
Surya menutup telponnya setelah ada kesepakatan dengan Viona. Saling menjaga milik masing-masing.
"Beres, kan?" tanya Sinta yang dari tadi mendengarkan.
Surya mengangguk. Dia sangat berterima kasih atas ide brilyan dari Sinta.
Surya tak mengira kalau Sinta yang selalu dianggapnya anak kecil, ternyata bisa juga membantunya.
"Hebat kan aku?" Sinta memuji dirinya sendiri.
"Ah, enggak juga. Biasa aja!" ledek Surya.
"Ih, nyebelin!" Sinta mengambil bantal kecil dan melemparkannya pada Surya.
Lalu dengan kesal, dia berjalan masuk ke kamarnya.
Surya terkekeh. Puas rasanya bisa membuat Sinta bete.
Sebenarnya dia sendiri yang nyaris bete kalau Viona tak menanggapi kemauannya.
Surya pun ikut masuk ke kamarnya sendiri, sambil tersenyum puas.
Sementara di rumahnya Yogi menceritakan tentang masalah Surya pada mamanya. Papanya pun ikut menyimak.
"Oke. Tenang aja. Kalau kamu udah bilang begitu, Mama juga enggak akan ceroboh," ucap Novia.
"Iya, Ma. Oh, iya. Yogi juga mau ngomong sesuatu sama Mama dan Papa," ucap Yogi.
"Ngomong apa lagi? Cepetan, Mama udah ngantuk," sahut Novia.
"Yogi udah jadian sama Sinta, Ma," ucap Yogi.
"Serius?" tanya Novia dengan mata berbinar.
"Iya, Ma. Yogi serius," jawab Yogi.
"Syukur deh. Mama ikut seneng. Tapi ingat, selesaikan dulu kuliah kalian!" Novia mengingatkan.
"Iya, Ma. Pasti," sahut Yogi.
"Papa tak akan menikahkan kalian, kalau sampai kuliahmu enggak selesai!" ancam Arya.
"Ish! Yogi juga belum kepingin menikah, Pa!" sahut Yogi.
"Iya, Yog. Nikmati dulu masa muda kalian. Kalau buru-buru menikah, kalian cepat jadi orang tua!" sahut Novia.
"Dan tanggung jawab sebagai orang tua itu enggak gampang, lho! Kami aja setengah mati nyari uang demi bisa mencukupi kebutuhan kamu!" ucap Arya.
Mencukupi kebutuhanku, tapi menghilangkan waktu kalian untukku. Batin Yogi.
Yogi janji, tak akan melakukan hal yang sama pada anak-anaknya nanti. Dia akan selalu menyediakan waktu untuk anak-anaknya.
"Ya udah. Sekarang istirahat. Besok kita jalannya pagi. Biar bisa puas di sana!" ucap Novia.
Mereka mau berlibur di daerah pegunungan. Dan menginap semalam di villa temannya Arya dan Toni semasa SMA dulu.
Pagi harinya, dua keluarga itu sudah mulai sibuk. Menyiapkan perbekalan. Karena letak villa yang terpencil. Jauh dari warung apalagi cafe.
__ADS_1
Novia dan Rahma yang paling sibuk. Dibantu oleh Sinta tentunya.
Yang laki-laki terima beres saja.
Setelah Nadia datang, ikut membantu. Nadia datang agak siang. Karena dia menunggu kakaknya datang dulu.
Susi membawakan Nadia banyak makanan. Karena tahu pesertanya juga banyak.
"Banyak sekali bawaanmu, Nad. Kita cuma menginap semalam," komentar Rahma, melihat Nadia yang membawa banyak kantong plastik.
"Ini dari Mama, Tante." Nadia menyerahkan tentengannya.
"Wah! Mama kamu kok malah repot-repot. Tante Novia aja udah bawa banyak banget. Bisa penuh makanan mobil kita," sahut Rahma.
"Nanti kita buka warung sekalian di sana, Ma," sahut Sinta.
Semua yang mendengarnya jadi tertawa. Mau menginap semalam aja, udah kayak menginap sebulan.
Setelah semua siap, mereka berangkat dengan dua mobil.
Sinta ikut di mobil keluarga Yogi. Sedangkan Nadia menggantikan Sinta, ikut di mobil keluarga Surya.
Acara liburan berjalan sesuai dengan yang mereka rencanakan. Novia yang membuat rundown acaranya.
Bahkan Novia juga yang mengatur pembagian kamarnya. Sangat detail, karena Novia punya banyak pengalaman mengadakan event.
Maklum, selain usaha suaminya di bidang property, mereka juga sudah mulai merambah dunia event organizer.
Dan usaha itu yang nantinya akan dikembangkan di kota mereka. Usaha yang nantinya akan diserahkan pada Yoga, setelah lulus kuliah.
Hari senin yang cerah.
Novia dan Arya sudah kembali keluar kota, mengurus usaha mereka di sana.
Toni sudah mulai bekerja kembali. Rahma dengan kesibukannya mengurus keluarganya.
Dan anak-anak kembali ke kampusnya.
Ada yang sedikit berbeda dengan aktifitas mereka. Sinta tak lagi berangkat sendiri. Yogi sekarang jadi ojek pribadi Sinta.
Begitu juga dengan Surya. Dia kembali menjemput Nadia ke kampus.
Sampai di kampus, Surya menunggu sampai Nadia masuk ke kelasnya. Dan melihat siapa yang duduk di sebelah Nadia.
Saat Surya hendak meninggalkan depan kelas Nadia, dia melihat Viona baru saja datang.
"Hay, Vi. Baru datang?" sapa Surya. Hal yang tak pernah dilakukan Surya sebelumnya.
"Hay juga, Sur. Nganter Nadia?" tanya Viona.
Viona sudah tahu kalau sekarang Surya dan Nadia sudah jadian.
"Ya, seperti dulu lagi," jawab Surya dengan senyum mengembang.
"Siplah. Aku ikut senang. Semoga kalian akur terus. Enggak kayak kemarin-kemarin," ledek Viona.
Surya terkekeh.
__ADS_1
"Badai telah berlalu, Vi," sahut Surya.
"Ya. Ya. Ya." Viona ikut tersenyum.
Kini tak ada lagi rasa cemburu di hati Viona. Karena hatinya telah tertambat pada Putra yang seorang pelaut ulung.
"Vi. Ingat ya, jangan pernah cerita tentang Putra pada Nadia. Atau kita semua akan hancur," ucap Surya mengingatkan.
"Ngancam nih, ceritanya?" goda Viona.
"Bukan ngancam. Tapi itu resikonya kalau kamu teledor," sahut Surya.
"Oke. Aku akan jaga itu. Aku duluan ya, Sur," ucap Viona.
"Oke. Aku juga mau masuk kelas. Ayo, Vi," pamit Surya.
"Bye, Surya." Viona melambaikan tangannya pada Surya. Lalu dia masuk kelas dan mencari kursi kosong.
Sayangnya di sebelah Nadia sudah ada yang nempatin. Terpaksa Viona mencari kursi lain yang agak jauh dari Nadia.
Viona hanya tersenyum sedikit pada Nadia.
Nadia yang tadi melihat keakraban Surya dan Viona dari dalam kelas, merasa heran.
Tak biasanya mereka begitu? Akrab sekali. Ada apa dengan mereka, tanya Nadia dalam hati.
Apalagi saat Viona malah duduk menjauh darinya. Padahal memang tak ada tempat lagi di dekatnya.
Sebenarnya Nadia ingin sekali menanyakannya pada Viona. Tapi keburu dosen mereka datang. Dan kelaspun dimulai.
Sepanjang mengikuti kuliah, Nadia tak bisa konsentrasi. Pikirannya masih pada keakraban antara Surya dan Viona tadi.
Begitu jam kuliah selesai, Nadia langsung menghampiri Viona.
"Vi. Ke kantin yuk. Aku mau bicara sama kamu," ajak Nadia. Dia ingin menanyakan tentang hal tadi yang membuatnya penasaran dan tak bisa konsentrasi.
Degh!
Jantung Viona seperti berhenti mendadak. Dia berpikir Nadia akan menanyakan tentang Putra.
Aduh! Bagaimana aku menjelaskannya pada Nadia? Aku tak mau kehilangan Putra. Viona malah ketakutan sendiri.
"Maaf aku enggak bisa, Nad. Aku ada urusan mendadak," tolak Viona.
Dia buru-buru berdiri dan hendak melangkah.
Nadia langsung menjegalnya. Dia raih tangan Viona dan menariknya.
"Eh! Apaan sih, Nad?" Viona berusaha menepis tangan Nadia.
"Kamu yang ada apa?" Nadia malah balik bertanya, tapi dengan nada ketus.
Mati aku! Nadia benar-benar sudah tahu tentang Putra. Batin Viona.
"Hay, Nad. Ada apa ini?" tanya Surya yang tiba-tiba sudah masuk ke kelas mereka.
Nadia menatap Surya dengan tajam. Tak sadar dia melepaskan tangan Viona.
__ADS_1
Kesempatan itu tak disia-siakan Viona. Dia langsung berlari meninggalkan Nadia dan Surya.
"Viona!"