
Sinta dan Yogi pulang setelah selesai kuliah.
"Surya apa pergi sama Nadia, ya? Kok enggak nongol di kelas," tanya Yogi di dalam mobil.
"Iya, kali. Lagian ngapain sih ngurusi kak Nadia mulu? Udah tau orangnya kayak gitu," sahut Sinta.
"Emang aneh kakakmu itu. Cintanya bener-bener mentok sama Nadia," ucap Yogi.
"Coba deh kamu telpon dia, Cin," pinta Yogi.
"Males ah. Biarin aja. Diingetin juga enggak ada kapoknya!" tolak Sinta.
"Ya udah. Kamu mau makan dulu?" tanya Yogi.
"Entar aja di rumah. Kasian mama kalau udah masak, enggak ada yang makan," jawab Sinta.
Rahma memang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk makan di rumah. Bukan karena ngirit, cuma membiasakan anak-anaknya makan masakan yang terjamin gizinya.
"Mama kan tadi pergi sama papa, Cinta." Yogi mengingatkan.
"Oh iya. Lupa." Sinta nyengir.
"Ya udah, sekarang mau makan apa?" tanya Yogi.
"Mm...gimana kalau makan bakso aja. Dekat rumah ada tuh, bakso yang enak," jawab Sinta.
"Oke, siap Cinta. Apapun mau kamu, Aa turutin," sahut Yogi.
Yogi sangat menyayangi Sinta. Bukan cuma sebagai kekasih, tapi juga sebagai adik. Kadang juga sebagai teman berbagi cerita.
Sejak menjalin kasih dengan Sinta, Yogi serasa mendapatkan keluarga baru.
Bukan cuma Sinta yang baik padanya, kedua orang tua Sinta pun sangat baik pada Yogi.
Terlebih kedua orang tua Yogi juga sangat bahagia, anak semata wayangnya mendapatkan keluarga yang membuat nyaman.
"Terima kasih, Aa...!"
Cup.
Sinta mengecup pipi Yogi.
Yogi langsung memberikan satu pipinya lagi.
"Yang ini belum. Nanti iri, dia," ucap Yogi.
"Iih, apaan sih, Aa. Ini kan di jalan," tolak Sinta.
"Ya udah, entar kalau udah enggak di jalan ya?" goda Yogi.
"Mm...! Maunya!" Sinta mendorong pipi Yogi biar menjauh.
Lalu Yogi tertawa tergelak. Dia paling suka menggoda Sinta yang masih seperti anak kecil. Suka malu-malu. Tapi mau.
Mereka sampai di warung bakso dekat rumah Sinta.
"A', dibungkus aja ya? Tempatnya penuh banget, tuh." Sinta menunjuk warung bakso yang penuh pembeli. Maklum saja, jamnya makan siang.
"Oke. Kita makan di rumah Aa aja, ya?" pinta Yogi.
"Kok di rumah Aa? Kan jauh. Deketan juga rumahku," sahut Sinta.
"Biar kita makannya sama mak Yati juga. Kasihan dia sendirian," ucap Yogi.
"Ya udah deh. Tapi nanti aku diantar pulang, ya," sahut Sinta.
"Iya. Tapi besok!" jawab Yogi.
__ADS_1
"Mmm...!" Sinta langsung manyun dan turun dari mobil.
"Eh, ini uangnya, Cinta!" seru Yogi. Tapi Sinta yang sudah turun, tak mendengarnya.
Terpaksa Yogi ikut turun. Lalu menemani Sinta memesan bakso.
"Kalian akur amat?" Santi temen sekelas Yogi, ternyata ada di situ juga.
"Iyalah. Ngiri, ya?" ledek Yogi.
"Kagak! Gue mah nganan!" sahut Santi sambil ngeloyor pergi.
Yogi tertawa ngakak.
"Itu sekelas sama Aa, kan?" tanya Sinta.
"Iya. Mak Lampir, namanya," jawab Yogi.
"Kok mak Lampir? Jahat amat!" sahut Sinta.
"Ya emang mak Lampir. Orang yang paling ditakuti temen-temen!" sahut Yogi.
"Ditakuti kenapa?" tanya Sinta.
"Mulutnya suka ngember sana sini. Nakutin, kan?" jawab Yogi.
Sinta mengangguk setuju.
"Makanya kita pada males deket-deket ama dia. Walaupun sifat sebenarnya baik," sahut Yogi.
Sampai kemudian bakso yang dipesen Sinta selesai.
"Nih, Pak." Yogi memberikan uangnya untuk membayar.
"Kok Aa yang bayar?" tanya Sinta. Dia sudah menyiapkan uang untuk membayar juga.
"Enggak apa-apa, Cinta. Aku kan laki-laki. Masa dibayarin cewek. Malu, dong," sahut Yogi.
"Udah, yuk," ajak Yogi.
Dia menggandeng tangan Sinta.
Baru saja mau naik mobil, Sinta melihat Toni turun dari motor Surya.
"Itu kan papa, A...!" Sinta menunjuk ke arah Toni. Lalu buru-buru menghampiri. Yogi mengikuti.
"Papa mau ngapain?" tanya Sinta.
"Eh kamu, Sinta. Mama kamu kepingin makan bakso," jawab Toni.
"Lho, memangnya mama udah di rumah?" tanya Sinta lagi.
"Iya. Lagi enggak enak badan. Papa pesan bakso dulu." Toni buru-buru pergi.
"Om. Ini aja dulu, nanti kita pesan lagi." Yogi mengejar Toni dan memberikan bakso yang dibawa Sinta.
"Lho, nanti kalian bagaimana?" tanya Toni.
"Gampang, Om. Nanti kita pesan lagi." Yogi tak tega melihat antrian yang panjang.
Toni juga menerimanya karena malas, melihat antriannya.
"Ya udah. Papa bawa dulu. Kalian nanti pulang, kan?" tanya Toni.
"Iya, Pa. Nanti kita pulang," jawab Sinta. Yogi sudah kembali mengantri.
Toni bergegas pulang membawa bakso yang dibeli Sinta.
__ADS_1
Sinta mendekat ke arah Yogi.
"Kita pulang ke rumahku kan, A?" tanya Sinta.
"Iyalah. Acara makan sama mak Yatinya dipending," jawab Yogi. Dia juga enggak bisa egois memaksakan keinginannya.
Bagaimanapun, orang tua Sinta bakalan menjadi orang tuanya juga.
Setelah selesai dengan pesanannya, Yogi dan Sinta buru-buru pulang.
Sebenarnya Sinta sudah ingin pulang duluan. Tapi dia tidak tega membiarkan Yogi mengantri sendirian.
Dan kalau mereka tak jadi pesan bakso, pasti nanti papanya yang bakal mengalah enggak makan.
"Mama kenapa ya, A? Kayaknya tadi pas berangkat, baik-baik aja," tanya Sinta setelah mereka masuk mobil.
"Masuk angin, kali. Kecapekan. Di rumah kan enggak ada pembantu," jawab Yogi.
Sinta mengangguk mengiyakan.
Rahma memang jarang punya pembantu. Dia lebih suka mengerjakan semuanya sendiri. Kalaupun punya pembantu, hanya membantunya pagi sampai siang. Selebihnya dia kerjakan sendiri.
"Atau karena kepikiran kakak kamu yang didatangi Nadia," ucap Yogi asal.
"Ih, masa sampai segitunya sih. Mama kan percaya sama kak Surya," sahut Sinta.
"Percaya apaan? Nyatanya kakak kamu enggak bisa dipercaya. Dia senang kalau hatinya terus menerus disakiti Nadia!" ucap Yogi dengan kesal.
"Emang ngeselin tuh mereka." Sinta ikut-ikutan kesal.
Tak lama, mereka sampai di rumah Sinta.
Tanpa menunggu Yogi, Sinta turun duluan. Dia sangat khawatir pada kondisi Rahma.
"Mama...!" panggil Sinta sambil berjalan masuk ke rumah.
"Mama di ruang makan, Sinta!" sahut Toni.
Sinta buru-buru ke ruang makan.
"Mama kenapa?" Sinta langsung menghambur dan mendekap Rahma.
Wajah Rahma pucat dan terlihat lemah.
"Mama enggak apa-apa, Sinta. Mana Yogi?" tanya Rahma.
Belum sempat Sinta menjawab, Yogi sudah nongol.
"Met siang, Tante. Om." Yogi menyalami tangan keduanya.
"Kalian beli bakso juga?" tanya Rahma.
"Iya, Ma. Tadi kan ketemu papa di sana," jawab Sinta.
"Itukan bakso yang dibeli Sinta. Kata Yogi buat Mama duluan aja," ucap Toni.
"Oh. Ya udah. Ayo makan bareng, Yogi," ajak Rahma.
"Iya, Tante." Yogi menarik kursi untuk duduk.
Sinta menyiapkan baksonya.
"Ini sisa satu. Mestinya buat Surya," ucap Rahma pelan.
"Memangnya kak Surya kemana, Ma?" tanya Sinta.
"Dia lagi mencari Nadia," jawab Rahma.
__ADS_1
"Lho, memangnya Nadia kemana, Tante?" tanya Yogi.
"Nadia kabur....!"