
Surya menoleh ke arah Sinta. Surya tak membuang ataupun menaruh rokoknya. Dia tetap memegangnya.
"Kakak, sejak kapan merokok?" tanya Sinta. Setahunya Surya tak pernah merokok sama sekali. Karena Nadia tak suka dengan cowok perokok.
Beda dengan Sinta. Dia tak pernah mempermasalahkan. Asal dia suka dengan orangnya, ya why not?
"Sejak jadi jomblo beneran! Udah, biarin aja. Yang penting dia bahagia," sahut Yogi. Dia tahu kalau Sinta enggak anti sama lelaki perokok.
"Iya. Tapi mama?" tanya Sinta dengan khawatir.
Sinta membayangkan, mamanya bakal ngoceh panjang lebar kalau tahu Surya merokok.
"Enggak apa-apa. Aku ngerokoknya enggak di depan mama," jawab Surya.
Saat ini dia memang ingin menikmati hidupnya sendiri. Yang bisa jadi keluar dari kebiasaannya.
Sinta mengangguk. Dia juga tak akan mengadu. Biar mamanya tahu sendiri.
Sinta duduk di sebelah Surya.
"Masuk kamu, anak kecil. Nanti kena asap rokok, lho," ucap Yogi pada Sinta.
"Iih, kok anak kecil sih? Aku kan udah gede. Lagian aku enggak alergi sama asap rokok kok. Biasa aja," sahut Sinta.
Dalam hati Sinta, rugi kalau dia alergi asap rokok. Karena itu berarti Yogi akan menjauhinya.
"Baguslah kalau begitu. Gue juga kurang suka sama cewek yang sok anti rokok," ucap Yogi.
"Kurang suka, tapi ngejar-ngejar Viona," sahut Surya.
Sinta langsung terdiam. Dia khawatir Yogi masih mengejar Viona.
"Itu dulu, Bro. Sekarang udah tutup buku!" Yogi sudah mantap untuk tak lagi mengejar Viona.
Sinta langsung tersenyum sumringah. Dia masih bisa berharap Yogi mau dekat dengannya. Bukan dia sebagai adik Surya. Tapi lebih pada hubungan cowok dan cewek.
"Iya. Karena Viona nolak kamu! Hahaha." Surya tertawa ngakak.
Sinta menatap Surya. Dia senang karena kini Surya sudah bisa ketawa lagi.
Yogi hanya garuk-garuk kepalanya.
Benar banget yang dikatakan Surya. Andai saja Viona tak menolaknya, pasti hidupnya bakalan banyak aturan seperti saat Surya dekat dengan Nadia.
Sinta sendiri semakin berpikir untuk tak membatas-batasi kebiasaan pasangannya nanti. Dia tak mau membelenggu dengan aturan-aturan.
Mereka ngobrol sampai malam. Dengan obrolan ringan dan candaan yang membuat Sinta betah berlama-lama dengan mereka.
Jam sepuluh malam, Yogi pamit.
"Gue pulang dulu ya, Bro. Udah malam, nih. Ngantuk," pamit Yogi.
__ADS_1
"Ngantuk apa mau nongkrong di tempat lain?" tanya Surya. Dia tahu persis kebiasaan Yogi yang suka begadang.
"Pulang, Bro. Lu tau sendiri, kan. Mak Yati tadi pesennya gimana?" sahut Yogi.
"Siapa mak Yati?" tanya Sinta.
"Emaknya dia tuh. Dia kan anaknya mak Yati," jawab Surya.
Yogi tertawa ngakak. Dia tak pernah tersinggung meski dikatai anak pembantu. Dia malah bangga dengan mak Yati yang sudah dianggapnya orang tua sendiri.
Sinta mengangguk mengerti. Dia pernah dengar, kalau Yogi sering ditinggal kedua orang tuanya kerja di luar kota.
Sinta malah bangga, karena Yogi bisa menyayangi dan menurut pada pembantunya. Biasanya kalau anak yang kurang kasih sayang orang tua, sikapnya terlalu bebas.
"Pamitin ama orang tua lu, Bro," ucap Yogi.
"Mereka udah tidur jam segini," sahut Surya.
"Oke, deh. Salam aja buat mereka." Yogi membuka ponselnya.
"Mau ngapain kamu?" tanya Surya.
"Pesen ojek online. Emangnya lu mau nganterin gue?" sahut Yogi.
"Males amat. Kamu pakai motor Sinta aja, deh. Besok pagi dibalikin! Jangan kamu jual!" ucap Surya.
"Yaelah, Bro. Lu pikir gue tukang tipu, apa?"
"Iya, enggak apa-apa." Sinta berdiri mau mengambilkan kunci motornya.
"Tenang aja. Besok kalau gue bisa bangun pagi, gue jemput Sinta. Jam berapa?" tanya Yogi.
Sinta menatap Surya lebih dulu. Karena biasanya Surya akan melarangnya.
Surya mengangguk pada Sinta. Sinta kembali sumringah.
"Pagi, Kak. Jam tujuh. Aku ada kuliah pagi," jawab Sinta.
"Aman, kalau jam segitu. Asal jangan kuliah subuh aja. Hahaha." Yogi masih susah bangun subuh.
Paling pagi Yogi mau bangun, jam enam. Itu juga kalau ada kuliah pagi. Selebihnya, dia bangun sesukanya.
Meskipun mak Yati selalu bawel kalau pagi, kebiasaan Yogi begadang membuatnya susah bangun pagi.
Sinta masuk ke kamarnya dengan hati berbunga-bunga. Dia sangat berharap besok pagi, Yogi menjemputnya.
"Ini, Kak." Sinta memberikan kunci motornya.
"Oke, Cinta. Aa pulang dulu, ya. Muaach...!" Yogi memberikan kissbye pada Sinta. Membuat Sinta tersenyum malu.
"Halah, bilang cinta kalau ada maunya aja. Udah sana pulang!" usir Surya.
__ADS_1
Yogi tertawa ngakak lagi.
Dari tadi dia tak berani menggombali Sinta. Takut ketahuan orang tua Surya. Bisa tak diundang makan malam lagi.
Yogi pulang naik motor Sinta.
"Ayo masuk."
Sinta menurut. Lalu Surya mengunci pintu rumahnya. Dia mau langsung tidur. Matanya udah ngantuk. Seharian tadi dia tak istirahat.
Sambil tiduran, Surya membuka ponselnya. Dia buka aplikasi chatnya.
Iseng Surya membuka juga beberapa status whatsapp teman-temannya. Dan tak sengaja dia membuka status whatsapp milik Nadia.
Nadia mengunggah foto sebuah perahu kertas. Perahu kertas yang sepertinya dia bikin lagi.
Perahu kertasnya yang lalu pernah dicuri Surya. Dan cukup menggoreskan luka di hati Surya.
Surya menatap perahu kertas itu. Nadia masih saja terus berharap perahunya akan sampai pada Dewa.
Nad. Kejarlah apa yang ingin kamu kejar. Aku pun memilih mundur. Karena kamu menolakku. Kamu lebih memilih Dewa. Selalu Dewa. Batin Surya.
Hatinya kembali tergores. Sakit. Sangat sakit.
Lalu Surya menutup aplikasinya. Bahkan dia mengabaikan beberapa pesan chat dari temannya.
Aku akan melupakanmu, Nad. Aku tak bisa terus bertahan.
Surya memejamkan matanya. Dia ingin benar-benar melupakan Nadia. Dan ingin memulai kehidupan barunya.
Nadia banyak mengajarkannya tentang arti persahabatan. Bahwa jangan pernah mencampur adukan antara hati dengan persahabatan.
Meski Nadia telah menjadikannya pribadi yang tak berjiwa. Ya, Surya bagai manusia tanpa jiwa. Segala jiwanya dilambung tinggi oleh Nadia.
Dia relakan semua kesenangannya hanya untuk kebahagiaan Nadia.
Sementara Sinta di kamarnya sedang berbahagia. Dia menuangkan semuanya dalam sebuah tulisan.
Tulisan tentang hatinya yang sedang mengembara. Berburu cinta.
Sinta merasa dia telah jatuh cinta pada Yogi. Meskipun dia belum pernah merasakan cinta yang sebenarnya, tapi dia yakin kalau perasaannya pada Yogi adalah cinta.
Tapi tiba-tiba Sinta merasa ragu. Apa Yogi mau menerimanya? Menerima Sinta secara pribadi. Bukan karena dia adalah adik Surya.
Sinta pun tak mau kalau Yogi menerimanya karena merasa tak enak pada Surya.
Sinta mengingat kembali sikap biasa Yogi, tadi saat mereka makan malam. Tak ada kalimat-kalimat gombalan yang membuat Sinta tersipu malu.
Yogi bersikap layaknya seorang teman yang sedang main ke rumah sahabatnya.
Tidak! Aku tak boleh terlalu berharap. Aku tak mau kecewa dan terluka seperti Surya. Batin Sinta.
__ADS_1