PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 216 KETEMU LAGI


__ADS_3

Nadia dan Susi berjalan menuju ke poly umum.


"Kamu itu kalau udah ngobrol, lupa waktu. Tadi itu teman kamu?" tanya Susi sambil berjalan.


"Baru kenal tadi. Namanya Yudis," jawab Nadia.


"Baru kenalan kok akrab banget," ucap Susi.


Tapi dalam hati Susi senang, karena Nadia punya teman lagi. Dan Susi berharap Nadia punya semangat lagi buat kuliah atau melakukan hal yang lebih bermanfaat lagi selain tidur dan makan saja.


"Dia yang ngajakin ngobrol terus. Orangnya asik diajak ngobrol," ucap Nadia.


Susi mengangguk senang. Dan berharap Nadia bisa melanjutkan pergemanannya.


Dilihat sekilas dari penampilannya, kelihatannya Yudis itu bukan lelaki sembarangan.


"Orang mana dia?" tanya Susi.


"Katanya sih daerah deket sini aja, Ma. Tapi pasnya dimana, Nadia enggak tau," jawab Nadia.


Nadia tak mungkin juga bertanya terlalu detail. Meskipun tadi saat Yudis menanyakan rumahnya, Nadia mengatakan dengan jujur.


Termasuk dimana Nadia kuliah sekarang.


"Masih kuliah atau udah kerja?" tanya Susi lagi.


"Gak tau juga, Ma. Nadia gak sempat tanya," jawab Nadia.


"Kamu gimana sih, kalau kenalan itu yang lengkap," protes Susi.


"Ih, Mama. Memangnya Nadia reporter? Mesti nanya ini itu?" Nadia pun protes pada Susi.


"Ya kan, biar jelas. Jadi lebih enak ngobrolnya," ucap Susi.


"Tadi juga lagi enak ngobrolnya. Mama aja yang gangguin!" sahut Nadia.


"Bukannya Mama gangguin. Tapi kamunya yang lupa waktu!"


"Pasien atas nama Nadia Sofia!" panggil perawat di depan pintu dokter umum.


"Tuh, nama kamu udah dipanggil. Ayo, buruan!" Susi menarik tangan Nadia.


"Iya. Nanti juga ditungguin sama perawatnya," sahut Nadia.


"Kamu pikir naik angkot, pake ditungguin!" Susi terus saja menarik tangan Nadia.


Terpaksa Nadia mempercepat langkahnya mengikuti Susi.


"Iya, Suster. Ini anak saya, Nadia Sofia," ucap Susi.


"Oh. Mari silakan masuk," ucap perawat itu dengan ramah.


Nadia dan Susi pun masuk ke dalam ruangan dokter umum.


"Selamat siang, Dok." Susi menyapa duluan.


"Iya, selamat siang. Silakan duduk," sahut dokter laki-laki setengah baya.


Nadia dan Susi pun duduk di kursi depan meja dokter.


"Siapa yang sakit?" tanya dokter itu dengan ramah.

__ADS_1


"Anak saya, Dok. Dia kok sering merasa mual, lalu muntah-muntah. Apa ada masalah dengan pencernaannya?" Susi yang menjawab pertanyaan dokter. Karena Nadia merasa dirinya baik-baik saja.


"Sudah berapa lama?" tanya dokter.


"Tuh, Nad. Jawab." Susi menyenggol lengan Nadia.


"Eh, iya. Maaf saya lupa sejak kapan, Dok. Hehehe." Nadia benar-benar tak ingat lagi kapan dia mulai merasa mual dan muntah-muntah.


Dokter itu hanya tersenyum. Dia maklum, karena biasanya anak muda suka tak merasakan penyakitnya. Biasanya karena terlalu banyak aktifitas.


"Kira-kira hampir satu bulan ini, Dok," ucap Susi.


"Ih, apaan sih, Ma. Masa satu bulan? Paling juga baru dua mingguan ini," sahut Nadia.


"Ya kan sejak kamu enggak mau masuk kuliah lagi," sahut Susi.


Nadia diam, mengingat-ingat kapan dia mulai enggak masuk kuliah.


Lalu dia pun mengangguk. Walaupun dalam hatinya agak ragu.


"Yang dirasakan apa?" tanya dokter pada Nadia.


Nadia kembali diam. Mencoba mengingat-ingat lagi apa yang dia rasakan. Karena Nadia tidak merasa sakit.


"Kadang mual, terus kepingin muntah, Dok. Tapi abis muntah jadi lega. Terus laper lagi. Hehehe," jawab Nadia sambil nyengir.


Dokter itu kembali tersenyum.


"Kalau begitu saya periksa dulu, ya." Dokter itu berdiri dan berjalan menuju tempat tidur periksa pasien.


"Tuh, kesana!" Susi menyenggol lengan Nadia lagi.


Nadia pun berdiri dan menuju ke tempat tidur itu.


Nadia pun menurut. Lalu dia rebahan. Dokter pun mulai memeriksa.


Hanya sebentar. Lalu dokter kembali ke kursinya. Nadia pun beranjak dan kembali juga ke kursinya.


"Gimana, Dok?" tanya Susi.


"Begini...Nadia. Kapan terakhir menstruasi?" tanya dokter.


Susi terkesiap mendengar pertanyaan dokter. Apa hubungannya yang dirasakan Nadia dengan terakhir menstruasi.


"Saya lupa, Dok. Enggak pernah nginget-inget," jawab Nadia.


"Biasanya? Dikira-kira aja. Awal bulan atau akhir bulan." Dokter kembali bertanya.


Lalu Nadia pun menjawab seingatnya. Meski tak tepat.


Dokter itu manggut-manggut. Lalu menulis sesuatu di secarik kertas.


Susi terlihat kebingungan. Nadia sudah terlambat haid hampir satu bulan. Lalu apa artinya ini?


Susi berkali-kali menarik nafasnya dalam-dalam. Berusaha menguatkan diri, seandainya harus menerima kabar terburuk.


"Sebaiknya anak Ibu, dibawa ke poly kandungan. Ini saya buatkan surat pengantarnya. Biar Ibu tidak perlu mendaftar lagi. Nanti perawat kami yang akan mengantar," ucap dokter sambil memberikan kertas yang barusan ditulisnya.


Dengan masih kebingungan, Susi menerimanya. Lalu perawat yang mendampingi dokter, menganggukan kepala pada Susi.


"Mari, Bu. Saya antarkan."

__ADS_1


Perawat yang juga ramah itu berjalan mendahului. Nadia dan Susi mengikuti.


"Kok kita disuruh ke poly kandungan, Ma?" tanya Nadia sambil berjalan di sebelah Susi.


"Mama juga enggak tau. Kita liat aja nanti," jawab Susi.


Nadia menurut. Dia berjalan mengikuti Susi dan perawat.


"Silakan tunggu di sini dulu. Saya bawa ke dalam dulu berkasnya." Perawat itu menunjuk bangku tunggu yang penuh antrian pasien. Mereka rata-rata wanita hamil.


Nadia dan Susi duduk di salah satu bangku kosong. Di sebelahnya, duduk seorang wanita muda seumuran Nadia dengan perut membuncit.


"Periksa kehamilan juga, Bu?" tanya wanita hamil itu.


Susi kebingungan menjawabnya. Nadia pun hanya bisa diam.


Siapa yang hamil? Masa mama hamil lagi? Kan yang mau periksa ke dokter aku. Batin Nadia.


"Enggak. Cuma mau ketemu dokter aja," jawab Susi pada akhirnya.


"Mbaknya hamil berapa bulan? Kok perutnya gede banget?" tanya Nadia.


Nadia membayangkan kalau dirinya hamil, perutnya juga pasti akan sebesar itu.


"Iya. Saya hamil anak kedua. Udah hampir delapan bulan. Sebentar lagi brojol," jawabnya.


"Udah ketahuan dong, jenis kelaminnya?" tanya Susi.


"Laki-laki, Bu. Anak saya yang pertama perempuan. Baru berumur dua tahun." Wanita itu terlihat sangat bahagia.


Apalagi tak lama kemudian, datanglah seorang lelaki gagah menggendong anak kecil.


"Mama...!" Anak kecil yang cantik itu mengulurkan satu tangannya.


Nadia melihat kebersamaan itu sambil tersenyum. Dia kembali membayangkan dirinya seperti itu.


Tapi siapa yang akan jadi bapak dari anakku, ya? Surya? Atau Dewa?


Ah! Nadia tak mau memikirkannya.


"Saudari Nadia Sofia!" panggil perawat yang berdiri di depan pintu.


Susi dan Nadia bergegas berdiri.


"Silakan masuk," ucap perawat itu dengan ramah.


Seperti saat di poly umum, Nadia dan Susi pun duduk di kursi depan meja dokter.


"Selamat siang dokter," sapa Susi.


Dokter yang sedang membaca arsip milik Nadia pun mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum.


"Mari ikut saya," ucapnya sambil berdiri.


Nadia dan Susi pun ikut berdiri. Lalu mereka menuju ke ruang periksa.


Begitu masuk ke dalam ruang periksa, mata Nadia seakan mau meloncat.


Di sana berdiri dengan tegap, seorang lelaki dengan jas putihnya.


"Yudis...!"

__ADS_1


"Nadia...." gumam Yudis.


__ADS_2