PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 72 IRIT BICARA


__ADS_3

Surya memilih tidur di kamarnya. Otaknya lagi buntu, tidak bisa mikir apa-apa lagi.


Menjelang maghrib, Rahma mengetuk pintu kamar anaknya itu.


"Sur...! Surya...! Bangun, Nak! Udah mau maghrib, nih!" seru Rahma dari luar.


Tak ada jawaban. Dan Rahma terus saja mengetuk pintu kamar Surya. Dia khawatir anaknya akan melakukan hal-hal yang membahayakan.


"Belum keluar, Ma?" tanya Sinta yang mendengarnya.


Rahma menggeleng. Dia semakin panik saat Surya tak juga membukakan pintu.


Padahal Surya baru saja menggeliatkan badan. Antara sadar dan tidak, dia mendengar suara Rahma juga pintu diketuk.


Bisa jadi efek dari tidur yang terlalu lama dan melewati waktu pergantian hari. Dari siang, sore hingga menjelang gelap.


"Surya...! Buka pintunya!" Suara Rahma sudah semakin terdengar panik.


Toni pun ikut datang ke depan kamar Surya.


"Kak! Bangun, udah mau maghrib. Tidurnya dilanjut nanti lagi!" Sinta ikut memanggil kakaknya.


"Belum bangun juga, Ma?" tanya Toni. Dia berusaha bersikap tenang agar istrinya tidak semakin panik.


Padahal tetap ada kecemasan dalam dirinya. Sebagai seorang laki-laki yang juga pernah merasakan bagaimana sakitnya saat memperjuangkan cinta, Toni bisa mengerti apa yang sedang dirasakan Surya.


"Iya, Ma," jawab Surya dengan suara parau.


"Alhamdulillah...!" ucap Rahma. Dia bisa bernafas dengan lega. Begitu juga Toni dan Sinta.


"Udah, bubar....bubar! Ketegangan udah berakhir!" seru Sinta yang disambut dengan getokan pelan dari Rahma.


"Kamu itu!" Rahma suka gemas dengan Sinta yang kadang masih bersikap seperti anak kecil.


"Bangun dulu, Surya. Buka pintunya." Meski sudah bisa bernafas dengan lega, Rahma tetap tak bisa tenang kalau Surya belum membuka pintunya.


"Iya, Ma!" sahut Surya lagi.


Lalu pelan-pelan dia beranjak dari tempat tidurnya. Rahma dan Toni masih setia menunggu di depan pintu kamar.


Sinta yang sudah banyak ngobrol dengan Surya, tak begitu mencemaskan kakaknya. Sinta yakin kalau Surya bisa mengatasi keadaan seberat apapun. Dia cuma butuh waktu untuk sendiri dulu.


Surya membuka pintu kamarnya. Dia tatap wajah kedua orang tuanya bergantian.


"Bangun dulu, Nak. Mandi lalu sholat. Biar hati kamu lebih tenang," ucap Rahma.


Toni memilih kembali ke kamarnya. Dia juga akan meminta pada penciptanya, agar Surya diberi kekuatan hati.


"Iya, Ma."


Surya berjalan ke kamar mandi. Ya, mungkin guyuran air akan bisa menyegarkan badannya yang terasa lemas.


Selesai melaksanakan kewajibannya, Toni keluar mencari Rahma.


Rahma lagi menyiapkan makan malam.

__ADS_1


"Ma, malam ini kita makan di luar yuk," ajak Toni.


"Kok ngajaknya dadakan sih, Pa? Mama kan udah siapin makan malamnya," sahut Rahma.


"Disimpan aja. Kan bisa buat makan besok pagi."


Rahma yang selalu menurut apa kata suami, segera menyimpan semua makanannya di lemari pendingin.


"Sinta! Siap-siap. Kita diajak papa makan di luar!" seru Rahma dari depan kamar Sinta.


Sinta langsung membuka pintu kamarnya.


"Sekarang?" tanya Sinta.


"Tahun depan!" Rahma langsung beralih ke depan kamar Surya.


"Surya...! Siap-siap. Kita diajak papa makan di luar!" Rahma berseru dengan kalimat yang sama.


Surya yang masih mengenakan sarung, membuka pintu kamarnya.


"Surya enggak ikut ya, Ma?"


"Eh, enggak boleh begitu. Nanti papamu kecewa. Ayo siap-siap!" Tanpa bicara lagi, Rahma meninggalkan kamar Surya.


Surya sudah paham. Kalau begitu artinya Rahma tak mau menerima penolakan.


Surya yang sudah biasa terdidik menurut, tak bisa menolak lagi.


Di kamarnya sendiri, Rahma mulai bersiap-siap.


"Kok dadakan sih, ngajaknya, Pa?" tanya Rahma sambil melepas pakaiannya.


"Papa mau ngapain?" tanya Rahma.


Toni sudah mendekapnya dari belakang. Lalu menciumi leher Rahma.


"Kangen sama Mama," jawab Toni.


"Papa lebay, ih."


"Kok lebay? Memangnya enggak boleh, kangen sama istri sendiri?" tanya Toni. Dia terus saja mencumbui Rahma dari belakang.


"Dipending dulu kangennya bisa enggak, Pa? Anak-anak pasti udah nunggu," tolak Rahma dengan halus.


Bukannya tak mau bercinta dengan suaminya. Tapi saat ini waktunya sangat tidak tepat.


Baru saja berkoar-koar mengajak anak-anak makan di luar, malah mereka sendiri yang ngumpet di kamar.


"Mama...! Ayo cepetan. Sinta udah siap, nih!"


"Tuh kan, Pa. Mama bilang juga apa?" Rahma segera memasang kembali pengait bra-nya yang baru saja dilepas Toni.


"Hmm...sabar ya, Dek." Toni mengelus senjatanya sendiri.


Rahma jadi ingin tertawa melihat tingkah suaminya. Kadang Toni bertingkah seperti pengantin baru, yang kepingin bercinta setiap saat. Tanpa lihat sikon.

__ADS_1


"Mama...! Udah belum?" Sinta yang sudah tak sabar, mengetuk pintu kamar mamanya.


"Iya, sebentar. Mama lagi ganti baju!" sahut Rahma.


"Hhm...dari tadi baru ganti baju," gumam Sinta sambil meninggalkan kamar orang tuanya.


Sinta menuju kamar Surya. Saat hatinya sedang bahagia kayak begini, Sinta jadi kumat isengnya.


Tanpa mengetuk dulu, Sinta nyelonong masuk saja.


"Ketuk dulu, pintunya!" Surya mendorong bahu Sinta yang tau-tau ada di dekatnya.


Surya lagi mengaktifkan ponselnya.


"Pantesan tadi aku kirimin chat, centang satu. Punya hape dimatiin. Jual aja hapenya!" oceh Sinta.


"Berisik kamu!" sahut Surya.


"Ayo Surya, Sinta. Kita nunggu mama di mobil," ajak Toni.


"Memangnya mama belum selesai, Pa?" tanya Sinta dengan heran. Karena biasanya Rahma nomor satu kalau urusan siap-siap pergi.


Selain orangnya enggak suka ribet, Rahma juga gesit.


"Belum. Enggak tau lagi nyari apaan," jawab Toni. Dia langsung menyiapkan mobil.


Surya yang juga sudah rapi, tak jadi membuka ponselnya. Meski dia barusan lihat banyak pesan masuk.


"Ayo, Kak," ajak Sinta.


Surya mengikuti langkah Sinta.


"Surya, kamu bawa mobil. Papa capek." Toni menyerahkan kunci mobilnya.


Sengaja Toni beralasan capek biar Surya mau menyetir mobil. Surya biasanya akan lebih fokus di jalanan.


Tanpa menjawab, Surya menuruti kemauan papanya. Sinta naik ke mobil setelah Surya menyalakan mesinnya. Dia duduk di sebelah Surya.


"Kak, boleh nanya enggak?" Sinta memulai pembicaraan.


Surya hanya menoleh sebentar, tanpa menjawab boleh apa enggak.


"Kak Yogi beneran masih jomblo?" Sengaja Sinta menanyakan tentang Yogi. Karena biasanya Surya akan langsung merespon.


Sinta hanya ingin membuat Surya membuka suara. Dari tadi irit bicara. Mumpung kedua orang tuanya belum masuk mobil juga.


Sinta merasa urusannya dengan Yogi jangan dicampuri orang tuanya dulu. Terutama mamanya yang selalu kepo dengan urusan anak-anaknya.


Surya hanya mengangkat bahunya.


"Aku nanya serius, Kak."


Surya hanya melirik sekilas ke arah Sinta. Sepertinya Surya benar-benar sedang tidak mood bicara.


"Hhmm. Kak Nadia gimana?" Sinta mencoba memancing lagi.

__ADS_1


Dan lagi-lagi Surya hanya mengangkat bahunya.


Iih, gimana sih caranya bikin ini orang bicara?


__ADS_2