
Surya sampai di rumah eyangnya. Tak ada yang menyambutnya. Sepertinya semua orang sedang tidur siang.
Hanya pak Samin yang lagi menyapu lantai rumah eyangnya yang besar.
"Orang-orang pada kemana, Pak?" tanya Surya saat tak menemukan satu orang pun.
"Eh, Mas Surya. Sudah sampai, toh?" Bukannya menjawab pertanyaan Surya, malah balik bertanya.
"Sudah, Pak. Kalau belum, saya enggak berdiri di sini. Mana eyang putri?" tanya Surya.
"Eyang putri lagi pergi ke pasar. Mamanya Mas Surya juga ikut. Katanya mau beli oleh-oleh buat pulang besok pagi," jawab pak Samin.
"Pulang? Kata mama, mau ke Bali?" tanya Surya.
"Wah, kalau itu saya ndak tau, Mas. Tanyakan saja sama mbak Sinta atau papanya mas Surya. Mereka ada di kamarnya sendiri-sendiri," sahut pak Samin. Lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
Dulu di rumah eyangnya ada dua orang pembantu. Pak Samin dan istrinya. Tapi istri pak Samin, sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Dan eyangnya belum mendapatkan penggantinya. Jadilah pak Samin sendirian mengerjakan tugas rumah.
Tapi eyang biasanya memanggil orang untuk membantu pekerjaan dapur. Dua atau tiga hari sekali. Karena penghuni rumah hanya dua orang saja. Tiga dengan pak Samin.
Surya menuju kamar yang biasa ditempati Sinta. Dia tak berani ke kamar papanya. Takut mengganggu papanya yang lagi istirahat. Apalagi masuk ke kamar eyang kakungnya, jelas enggak berani.
"Eh, Kakak. Kapan sampai?" tanya Sinta yang lagi main hapenya.
"Barusan. Mama ke pasar ya, sama eyang putri?"
"Iya. Lagi beli oleh-oleh. Kita enggak jadi ke Bali. Besok pagi-pagi pulang pakai pesawat jam tujuh," jawab Sinta.
"Lho, kenapa enggak jadi?"
Surya justru senang kalau besok bisa pulang. Karena dia sudah sangat kangen sama Nadia. Padahal baru semalam bertemu.
"Tau tuh, Papa. Katanya besok siang ada meeting penting. Nyebelin banget." Sinta langsung manyun.
"Eh...enggak boleh begitu. Papa meeting kan buat kepentingan kita juga," sahut Surya.
"Tapi mama sama papa bilang, kalau kita mau ke Bali, boleh kok. Kita ke sana berdua yuk, Kak," ajak Sinta.
"Enggak mau, ah. Enggak seru kalau cuma berdua." Jelas saja Surya menolak. Dia lebih suka kembali ke kotanya dan ketemu Nadia lagi.
"Iih, Kakak nyebelin. Kan enak, Kak. Kita liburan," rayu Sinta.
"Kamu udah berapa hari bolos kuliah?" tanya Surya.
__ADS_1
"Aku enggak bolos, Kak. Udah ijin, kok," jawab Sinta tak mau disalahkan.
"Mana ada ijin. Udah besok kita balik. Kakak juga lagi banyak tugas kuliah." Surya meletakan tas ranselnya lalu merebahkan diri di sebelah Sinta.
"Kakak kamarnya di sana!" Sinta menunjuk ke luar. Di seberang kamarnya, ada satu kamar kosong lagi. Dan biasanya memang dipakai Surya saat berlibur di rumah eyangnya.
"Males, ah. Kakak mau tidur di sini dulu. Ngantuk banget." Tanpa mau pindah, Surya langsung memejamkan matanya.
Di kereta tadi, dia enggak bisa tidur. Selain diajak ngobrol oleh seorang kakek-kakek yang duduk di sebelahnya, pikirannya juga melayang ke masa-masa sekolah dulu.
Saat itu dia masih kelas tiga SMA. Saat itu dia belum tahu kalau ada hubungan istimewa antara Dewa dengan Nadia.
Mereka pergi menonton. Kebetulan ada film baru yang lagi jadi trending topic.
Surya tak curiga sama sekali saat Nadia digandeng oleh Dewa. Karena dia juga biasa begitu kalau di keramaian.
Sementara Surya memesan tiket, dua orang sahabatnya itu membeli camilan untuk di dalam bioskop.
Kecurigaan Surya dimulai saat Dewa tak mengijinkan Nadia duduk di tengah. Dan saat lampu mulai dimatikan, film mulai diputar, Surya yang tak sengaja menoleh, melihat tangan Dewa lagi menggenggam tangan Nadia.
Tadinya Surya membiarkan saja. Mungkin enggak sengaja. Tapi beberapa menit kemudian, Surya kembali menoleh. Dan tangan Dewa masih saja menggenggam tangan Nadia. Bahkan kali ini tangan Nadia dibawa ke pangkuannya.
Surya berdehem. Dan reflek Dewa melepaskan tangan Nadia.
Suasana sudah kurang nyaman. Dewa duduk lebih mendekat ke arah Nadia. Dan dengan mata kepala sendiri, Surya melihat Dewa mengecup tangan Nadia.
Hingga film selesai, dan mereka keluar dari ruangan. Surya menarik keduanya ke tempat yang agak sepi.
"Kalian kenapa dari tadi aku lihat pegangan tangan terus?" tanya Surya to the point.
Dewa dan Nadia gelagapan. Nadia langsung menundukan wajahnya. Mereka masih diam seperti anak kecil yang dimarahi orang tuanya.
"Aku juga melihat Dewa...mencium tangan Nadia," ucap Surya pelan. Tidak enak juga kalau ada yang mendengar.
"Kita pulang, yuk," ajak Dewa.
Nadia mendongak. Lalu menatap Surya.
Surya berjalan duluan tanpa menunggu keduanya. Dewa langsung menyusul. Begitu juga Nadia.
"Nanti aku jelasin semuanya, Sur," ucap Dewa yang berjalan di belakang Surya.
Surya pura-pura tak mendengar. Dia terus saja berjalan. Bahkan sampai di parkiran motorpun, Surya masih diam. Lalu menstater motornya dan pergi begitu saja.
Tak lama, eyang putri dan Rahma, pulang. Rahma yang sudah dikabari kalau Surya sudah datang, mencarinya ke kamar.
__ADS_1
Tapi kamar yang sering dipakai Surya kosong.
"Sinta!" Rahma membuka pintu kamar Sinta. Dilihatnya Surya tidur di sebelah Sinta. Sinta pun tidur membelakangi kakaknya itu.
Rahma kembali ke ruang tengah. Eyang putri sedang membongkar belanjaan mereka.
"Mana cucuku?" tanya eyang putri.
"Tidur, Bu. Di kamar Sinta," jawab Rahma.
"Ya sudah. Biarkan saja. Mungkin dia capek."
Rahma pun ikut membantu memberesi belanjaannya. Dia menyisihkan oleh-oleh yang dibelinya. Dan memilah-milah.
"Buat siapa saja itu?" tanya eyang putri.
"Buat calon besan sama teman-temannya mas Toni, Bu. Buat tetangga juga." Rahma masih memilah-milahnya.
"Sekali-kali kenalkan Ibu sama calonnya Surya," ucap eyang putri.
"Kan Ibu sudah pernah ketemu. Itu, si Nadia. Sahabatnya Surya sejak SMA," sahut Rahma.
"Oh, dia. Baguslah kalau sudah kenal lama. Sepertinya anaknya baik dan sopan juga," ucap eyang putri.
Dulu sewaktu mereka lulus SMA, Surya pernah mengajak Nadia berlibur ke Jogja. Tapi saat ditanya, bilangnya hanya sahabat saja.
Karena kenyataannya Nadia adalah sahabat Surya. Dan kedua eyangnya tak curiga. Rahma sudah menceritakan sebelumnya.
Toni keluar dari kamarnya.
"Sudah belanjanya, Ma?" tanya Toni pada istrinya.
"Sudah, Pa. Komplit. Buat teman-teman Papa juga sudah Mama belikan," jawab Rahma.
"Enggak usah banyak-banyak yang buat teman-teman Papa. Kasih ke tetangga-tetangga saja." Toni duduk di sebelah Rahma.
"Mana Surya? Sudah sampai apa belum?" tanya Toni.
"Sudah, Pa. Malah tidur di kamar Sinta. Sudah pada gede masih saja tidur bareng," sahut Rahma.
"Namanya juga kakak beradik. Mana mikir kalau mereka sudah sama-sama dewasa," ucap eyang putri. Lalu dia masuk ke kamarnya.
Berjam-jam jalan mencari oleh-oleh, cukup melelahkan buat orang seusianya.
"Mama juga beli oleh-oleh buat jeng Susi. Calon besan kita," ucap Rahma.
__ADS_1
Toni mengernyitkan dahinya. Istrinya ini selalu saja berharap bisa besanan dengan keluarga Haris. Meski dia juga tak menolaknya.