PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 15 KELILING KOTA


__ADS_3

Sepulang dari Malioboro, Surya dan keluarganya terlihat kelelahan. Rahma yang janjinya tak akan lama-lama, malah memborong banyak baju-baju batik.


Toni hanya mengangkat bahunya saat kedua anaknya protes. Mana ada yang berani menentang Rahma? Meski dia tak pernah memaksa.


"Eh, kalian sudah pulang? Eyang kira mau nunggu toko-toko di sana tutup," sindir eyang putri. Mereka baru pulang selepas maghrib.


"Nanti kita dapat undangan makan malam dari jeng Tuti. Di restauran dekat Malioboro juga. Kalian segera siap-siap. Jam tujuh kita berangkat," titah eyang putri. Dan tanpa menunggu jawaban dari mereka, eyang putri langsung masuk ke kamarnya.


Surya dan Sinta saling berpandangan. Kaki mereka sudah terasa sangat pegal mengikuti mamanya memilih batik, sekarang masih harus keluar lagi.


"Ayo, Pa. Kita siap-siap," ajak Rahma.


Seperti tadi, Toni pun hanya mengangkat bahunya. Lalu mengikuti langkah istri tercintanya.


Surya dan Sinta masuk ke kamar. Mereka berbarengan menjatuhkan badan ke atas ranjang.


Lalu tanpa dikomando, memejamkan mata. Dan benar-benar tertidur saking capeknya.


"Surya! Sinta! Kalian gimana sih? Malah pada tidur!" Suara Rahma membangunkan mereka.


Surya menggeliatkan badan dan membuka matanya. Sementara Sinta malah berganti posisi.


"Ayo bangun. Itu eyang udah siap," ucap Rahma pada Surya.


"Sinta! Bangun!" Rahma mengguncang bahu anak gadisnya.


"Masih ngantuk, Ma." Sinta tak juga membuka matanya. Dia malah mencari guling.


Sementara Surya sudah beranjak ke kamar mandi. Dia tak mau mendengar mamanya semakin panjang mengoceh.


"Eeh, bangun, ayo! Apa perlu eyang yang membangunkan?" ancam Rahma.


Sinta berdecak kesal, lalu dengan malas terpaksa bangun.


Sinta berjalan ke kamar mandi dengan mata setengah terpejam. Hingga dia menabrak pintu kamar mandi yang tertutup.


"Auwh!" seru Sinta sambil memegangi keningnya.


"Siapa di dalam?" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Rahma yang melihatnya, geleng-geleng kepala.


"Sinta! Kamu bisa pakai kamar mandi di kamar Mama, kan?" seru Rahma.


Sinta memutar badannya, dan berjalan masuk ke kamar mamanya. Matanya masih tetap setengah terpejam.


"Melek dulu matanya. Entar nabrak lagi," ucap Rahma mengingatkan.

__ADS_1


Sinta mengusak matanya. Lalu masuk ke kamar mandi.


Rahma dan Toni sudah siap di ruang tamu. Begitu juga eyang kakung dan eyang putri.


"Kok tumben-tumbenan Tuti mengundang kita makan malam, Bu?" tanya Rahma pada eyang putri.


"Katanya sih, kepingin kenal sama anak-anak kamu. Dia juga mau memperkenalkan anak gadisnya. Kalau ndak salah, namanya Sekar. Ya, siapa tau berjodoh sama Surya," jawab eyang putri.


Rahma dan Toni sama-sama terkejut mendengarnya. Bakal jadi masalah besar kalau sudah menyangkut perjodohan.


Karena keinginan eyang putri susah ditentang. Seperti kisah cinta Rahma dan Toni yang masih keturunan bule.


Perjuangan cinta mereka sangat tidak mudah dan menguras air mata.


"Tapi Surya kan sudah punya pacar, Bu." Rahma berusaha membela anaknya agar tidak masuk dalam rencana perjodohan.


"Halah, baru juga pacar. Belum tentu jadi juga, toh?" sahut eyang putri.


Rahma memandang suaminya. Toni meraih tangan Rahma dan menggenggamnya erat. Berusaha menguatkan.


"Tapi Ibu jangan terlalu memaksa, ya. Biar Surya fokus menyelesaikan kuliahnya dulu," pinta Rahma dengan khawatir.


"Ya endak, toh. Ibu kan cuma memberi saran saja. Lagi pula si Sekar juga masih kuliah. Masa iya mau dinikahkan sekarang," sahut eyang putri yang cukup membuat Rahma lega.


Sejak dulu Rahma sangat menentang perjodohan, apapun alasannya. Baginya, tugas orang tua hanya mengarahkan, bukan memaksakan.


Tak lama, Surya dan Sinta datang. Mereka sudah rapi meski dengan pakaian santai.


Eyang putri memandangi penampilan mereka. Lalu menoleh ke arah eyang kakung.


"Sudah, biarkan saja," ucap eyang kakung, seakan mengerti apa yang ada dipikiran eyang putri.


"Biarkan saja bagaimana? Masa mau menemui orang kok pakai kaos?" gumam eyang putri.


Beliau juga tak bisa menentang omongan eyang kakung. Karena dalam kepercayaannya, seorang istri menurut apa kata suami.


Dengan kesal eyang putri bangkit dan mengajak mereka cepat-cepat berangkat. Karena mereka sudah terlambat setengah jam lebih.


Surya dan Sinta yang tak merasa bersalah, berjalan mengekor kedua orang tuanya.


Rahma menoleh ke belakang dan mensejajari langkah mereka.


"Kalian ini kayak enggak punya baju yang pantas. Masa mau makan malam pakai kaos begini?" ucap Rahma. Dia paham apa yang membuat eyang putri kesal.


"Lho, memangnya kenapa, Ma? Biasanya juga begini, kan?" sahut Sinta. Dia memang anak yang cukup kritis. Tidak bisa begitu saja menerima aturan tanpa alasan yang jelas.


"Ini kan luar biasa. Makan malam sama eyang kalian juga sama orang lain. Kalian ngerti enggak, sih?" tanya Rahma kesal. Suaranya masih pelan, takut kedengeran eyang putri.

__ADS_1


Surya dan Sinta kompak menggeleng. Rahma berdecak kesal, lalu masuk ke dalam mobil orang tuanya. Dia duduk di jok depan, menemani Toni yang menyetir.


"Lha, kami naik dimana?" tanya Sinta.


Mobil eyangnya berjenis sedan. Hanya muat untuk empat orang saja.


"Kalian naik becak saja. Itu di perempatan sana, banyak becak. Bilang saja restauran Janoko," ucap eyang putri dari jok belakang.


"Iya, Eyang," sahut keduanya kompak.


Sebenarnya kesal juga, tapi malah asik tak satu mobil dengan eyangnya yang banyak aturan.


Surya dan Sinta berjalan santai ke perempatan yang tak jauh dari rumah eyangnya. Sementara mobil eyangnya sudah melaju duluan.


"Kak. Nanti jangan langsung ke restauran, ya? Kita jalan-jalan lagi aja ke Malioboro. Menikmati suasana malamnya," ajak Sinta.


"Aku capek ah. Lagian nanti mama bakalan bolak balik telpon. Kamu siap diomelin?" sahut Surya.


"Ya enggak, sih." Sinta hanya bisa pasrah. Tapi otaknya terus saja berkelana.


Hingga mereka sampai di perempatan. Dan mendapatkan sebuah becak kayuh yang siap membawa mereka.


"Berapa lama perjalanan ke sana, Pak?" tanya Sinta.


"Endak lama, Mbak. Paling lima belas menit," jawab bapak tukang becak.


"Kalau begitu, kita keliling dulu biar waktunya setengah jam ya, Pak. Nanti saya bayar dua kali lipat," pinta Sinta.


Dengan semangat pak becak menyanggupi. Surya melotot ke arah Sinta. Sinta hanya tersenyum cengengesan sambil mengangkat dua jarinya.


"Mbak sama mase mau keliling kemana? Saya siap mengantar," tanya pak becak.


"Terserah. Pokoknya setengah jam. Tujuan akhirnya restauran Janoko," jawab Sinta.


"Nggih, Mbak. Silakan naik." Pak becak sedikit mengangkat bagian belakang becaknya, agar Surya dan Sinta mudah naiknya.


Sambil mengayuh becaknya, pak becak mengajak mereka berbicara dengan logat jawa medoknya.


"Kalian pengantin baru, ya?" tanya pak becak.


"Bukan, Pak. Kami kakak adik," jawab Surya.


Keakraban mereka berdua membuat siapapun yang melihatnya, menganggap mereka pasangan pengantin baru


Pak becak dengan tulus mengantar keduanya keliling kota. Bahkan melebihi waktu setengah jam yang diberikan Sinta.


Rahma berkali-kali menelpon mereka. Hingga membuat Sinta panik.

__ADS_1


"Kamu sih. Pokoknya, aku enggak mau disalahkan," ucap Surya. Padahal dia sangat menikmati suasana malam di jalanan kota Jogja.


__ADS_2