
Viona melirik ke arah Surya. Surya malah mengeratkan rangkulannya.
"Biarin seperti ini, Vi. Aku malas diliatin sama temen-temen kamu," ucap Surya pelan di dekat telingan Viona.
Reflek, bulu kuduk Viona merinding. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dan keringat dingin langsung membasahi tubuh Viona.
"I...Iya," sahut Viona. Dia pun tetap berjalan di sebelah Surya dengan tenang. Meskipun jantungnya berdegup dengan kencang.
Mereka sampai di motor Surya. Surya memberikan satu helm yang sengaja dibawanya untuk Viona.
Karena tangan Viona membawa beberapa buku, dia jadi kesulitan memakainya.
"Aku bantuin, ya," ucap Surya.
Dan tanpa menunggu persetujuan Viona, Surya memakaikan helm ke kepala Viona. Tak lupa Surya juga mengancingkannya dan merapikan rambut Viona yang ke depan mukanya.
Viona merasa sangat tersanjung diperlakukan dengan sangat manis oleh Surya.
Sebenarnya ini adalah pemandangan yang sering dilihat Viona setiap hari. Dulu, saat Surya masih jalan dengan Nadia.
Dan kini, malah dirinya yang jadi pemeran penggantinya.
"Ayo naik. Malah bengong," ucap Surya menyuruh Viona segera memboncengnya.
Surya melihat Viona bengong, dari kaca spionnya. Surya tak tahu apa yang sedang dilamunkan oleh Viona.
Dan mereka pun berboncengan menuju ke kampus. Membelah jalanan kota yang cukup padat.
Sementara di kamarnya, Nadia sudah rapi. Tapi mukanya masih saja bete.
Nadia melangkah turun.
"Nad, kamu makan dulu. Baru kita jalan ke rumah tante Rahma. Kalau enggak sarapan dulu, entar kamu pingsan, lagi," ucap Susi yang juga sudah rapi.
"Ish. Nyebelin banget sih, Mama!" gumam Nadia. Lalu dia menuju ke meja makan.
Menu sarapan masih komplit. Nadia hanya mengambil sedikit. Dia lagi tak terlalu nafsu makan.
"Makan yang banyak, biar badan kamu lebih berisi." Susi duduk di depan Nadia.
"Iya, Ma. Bawel banget, sih!" sahut Nadia.
"Kamu itu, dibilangin baik-baik malah ngatain bawel. Mama bawel juga buat kebaikan kamu. Kasihan kan papa kamu yang sudah capek-capek nyari duit. Makanan malah kebuang-buang!"
Susi bukannya berhenti, tapi malah semakin terus saja berceloteh.
"Kamu mestinya bersyukur, Nadia. Tiap hari udah ada makanan yang tinggal makan aja. Coba teman kamu, Viona itu. Kalau mau makan mesti keluar dulu, beli dulu. Kasihan kan?"
Nadia berdecak dengan kesal. Kenapa sih mamanya malah membahas soal Viona? Mau dia makan kek, enggak kek, masa bodoh!
"Sekali-kali ajak Viona makan di sini. Nanti Mama masakin yang istimewa," ucap Susi dengan santai.
Glek!
Makanan terasa langsung masuk ke tenggorokan Nadia. Matanya jadi melotot.
"Kamu kenapa?" tanya Susi, lalu mengambilkan minum pada Nadia.
__ADS_1
Nadia segera meminumnya.
"Enggak apa-apa, Ma," jawab Nadia.
Hh! Viona disuruh makan di sini? Ketemu dia saja males. Nadia mendengus dengan kesal.
Akhirnya Susi diam. Dia tak mau Nadia tersedak lagi. Walaupun Susi tak merasa ada yang salah dengan omongannya.
Susi tetap menemani sampai Nadia menyelesaikan makannya. Karena Susi pun tak mau kalau Nadia makan sedikit.
Setelah Nadia selesai makan, Susi segera mengajak Nadia berangkat ke rumah Rahma.
"Bentar kenapa sih, Ma. Nasinya biar turun dulu," ucap Nadia.
Susi malah jadi curiga, pasti ada apa-apa dengan Nadia dan Surya. Atau malah dengan Rahma?
Karena jam segini, pastinya cuma ada Rahma di rumah Surya. Tapi Nadia seperti mengulur-ulur waktu.
"Keburu siang. Nanti malah Surya sama Sinta pada pulang kuliah, lho," pancing Susi. Dia ingin melihat reaksi Nadia.
Nadia kembali hanya mendengus, lalu beranjak berdiri.
"Ya udah, ayo," ajak Nadia.
Susi pun tersenyum. Dia merasa berhasil memancing Nadia. Merurut Susi, benar kalau Nadia dan Surya lagi ada masalah.
Susi berjalan mendahului ke mobil.
"Kok naik mobil?" tanya Nadia.
Rumah keluarga Surya hanya di blok sebelahnya. Jalan kaki tak sampai lima menit.
"Kirain ngajak kesana, udah siap semua," gumam Nadia.
Nadia juga malu kalau ke sana tidak bawa apa-apa. Karena Susi selalu mengajarkan begitu.
Dan dari dulu, kalau Nadia ke rumah Surya, Susi selalu membawakannya sesuatu.
Mereka menuju ke sebuah toko kue langganan Susi.Lalu memilih beberapa macam kue kesukaan Rahma.
Hubungan antara Susi dengan Rahma, cukup dekat. Sehingga mereka cukup paham makanan kesukaan masing-masing.
Setelah dirasa cukup, mereka pun segera jalan lagi. Langsung ke tujuan utama. Ke rumah Rahma.
Sampai di rumah Rahma, dengan malas Nadia turun dari mobil.
"Eeh...ini dibawa!" Susi mengambil kantong plastik yang diletakannya di jok tengah.
Nadia mengambilnya. Lalu menunggu Susi turun dari mobilnya.
Rumah keluarga Surya terlihat lengang. Tapi pintu depan terbuka.
Di dalam rumahnya, Rahma lagi beres-beres di dapur. Setelah tadi suami dan anak-anaknya, termasuk Yogi, makan pagi bersama.
Pembantu yang dipesan Rahma lewat tetangganya, belum juga didatangkan. Kelihatannya susah mendapatkan orang yang mau bekerja sebagai ART.
Jadi terpaksa Rahma mengerjakan semuanya sendiri. Kalau untuk sarapan pagi, Toni melarang Rahma untuk memasak.
__ADS_1
Tadi mereka cuma sarapan roti dan minum susu. Tak seperti biasanya, dimana Rahma menyajikan menu lengkap untuk sarapan.
Susi menekan bel yang terletak di sisi pintu.
Ting Tong!
Rahma bergegas mencuci tangannya yang kotor. Lalu bergegas juga keluar.
"Eh, Jeng Susi. Nadia!" ucap Rahma dengan terkejut.
Susi tersenyum ramah. Lalu merangkul Rahma dan mencium pipi Rahma kanan dan kiri.
"Apa kabarnya, Jeng Rahma? Udah baikan?" tanya Susi.
Rahma mengangguk. Lalu menghela nafasnya.
"Mari silakan masuk," ucap Rahma, mencoba bersikap biasa.
"Nadia, ayo masuk," ucap Rahma pada Nadia.
Meskipun dalam hati Rahma, tak menyukai Nadia datang lagi ke rumahnya. Tapi sebagai tuan rumah yang baik, tak mungkin Rahma mengusirnya.
Apalagi mengingat kejadian dua hari yang lalu. Semua kesalahan Surya. Anaknya.
"Silakan duduk," ucap Rahma.
Susi dan Nadia pun duduk. Nadia meletakan plastik berisi kue ke atas meja.
"Apaan ini?" tanya Rahma.
"Cuma makanan kecil. Tadi kami dari pasar, sekalian mampir," jawab Susi berbohong.
"Ooh....Makasih banyak. Malah merepotkan," ucap Rahma.
"Enggak kok. Kan sekalian lewat," sahut Susi.
Rahma mengangguk, lalu berdiri.
"Saya buatkan minum dulu, ya," ucap Rahma.
"Udah, enggak usah repot-repot, Jeng. Jeng Rahma kan belum baru saja sehat. Nanti kalau mau minum, biar Nadia yang membuatnya sendiri. Iya kan, Nad?"
Nadia mengangguk sambil tersenyum kikuk.
Meskipun Nadia sering ke sini, tapi Nadia tak pernah membuat minuman sendiri. Surya selalu melayaninya bak seorang ratu.
"Nadia enggak berangkat kuliah?" tanya Rahma.
Nadia hanya bisa diam. Mau jawab jujur, jelas dia malu.
"Masih capek katanya. Kemarin kan habis main ke rumahnya Viona. Di kampung," jawab Susi.
Rahma yang mendengarnya langsung tercekat.
"Maaf lho, Jeng. Kemarin merepotkan Surya. Nadianya malah ternyata pergi sama Viona," ucap Susi, merasa tak enak.
"Mm...Iya. Enggak apa-apa. Nadia baik-baik aja, kan?" tanya Rahma. Entah kenapa matanya menatap perut Nadia.
__ADS_1
Spontan Nadia memegangi perutnya. Lalu menatapnya penasaran.
Ada yang salah dengan perutku?