viona.


"Tapi kamu harus janji, akan benar-benar meninggalkan kisah kamu dengan Dewa," pinta Surya.


"Ya. Aku janji," sahut Viona.


Surya tersenyum pada Viona. Viona pun membalas senyuman Surya.


"Kita lakukan lagi?" goda Surya.


Di bagian bawah sana, ada yang memaksa mencari liangnya lagi.


"Kok kamu malah ketagihan?" tanya Viona.


"Habisnya kamu enak banget!" bisik Surya di telinga Viona. Dan tanpa menunggu persetujuan Viona, Surya melakukannya lagi.


Viona berusaha menahan tubuh Surya.


"Nanti siang aku akan mengantarkan kamu pulang kampung. Seperti teman-teman kosmu. Tapi bukan untuk minta uang saku KKN. Aku akan melamarmu!" bisik Surya.


"Secepat itu?" tanya Viona.


"Apa kamu mau menunggu sampai perut kamu buncit?" goda Surya.


"Apa maksud kamu, Surya?" Mata Viona terbelalak.


"Kita sudah melakukannya, Viona. Dan aku telah menebarkan benih di rahim kamu. Apa kamu pikir, benihku buruk dan tak bisa jadi anak?" tanya Surya.


Spontan Viona menghempaskan tubuh Surya hingga jatuh ke sampingnya.


"Enggak, Surya! Aku belum mau punya anak dulu. Aku mau selesaikan dulu kuliahku dan bekerja!" jawab Viona.


"Tapi benihku sudah terlanjur masuk ke dalam sana!" ucap Surya.


"Enggak! Aku enggak mau hamil!" sahut Viona.


Surya yang sudah kepalang tanggung, kembali bangkit.


"Jangan, Surya! Udah! Cukup!" Viona kembali menghempaskan tubuh Surya. Lalu Viona turun dari tempat tidurnya dan lari masuk ke kamar mandi.


Viona segera membasuh miliknya sampai merasa benar-benar bersih. Viona berharap, benih dari Surya bisa keluar semua.


Aku tak mau hamil! Aku belum siap punya anak!


Ayo, keluarlah semuanya! Viona terus saja membersihkan dengan selang. Hingga dia merasa perih. Karena ada bagian yang terkoyak di dalam sana.


Surya mendengar suara keran yang menyala terus dari luar. Lalu Surya mengetuk pintu kamar mandi pelan. Agar tak terdengar dari luar kamar Viona.


"Vi. Buka pintunya. Kamu lagi ngapain?" tanya Surya dengan khawatir.


Viona tak mempedulikan panggilan Surya.


"Vi. Jangan sampai aku dobrak pintu ini!" ucap Surya.


Ceklek!


Viona membuka pintunya.

__ADS_1


"Aku tidak mau hamil, Surya. Aku belum siap!" ucap Viona dengan mata berkaca-kaca.


Surya langsung merengkuh tubuh Viona dan mendekapnya erat.


__ADS_2